• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : IMPLIKASI HUKUM KEBERADAAN RAHMAWATI

C. Pelanggaran Hukum Oleh Produser dan Sutradara

Asal mula sengketa biasanya bermula pada situasi dimana ada pihak yang merasa dirugikan oleh pihak lain. Perselisihan biasanya ini diawali oleh perasaan tidak puas, bersifat subyektif dan tertutup. Kejadian ini dapat dialami perorangan

146 Ibid, hlm.94

maupun kelompok. Jika hal ini berkelanjutan, pihak yang merasa dirugikan menyampaikan ketidakpuasan ini kepada pihak kedua dan apabila pihak kedua dapat menanggapi dan memuaskan pihak pertama, maka selesailah hubungan konfliktual tersebut. sebaliknya jika beda pendapat terus berlanjut, maka terjadi apa yang disebut sebagai sengketa.147

Perbedaan pendapat dan perdebatan yang berkepanjangan biasanya berakhir dengan putusnya jalur komunikasi yang sehat sehingga masing-masing pihak mencari jalan ke luar tanpa memikirkan nasib ataupun kepentingan pihak lainnya. Untuk adanya proses penyelesaian sengketa yang efektif, prasyarat bahwa hak didengar kedua belah pihak sama-sama diperhatikan harus terpenuhi. Dengan itu baru dapat dimulai proses dialog dan pencarian titik temu yang akan menjadi panggung dimana proses penyelesaian sengketa dapat berjalan. Tanpa kesadaran pentingnya langkah ini, proses penyelesaian sengketa tidak dalam arti yang sebenarnya. Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi proses penyelesaian sengketa, yaitu : 148

1. Kepentingan 2. Hak-hak

3. Status kekuasaan.

Para pihak yang bersengketa ingin kepentingannya tercapai, hak-haknya dipenuhi serta ingin status kekuasaannya diperlihatkan, dimanfaatkan dan dipertahankan. Proses penyelesaian sengketa, pihak-pihak yang bersengketa lazimnya akan bersikeras mempertahankan ketiga faktor tersebut di atas.

147 Sri Soemantri, Prospek dan Pelaksanaan Arbitrase di Indonesia,. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hlm. 21.

148 Ibid, hlm..22

113

Pelanggaran hak cipta merupakan pelanggaran hak cipta untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi bagi pembajak dan mengakibatkan kerugian bagi pencipta secara hak ekonominya. Seperti yang telah diketahui bahwa perlindungan hukum bagi pencipta sangat dibutuhkan dimana untuk melindungi hak-hak pencipta yang selama ini jarang mendapat perhatian, sekalipun undang-undang hak cipta telah mengalami penyempurnaan dari waktu kewaktu akan tetapi tidak sedikit kasus pelanggaran yang terjadi. Hal tersebut jika dipandang dari segi hak-hak pencipta maka pelaku pelanggaran hak cipta telah melanggar hak ekonomi dan hak moral yang telah melekat pada pencipta itu sendiri, akan tetapi pengabaian terhadap kasus-kasus hak cipta membuat pelanggaran hak cipta semakin tumbuh subur.

Salah satu persoalan tentang kebutuhan hukum pencipta, sebagai seorang yang telah mengespresikan ide-ide di dalam suatu karya cipta ataupun ilmu pengetahuan. Kebutuhan hukum ini bagi pencipta sangat penting untuk melindungi hak-haknya sebagai pencipta terhadap barang ciptaannya, serta untuk mengetahui sanksi yang diberikan oleh undang-undang jika terjadi suatu pelanggaran hukum terhadap suatu karya cipta yang telah dilindungi.149

Memahami perbuatan itu merupakan perbuatan pelanggaran hak cipta harus dipenuhi unsur-unsur penting sebagai berikut:150

1. Larangan undang-undang. Perbuatan yang dilakukan oleh seorang pengguna hak kekayaan intelektual dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang.

2. Izin (lisensi). Penggunaan hak kekayaan intelektual dilakukan tanpa persetujuan (lisensi) dari pemilik atau pemegang hak terdaftar.

149 Ninik Setyaningrum Diamaria, Tinjauan Yuridis Normatif terhadap Perlindungan Hak Cipta, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2014, hlm. 112.

150 Ibid.

3. Pembatasan undang-undang. Penggunaan hak kekayaan intelektual melampaui batas ketentuan yang telah ditetapkan oleh undang-undang.

Adapun spesifikasi dari jenis pelanggaran yang terjadi dalam lingkup hak cipta antara lain adalah :151

1. Seseorang yang tanpa persetujuan pencipta meniadakan nama pencipta yang tercantum pada ciptaan tersebut.

2. Mencantumkan nama pencipta pada ciptaan tanpa persetujuan si pencipta.

3. Mengganti atau mengubah isi ciptaan tanpa persetujuan pencipta.

4. Mengkomersilkan, Memperbanyak atau menggandakan suatu ciptaan tanpa seizin pemegang hak cipta.

5. Memuat suatu ketentuan yang merugikan perekonomian Indonesia dalam suatu perjanjian lisensi.

Menurut Abdulkadir Muhammad bahwa tidak dapat dikatakan melanggar hak cipta apabila :152

1. Suatu ciptaan pihak lain digunakan untuk keperluan pendidikan, penelitian dan hal-hal non komersil lainnya.

2. Penggunaan ciptaan pihak lain untuk keperluan pembelaan dalam suatu proses sengketa baik di dalam maupun di luar jalur pengadilan.

3. Perbanyakan suatu ciptaan bidang ilmu pengetahuan dalam huruf braile untuk keperluan tuna netra.

4. Perubahan yang dilakukan atas karya arsitektur seperti ciptaan bangunan berdasarkan pertimbangan teknis. Maksudnya adalah apabila karya arsitektur tersebut misalkan membahayakan keselamatan umum maka dapat diubah tanpa seizin penciptanya.

5. Pembuatan salinan cadangan suatu program komputer yang bukan untuk keperluan komersil.

Pengecualian pelanggaran hak cipta sebagaimana disebutkan di atas adalah salah satu pembebasan hak cipta dari pelanggaran dengan tujuan untuk kepentingan umum. Dimana hak cipta tersebut dapat digunakan dengan ataupun tanpa adanya izin dari pencipta. Dalam kerangka perlindungan hak cipta, hukum membedakan dua macam hak, yaitu hak ekonomi dan hak moral. Hak ekonomi

151 Abdulkadir Muhammad, Op.Cit, hlm 143

152 Ibid

115

berhubungan dengan kepentingan ekonomi pencipta seperti hak untuk mendapatkan pembayaran royalti atas penggunaan (pengumuman dan perbanyakan) karya cipta yang dilindungi. Hak moral berkaitan dengan perlindungan kepentingan nama baik dari pencipta, misalnya untuk tetap mencantumkan namanya sebagai pencipta dan untuk tidak mengubah isi karya ciptaannya.

Film Soekarno garapan sutradara Hanung Bramantyo ditarik dari peredaran setelah Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengeluarkan penetapan sementara terkait adanya dugaan pelanggaran hak cipta di film tersebut. Penetapan sementara ini diterbitkan setelah Rachmawati Soekarnoputri, salah satu putri Bung Karno, melayangkan permohonan ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dalam penetapan sementara menetapkan bahwa pihak PT Tripar Multivision Plus, Raam Jethmal Punjabi, dan Hanung Bramantyo diperintahkan segera menyerahkan master serta skrip film Soekarno kepada Rachmawati. Alasannya, terdapat pelanggaran hak cipta di film tersebut.

Multivision Plus, Raam Punjabi, serta Hanung juga diperintahkan menghentikan, menyebarluaskan, ataupun mengumumkan hal-hal yang terkait dengan film Soekarno khusus di adegan yang tercantum di skrip halaman 35.

Menurut penetapan sementara, adegan itu menampilkan "...dan tangan polisi militer itu melayang ke pipi Sukarno beberapa kali. Saking kerasnya Sukarno sampai terjatuh ke lantai" dan adegan "popor senapan sang polisi sudah menghajar wajah Soekarno". Rachmawati mengklaim skrip film layar lebar ini yang membuatnya. Skrip pertama dan kedua tidak ada masalah, lalu di skrip ketiga

tiba-tiba ada cerita Soekarno bertemu dengan polisi militer Jepang dan ditempeleng sampai jatuh. Rachmawati tidak setuju dan akhirnya mengundurkan diri. Rachmawati yang awalnya mempunyai ide membuat film ini setelah mundur, produksi film tetap dilanjutkan termasuk adanya adegan yang dipermasalahkan.

Permohonan penetapan sementara ini didasarkan pada Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 5 Tahun 2012. Beleid ini khusus mengatur hak kekayaan intelektual, yakni hak cipta, desain industri, hak cipta, dan paten.

Dalam ketentuan itu juga disebutkan bagi hak cipta yang tidak menaati penetapan ini dapat dipidana dengan Pasal 216 KUHP.

Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengambil keputusan terkait gugatan yang dilayangkan Rachmawati Soekarnoputri terhadap film Soekarno produksi PT Tripar Multivision Plus dengan sutradara Hanung Bramantyo. Pengadilan Niaga memutuskan bahwa hak cipta film "Soekarno" ada di tangan Rachmawati sehingga, Raam Punjabi (produser) dan Hanung Bramantyo (sutradara) dinyatakan telah melanggar hak cipta. Raam Punjabi (produser) dan Hanung Bramantyo (sutradara) melanggar perjanjian tersebut dan membuat film Soekarno di luar naskah aslinya hingga merusak karakter Soekarno.

Putusan Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, maka dilakukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung. Berdasarkan putusan Nomor Register 305 K/Pdt.Sus-HKI/2014, Mahkamah Agung membatalkan keputusan majelis hakim Pengadilan Niaga (PN) Jakarta Pusat yang sebelumnya mengabulkan gugatan yang diajukan Rahmawati terhadap Multivision Plus, dan

117

dalam putusan tersebut, PN Jakarta Pusat menilai Multivision Plus melakukan pelanggaran hak cipta dengan tidak memasukkan nama Rachmawati dalam naskah Film Soekarno.

Multivision mengajukan kasasi karena tidak terima putusan PN Jakarta Pusat yang menyatakan telah terjadi pelanggaran hak cipta yang dengan tidak memasukkan nama Rahmawati sebagai pemilik naskah film. Pertimbangan majelis hakim tidak sesuai dengan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan.

Multivision menilai, majelis hakim PN Jakarta Pusat telah salah dalam menerapkan hukum. Pengadilan juga dinilai menafikan semua hasil kerja tim kreatif pekerja seni yang secara nyata telah berkontribusi dalam penyusunan skenario Film Soekarno dengan penggunaan istilah "ciptaan naskah" yang tidak dikenal di dunia perfilman. Padahal, dalam fakta persidangan telah dibuktikan bahwa timeline dibuat oleh saksi Indra Gunawan dan saksi Zen Rachmat Sugito, Sementara, sinopsis dan treatment dibuat oleh saksi Ben Sihombing serta skenario dibuat oleh Ben Sihombing dan Hanung.

Kejanggalan keputusan hakim, terlihat dengan dihukumnya para pemohon kasasi membayar ganti rugi, namun tidak dinyatakan melanggar hak cipta atau ciptaan. Padahal azas hukum mensyaratkan adanya perbuatan melanggar hukum untuk dihukumnya seseorang membayar ganti kerugian.

Sebelumnya, PN Jakarta Pusat memutuskan bahwa Rachmawati adalah pencipta atas nasakah film Bung Karno: Indonesia Merdeka. Karena itu, majelis hakim menghukum Multivision, Ram Punjabi dan Hanung membayar ganti rugi material sebesar Rp.1,00 (satu rupiah) dan kerugian material sebesar Rp.1,00 (satu rupiah).

Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi PT Tripar Multivision Plus, Ram Jethmal Punjabi, dan Hanung Bramantyo Anugroho terkait kasus pelanggaran hak cipta dalam film Soekarno. Putusan dengan Nomor Register 305 K/Pdt.Sus-HKI/2014 tersebut sekaligus membatalkan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 11 Maret 2014.

BAB IV

PENERAPAN HUKUM HAKIM DALAM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 305 K/Pdt.Sus-hki/2014 DITINJAU DARI

UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA

A. Duduk Perkara

Para pihak dalam kasus ini adalah Rachmawati Soekarnoputri sebagai termohon kasasi dahulu penggugat melawan PT. Tripar Multivision Plus, Ram Jethmal Punjabi, Hanung Bramantyo sebagai para pemohon kasasi dahulu para tergugat. Penggugat telah mengajukan gugatan terhadap para pemohon kasasi dahulu sebagai para tergugat di depan persidangan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Penggugat adalah pencipta dari naskah "Soekarno" atau dikenal “Bung Karno: Indonesia Merdeka" dan sebagai salah satu ahli waris dari mantan Presiden R.I. Pertama Soekarno yang memiliki karakter atau performance yang dikenal dengan kharisma Bung Karno. Penggugat mempunyai inisiatif agar naskah "Bung Karno: Indonesia Merdeka" dijadikan sebuah film yang mempunyai nilai sejarah bagi bangsa Indonesia dengan pengenalan kepada Presiden R.I. yang pertama tentang perjuangan sampai Indonesia Merdeka.

Penggugat pada awalnya berdialog dan berdiskusi kepada artis senior, Widyawaty untuk pengembangan film tersebut dengan mencari para pelaku (Aktor dan Aktris) guna memerankan Soekarno dan tokoh-tokoh lainnya dalam Film Soekarno ("Bung Karno: Indonesia Merdeka"). Widyawaty akhirnya memperkenalkan Penggugat dengan Tergugat III seorang Sutradara Muda yang

akan menyutradarai serta mencari Pelaku (Aktor dan Aktris) untuk Film Soekarno tersebut. Tergugat III memperkenalkan Penggugat kepada Tergugat II selaku Produser Film. Bahwa hasil pertemuan antara Penggugat dengan Tergugat III dan Tergugat II akhirnya disepakati untuk membuat film "Soekarno" atau "Bung Karno: Indonesia Merdeka";

Penggugat selaku pencipta naskah dalam pembuatan film tersebut, memberikan saran-saran, ide dan pendapat tentang karakteristik dan hal-hal lain sehubungan dengan casting film, content atau kegiatan produksi film dimana hal ini disetujui dan diakui oleh Tergugat I dan Tergugat II, sehingga kemudian untuk pelaksanaan pembuatan film ini akhirnya dituangkanlah dalam perjanjian kerjasama antara Tergugat I yang diwakili oleh Tergugat II dengan Penggugat.

Naskah Soekarno yang dimiliki oleh Penggugat dibuatlah script skenario Pertama yang dilakukan oleh Ben Sihombing dan Tergugat III yang disetujui oleh Penggugat. Script skenario kedua yang diserahkan oleh Tergugat II akhirnya disetujui oleh Penggugat. Memasuki script skenario ketiga terjadilah kesepakatan antara Penggugat dengan Tergugat II dan Tergugat III guna mencari pelaku (aktor dan aktris) terutama yang dapat menjadi peran utama Soekarno, dari pembicaraan tersebut diusulkan nama aktor Aryo Bayu selaku pemeran dari Soekarno.

Penggugat sempat telah berdialog dengan Aryo Bayu yang diusulkan menjadi pemeran Soekarno dan dari dialog tersebut Aryo Bayu mengaku bahwa dia tidak menjiwai karakteristik Soekarno serta tidak memiliki atau mendalami rasa nasionalisme dan tidak mengenal riwayat perjuangan Soekarno karena dia selama 11 tahun tinggal di luar Indonesia.

121

Berdasarkan hal tersebut akhirnya Penggugat bersama Tergugat II dan Tergugat III sepakat untuk tidak memakai Aryo Bayu sebagai pemeran Soekarno.

Tanpa sepengetahuan Penggugat, ternyata Tergugat II dan Tergugat III melakukan shooting tanpa seijin dan tanpa sepengetahuan Penggugat dalam pembuatan film

"Soekarno" dengan para pelaku diantaranya Aryo Bayu, Maudy Kusnadi, Lukman Sardi dan Iain-Iain, dimana sudah disepakati untuk tidak memakai Aryo Bayu untuk peran dari Soekarno.

Film "Soekarno" ini dibuat adalah bertujuan untuk pendidikan bagi masyarakat Indonesia dan masyarakat Internasional agar mengenal perjuangan Soekarno selaku Presiden R.I. yang pertama. Oleh karena Film "Soekarno" telah diproduksi dan tidak sesuai dengan naskah Penggugat selaku pemegang Hak Cipta dan diperankan oleh seseorang aktor yang tidak mengenal karakter dan pribadi dari Soekarno, maka jelas tidak akan menghasilkan Film "Soekarno" sebagaimana diharapkan, dan oleh karena itu pasti akan menimbulkan kerugian apabila Film tersebut ditayangkan dilayar lebar dan juga dapat merusak citra bangsa Indonesia terutama karakter Soekarno yang tidak sesuai dengan naskah yang sesungguhnya.

Karakteristik perjuangan Soekarno dan sejarah perjuangannya sampai Indonesia merdeka, adalah syarat utama dalam penyusunan naskah film tersebut yang apabila tidak sesuai maka nilai perjuangan Soekarno akan hilang. Apabila film ini ditayangkan dan telah dikonsumsi masyarakat maka akan tidak akan mudah untuk ditarik kembali dan menjelaskan kepada masyarakat bahwa isi dari film "Soekarno" ini adalah salah dan keliru termasuk pengenalan atas karakter Soekarno, sebagai suatu pengrusakan/ kerusakan yang tidak dapat diperbaiki lagi.

Agar Penggugat tidak dirugikan dan masyarakat tidak tersesat dengan film

"Soekarno" yang diproduksi, diumumkan dan diperbanyak oleh Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III maka sudah sepatutnya film yang diproduksi oleh Tergugat I "dihentikan peredarannya" atau setidak-tidaknya dicegah peredarannya atau menyimpan bukti-bukti yang berkaitan dengan pelanggaran hak cipta atau hak terkait tersebut guna menghindari terjadinya penghilangan barang bukti.

Berdasarkan Pasal 67 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dapat menerbitkan dengan segera dan efektif untuk mencegah berlanjutnya pelanggaran Hak Cipta, khususnya mencegah masuknya barang yang diduga melanggar hak cipta atau hak terkait ke dalam jalur perdagangan, termasuk tindakan importasi, menyimpan bukti yang berkaitan dengan pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait tersebut guna menghindari terjadinya penghilangan barang bukti, meminta kepada pihak yang merasa dirugikan, untuk memberikan bukti yang menyatakan bahwa pihak tersebut memang berhak atas Hak Cipta atau Hak Terkait, dan hak tersebut memang sedang dilanggar.

Tindakan Tergugat II dan Tergugat III menggunakan karya cipta Penggugat adalah merupakan pelanggaran Hak Cipta yang merugikan Penggugat oleh karena itu dikhawatirkan Para Tergugat akan menyiarkan, mengumumkan, mengedarkan dan memperbanyak Film Soekarno yang dibuat oleh Para Tergugat tanpa ijin dan sepengetahuan Penggugat.Ternyata Para Tergugat melakukan telah melakukan launching secara terbatas kepada orang-orang tertentu, dan telah merencanakan untuk mengadakan "pertunjukan perdana".

123

Akibat perbuatan Tegugat I, Tergugat II dan Tergugat III baik sendiri- sendiri ataupun secara bersama-sama, telah menimbulkan kerugian kepada Penggugat, dimana Penggugat mengalami kerugian baik secara materiil maupun immaterial, yaitu kerugian Materiil sebesar Rp1,00 (satu rupiah) dan kerugian immaterial yang apabila diperhitungkan dengan nilai uang tidak kurang dari Rp1.000.000.000.000,00 (satu triliun rupiah), akan tetapi karena gugatan ini tidak mencari nilai materi tetapi adalah untuk mempertahankan nilai-nilai sejarah yang tidak dapat dinilai dengan uang maka Penggugat menetapkan kerugian immateriil yang harus dibayar adalah sebesar Rp1,00 (satu rupiah). Kerugian materiil dan immateriil tersebut menjadi tanggungjawab dari Para Tergugat secara tanggung renteng.

Mencegah timbulnya kerugian yang lebih besar, Penggugat mohon kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk menerbitkan

"penetapan sementara" guna mencegah dan menghentikan peredaran, dan menghentikan pemutaran film "Soekarno" yang dan akan dilakukan oleh Tergugat I, Tergugat II, dan Tergugat III di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Menjamin penetapan sementara" maka Penggugat bersedia menitipkan uang jaminan kepada Pengadilan sebesar Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);

Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, penggugat mohon kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar memberikan putusan sebagai berikut:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan bahwa Penggugat adalah pencipta atau pemegang hak cipta atas naskah "Bung Karno : Indonesia Merdeka";

3. Menyatakan Tergugat I, Tergugat II, dan Tergugat III melanggar ciptaan atas naskah atau karya cipta Penggugat;

4. Menghukum Tergugat I, Tergugat II, dan Tergugat III bertanggung jawab secara tanggung renteng membayar uang ganti rugi materiil sebesar Rp1,00 (satu rupiah) dan kerugian imateriil sebesar Rp1,00 (satu rupiah) kepada Penggugat;

5. Menghukum Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III untuk membayar biaya perkara.

B. Pertimbangan Hukum Hakim dalam Putusan Majelis Hakim.

Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah memberi putusan Nomor 93/Pdt/Sus HAK-CIPTA/2013//PN.NIAGA JKT.PST., tanggal 10 Maret 2014 yang amarnya sebagai berikut:

1. Dalam Eksepsi : Menolak Eksepsi Tergugat I, Tergugat II, dan Tergugat III untuk seluruhnya;

2. Dalam Pokok Perkara.

3. Dalam Konvensi :

a. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;

b. Menyatakan Penggugat adalah pencipta atas naskah Film “ Bung Karno:

Indonesia Merdeka”;

c. Menghukum Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III bertanggung jawab secara tanggung renteng membayar ganti rugi materiil sebesar Rp1,00

125

(satu rupiah) dan kerugian immateriil sebesar Rp1,00 (satu rupiah) kepada Penggugat;

d. Menolak gugatan selain dan selebihnya;

4. Dalam Rekonvensi : Menolak gugatan Para Penggugat Rekonvensi;

5. Dalam Konvensi dan Rekonvensi : Menghukum Para Tergugat Konvensi/Para Penggugat Rekonvensi untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.

32.116.000,00 (tiga puluh dua juta seratus enam belas ribu rupiah);

Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut diucapkan dengan dihadiri kuasa hukum Tergugat I, II dan III pada tanggal 10 Maret 2014, terhadap putusan tersebut Para Tergugat melalui kuasanya berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 18 Maret 2014 mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 21 Maret 2014 sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 18 K/Pdt.Sus-HaKI/2014/ PN.Niaga Jkt.Pst., jo. Nomor 93/Pdt.Sus-Hak Cipta/2013/PN.Niaga Jkt.Pst., yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat, permohonan tersebut diikuti dengan memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat tersebut pada tanggal 3 April 2014.

Memori kasasi tersebut telah disampaikan kepada penggugat pada tanggal 10 April 2014, kemudian Penggugat mengajukan kontra memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat pada tanggal 24 April 2014. Permohonan kasasi beserta keberatan-keberatannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang

waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, sehingga permohonan kasasi tersebut secara formal dapat diterima.

Keberatan tersebut dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi tanggal 3 April 2014 dan kontra memori kasasi tanggal 23 April 2014 dan pertimbangan hukumnya adalah Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, ternyata Judex Facti telah salah menerapkan hukum pembuktian dan tidak mempertimbangkan sebagaimana mestinya atau tidak didasarkan pada pertimbangan yang cukup (onvoldoende gemotiveerd).

Hubungan hukum antara Penggugat dengan Para Tergugat bermula dari

“Perjanjian Kerja Sama” tertanggal 17 Oktober 2011 antara Penggugat dengan Tergugat I dan II untuk memproduksi film layar lebar dengan judul “Bung Karno”

yang kemudian dijadikan film dengan judul “Soekarno” oleh Para Tergugat, dan sebagai penulis skenario film Soekarno tersebut adalah saksi Bernard Parulian alias Ben Sihombing berdasarkan Surat Perjanjian Kerja Nomor 25/FILM/WRITER/X/12 tanggal 10 Januari 2012 antara saksi Ben Sihombing dengan Tergugat III selaku pemilik PT. Dapur Film yang disetujui oleh Penggugat, dan selanjutnya saksi Ben Sihombing menerangkan bahwa naskah cerita dalam pagelaran Dharmagita Maha Guru yang didalilkan Penggugat merupakan dasar pembuatan skenario film Soekarno, tidak dijadikan dasar atau inspirasi dalam pembuatan skenario film Soekarno dan tidak pernah dibahas dalam Forum Group Diskusi pembuatan film tersebut, sehingga dengan demikian sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta terbukti bahwa Penggugat tidak dapat digolongkan sebagai pencipta atas naskah

127

film “Soekarno” tersebut sebagaimana pokok gugatan Penggugat, dan dengan demikian penguasaan skrip dan master film “Soekarno” oleh Penggugat tanpa alas hak yang sah, untuk itu memerintahkan kepada Penggugat untuk menyerahkan kembali skrip dan master film “Soekarno” tersebut kepada Para Tergugat.

Pertimbangan Judex Facti yang mengatakan bahwa produksi film Soekarno telah melanggar hak cipta Penggugat/Termohon Kasasi karena ternyata tidak mencantumkan nama Penggugat/Termohon Kasasi sebagai pemegang hak cipta merupakan pertimbangan yang salah. Soekarno adalah seorang tokoh nyata atau tokoh yang benar telah lahir, hidup dan meninggal dunia di Indonesia, sebagai salah seorang proklamator dan Presiden Republik Indonesia yang pertama. Oleh sebab itu, tokoh Soekarno dan kehidupannya bukanlah ciptaan seseorang. Seseorang hanya dapat menghasilkan karya tulis yang menjadi hak

Pertimbangan Judex Facti yang mengatakan bahwa produksi film Soekarno telah melanggar hak cipta Penggugat/Termohon Kasasi karena ternyata tidak mencantumkan nama Penggugat/Termohon Kasasi sebagai pemegang hak cipta merupakan pertimbangan yang salah. Soekarno adalah seorang tokoh nyata atau tokoh yang benar telah lahir, hidup dan meninggal dunia di Indonesia, sebagai salah seorang proklamator dan Presiden Republik Indonesia yang pertama. Oleh sebab itu, tokoh Soekarno dan kehidupannya bukanlah ciptaan seseorang. Seseorang hanya dapat menghasilkan karya tulis yang menjadi hak