• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

PELAKSANAAN PENELITIAN

Persiapan Lahan

Lahan yang digunakan untuk penelitian diolah dengan menggunakan traktor kecil dengan kedalaman olah tanah 15-25 cm. Pengolahan dilakukan hingga tanah menjadi gembur, rata dan bersih dari sisa-sisa gulma dan perakaran. Dibuat plot-plot percobaan dengan ukuran 275 cm x 275 cm dengan jarak antar plot 70 cm.

Penanaman

Penanaman dilakukan dengan menugal sedalam 3 – 5 cm. Jarak antar lubang ditentukan sesuai dengan perlakuan pola tanam. Pada sistem satu baris menggunakan jarak tanam 60 cm x 25 cm, sistem dua baris menggunakan jarak 25 cm x 25 cm, sedangkan pada sistem baris segitiga berjarak 25 cm x 25 x 25 cm (Gambar 1). Setiap lubang ditanam satu biji jagung lalu ditutup dengan tanah. Jagung ditanam dengan barisan tegak lurus dengan arah matahari terbit.

x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x a b c

Gambar 1. Bagan Sistem Jarak Tanam: a. Satu baris, b. Dua baris, c. Baris segitiga

Pemeliharaan Tanaman

Penyulaman

Penyulaman dilakukan saat tanaman berumur 1 MST. Penyulaman dilakukan dengan menanam benih jagung pada lubang tanam yang tanamannya tidak tumbuh atau pertumbuhanya tidak baik.

Pemupukan

Pupuk yang diberikan yaitu 135 Kg N/Ha, 36 Kg P2O5 /Ha dan 25 Kg K2O/Ha (Warisno, 1998). Dosis pemupukan dikonversikan dalam 300 Kg Urea/Ha, 100 Kg SP-36/ Ha dan 50 Kg KCl. Pemberian Nitrogen dibagi atas tiga tahap, dimana diberikan 1/3 bagian dari dosis pada masing-masing tahap berturut-turut pada saat tanam, umur 4 MST dan 8 MST. Sedangkan pupuk P dan K diberikan seluruhnya pada saat tanam. Pemupukan dilakukan dengan cara menabur pada lubang yang dibuat sedalam 5 cm dengan jarak 5 cm dari lubang tanam lalu ditutup dengan tanah.

Penyiraman

Selama penelitian tidak dilakukan penyiraman karena curah hujan yang cukup tinggi.

Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma dilakukan dengan beberapa metode. Metode yang digunakan adalah tanpa pengendalian gulma (kontrol), bebas gulma sepanjang musim (kontrol), secara manual dengan menggunakan sabit pada tanaman umur 2 MST, disemprot dengan glifosat (2 L Round-up/ha) saat umur tanaman 4 MST, dan disemprot paraquat (3 L Gromoxone/ ha) saat tanaman umur 4 MST. Pengendalian kimia dengan alat semprot punggung.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dilakukan dengan penyemprotan insektisida Decis 2,5 EC dosis 0,5 cc/liter air saat malai tanaman jagung mulai mekar karena ada serangan kutu pada malai. Selama penelitian tidak terjadi serangan penyakit sehingga tidak dilakukan penyemprotan fungisida.

Panen

Jagung dipanen pada umur 14 MST saat warna kelobot telah berubah warna menjadi kuning dan biji telah keras. Cara panen jagung adalah dengan mematahkan tangkai tongkol jagung.

Pengeringan dan Pemipilan

Setelah panen, dilakukan pengeringan brangkasan dan tongkol jagung selama tiga hari di bawah sinar matahari langsung. Penjemuran dilakukan di atas seng yang dihamparkan di bawah sinar matahari. Kemudian dilakukan pemipilan tongkol dengan tangan.

Parameter

Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman diukur mulai dari leher akar hingga ujung daun tertinggi dengan menggunakan meteran. Pengukuran pertama dilakukan umur 2 MST dengan interval dua minggu sekali hingga muncul bunga jantan sebanyak 75 %.

Jumlah Klorofil Daun Jagung

Jumlah klorofil daun jagung dihitung dengan menggunakan alat pengukur klorofil (merek Minolta). Daun yang dihitung jumlah klorofilnya adalah daun yang

paling tengah. Pengukuran dilakuan pada bagian pangkal, tengah dan ujung daun lalu diratakan. Pengukuran dilaksanakan pada saat tanaman mulai berbunga (7 MST).

Umur berbunga

Umur berbunga ditentukan pada saat bunga jantan setiap tanaman muncul. Dicatat umur berbunga setiap hari dimulai sejak bunga pertama keluar sampai dengan tanaman per plot berbunga sebanyak 75 %.

Persentase Jumlah Tanaman Bertongkol dua per plot

Tanaman yang dihitung adalah tanaman keseluruhan dalam plot kecuali tanaman pada barisan terluar. Tanaman yang dihitung adalah tanaman yang mengeluarkan dua tongkol.

Bobot 100 Biji per plot

Biji dikeringkan dan dipipil lalu secara acak diambil 100 biji per plot dan ditimbang.

Nilai Indeks Panen

Nilai indeks panen dihitung dengan membagikan bobot biji pipilan kering per tanaman dengan bobot brangkasan kering per tanaman.

Produksi Per Tanaman

Biji dipipil setelah dikeringkan. Produksi pipilan kering per tanaman dihitung dengan menimbang biji pipilan masing-masing tanaman.

Produksi Per Hektar

Produksi pipilan kering per hektar merupakan proyeksi dari produksi pipilan kering per tanaman yaitu dengan mengalikan produksi per tanaman dengan populasi tanaman jagung per hektar dengan ketentuan:

- Populasi tanaman per hektar pada sistem tanam J2 = 93.600 tanaman

- Populasi tanaman per hektar pada sistem tanam J3 = 97.478 tanaman Persentase Kerusakan Jagung

Gejala pengamatan berupa adanya bercak kecoklatan seperti terbakar dan daun kekuningan. Gejala yang muncul diamati untuk mengetahui sejauh mana herbisida dapat mempengaruhi tanaman jagung. Pengamatan dilakukan sebanyak dua tahap dan disesuaikan dengan jenis herbisida yang diaplikasikan. Tahap I, pengamatan satu minggu setelah penyemprotan untuk perlakuan paraquat dan dua minggu setelah penyemprotan untuk perlakuan glifosat. Tahap II, pengamatan dilakukan dua minggu setelah penyemprotan untuk paraquat sedangkan untuk glifosat dilakukan pengamatan pada tiga minggu setelah penyemprotan. Persentase kerusakan dihitung dengan membagi jumlah daun yang rusak dengan jumlah seluruh daun tanaman tersebut lalu dikali 100 % seperti rumus berikut :

% 100 daun seluruh jumlah rusak yang daun Kerusakan % = ×

Persentase PemulihanTanaman Jagung (%)

Pemulihan tanaman dari kerusakan akibat herbisida diamati pada setiap tanaman. Pengamatan akibat paraquat dilakukan dua minggu setelah penyemprotan sedangkan pengamatan pemulihan dari kerusakan akibat glifosat dilakukan 3 minggu setelah penyemprotan. Persentase pemulihan dihitung dengan pengurangan persentase kerusakan tahap I dengan persentase kerusakan tahap II.

Gulma dalam Barisan

Jenis gulma dalam barisan diidentifikasi dengan membuat petak contoh pada setiap plot ukuran 25 cm x 50 cm pada area dalam barisan tersebut. Pengamatan

dilakukan sebelum penyiangan dan bersamaan dengan panen. Jenis dan populasi gulma diidentifikasi lalu dihitung Nilai Jumlah Dominasi (NJD) dengan rumus sebagai berikut

3 BK FN KN SDR = + + Keterangan:

KN = Kerapatan Nisbi, diperoleh dengan membagikan Kerapatan Mutlak terhadap jumlah semua spesies dikali 100%

FN = Frekwensi Nisbi, diperoleh dengan membagikan Frekwensi Nisbi mutlak terhadap jumlah Nilai Frekwensi Mutlak semua jenis spesies dikali 100 % BK= Bobot kering gulma

Gulma antar Barisan

Jenis gulma antar barisan diidentifikasi dengan membuat petak contoh pada setiap plot ukuran 25 cm x 50 cm pada area antar barisan tersebut. Pengamatan dilakukan sebelum penyiangan dan bersamaan dengan panen. Jenis dan populasi gulma diidentifikasi dihitung Sum Dominan Ratio (SDR).

Bobot kering Gulma dalam Barisan

Jenis gulma diidentifikasi dengan membuat petak dalam barisan pada setiap plot dengan ukuran 25 cm x 50 cm (Gambar 1) kemudian dipotong pangkal batang gulma yang tumbuh pada petak tersebut. Kemudian gulma dikeringkan dan ditimbang tiap jenisnya. Pengamatan dilakukan pada saat tanaman jagung dipanen.

Bobot kering Gulma antar Barisan (g)

Jenis gulma diidentifikasi dengan membuat petak antar barisan pada setiap plot dengan ukuran 25 cm x 50 cm (Gambar 2) kemudian dipotong pangkal batang gulma yang tumbuh pada petak tersebut. Kemudian gulma dikeringkan dan ditimbang tiap jenisnya. Pengamatan dilakukan pada saat tanaman jagung dipanen.

Dokumen terkait