• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.5. Pelaksanaan Penelitian

3.5.1 Pengambilan Sampel dan Pengiriman ke Laboratorium 1. Persiapkan botol sebagai wadah sampel sebanyak 9 buah

2. Botol tersebut kemudian disterilisasi ke dalam oven dengan suhu 1210 C selama 10 menit

3. Pesan es kolak durian kepada penjual kemudian memasukkan es kolak durian ke dalam botol sebagai sampel

4. Botol sampel diberi nomor kode dengan menggunakan spidol. 5. Sampel kemudian dimasukkan ke dalam termos es

6. Pengiriman dilakuan secepatnya, yaitu dalam waktu 3 jam sampai di laboratorium.

6.5.2 Peralatan dan Bahan

a. Alat-Alat yang diperlukan 1. Autoclave 2. Incubator : 44°C 3. Timbangan 4. Rak Tabung 5. Lampu Bunsen 6. Tabung Reaksi 7. Pipet 10 ml 8. Kawat Ose 9. Tabung Durham 10. Spidol 11. Kapas 12. Kulkas

b. Media dan Reagensia yang diperlukan 1. Gram Buffer phosphate pH 7,2

3. Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLB) 2 % 4. Endo Agar

5. Alcohol 99 %

6. Cairan NaCl 500 ml (cairan infuse) untuk pengenceran 3.5.3. Cara Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Most Probable Number (MPN) dilakukan dengan menggunakan metode tabung ganda yang terdiri :

( 3x 10 ml;( 3x 1 ml);( 3x0,1 ml) Pemeriksaan tabung ganda terdiri dari :

1. Test Perkiraan(Presumptive Test) 2. Test Penegasan(Confirmative Test)

3.5.4. Test Perkiraan (Presumptive test)

Media yang digunakan adalah Lactose Broth (LB) Cara Pemerikasaan :

a. Siapkan 9 tabung reaksi yang masing-masing berisi media lactose broth sebanyak 10 ml. Tabung disusun pada rak tabung reaksi dan masing-masing diberi tanda :

- Nomor Urut

- Tanggal Pemeriksaan - Volume Tabung

b. Masukkan tabung durham dengan posisi terbalik ke dalam tabung reaksi

d. Ambil bahan pemeriksaan (sampel yang telah diencerkan) yang telah disiapkan dengan pipet kemudian masukkan ke dalam :

Tabung 1 s/d 3 masing-masing sebanyak 10 ml Tabung 4 s/d 6 sebanyak 1 ml

Tabung 7 s/d 9 sebanyak 0,1 ml

Masing-masing tabung tersebut digoyang-goyangkan agar specimen dan media tercampur.

e. Inkubasikan pada suhu 34°C-37°C selama 2x24 jam

Setelah 1x24 jam diperiksa ada tidaknya pembentukan gas pada tabung Durham. Catat semua tabung yang menunjukan peragian lactose (pembentukan gas). Bila terbentuk gas pada tabung dilanjutkan dengan test penegasan

Apabila test dalam waktu 1x24 jam tidak membentuk gas, dimasukkan ke inkubator kembali pada suhu 37°C selama 24 jam. Bila terbentuk gas pada tabung Durham maka test dilanjutkan dengan test penegasan. Bila test (-), berarti tidak ada bakteri yang dapat meragikan lactose, salah satunya adalah E. coli dan tidak perlu dilakukan test penegasan.

3.5.5. Test Penegasan(Confirmative test)

Media yang digunakan adalah Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLB) 2 %. Test ini untuk menegaskan hasil positif dari test perkiraan.

Cara Pemeriksaan :

a. Dari tiap-tiap tabung presumptive yang positif, dipindahkan 1ose ke dalam tabung confirmative yang berisi 10 ml BGLB 2 %

b. Tabung confirmative diinkubasikan pada suhu pada suhu 44°C selama 24 jam untuk memastikan adanya coliform tinja.

c. Pembacaan dilakukan setelah 2x24 jam dengan melihat jumlah tabung BGLB 2 % yang menunjukan positif gas.

3.5.6. Pembacaan Hasil Pemeriksaan

Pembacaan dari test penegasan dilakukan dengan menghitung jumlah tabung yang menunjukan adanya gas pada seri tabung yang diinkubasikan pada suhu 44°C. Angka yang diperoleh dicocokkan dengan table MPN, maka akan index MPN

Escherichia coli untuk tabung yang diinkubasikan pada suhu 44°C dan indeks MPN

coliformuntuk tabung yang diinkubasikan pada suhu 370C. 3.6. Defenisi Operasional

1. Es kolak durian merupakan salah satu makanan jajanan yang berasal dari proses pencampuran dimana bahan utamanya adalah durian yang dicampur dengan pulut (ketan), gula merah, dan santan sebagai kuahnya serta menggunakan es kristal untuk menambah rasa segar. Penjual es kolak durian adalah pedagang yang menetap/tidak bergerak dengan menggunakan gerobak di sepanjang jalan Dr Mansyur Padang Bulan Kota Medan.

2. Es Kristal adalah es yang dibuat dari mesin yang disebut dengan mesin Tube Ice, dimana es ini dikhususkan untuk minuman karena lebih hygiene, lebih jernih dan sudah tercetak rapi tidak perlu dipecahkan lagi. Ditambahkan pada es kolak durian pada saat penyajian.

3. Hygiene sanitasi makanan dan minuman adalah upaya untuk mengendalikan faktor tempat, peralatan, orang dan makanan yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan gangguan kesehatan atau keracunan makanan dengan menerapkan 6 prinsip hygiene sanitasi makanan dan minuman. Memenuhi syarat bila seluruh prinsip hygiene sanitasi terpenuhi dan tidak memenuhi syarat kesehatan bila tidak memenuhi atau salah satu saja tidak sesuai dengan prinsip hygiene sanitasi makanan dan minuman. 4. Pemilihan bahan adalah proses menentukan bahan-bahan dengan kondisi

segar, masih utuh dan diperoleh dari sumber yang resmi untuk digunakan dalam proses pengolahan es kolak durian.

5. Penyimpanan bahan adalah menaruh bahan pada tempat yang aman dan sehingga tidak terjangkau tikus, serangga, serta binatang pengganggu lainnya.

6. Pengolahan bahan adalah proses pengubahan bentuk dari bahan mentah menjadi es kolak durian yang siap saji.

7. Penyimpanan es kolak durian jadi adalah menaruh es kolak durian yang sudah siap saji pada tempat yang tidak tercemar debu, tertutup, tidak dapat dijangkau tikus, serangga, dan binatang pengganggu lainnya.

8. Pengangkutan es kolak durian adalah memindahkan es kolak durian dari tempat pengolahan ke tempat penyajian.

9. Penyajian es kolak durian adalah menghidangkan minuman siap santap (es kolak durian) di tempat yang telah disediakan dengan menggunakan peralatan bersih dan penyaji berpakaian bersih.

10. PemeriksaanEscherichia coliadalah pemeriksaan jumlahEscherichia coli

dalam es kolak durian yang merupakan indikator pencemaran dalam es kolak durian tersebut. Memenuhi syarat bakteriologis, jika Escherichia coli dalam es kolak durian tersebut sesuai dengan syarat Kepmenkes RI No. 492/Menkes/PER/IV/2010 yaitu 0 dalam 100 ml sampel.

11. Kandungan Escherichia coli dalam es kolak durian adalah banyaknya

Escherichia coli yang ditemukan pada es kolak durian yang merupakan indikator pencemaran, sesuai Kepmenkes RI No. 492/Menkes/PER/IV/2010. Memenuhi syarat apabila 0 per 100 sampel (negatif), tidak memenuhi syarat apabila > 0 per 100 ml sampel (positif). 12. Sampel penelitian adalah pedagang es kolak durian yang dijual di jalan

Dr. Mansur Padang Bulan Medan. Sampel yang diambil dari 7 pedagang es kolak durian di jalan Dr. mansyur Padang Bulan Medan. Dari masing-masing pedagang diambil 2 sampel yaitu es kolak durian yang menggunakan wadah steril dari peneliti dan es kolak durian yang menggunakan wadah tinggal jual dari para pedagang. Jumlah keseluruhan sampel adalah 14 sampel.