BAB VII MODEL PENDIDIKAN DEMOKRASI
6. Pelaksanaan Pembelajaran PKn
Pelaksanaan pembelajaran PKn dalam mengembangkan
pembelajaran demokratis di SMAT KN Bandung (2010), dalam batas-batas tertentu telah menerapkan model pembelajaran demokratis yang dikembangkan oleh Joyce, Weil dan Calhoun (2009:318-324), seperti terlihat dalam tabel berikut ini :
Tabel 3
Karakteristik Model Pembelajaran PKn
Untuk Pembelajaran Demokratis di SMAT KN Bandung (2010)
Karakteristik Model Struktur dan Pengembangan Nilai Demokratis
1. Sintakmatik Pengkondisian awal Pembentukan konseptual
Pembentukan kelompok multukultur Kerja kelompok
Presentasi
Reflektisi dan reinforcement Penutup
2. Sistem Sosial Sikap saling menghargai antar siswa-dan guru Keakraban antara siswa dan guru
Adanya kesepakatan model yang diterapkan Menghormati perbedaan agama, etnis, dan
budaya
Komunikasi yang hangat dalam pembelajaran 3. Prinsip Pengelolaan Dalam batas-batas tertentu guru berperan sebagai:
Fasilitator Mediator Konselor
Pemberi kritik yang baik
4. Sistem Pendukung Sistem “moving class” dengan dilengkapi : Seperangkat komputer
LCD
Sumber belajar (perpustakaan lengkap) Audio
5. Dampak Instruksional dan Pengiring
Dampak Instruksional :
Nilai tes hasil belajar reratanya di atas KKM Mampu menjawab pertanyaan lisan
Berani bertanya konsep yang dipelajari Mampu menjelaskan konsep
Karakteristik Model Struktur dan Pengembangan Nilai Demokratis
Toleransi terhadap perbedaan Santun dan tidan mengolok-olok Kerja sama
Saling membantu menyelesaikan tugas Mau mendengarkan pendapat orang lain
Mencermati tabel deskripsi di atas, bahwa pelaksanaan
pembelajaran dalam batas-batas tertentu telah merujuk pada pembelajaran demokratis. Proses ini penting untuk menjadikan kelas sebagai sebuah miniatur demokrasi yang dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam memecahkan masalah-masalah sosial dalam kerja sama yang efektif.
Dalam konteks ini, Pendidikan Kewarganegaraan di persekolahan (school civics) yang bertujuan untuk mempersiapkan warganegara muda agar mampu berpartisipasi secara efektif, demokratis dan bertanggung jawab, harus dikemas dalam pembelajaran yang memberikan keleluasaan pada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran agar siswa terbiasa berpartisipasi. Apabila hal itu terjadi, maka kebiasaan berperan aktif dan bersikap demokratis di kelas akan terbawa pada lingkungan yang lebih luas, yaitu lingkungan masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Untuk tujuan di atas itu, maka diperlukan strategi dan pendekatan
pembelajaran demokratis (democratic teaching), yang menurut
Budimansyah (2007:12) adalah suatu bentuk upaya menjadikan sekolah sebagai pusat kehidupan kehidupan demokrasi melalui proses pembelajran
yang demokratis. Secara singkat democratic teaching adalah proses
pembelajaran yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi, yaitu penghargaan terhadap kemampuan, menjunjung keadilan, menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keragaman perserta didik. Dalam prakteknya para pendidik hendaknya memposisikan peserta didik sebagai insan yang harus dihargai kemampuannya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya.
Pembelajaran demokratis (democratic teaching) ini dibangun dalam suasana terbuka, akrab, dan saling menghargai, dan sebaliknya perlu dihindari suasana belajar kaku, penuh dengan ketegangan, dan sarat dengan perintah dan instruksi yang membuat peserta didik menjadi pasif. Menguatkan argumentasi ini penelitian Tacman (2006) menyimpulkan bahwa “ …the democratic attitudes of classrooms teachers which is
important for improving people’s democratic behaviors.” Bahwa sikap demokratis yang ditampilkan guru di kelas adalah hal penting untuk meningkatkan perilaku-perilaku demokratis siswa.
Mengaitkan idealitas pembelajaran demokratis di atas, adalah hal menarik untuk dikaji tentang studi David Kerr (1999:10-11) tentang konsepsi pendidikan kewarganegaraan kontinum (Citizenship Education Continuum), Minimal dan Maksimal. Setiap kontinum menurut studi ini menampilkan karakteristik yang berbeda. Karakteristik masing-masing kontinum digambar dalam bagan berikut :
Tabel 4
Citizenship Education Continuum (Kerr,1999)
MINIMAL MAXIMAL Thin Exclusive Elitist Civic education Formal Content led Knowledge-based Didactic transmission Easier to achieve and measure in practice --- --- --- --- --- --- --- --- --- Thick Inclusive Activist Citizenship education Participative Process led Value-based Interactive interpretation Difficult to achieve and measure in practice
Menindaklanjuti konseptualiasi dalam bentuk kontinum tersebut di
atas, maka dikonsepsikan tiga pendekatan “Citizenship Education” (Kerr,
1999:12), yakni : (1) Education ABOUT citizenship, yang memusatkan
perhatian pada: “...providing students with sufficient knowledge and
understanding of national history and the structures and processes of government and political life; (2) Education THROUGH citizenship, yang menitikberatkan pada prinsip: ”...involves students learning by doing, through active, participative experiences in the school or local community and beyond. Proses belajar ini, “...reinforces the knowledge component”; (3) Education FOR citizenship, mencakup kedua pendekatan tadi (1 dan 2), yang melibatkan siswa pada :”...equipping students with a set of tools (knowledge and understanding, skills and aptitudes, values and dispositions) which enable them to participate actively and sensibly in the roles and responsibilities they encounter in their adult lives. Pendekatan
ini mengaitkan citizenship education dengan keseluruhan pengalaman pendidikan siswa.
Dengan menggunakan studi di atas, Kerr (1999:12-13) menganalisis
bahwa negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, “citizenship
education” lebih mencerminkan kategori “minimal” sebagai “education about citizenship”. Dalam konteks bahwa PKn sebagai sarana pendidikan demokrasi, maka saat ini, pembelajaran masih “teaching about democracy”, dan belum “how to build democracy”.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa pelaksanaan pembelajaran PKn di SMAT KN dalam batas-batas tertentu telah mengikuti Standar Proses (Permendiknas No 41 tahun 2007), dan karakteristik model pembelajaran demokratis Joyce dan Weil, yakni mencakup struktur, yakni meliputi : pengkondisian awal, pembentukan konseptual, pembentuk kelompok multikultur, kerja kelompok, refleksi dan reinforcement, dan penutup. Pembelajaran telah menciptakan sistem sosial yang demokratis, prinsip pengelolaan yang menunjukkan peran guru sebagai fasilitator, mediator dan pemberi kritik yang baik, ditunjang sistem pendukun yang lengkap, dan dampak instruksional dan pengiring yang baik. Akan tetapi, pembelajaran dan penilaian belum mengeksplor kompetensi siswa dalam mengembangkan berpikir kritis untuk memecahkan isu-isu kewarganegaraan yang kompleks, kontroversial dan nyata, yang dibangun konseptualnya melalui pelibatan siswa dalam kerja sama kelompok. Dengan demikian pembelajaran masih berkutat pada titik “education about citizenship” atau “teaching democracy”.
7. Pengembangan ”school culture” dalam pengembangan budaya