Instrumen Monitoring Kegiatan Do Mata Pelajaran :
B. Bukti Efektifitas Model
1) Pelaksanaan Diklat
Diklat dilaksanakan di kampus Undiksha dalam dua gelombang, yaitu tanggal 9 Nopember sampai dengan 11 Nopember 2012, dengan materi diklat: kebijakan peningkatan mutu pendidikan, pembelajaran inovatif, manajemen sekolah, supervisi pendidikan, dan semua materi yang di-UN-kan. Materi diklat yang diberikan, pelaksanaan diklat sesuai dengan rencana, yaitu: kepala sekolah, pengawas, dan semua guru diberikan materi: Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidikan di Bali, Model pembelajaran Inovatif dan Asesmen, dan kajitindak Pembelajaran. Materi Manajemen Sekolah, Supervisi Pendidikan diberikan pada kepala sekolah dan pengawas, materi bidang studi yang di UN-kan diberikan masing-masing pada guru yang sesuai. Oleh karena itu, pemilihan materi dan pesert yang mengikuti telah sesuai dengan rencana.
Peserta yang direncanakan dan diundang dari Kabupaten Badung, Tabanan, dan Kodya Denpasar : Kepal Sekolah 8 orang, Pengawas 3 orang, dan guru mata pelajaran yang di UN-kan sebanyak 81 orang. Namun yang hadir : Kepala Sekolah 3 orang, Pengawas 6 orang, dan guru 68 orang. Sehingga peserta yang hadir ada 78%. Diliah dari kuantitas yang hadir, kehadiran 78% tergolong baik, namun dilihat dari kualitas , jumlah kepala sekolah yang hadir cukup rendah yaitu 33%, dan pengawas cukup baik yaitu 67%. Kehadiran kepala sekolah yang rendah dalam diklat ini, ditutupi dengan penyampaian materi diklat pada kepala sekolah yang tidak hadir. Sehingga saat dilaksanakan kaji tindak pembelajaran di sekolahnya mereka dapat mengikuti dengan baik.
Diklat dilaksanakan dengan baik, dimana peserta mengikuti diklat ini dengan baik. untuk mengetahui kualitas pelaksanaan diklat dilihat dari penguasaan materi diklat, pada akhir diklat diberikan kuisioner. Hasil pengukuran dengan kuisioner secara umum sebagai
85 berikut. (1) terjadi peningkatan penguasan pembelajaran inovatif dan asesmen, (2) terjadi peningkatan penguasaan lesson study, (3) terjadi peningkatan penguasaan penyusunan perangkat pembelajaran, (4) terjadi peningkatan penguasaan materi pelajaran yang dianggap sulit, dan (5) Saat mengajar siap untuk diobservasi oleh orang lain.
Berdasarkan hasil penyebaran kuisioner tersebut tampak bahwa diklat yang dilaksanakan menjadi bermakna bagi guru. Kebermaknaan ini harus dilihat pada aplikasi saat melaksanakan pembelajaran di sekolah.
2) Pelaksanaan LS
Kaji tindak pembelajaran yang dilaksanakan berupa lesson study di Kabupaten Badung, Tabanan dan Kodya Denpasar. LS dilaksanakan pada sembilan sekolah di tiga kabupaten/Kota. Mata pelajaran yang di LS-kan sebanyak 9 mata pelajaran yaitu: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Sosiologi, Geografi, dan Ekonomi.
Berdasarkan rangkuman dari semua mata pelajaran di tiga kabupaten/kota yang dilakukan, tampak bahwa: (1) rencana pelajaran yang disusun cukup baik, (2) pemilihan model pembelajaran cukup inovatif, (3) pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik dan pembelajaran berpusat pada siswa sehingga peranan guru sebagai fasilitator, (4) pembelajaran yang diselenggarakan menyenangkan bagi siswa, (5) guru menjadi senang diamati orang lain dan tidak sungkan atau ogah diamati oleh orang lain.
Berdasarkan atas uraian di atas, tampak bahwa peningkatan kopmpetensi guru melalui pendampingan terpadu berbasis kaji tindak pembelajaran (lesson study/LS) merupakan metode yang cukup baik untuk dugunakan. Melalui kegiatan ini guru diberikan penyegaran tentang model-model pembelajaran inovatif dan asesmen, pengkajian tentang materi yang dianggap sulit, diberikan pelatihan tentang LS. Suatu hal yang baru bagi guru adalah bahwa setelah mereka didiklat, mereka dipantau ke sekolah ditempat mereka bertugas. Saat mereka dipantau, yang dilibatkan secara intensif adalah kepala sekolah dan pengawas sekolah. Mereka diberikan bimbingan lagi oleh kepala sekolah, pengawas, dan oleh para pakar dari kampus. Pemantauan yang dilakukan setelah para guru mengikuti diklat merupakan sesuatu yang jarang mereka dapatkan. Karena selama ini, setelah kegiatan diklat dilakukan, saat itu juga kegiatan itu selesai. Sangat jarang sampai dipantau dan diikuti ke sekolah.
86 Berdasarkan atas uraian di atas bimbingan teknis yang diberikan pada guru melalui kaji tindak pembelajaran tampaknya dapat meningkatkan kompetensi guru terutama dalam:
• Kompetensi pedagogik, terutama dalam penysunan rencana pembelajaran, menerapkan model-model pembelajaran inovatif dan asesmen, pengelolaan kelas, dan keterampilan melaksanaan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
• Kompetensi profesional, terutama terkait materi yang sulit dan sulit dibelajkarkan pada siswa.
• Menguasaai teknik LS
• Guru dilatih berkolaborasi dengan sesama guru dalam MGMP, dan guru menjadi terbiasa diamati dan diberikan masukan saat membelajarkan murid.
Berdasarkan hasil ini, kaji tindak pembelajaran seharusnya dibudayakan dalam meningkatkan kompetensi guru. Oleh karena itu, lembaga/instansi yang bertugas untuk meningkatkan kompetensi guru dapat menggunakan program LS sebagai model untuk meningkatkan kompetyensi guru.
3) Pelaksnaan FGD
Untuk melengkapi atau menyempurnakan model yang dikembangkan, diadalak kegiatan Focus Group Dicussion (FGD) yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, Kepala Dinas pendidikan Kabupaten/Kota, serta para kepala sekolah yang menjadi sasaran pelatihan.
Kegiatan FGD dilaksnakan pdi Undiksha pada hari/tanggal Sabtu/14 Desember 2014. FGD yang dilaksanakan dihadiri oleh: rektor yang diwakili oleh Ketua LPM Undiksha. semua kepala dinas diwakili oleh salah seorang staf dari instansinya masing-masing, dan para Kepala sekolah yang juga diwakili oleh wakaseknya.
Dalam FGD ini dibahas tentang upaya dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan pendidikan di kabupaten/Kota serta meninghkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Para peserta sepakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui:
• Peningkatan sarana dan prasara pendidikan di sekolah melalui pengalokasian dana baik dari APBD maupun anggaran komite sekolah,
• Sepakat dalam meningkatkan kompetensi guru dilaksnakan “model peningkatan kompensi guru melalui pendampingan terpadu melalui kaji tindak pembelajaran (LS).
87 Karena yang hadir dalam FGD ini bukan pimpinan yang berhak memutuskan kebijakan, maka rencana kerja sama antara Undiksha dengan semua Kepala Dinas dan Kepala sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi guru melalui kaji tindak pembelajaran tidak dapat ditandatangi. Walaupun demikian pesert FGD berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi guru melalui kaji tindak pembelajaran.(1) Undiksha akan menyediakan skim P2M untuk meningkatkan kompetensi guru melalui kaji tindak pembelajaran, (2) pihak dinas akan mengusulkan hal serupa dengan undiksha, dan (3) pihak sekolah akan melaksanakan LS dan tentu mengusulkan pakar dari Undiksha sebagai pendampingnya.
Penutup
Simpulan yang dapat diambil dari kegiatan PM-PMP ini adalah sebagaii berikut. (1) Program PM-PMP yang dilaksanakan berjalan dengan baik yang ditunjukkan dengan program diklat berjalan dengan baik dan dilanjutkan pendampingan teknis di sekolah berupa kaji tindak pembelajaran berjalan dengan baik pula, dan FGD yang cukup baik. (2) Model peningkatan kompetensi guru SMA melalui pendampingan terpadu berbasis kaji tindak pembelajaran di kabupaten Badung, Tabanan, dan Kodya Denpasar berjalan dengan baik dan model ini dapat digunakan sebagai model untuk meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran.
Rekomendasi yang dapat disampaikan berdasarkan hasil uji model adalah sebagai berikut. (a) Model peningkatan kompetensi guru melalui pendampingan terpadu berbasis kaji tindak pembelajaran dapat diterapkan oleh berbagai instansi yang dalam hal ini: (1) Dinas Pendidikan Provinsi, (2) Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, (3) LPMP Provinsi, (4) lembaga lain yang memiliki tugas meningkat kualitas guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah (b) Kepada Undiksha agar menyediakan skim P2M untuk meningkatkan kompetensi guru melelui pendampingan terpadu berbasis kaji ntindak pembelajaran. (c) Kepada Semua sekolah SMA di Kabupaten Badung, Tabanan, dan Kodya denpasar dapat menerapkan teknik LS untuk meningkatkan kompetensi para gurunya.
Daftar Pustaka
Arnyana, I. B.P. dkk. 2011. Profil dan Pengembangan Penguasaan Kompetensi Dasar terhadap Mata Pelajaran yang di-UN-kan pada Siswa SMA di Kabupaten
88 Badung, Tabanan, dan Kodya Denpasar, Provinsi Bali. Hasil Penelitian PPMP (Tidak Dipublikasi) Singaraja: Universitas pendidikan Ganesha.
Cox, A. J. and Junkin, W. F. 2002. Enhance Student Learning in The Introductory Physisn Laboratory. J. Physic Education. Vol. Januari.
Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Rineka Cipta DPR RI. 2005. Undang Undang RI No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen
Grant, G, et al. 1979. On Competence: A Critical Analysis of Competence-Based Reform in Higher Education. San Francisco, CA: Jossey-Bass Publihser.
Lardizabal, A.S, et al. 2000. Principles and Method of Teaching. (3rd edition). Quezon City: Phonix Publishing House, Inc.
McNiff. 1992. Action Research: Principles and Practice. Lpndon: Routledge.
Martin, M.O., Mullis, Ina V., dan Chrostowski, Steven J. (2008). TIMSS 2007. International Scince Report. Chetsnul Hill, MA; Boston College.
Makmun, Abin Syamsudin. 1996. Pengembangan Profesi dan Kinerja Tenaga Kependidikan. Bandung : Program Pasca Sarjana IKIP Bandung
Martin, X.S, et al. 2008. The competitiveness: Measuring the Productive Potential of Nations. Dalam the Global Report 2008-2009. Diretrieved dari
hpp:/www.weforum.org/pdf/gcr/2008/ranking.pdf. tanggal 30 Mei 2011. Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Konsep, Strategi, dan Implementasi. Bandung: Rosdakarya.
OECD. (2004). Learning for Tomorrow’s World: First Result from PISA 2003. Paris France. OECD.
OECD. (2005). PISA 2003. Data Analysis Manual. Paris, France. OECD.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dan Permendiknas No 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan satuan pendidikan dasar dan menengah, Jakarta. 2006
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 22 tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta, 2006.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 23 tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta, 2006.
89 Safari. 2008. Penulisan Butir Soal Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta: Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional
Sanjaya Wina, 2005. Pembelajaran dalam Implementasi, Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Prenada Media
Scheerens, Jaap and Jan van Ravens, eds. 2011. Perspectives on Educational Quality Illustrative Outcomes on Primary and Secondary Schooling in the Netherlands. London, New York: Springer Dordrecht Heidelberg
Tim BSNP. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan
Wlodkowski, R.J and Rudith H. Jaynes. 2004. Hasrat Untuk Belajar (membantu Anak-Anak Termotivasi dan Mencintai Belajar). Terjemahan oleh Nur Setyo Budi Widarto. Yoygyakarta: Pustaka Pelajar