• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Fisioterapi

Dalam dokumen penatalaksanaan FT ischialgia (Halaman 80-97)

TINJAUAN PUSTAKA

D. Pelaksanaan Fisioterapi

Berdasarkan Problematik fisioterapi, modalitas yang digunakan Fisioterapi untuk memenuhi tujuan terapi adalah Infra Red, Transcutaneus Electrical nerve Stimulation dan Terapi Latihan (Mc. Kenzie).

1.Infra Red (tanggal 23 Februari 2010) a) Persiapan alat sebelum pengobatan

Sebelumnya alat di panaskan terlebih dahulu sekitr 5 menit. b) Persiapan pasien

Posisi pasien diatur seenak mungkin disesuaikan dengan derah yang diobati. Posisi pasien tidur tengkurap . Daerah yang diterapi bebas dari pakaian serta perlu dilakukan test sensibilitas terhadap panas dan dingin. Bila terjadi gangguan sensibilitas panas dan dingin pada daerah tersebut, maka terapi dengan infra red perlu dihindarkan.

Daerah yang diobati sebaikknya dibersihkan dengan air sabun dan dikeringkan dengan handuk. Perlu diberitahukan mengenai panas yang dirasakan, yaitu rasa hangat bila ternyata ada rasa panas yang menyengat. Penderita diminta segera memberitahukan pada fisioterapis.

c) Pelaksanaan pengobatan

Posisi pasien tidur tengkurap dengan nyaman, lampu diarahkan tegak lurus pada daerah yang akan disinari yaitu pada pinggang bagian bawah jarak antara lampu dengan area yang akan diterapi ± 50 cm. Setelah itu power di-onkan kemudian waktu ditentukan ± 15 menit, dan pasien sampai merasakan rasa hangat. Jika pasien kurang nyaman karena ada rasa panas terlalu tinggi atau terlalu banyak keringat keluar, hendaknya pasien segera bilang kepada terapis sehingga

a) Persiapan alat

Sebelum digunakan pastikan alat sudah siap untuk dipakai, semua tombol dalam keadaan nol.

b) Persiapan pasien

Posisikan pasien senyaman mungkin dengan posisi tengkurap, sebelum terapi dimulai pasien diberitahu tujuan dari terapi, jelaskan pula rasa yang timbul daerah yang akan diterapis bebas dari pakaian.

c) Pelaksanaan pengobatan

Posisi pasien tidur tengkurap, kemudian tempatkan elektrode pada daerah yang akan diterapi.

Alat masih dalam keadaan “off ” baru “dionkan” kemudian naikkan intensitasnya sampai terjadi getaran yang kuat tapi masih tetap nyaman, sensasi yang dirasakan tidak boleh menimbulkan rasa nyeri atau kontraksi otot. Setelah 5 menit terapi berjalan, periksalah pasien untuk mengetahui apa yang di kerjakan dan apa yang dia rasakan. Jika pasien tidak lagi merasakan arus, maka intensitas harus dinaikkan. Dalam hal ini perlu perhatian terapis terhadap kondisi pasien sebelum, saat terapis dan sampai sesudah terapis. Pet elektrode harus dalam keadaan basah, elektrode tidak boleh terlalu dekat atau bersentuhan antara yang satu dengan yang lainnya. Jaraknya harus › 11/2 inci. Dengan waktu: 10 menit, arus rectanguler, frekuensi: 500H HZ, intensitas sesuai toleransi pasien.

3. Terapi Latihan (Mc.Kenzie) a) Persiapan Alat

Siapkan tempat tidur dengan kasur yang tipis dan agak keras atau matras dari bahan yang agak keras namun nyaman untuk pasien.

b) Persiapan Pasien

Lakukan pemeriksaan vital sign terlebih dahulu, tanyakan kepada pasien apakah ada keluhan pusing, mual dan lain-lain. Usahakan pasien agar menggunakan pakaian yang nyaman dan tidak membatasi geraknya. c) Pelaksanaan

Latihan 1

Posisi tidur tengkurap, kedua lengan sejajar badan,kepala menoleh kesamping atur pernapasan dan ikuti dengan relaksasi otot punggung posisi ini dipertahankan kira – kira 5 menit sehingga tercapai relaksasi sempurna.

Gambar 3.6: Mc. Kenzie Gerakan 1 (Robin Mc Kenzie, 1983) Latihan 2

latihan 1 pada setiap sessionnya.

Gambar 3.7: Mc.Kenzie Gerakan 2 (Robin Mc Kenzie, 1983. Latihan 3

Posisi tetap tidur tengkurap, kedua tangan diletakkan pada posisi seperti push up, kemudian tangan menekan lantai sehingga elbow ekstensi badan terangkat ke atas sampai pinggang terasa batas rasa sakit, pertahankan selama 10 detik dan usahakan pelvis serta kedua tungkai tetap menempel di lantai. Latihan ini efektif untuk terapi saat akut, juga dapat mengurangi ketegangan otot – otot punggung dan mencegah berulangnya sakit pinggang. Setiap kali latihan diulangi sampai 10 kali gerakan dilakukan 4 – 6 kali sehari, apabila satu tidak ada perubahan atau justru sakitnya bertambah, perlu didiskusikan dengan dokter.

Gambar 3.8: Mc.Kenzie Gerakan 3 (Robin Mc Kenzie, 1983) Latihan 4

Penderita berdiri tegak dengan kedua tangan diletakkan pada bagian punggung, kemudian badan digerakkan lurus dengan kedua tangan sebagai fiksator, diusahakan kedua lutut dalam posisi lurus, selanjutnya posisikan kembali tegak, latihan dilakukan selama 1-2 detik.

Gambar 3.9: Mc.Kenzie Gerakan 4 (Robin Mc Kenzie, 1983)Latihan 5

Pasien tidur tengkurap, lengan disamping badan , pasien diminta untuk mengangkat bahu dan kepalanya serta kedua tungkainya dengan lutut

Gambar 3.10. Mc.Kenzie Gerakan 5 (Robin Mc Kenzie, 1983) Latihan 6

Posisi penderita duduk dipinggir kursi, kepala fleksi kedua tangan diletakkan di atas lutut dengan lurus kemudian secara pelan-pelan pinggang dibuat dalam posisi lordosis yang ekstrem dalam beberapa saat, kemudian ke posisi awal.

Gambar 3.11. Mc.Kenzie Gerakan 6 (Robin Mc Kenzie, 1983)

Evaluasi dilakukan didasarkan rencana evaluasi yang telah disusun dengan kriteria dan parameternya. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan terapi, sehingga dijadikan patokan perlu tidaknya memodifikasi atau merujuk ke tenaga kesehatan lain. Evaluasi dilakukan dengan dua tahap evaluasi sesaat dan setelah intervensi dilakukan. Evaluasi sesaat mencakup kontrol efek yang dirasakan pasien terhadap intervensi yang kita berikan seperti keluhan nyeri, pusing, ataupun panas yang terlalu tinggi. Sedangkan evaluasi setelah intervensi mencakup beberapa pengukuran keadaan pasien setelah diintervensi seperti nyeri dengan VDS. Evaluasi ini dilakukan pada tanggal 23,25,29 Feb dan 1,3, 5 Maret 2010.

1. Evaluasi nyeri dengan VDS (Verbal Descriptive Scale)

Pada pengukuran derajat nyeri dengan VDS diperoleh hasil yaitu pengurangan nyeri dari T0 - T6, dimana terdapat penurunan nyeri diam dari nilai 4 menjadi nilai 1, nyeri tekan dari nilai 6 menjadi 3 dan nyeri gerak dari nilai 7 menjadi nilai 3. ( lihat tabel 3.2).

TABEL 3.2

EVALUASI DERAJAT NYERI DENGAN VDS

(Sumber : data primer)

Ket : terjadi pengurangan tingkat nyeri diam, nyeri tekan dan nyeri gerak yang dirasakan pasien.

Nyeri T0 T1 T2 T3 T4 T5 T6

Nyeri Diam 4 2 2 1 1 1 1

Nyeri Tekan 6 4 4 4 4 4 3

Grafik 2.1 Penurunan Nyeri pada punggung bawah. Tabel 3.3

Hasil Pemeriksaan Kemampuan Fungsional

Kekuatan Otot T0 T1 T2 T3 T4 T5 T6

Berdiri dari duduk Nyeri Kesulitan Ketergantungan 2 1 1 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Berjalan 15 meter Nyeri Kesulitan Ketergantungan 3 3 1 3 3 1 3 3 1 3 2 1 2 2 1 2 2 1 2 2 1 Naik tangga 3 step

Nyeri Kesulitan Ketergantungan 3 3 1 3 3 1 3 3 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 Grafik 4.3

Hasil Pemeriksaan Skala Jette Untuk Kemampuan Berdiri Dari Duduk

Grafik 4.4

F. Dokumentasi

Setelah kita melakukan proses fisioterapi dari pengkajian data sampai pelaksanaan terapi dan evaluasi perlu dibuat catatan yang sistematis yang meliputi: (1) nama pasien (2) asal rujukan kalau menunjukkan rujukan (3) tanggal dan hasil pengkajian pertama (4) program terapi untuk penderita (5) metode dan hasil terapi (6) tanggal pelaksanaan terapi dan ringkasan dari pelayanan yang telah diberikan. Identitas dan tanda tangan terapis.

Protokol Studi Kasus

Nama mahasiswa : Dessy Kurniawati

NIM : J 100 070 035

Tempat praktek : Rumah Sakit dr.Soedjono Magelang Pembimbing : Bpk. Munawar

Tanggal pembuatan : 23 Februari 2010 Kondisi : FT. C (Neuromuskular)

I. Keterangan Umum Penderita Nama : Tn. XX Umur : 62 tahun Jenis Kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Pekerjaan : Petani

Alamat : Sambirejo, bandongan Magelang No. Reg :

-II. Data-data medis Rumah Sakit A. Diagnosis Medis

Ischialgia Dextra B. Catatan Klinis

Pasien pada tanggal 23 Februari 2010 periksa kedokter saraf dengan diagnosa Ischialgia dextra mendapatkan medica mentosa dan konsul

intervertebralis L2 – 3 & L4 – L5, Tampak stenosis foramina intervertebralis L2 – 3 – 4 dan L5 – S1, Suspect ada small nephrolith sinistra dan uretrolith distalis, Soft tissue paravertebralis normal. C. Terapi Umum (GENERAL TREATMENT)

1. Medica mentosa 2. Rehab medik

D. Rujukan Fisioterapi Dari Dokter

Mohon dilakukan tindakan terapi atas Tn. XX dengan diagnosa Ischialgia dextra dengan keluhan nyeri pada pinggang bawah menjalar sampai kaki kanan dengan modalitas Infra red, TENS, MC.KENZIE

III. Segi Fisioterapi

A. Pemeriksaan (Autuanamnesis 23 Februari 2010) 1. Anamnesis

a. Keluhan utama

Pasien merasakan nyeri pinggang bawah menjalar sampai ke kaki kanan.

± 6 bulan yang lalu pasien merasakan nyeri pada pinggang bawah menjalar sampai kaki kanan, untuk berjalan ± 10 meter terasa nyeri, terasa enak bila sedang tidur. Pasien sering merasakan nyeri secara tiba – tiba setelah melakukan pekerjaan berat, berjalan jauh. kemudian pasien periksa ke dokter saraf Rumah Sakit dr.Soedjono Magelang oleh dokter disarankan untuk fisioterapi dan diberi obat. c. Riwayat penyakit dahulu

± lebih 2 tahun yang lalu pasien pernah jatuh. d. Riwayat penyakit penyerta

1. Jantung (+) 2. Pusing (+) 3. Sesak nafas (+) e. Riwayat pribadi

Pasien adalah seorang petani f. Riwayat keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit seperti pasien.

g. Anamnesis sistem 1) Kepala dan leher

a. Kepala terkadang merasakan pusing b. Leher terkadang merasakan cengeng 2) Sistem kardiovaskuler

b. Ada keluhan batuk 4) Sistem gastrointestinalis a. BAB normal 5) Sistem Urogenitalis a. BAK normal 6) Sistem Muskuloskeletal

a. Adanya nyeri pada pinggang bawah menjalar sampai kaki kanan.

b. Adanya spasme otot piriformis dextra. 7) Sistem nervorum

a. Merasakan kesemutan sepanjang perjalanan nervus ischiadicus sampai tungkai sebelah kanan.

2. Pemeriksaan Fisik a. Tanda-Tanda Vital

1) Tekanan darah : 130/80 mmHg 2) Denyut nadi : 67 / menit 3) Pernafasan : 23 / menit 4) Temperatur : 36° 5) Tinggi badan : 159 cm 6) Berat badan : 53 kg

b. Inspeksi

Inspeksi statis : 1. Kondisi umum pasien baik 2. Gangguan postur tubuh kifosis 3. Bahu asimetris

4. Scoliosis (+)

Inspeksi dinamis : 1. Saat jalan pasien cenderung membungkuk 2. Berjalan dengan pelan-pelan

c. Palpasi

1. Nyeri tekan pada pinggang bawah sebelah kanan tepatnya di L4-S1 2. Adanya spasme otot piriformis dextra

3. Suhu lokal pada pinggang bawah normal d. Gerak Dasar

1) Gerak Aktif :

 Lumbal : Pasien mampu menggerakkan semua gerakan LGS penuh tetapi ada nyeri saat gerakan fleksi, side fleksi dan rotasi.

 HIP : Pasien mampu menggerakkan semua LGS penuh tetapi ada nyeri saat gerakan fleksi, endorotasi, adduksi, abduksi

2) Gerak pasif :

 Lumbal : Pasien mampu menggerakkan semua LGS penuh tetapi ada nyeri saat gerakan fleksi dan rotasi, soft end feel.

e.Kognitif, intrapersonal, interpersonal

1. Kognitif : baik, pasien mampu menceritakan kronologis penyakit yang dideritanya.

2. Intrapersonal : baik, pasien mempunyai motivasi untuk sembuh. 3. Interpersonal : pasien sangat kooperatif dengan terapis, komunikatif dan dapat berinteraktif dengan baik dengan setiap orang. f. Kemampuan fungsional dan lingkungan aktifitas

1. Kemampuan fungsional dasar

a. Pasien merasakan sakit saat duduk ke berdiri, tidur ke duduk. b. Pasien mengalami gangguan saat membungkuk.

c. Pasien tidak mampu berjalan jauh. 2. Aktifitas fungsional

a. Kesulitan untuk bersila

b. Pasien merasakan kesemutan setelah duduk lama

c. Saat jongkok keberdiri pasien merasakan nyeri menjalar sampai kaki kanan.

3. Lingkungan Aktifitas

3. Pemeriksaan spesifik

1.Nyeri dengan VDS : a. Nyeri gerak : 7 b. Nyeri diam : 4 c. Nyeri tekan : 6

2. SLR : Pasien merasakan nyeri menjalar sepanjang perjalanan nerves Ischiadicus hasil (+)

Neri : Tidak ada iritasi pada durameter medula spinalis hasil (-) Bragad : Pasien merasakan nyeri pada punggung bawah hasil (+) 3. Kemampuan fungsional dengan skala jette

No. Aktivitas Nyeri Kesulitan Ketergantungan 1. Berdiri dari posisi duduk 2 1 1

2. Berjalan 15 meter 3 3 1

3. Naik tangga 3 trap 3 3 1

B. Diagnosa fisioterapi

Dalam dokumen penatalaksanaan FT ischialgia (Halaman 80-97)

Dokumen terkait