A. Interpretasi Hasil Penelitian

3. Pelaksanaan Peran Educator

Pelaksanaan peran educator dari 9 partisipan diketahui tentang respon pasien dan keluarga, cara penyampaian penkes dan atau informasi-informasi kesehatan yang dilakukan perawat, hambatan dari pasien dan keluarga

ketika perawat menjalani peran educator, hambatan dari diri perawat dan teman sejawat, serta perawat bersikap sabar, ramah, menggunakan bahasa daerah, memperhatikan kondisi fisik pasien, dan meminta bantuan rekan perawat dalam mengatasi hambatan dari pasien dan keluarga, serta teman sejawat.

Respon pasien dan keluarga ketika perawat menjalankan peran educator yaitu pasien dan keluarga merasa senang dan merasa diperhatikan, ada beberapa pasien yang awalnya menolak karena penyakitnya namun akhirnya dapat menerima, pasien dan keluarga dapat menerima informasi yang diberikan akan tetapi kadang pasien tidak mematuhi apa yang disarankan perawat. Hal tersebut sesuai dengan salah satu penelitian yang dilakukan di negara USA oleh Zam A. dan Keung (2004), mereka mengatakan bahwa respon pasien saat menerima edukasi dan informasi-informasi kesehatan saat perawataan adalah beragam. Ada pasien yang akan merasa senang dan merasa nyaman, selain itu informasi tersebut akan mengatasi kecemasan pasien saat menjalani perawatan. Ada pasien yang setelah menerima informasi mengenai kondisinya atau penyakit yang dialaminya pasien

tersebut awalnya akan marah (anger) dan menolak namun akhirnya akan menerima keadaannya, dengan adanya dukungan dari berbagai pihak. Selain itu, ada pasien yang tidak patuh dengan saran yang diberikan perawat untuk dilakukan. Hal tersebut dipengaruhi oleh motivasi dan perilaku pasien. Semua ungkapan partisipan yang sesuai dengan pernyataan Zam A. dan Keung tergambar pada sub tema 3.1 mengenai respon pasien dan keluarga ketika perawat menjalankan peran educator. P4 & P8 mengatakan bahwa pasien dan keluarga merasa senang dan memperhatikan karena mendapatkan informasi. Sedangkan P6 & P7 mengatakan bahwa respon pasien dan keluarga bermacam-macam. Banyak yang menerima, banyak juga yang menolak, menolak dalam artian bahwa tidak mematuhi apa yang seharusnya dilakukan.

Pelaksanaan peran educator juga tergambar dari cara penyampaian penkes atau informasi-informasi kesehatan yang dilakukan perawat adalah secara spontan tanpa persiapan khusus misalnya saat melakukan injeksi atau perbeden, selain itu perawat harus melakukan persiapan dengan mengetahui terlebih dahulu jenis penyakit pasien sesuai diagnosa dokter, hasil laboratorium pasien, ataupun

hasil rontgen. Perawat juga menyampaikan informasi-informasi kesehatan saat pasien pertama kali masuk untuk rawat inap dan saat pasien akan kembali ke rumah. Ungkapan-ungkapan partisipan dapat dilihat pada sub tema 3.2 mengenai cara penyampaian penkes dan atau informasi-informasi Kesehatan yang dilakukan perawat. Menurut hasil penelitian di Amerika, Health Health Service

Medical Corporation Inc (Bastable. 2002) yang menyatakan

bahwa hanya seperlima dari 1500 perawat yang melakukan persiapan dalam memberikan pendidikan kesehatan dan secara keseluruhan hasilnya tidak memuaskan. Persiapan sebelum memberikan pendidikan kesehatan sangat membantu kelancaran kerja perawat (Bastable. 2002). Hal ini sesuai dengan pengalaman salah seorang partisipan (P4), dia mengatakan bahwa sebelum memberi informasi pada pasien, dia harus mengetahui terlebih dahulu hasil laboratorium, dan informasi-informasi lainnya yang berkaitan dengan keadaan pasien. Selain itu, perawat secara spontan memberikan penkes saat injeksi atau perbeden dikarenakan oleh kurangnya waktu, dan banyaknya tugas perawat hal ini tidak dengan teori menurut Bastable (2002). Untuk ketiga partisipan (P6, P7,

& P9) memberikan pernyataan yang berbeda-beda. P6 menjawab pertanyaan namun tidak sesuai dengan pertanyaan peneliti, dan tidak sesuai dengan teori Bastable. P7 menyatakan bahwa cara penyampaian penkes biasanya langsung pada tindakan perawatan sesuai dengan kondisi pasien misalnya pasien sesak napas, partisipan langsung malakukan tindakan posisi tirah baring dengan kepala yang lebih tinggi, dan pemberian O2. P8 menyatakan bahwa cara penyampaian penkes secara khusus sesuai perencanaan tidak ada sama sekali, namun semuanya didasarkan pada rasa simpati dan empati. Ungkapan P7 dan P8 juga tidak sesuai dengan teori menurut Bastable. Akan tetapi hal ini menarik karena adanya pemahaman kreatif yang diungkapkan oleh partisipan.

Hambatan dari pasien dan keluarga ketika perawat menjalani peran educator juga merupakan gambaran ketika perawat menjalani peran educator dimana adanya sumber daya manusia dalam hal ini pasien dan keluarga dengan tingkat pendidikan yang rendah. Pasien dan keluarga hanya menamatkan sekolah dasar (SD) bahkan ada yang tidak bersekolah. Hal ini terungkap pada pernyataan-pernyataan partisipan dalam sub tema 3.3 mengenai

hambatan dari pasien dan keluarga ketika perawat menjalani peran educator. Menurut Bastable (2002), tingkat pendidikan yang rendah pada pasien dan keluarga merupakan beberapa alasan yang menurunkan motivasi dan menghambat proses pembelajaran. Hal ini secara otomatis menjadi rintangan yang menghambat kemampuan pasien dan keluarga untuk memperoleh informasi-informasi penting yang patut diperoleh. Terdapat dua partisipan (P3 & P4) yang menyatakan bahwa menurut pribadi mereka tidak ada hambatan dari pasien dan keluarga Hal ini sangat tidak sesuai dengan teori Bastable (2002) yang menjelaskan berbagai hambatan pendidikan kesehatan dari pasien dan keluarga. P1 menyatakan bahwa ada hambatan dari pihak keluarga saja, dimana keluarga berulangkali bertanya pada perawat meskipun perawat sudah menjelaskan sebelumnya. Berbeda dengan P5, partisipan ini menjawab pertanyaan peneliti dengan membandingkan ruangan jaga perawat dengan ruangan jaga perawat lain, dimana partisipan tersebut melihat tingkat pendidikan dan ekonomi pasien yang tinggi di ruangan kelas I, II atau VIP, penerimaan edukasinya akan lebih mudah, sedangkan pasien di bangsal dengan tingkat pendidikan dan ekonomi

rendah akan lebih sulit dalam penerimaan edukasi dari perawat. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori menurut Bastable (2002), akan tetapi ini menarik, karena partisipan mengungkapkan pemahamannya berdasarkan pengalaman yang dialaminya. P7 menyatakan bahwa saat menjelaskan pada pasien dan pasien tidak juga mengerti, hal tersebut mungkin berhubungan dengan kondisi fisik pasien (lansia) dengan pendengaran berkurang, maka perawat akan menjelaskan pada keluarga. Hal ini sesuai dengan teori menurut Bastable (2002) yang mengatakan bahwa salah satu hambatan dari pasien adalah menurunnya fungsi tubuh (panca indra). P8 menyatakan bahwa ada hambatan namun sebagai perawat harus sabar dan tetap belajar. Hal tersebut menggambarkan bahwa adanya kesadaran dari perawat sendiri mengenai hambatan yang dialami dan pemahaman perawat mengenai menyikapi hambatan tersebut dengan sikap sabar dan tetap belajar. Sedangkan P9 menyatakan bahwa dengan jumlah pasien yang sangat banyak, dan beban pekerjaan yang lebih membuat perawat tidak memperhatikan detail pasien satu persatu. Hal ini sesuai dengan teori (Bastable, 2002) yang menyatakan hambatan dari perawat antara lain perawat tidak siap

memberikan pendidikan kesehatan. Ketidaksiapan ini dapat diakibatkan karena keterbatasan waktu.

Hambatan dari diri perawat dan teman sejawat juga menjadi tantangan bagi perawat sendiri dalam menjalani peran educator. Kurangnya pengalaman yang dimiliki perawat, kurangnya motivasi, kurangnya waktu untuk penyampaian penkes secara detail, kurangnya saling pengertian dari teman perawat. Selain itu, ada juga perawat yang merasa marah dan jengkel ketika telah menjelaskan secara berulang-ulang dan pasien tidak mematuhi. Semua pernyataan tersebut terdapat dalam ungkapan-ungkapan partisipan pada sub tema 3.4 mengenai hambatan dari diri perawat dan teman sejawat juga menjadi tantangan bagi perawat sendiri dalam menjalani peran educator. Menurut Bastable (2002) motivasi untuk menjalankan peran

educator merupakan faktor utama untuk menentukan

keberhasilan upaya mendidik. pengajaran yang dilakukan perawat kadang merupakan prioritas yang rendah karena sifat asuhan keperawatan yang berorientasi pada tugas sebagai care giver. Hal inilah yang menyebabkan kurangnya motivasi perawat dalam menjalankan peran

merupakan faktor utama yang selalu ada. Pasien yang sangat parah hanya dirawat dalam waktu singkat; jadwal dan tanggungjawab perawat sangat menuntut; Akan tetapi perawat harus tau cara penggunaan pendekatan yang singkat, efisien dan tepat guna untuk pendidikan pasien dan staff dengan memakai metode dan peralatan instruksional saat pemulangan. Bastable (2002) menjelaskan mengenai hambatan yang sering dialami perawat saat menjalankan peran educator namun, perawat juga harus mengerti cara mengatasi hambatan tersebut. Dalam pernyataan beberapa partisipan, mereka menyatakan bahwa untuk mengatasi kondisi waktu yang singkat maka penkes dilakukan secara spontan. Hal ini tidak sesuai dengan teori menurut Bastable.

Selain itu Bastable menyatakan bahwa karakter pribadi perawat pendidik memainkan peran penting dalam menentukan interaksi dan hasil pemberian penkes. karakter sabar dan saling pengertian antara tenaga kesehatan dan pasien, serta jalur komunikasi harus diperkuat diantara berbagai jenis pemberi perawatan kesehatan. Hal-hal inilah yang sering dilupakan perawat, sehingga sering terjadi

sendiri. Hal-hal yang diungkapkan partisipan penelitian sangat berkaitan erat dengan yang pernyataan-pernyataan Bastable. Dua partisipan penelitian (P2 & P8) tidak menjelaskan secara detail masalah berupa kendala yang dialami, mereka hanya menyatakan bahwa tidak ada hambatan, karena selama ini, mereka meminta bantuan pada teman perawat lainnya ketika ada masalah. Hal ini tidak sesuai dengan teori Bastable, yang mengatakan bahwa ada kendala dari perawat sendiri dan teman sejawat saat perawat menjalani peran educator.

Perawat juga berusaha mengatasi kendala/hambatan dari pasien dan keluarga serta diri perawat sendiri dan orang lain dengan cara memiliki sikap sabar, tetap ramah (P2) menjelaskan informasi-informasi kesehatan secara rangkum dengan menggunakan kata-kata sederhana dan bahasa daerah/Jawa (P6), tetap memperhatikan kondisi fisik pasien. Perawat juga meminta bantuan dari teman perawat lain untuk membantu menjelaskan pada pasien dan keluarga ketika perawat tersebut sudah menjelaskan akan tetapi pasien dan keluarga tidak mengerti atau bahkan tidak mematuhi setiap apa yang telah disampaikan perawat (P7). Hal ini sesuai dengan pernyataan-pernyataan

partisipan pada sub. tema 3.5 mengenai cara mengatasi kendala/hambatan dari pasien dan keluarga serta diri perawat sendiri dan orang lain.

Perawat memiliki inisiatif untuk mengatasi setiap hambatan yang ada dengan cara perawat sendiri. Perawat bersikap sabar dan tetap ramah, hal ini menggambarkan bahwa adanya kesadaran dari perawat sendiri mengenai hambatan yang dialami dan pemahaman perawat mengenai menyikapi hambatan/kendala tersebut.

Menurut Bastable (2002) komunikasi merupakan hal penting bagi seorang perawat, semuanya akan mempengaruhi kualitas pendidikan kesehatan yang diberikan oleh seorang perawat kepada pasien dan keluarga. Partisipan mengatakan bahwa dalam mengatasi kendala dari pasien dan keluarga dengan tingkat pendidikan rendah maka perawat akan menjelaskan informasi-informasi kesehatan secara rangkum dengan menggunakan kata-kata sederhana dan bahasa daerah/Jawa.

Perawat dalam memberikan penkes dan atau informasi kesehatan harus memperhatikan kondisi pasien dan

keluarga hal ini sesuai dengan ungkapan Bastable (2002) bahwa salah satu hambatan dari pasien adalah gangguan panca indera, oleh karena itu perawat harus tetap memperhatikan kondisi pasien saat memberikan penkes dan atau informasi kesehatan.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dan pembahasan yang telah dilakukan pada sembilan partisipan (Halaman 36-47)