BAB IV HASIL PENELITIAN
B. Deskripsi dan Analisa Data
2. Pelaksanaan Mata Pelajaran
Mata pelajaran yang diajarkan di komunitas HSKS yaitu bahasa inggris, bahasa Indonesia, PKN, Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, Geografi, Sosiologi, Ekonomi.21 Mata pelajaran tersebut di ajarkan di kelas bersama tutor per mata pelajaran (mapel). Dalam komunitas jadwal belajar ditentukan oleh HSKS. Agar lebih jelasnya berikut tabel jadwal pembelajaran HSKS Pusat.
20
Hasil wawancara dengan kak Nina, Kepala akademik SMA HSKS Pusat pada tanggal 16 Maret 2016, di HSKS
21
Hasil wawancara dengan kak Dhika, kepala bagian pengembangan kurikulum HSKS Pusat pada tanggal 25 Agustus 2016, di HSKS
Tabel 4.5
Daftar Mata Pelajaran SMA
No Tingkatan Mata Pelajaran Hari dan Waktu belajar 1 SMA kelas X IPA, IPS, Matematika,
Pkn, bahasa indonesia, bahasa inggris
Senin, Rabu, jumat 13.00-16.00 (3 Jam) 2 SMA kelas XI IPA (Fisika, Kimia,
Biologi), Matematika, bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PKN IPS (Ekonomi/ akuntansi, Geografi, sosiologi), Matematika IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pkn 3 SMA kelas
X11
IPA (Fisika, Kimia, Biologi), Matematika, bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PKN IPS (Ekonomi/ akuntansi, Geografi, sosiologi), Matematika IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pkn
Selasa, Rabu, Jumat
13.00-16.00 (3 Jam)
Sumber: Brosur HSKS tahun 201622
Dari tabel di atas dapat penulis simpulkan mata pelajaran (Mapel) di HSKS untuk kelas X sama tetapi waktu naik kelas XI dan kelas XII mata pelajarannya sudah fokus dengan jurusan IPA atau IPS. hari belajar
22
Hasil studi dokumentasi, Program belajar SMA, Brosur HSKS Pusat tahun ajaran 2016/2017
antara kelas X dan kelas XI sama tetapi untuk kelas XII harinya berbeda agar mereka lebih fokus belajar untuk persiapan UNPK, tetapi waktu belajar sama durasinya. Sementara untuk kegiatan non-akademik hari jumat tempat pembelajaran menyesuaikan dengan tema yang telah ditentukan.
Jumlah siswa perkelas maksimal 10 siswa sesuai wawancara dengan
kak Imas bagian Humas HSKS “kalau komunitas maksimum 10 anak,
misalnya udah ada kelas yang isinya 10 masuk 1 kita buka kelas baru kan, kita tidak bisa membiarkan dia sendirian kelas lainnya yang di pecah yang disini isinya 5 yang disini isinya 6 gitu”23
hasil wawancara dengan kak Imas lebih lengkap terdapat pada lampiran 4.
Pernyataan di atas di perkuat kembali dengan hasil wawancara
siswa HSKS Pusat kak Aliya, “Kalau di kelas aku jumlahnya ada 8
orang”24
Tidak hanya dari hasil wawancara dari hasil observasi penulis pada tanggal 26 Oktober 2016 di kelas XI IPS terlihat jumlah siswa 9 orang dan 1 orang tidak masuk. Berikut gambar keadaan kelas pada saat pembelajaran.
Sumber: Gambar diambil oleh penulis pada kegiatan Observasi kegiatan belajar mengajar (KBM)
Gambar 4.5 KBM di kelas XI IPS
Dari gambar di atas jumlah siswa di kelas XI IPS ada 9 orang 1 orang tidak masuk.Siswa yang sedang memegang HP digunakan untuk
23
Hasil wawancara dengan kak Imas, bagian Humas HSKS Pusat pada tanggal 16 Maret 2016, di HSKS
24
Hasil wawancara dengan Qatrunnada Aliya, Siswa SMA HSKS pada tanggal 16 Maret 2016, di HSKS
mencari tugas di internet yang diberikan oleh tutor. Jika tugasnya sudah selesai HP akan di berikan ke tutor dan di masukan ke ranjang kecil khusus untuk tempat HP.25
Jumlah kelas di HSKS bervariasi antara kelas X, XI dan kelas XII, Selain wawancara dengan kak Aliya penulis juga mewawancarai kak
Nabila terkait dengan jumlah siswa dalam 1 kelas.“Di kelas aku sih ber
enam disini kan maksimalnya 10 siswa”.26
Berdasarkan wawancara di atas penulis dapat menjelaskan bahwa jumlah 1 kelas di komunitas HSKS Pusat maksimal 10 orang. Misalnya jika kelas X ada 1 kelas jumlahnya 10 orang dan ada 2 siswa baru masuk maka kelasnya di pecah jadi 2. Dari jumlah siswa dalam 1 kelas ini cukup efektif karena tutor dapat dengan mudah memahami karakteristik siswa dibandingkan dengan jumlah siswa dalam 1 kelas yang banyak. Jumlah siswa yang sedikit itu membuat belajar siswa jadi fokus dan hubungan antara tutor dan siswa bisa lebih akrab agar proses pembelajaran di kelas tidak kaku.
HSKS tidak membuat Standar kompetensi dan kompetensi dasar (SK/KD) tetapi hanya menyusun ulang saja. Berikut hasil wawancara dengan kak Dhika mengenai penyusunan SK/KD
“Kalau SK/KD kita itu tidak membuat cuma menyusun aja,
menyusun ulang. jadi SK KD itu dari standar isi KTSP, standar isi KTSP kan ada beberapa ya standar isi standar proses dll kita ambil dari situ standar isinya kemudian kan memang sudah
dikelompokan perkelas/semester tinggal kita modif aja tadi”.27
Hasil wawancara dengan kak Dhika lebih lengkap terdapat pada lampiran 4.
Standar kompetensi lulusan (SKL) HSKS pun tidak menyusun ulang tetapi mengacu ke peraturan pemerintah. Berikut hasil wawancara dengan kak Dimas mengenai SKL
25
Hasil observasi proses KBM kelas XI IPS pada tanggal 26 oktober 2016, di HSKS
26
Hasil wawancara dengan kak Nabila, Siswa SMA HSKS pada tanggal 16 Maret 2016, di HSKS
27
Hasil wawancara dengan kak Dhika, kepala bagian pengembangan kurikulum HSKS Pusat pada tanggal 16 Maret 2016, di HSKS
“Kalau kita SKL masih mengacu pada pemerintah sesuai standar nasional pendidikan Cuma bedanya SKL itu ada yang formal dan nonformal kalau kita pakai yang SKL kesetaraan walaupun sebenarnya itu isinya sama itu bisa dilihat buku tentang KTSP karangan E Mulyasa disitu ada”.28
Hasil wawancara dengan kak Dimas lebih lengkap terdapat pada lampiran 4.
Jadi SKL di HSKS merujuk ke peraturan menteri pendidikan nasional nomor 23 tahun 2006 tentang SKL sesuai jenjang pendidikan yang sedang ditempuh (SD, SMP, SMA).
Tidak hanya di sekolah formal di HSKS tutor sebelum mengajar pun membuat silabus dan RPP berikut hasil wawancara dengan kak Lilis tutor bahasa Indonesia silabus buat di awal tahun ajaran baru kalau RPP juga buat.29 Selanjutnya hasil wawancara dengan kak Imas mengatakan
“silabus disusun bersama-sama oleh staf ahli dan tutor di tahun 2014,
tahun-tahun selanjutnya tutor modifikasi RPP dengan dasar silabus itu. Silabus juga diperbaharui jika ada perubahan SK/KD, tapi pasti
melibatkan tutor”.30
Kemudian hasil wawancara dengan kak Dhika bagian kurikulum mengatakan
“Silabus itu kan memang komponen-komponen nya juga ada
SK/KD tinggal kita lihat aja kompetensi apa yang memang perlu dicapai, karena yang menyusun silabus kan tutor ya disini yang langsung terlibat dalam pembelajaran itu kita bikin apa namanya bikin kaya semacam pertemuan untuk menyusun silabus nah di silabus itu yaudah kita lengkapi komponen-komponen nya dan itu kalau silabus itu kan memang 2 semester ya itu di bikin 2 semester
berdasarkan KD nya”.31
Hasil wawancara dengan kak Dhika lebih lengkap terdapat pada lampiran 4.
Dari hasil wawancara di atas dapat penulis pahami HSKS membuat silabus pada tahun 2014, tahun selanjutnya tinggal di modifikasi jika ada pembaharuan dari SK/KD nya. Yang membuat silabus itu staf ahli dan
28
Hasil wawancara dengan kak Dimas, Direktur HSKS Pusat pada tanggal 09 Juni 2016, di HSKS
29
Hasil wawancara dengan kak Lilis, Tutor bahasa Indonesia HSKS Pusat pada tanggal 09 juni 2016, di HSKS
30
Hasil wawancara dengan kak Imas, kepala bagian pelayanan dan informasi HSKS Pusat pada tanggal 10 November 2016, di HSKS
31
Hasil wawancara dengan kak Dhika, kepala bagian pengembangan kurikulum HSKS Pusat pada tanggal 25 Agustus 2016, di HSKS
tutor sementara bagian kurikulum hanya menyelenggarakan dan memantau proses pembuatan silabus. Berikut contoh silabus HSKS
Sumber: gambar diambil oleh penulis pada saat pengumpulan data Gambar 4.6 Contoh silabus SMA jurusan IPS HSKS Pusat
Gambar di atas merupakan contoh silabus mata pelajaran ekonomi kelas XI, Silabus HSKS masih merujuk pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Dari hasil studi dokumen komponen-komponen silabus RPP hampir sama seperti di sekolah formal ada SK/KD, alokasi waktu, kegiatan belajar, domain kompetensi, indikator pencapaian kompetensi, teknik penilaian, bentuk instrumen, contoh instrumen, sumber bahan/alat tetapi ada tambahan komponennya yaitu outing/Friday class. Untuk lebih jelasnya contoh silabus terdapat dalam lampiran 8.
Untuk RPP pun HSKS baru menerapkannya sekitar 3 tahun yang lalu. Sesuai dengan data hasil wawancara dengan kak Ambi tutor Ekonomi
“Mulai 3 tahun yang lalu 2013/2014 udah mulai diwajibkan setiap
masuk pertemuan itu harus ada RPP. Formatnya dari hsks gak jauh beda lah dari yang di formal isinya sama ada KD, KI, tujuan kemudian ada indikator ada metode, ada kesimpulan ada penilaian
kaya gitu hampir sama”.32
Hasil wawancara dengan kak Ambi lebih lengkap terdapat pada lampiran 4.
Dari hasil wawancara tersebut HSKS baru mewajibkan setiap tutor membuat RPP pada 3 tahun terakhir komponen-komponennya pun sama seperti sekolah formal dan di indikatornya pun dikembangkan lagi, hal ini sesuai wawancara dengan kak Mujalisin tutor PKN
32
Hasil wawancara dengan kak Ambi, Tutor Ekonomi HSKS Pusat pada tanggal 09 Juni 2016, di HSKS
“…Kita pengembangan di indikator jadi kan SK/KD kan udah ada
jadi bentuk format nya udah ada Cuma kita bentuk pengembangannya di indikatornya mau seperti apa, metode pembelajarannya seperti apa, dari mulai pengenalan sampai apa ya eksplorasi ya terus elaborasi dan konfirmasi ya itu tinggal di
pengembangan itu aja formatnya seperti itu sih gak jauh beda…”33
Hasil wawancara dengan kak Mujalisin lebih lengkap terdapat pada lampiran 4.
Selanjutnya kak Dhika mengatakan mengenai pembuatan RPP di
HSKS yaitu “kalau RPP tidak langsung buat setahun tidak kita buat
misalnya seminggu sebelum pertemuan gitu kita buat RPP nya”.34
Dari hasil wawancara dengan kak Mujal dan kak Dhika HSKS membuat RPP berdasarkan SK/KD yang sudah ada dari pemerintah selanjutnya tutor tinggal mengembangkan RPP di indikatornya menyesuaikan dengan waktu belajar yang hanya 3 kali dalam seminggu. dan RPP dibuat seminggu sebelum tutor mengajar di kelas. RPP yang dibuat oleh tutor masih menggunakan format RPP KTSP.
Hasil pengamatan penulis proses pembelajaran di HSKS laykanya sekolah formal pada umunya siswa datang ke HSKS lalu belajar dalam ruang kelas yang nyaman dan fasilitas yang mendukung. Cuma yang membedakan dari persiapan mengajar, Sebelum mulai mengajar tutor melakukan briefing dengan kepala akademik serta tutor yang akan mengajar hari itu. Sesuai hasil wawancara dengan kak Mujalisin tutor PKN.
“Briefing setiap pagi kalau disini jam 8.30 briefing sampai selesai kan mulai pembelajarannya siang kalau yang SMA kadang sampai jam 9.30 kadang sampai jam 10.00 tergantung nanti situasi apa yang mau dibahas. Selesai mengajar evaluasi ya jam 16.00 sampai 16.30”. 35
hasil wawancara dengan kak Mujalisin lebih lengkap terdapat pada lampiran 4.
33
Hasil wawancara dengan kak Mujalisin, Tutor PKN HSKS Pusat pada tanggal 09 Juni 2016, di HSKS
34
Hasil wawancara dengan kak Dhika, kepala bagian pengembangan kurikulum HSKS Pusat pada tanggal 25 Agustus 2016, di HSKS
35
Hasil wawancara dengan kak Mujalisin, Tutor PKN HSKS Pusat pada tanggal 09 Juni 2016, di HSKS
Hasil wawancara selanjutnya dengan kak Ambi tutor ekonomi melengkapi hasil wawancara sebelumnya
“Sebelum mengajar setiap hari kita ada briefing ada
evaluasi di hari yang sama gitu jadi sebelum mengajar kita briefing kita ceritakan kita mau ngapaian aja di kelas gitu anak mau diajak apa aja kaya gitu nah selesai mengajar nanti ada evaluasi, apa yang di evaluasi ya anak tadi gimana metodenya lancarkah nah terus RPP nya sesuaikah kaya gitu dengan yang ditulis dengan di praktik lapangan kalau gak sesuai RPP nya ya kita edit kenapa
kendala-kendalanya apa”.36
Hasil wawancara dengan kak Ambi lebih lengkap terdapat pada lampiran 4.
Dari hasil wawancara di atas penulis dapat menggambarkan bahwa sebelum tutor mengajar di kelas, pagi nya ada briefing bersama kepala akademik dan tutor yang mengajar pada hari itu yang intinya menceritakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan di kelas nanti. Setelah briefing sore hari setelah mengajar di kelas tutor mengadakan evaluasi yang intinya bagaimana keadaan di kelas tadi apakah ada kendala lalu RPP yang dibuat sebelum mengajar apakah sudah sesuai atau belum, jika ada yang berubah misalnya dari metode pembelajarannya bisa di edit lagi disesuaikan dengan keadaan di kelas tadi. Manfaat briefing dan evaluasi ini setiap tutor jadi mengetahui metode atau pendekatan apa yang harus dipakai jika masuk ke kelas A, B dan C.
Berikut ini hasil wawancara dengan kak Mujalisin dan kak Linda mengenai persiapan tutor sebelum mengajar di kelas.
“…Ya persiapannya pertama RPP udah pasti ya terus metode pembelajaran misal kakak mau buat match mencocokan atau menjodohkan membuat soal nya jawabannya kita print terus apalagi misalnya presentasi butuh kertas karton atau apa tergantung
metodenya tadi menyesuaikan…”37
hasil wawancara dengan kak Mujalisin lebih lengkap terdapat pada lampiran 4.
36
Hasil wawancara dengan kak Ambi, Tutor Ekonomi HSKS Pusat pada tanggal 09 Juni 2016, di HSKS
37
Hasil wawancara dengan kak Mujalisin, Tutor PKN di HSKS Pusat pada tanggal 09 Juni 2016, di HSKS
Selanjutnya hasil wawancara dengan kak Linda mengenai persiapan tutor sebelum mengajar di kelas.
“…Materi yang kedua sih lebih ke metode setiap kelas pasti beda-beda kan gitu, jangan biarkan mereka mendengarkan ceramah kita karena mereka akan bete jadi metode tuh yang harus di pikirkan karena setiap kelas beda-beda terus sama apa ya itu penampilan ya kita tutor pengajar lebih ke busana juga kaya kita mengajar harus
make up juga terus ya segar lah di lihat sama siswa gitu jadi engga
kucel itu pengaruh juga…"38
hasil wawancara dengan kak Linda lebih lengkap terdapat pada lampiran 4.
Jadi, dari kedua hasil wawancara di atas tutor sebelum mengajar melakukan persiapan yaitu RPP, materi yang akan diajarkan, media pembelajaran yang akan digunakan, metode pembelajaran karena tidak semua kelas tutor bisa menggunakan metode yang sama. Dan terakhir penampilan tutor yang segar, rapih, bersih, dan wangi.
Untuk penggunaan media pembelajaran setiap tutor berbeda-beda karena disesuaikan dengan materi pelajaran pada hari itu. Sesuai hasil wawancara dengan kak Ambi yaitu: “Aku sendiri karena ekonomi terkadang aku ada beberapa media biasanya slide power point yang biasa yang standar kemudian ada namanya kartu akutansi ada kartu akulasi jadi kaya kartu remi gitu bentuknya tapi akuntansi”.39
Dari wawancara di atas dapat penulis jelaskan media yang digunakan seperti biasa power point dengan alat bantu laptop dan infokus. Tetapi penggunaan power point tidak selalu dipakai setiap kali pertemuan agar tidak menimbulkan kejenuhan dalam belajar dan media pembelajaran yang digunakan disesuaikan dengan materi pelajaran.
Selanjutnya metode pembelajaran yang biasa digunakan tutor yaitu
“presentasi salah satu metodenya, terus tutor sebaya, discovery learning
juga bisa”.40
Dari hasil observasi penulis pada kegiatan pembelajaran di
38
Hasil wawancara dengan kak Linda, Tutor biologi SMA HSKS Pusat pada tanggal 20 Oktober 2016, di HSKS
39
Hasil wawancara dengan kak Ambi, Tutor Ekonomi di HSKS Pusat pada tanggal 09 Juni 2016, di HSKS
40
Hasil wawancara dengan kak Lilis, Tutor bahasa Indonesia di HSKS Pusat pada tanggal 09 Juni 2016, di HSKS
kelas tutor menggunakan metode ceramah dan diskusi terkait tema yang telah ditentukan setelah itu siswa/i diberi tugas untuk melihat profesi yang sesuai dengan tema public speaking kemudian menebak nama profesi tersebut di kertas yang telah dibagikan.
Karena di HSKS untuk tingkat SMA nya anak berkebutuhan khusus (ABK) dan anak normal kelasnya disatukan pasti penanganannya berbeda berikut hasil wawancara penulis dengan kak Linda mengenai cara tutor menangani ABK
“…Kita bukan jurusan yang sekolah luar biasa ya jadi gak punya metode khusus yang ada panduannya gitu engga tapi kita lebih melihat kenyamanan anak itu dan jangan sampai dia tergores hatinya kaya gitu terus kita juga kalau dia punya pertanyaan kita kasih kesempatan dia kalaupun misalkan ada anak-anak yang agak
sedikit begitu saya akan tegur anak itu…”41
hasil wawancara dengan kak Linda lebih lengkap terdapat pada lampiran 4.
Hasil wawancara di atas menggambarkan tutor tetap memberi kesempatan kepada ABK untuk bertanya dan membuat mereka nyaman di kelas jika ada anak lain yang mengganggu siswa tersebut akan di tegur halus oleh tutor. Disini ditemukan maksud dari belajar yang ramah anak itu tutor memperhatikan kenyamanan anak ABK jangan sampai tutor mengeluarkan kata ABK dan memberikan kesempatan anak ABK untuk bertanya.
Anak ABK SMA di HSKS masih bisa diarahkan karena sebelum masuk komunitas sudah melalui assessment bahwa anak ABK ini bisa mengikuti kelas komunitas hal ini sesuai wawancara dengan kak Ambi diuraikan sebagai berikut
“…Untuk tutor sendiri ya gitu jadi karena emang tingkatan ABK nya gak terlalu yang berat banget jadi bisalah diarahkan biasanya dikasih soal gitu mereka suruh mengerjakan bahkan ya itu biasanya yang lebih cepat selesai. Terkadang ada jawabannya yang benar ada yang jawabannya ya gitu apa adanya jadi kita paham kondisinya
41
Hasil wawancara dengan kak Linda, Tutor Biologi SMA HSKS Pusat pada tanggal 20 Oktober 2016, di HSKS
kaya gitu…”42
Hasil wawancara lebih lengkap dengan kak Ambi terdapat pada lampiran 4.
Salah satu cara menangani anak ABK Kak Ambi memberikan soal agar anak ABK nya tidak jenuh dan tidak berjalan-jalan. Anak ABK yang penulis amati di HSKS masih dalam tahap yang tidak terlalu berat seperti
slow learner, suka berkeliling kelas dan mengulangi ucapan tutor.
Dalam kegiatan pembelajaran di komunitas HSKS, dari hasil observasi penulis di kelas pada tanggal 26 Oktober 2016 kegiatan belajar di HSKS terdiri dari 3 kegiatan yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Waktu Pelaksanaan proses pembelajaran di HSKS disesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Hal tersebut disebabkan karena setiap kelas komunitas tingkat SMA anak berkebutuhan khusus (ABK) dan anak normal kelasnya disatukan dengan catatan jumlah siswa normal lebih banyak daripada ABK nya, hal tersebut merupakan hasil wawancara dengan kak Dimas, hasil wawancaranya adalah sebagai
berikut: “itu kita menyebutnya sih program inklusi gitu jadi
menggabungkan antara reguler dengan berkebutuhan khusus dengan kapasitas maksimal per kelas itu hanya 2 yang berkebutuhan khususnya
sisanya itu yang reguler”.43
Dari wawancara tersebut dapat penulis simpulkan HSKS Pusat SMA ada program inklusi dimana anak yang normal kelasnya disatukan dengan ABK. sejauh dari hasil observasi penulis di kelas anak ABK tidak mengganggu anak normal justru sebaliknya walaupun sedikit ada interaksi antara anak ABK dan anak normal di kelas. Untuk tutornya mungkin ada sedikit hambatan karena anak ABK yang di kelas itu tergolong slow learner atau sulit memahami pelajaran dengan siswa pada umumnya. Sehingga bisa jadi pelaksanan pembelajaran tidak sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.
42
Hasil wawancara dengan kak Ambi, Tutor Ekonomi di HSKS Pusat pada tanggal 09 Juni 2016, di HSKS
43
Hasil wawancara dengan kak Dimas, Direktur HSKS Pusat pada tanggal 20 Oktober 2016, di HSKS