HASIL PENELI TIAN DAN PEMBAHASAN
NO PROS ES KET S IDIK S IDANG VONIS
4.2.3. Pelatihan dan Pengembangan S umber Daya Manusia
Pelatihan (training) menurut M athis (2002) adalah suatu proses dimana orang-orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, proses ini terikat dengan berbagai tujuan organisasi, pelatihan dapat dipandang secara sempit maupun luas. Secara terbatas, pelatihan menyediakan para pegawai dengan pengetahuan yang spesifik dan dapat diketahui serta keterampilan yang digunakan dalam pekerjaan mereka saat ini.
Keberhasilan Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri dalam mengungkap kasus teror banyak mendapatkan apresiasi dari negara-negara lain/dunia Internasional, beberapa diantaranya ingin membangun kerja sama dalam bentuk tukar menukar informasi maupun dalam bentuk peningkatan kemampuan.
Triangulasi sumber dilakukan dengan informan 2 untuk mengetahui adanya hambatan dalam pelatihan dan pengembangan Sumber Daya M anusia pada Densus 88 AT Polri khususnya Direktorat Penyidikan Densus 88 AT Polri.
Wawancara dengan Informan 1 mengatakan bahwa pelatihan dan pengembangan Sumber Daya M anusia sangatlah
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
penting. Karena dengan adanya pengembangan kemampuan bagi setiap personel Densus 88 AT Polri tugas sebagai anggota Densus dalam penanganan terorisme dapat berjalan dengan baik.
Wawancara dengan Informan 2 mengatakan bahwa Pelatihan bagi anggota dan calon anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri dilakukan untuk mempersiapkan personel-personel yang mampu melaksanakan tugas menangulangi terorisme di Indonesia.
Pelatihan yang sudah dilaksanakan setidaknya dibagi dalam beberapa jenis pelatihan seperti:
a. Pelatihan Pasukan Pemukul (Striking Force)
Pelatihan Striking Force/Crisis Respon Team
(CRT) dilaksanakan di Pusat Pendidikan Reserse Kriminal di M egamendung Bogor. Pelatihan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Department of State Amerika Serikat melalui program Anti Terrorism Assistance (DS-ATA). Program pelatihan yang dilaksanakan antara lain :
1) Crisis Response Team (CRT) Hingga saat ini telah menghasilkan team yang mahir dibidang CRT sebanyak 384 personel dan sampai tahun 2011 ini telah melatih anggota CRT sampai angkatan ke XV dan Advance CRT sebanyak 1 angkatan.
2) EIC (Explosive Incident Counter Measure).
3) Post Blast Investigation.
4) Weapon Mass Destruction.
5) Major Case Management.
6) TCC (Tactical Commander Course). 7) Weapon Maintanance (WM ).
8) IDC (Instructure Development Course). 9) CIR (Cyber Incident response).
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
b. Pelatihan/Pendidikan kejuruan/pendidikan dan pengembangan spesialisbidang penyidikan
Pelatihan/pendidikan kejuruan/pendidikan dan pengembangan spesialis bidang penyidikan dilaksanakan dilaksanakan di Pusat Pendidikan Reserse Kriminal di M egamendung Bogor. Pelatihan/pendidikan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Department of State Amerika Serikat melalui program Anti Terrorism Assistance (DS-ATA). Namun dapat dilihat pada tabel 4.3. tentang data pendidikan personel Direktorat Penyidikan, tingkat pendidikan masih rendah.
Jenjang pendidikan memainkan peranan yang sangat vital dalam membentuk kualitas seseorang. Idealnya seseorang yang berkualifikasi pendidikan yang baik akan tergambar melalui perilaku orang tersebut. Dalam konteks ini, seorang polisi dituntut untuk dapat memahami modus operandi kejahatan yang terus berkembang dan mengetahui perangkat hukum yang hendak diancamkan kepada penjahatnya (accussed). Untuk melakukannya maka kualifikasi pendidikan sangat dibutuhkan.
Wawancara dengan Informan 3 mengatakan bahwa penyidik/penyidik pembantu Direktorat Penyidikan Densus 88 AT Polri saat ini belum semuanya mengikuti pendidikan kejuruan khusus bidang Penyidikan.
Wawancara dengan Informan 4 mengatakan bahwa Kebanyakan personel Direktorat Penyidikan Densus 88 AT Polri hanya lulusan SM A, masih sedikit yang telah menyelesaikan pendidikan Sarjana.
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
Wawancara dengan Informan 5 mengatakan bahwa penyidik/penyidik pembantu saat ini belum mengikuti pendidikan kejuruan bidang penyidikan, belum memiliki sarjana dikarenakan beberapa alasan antara lain memiliki beban tugas/tanggung jawab baik di lingkungan kantor ataupun lingkungan keluarga sehingga waktu untuk mengikuti pendidikan belum ada.
Sebagai alat negara penegak hukum, kemampuan Penyidik Polri belum banyak didukung dengan kemampuan pengetahuan disiplin ilmu yang sesuai dengan bidangnya. Seorang penyidik harus memiliki jenjang pendidikan yang baik demi meningkatkan kualitas SDM Penyidik Polri. Penyidik harus mengembangkan kemampuannya dalam bidangnya masing. Kualitas Penyidik sangat mempengaruhi hasil dari kinerja penyidik dalam menyelesaikan tugasnya sebagai Penyidik Kepolisian. Karena untuk berhasilnya penuntutan maka di butuhkan penyidikan yang berhasil pula sebaliknya kegagalan dalam penyidikan akan berakibat lemahnya berkas yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan surat dakwaan dan lemahnya berkas dakwaan akan mengakibatkan gagalnya jaksa dalam proses penuntutan di pengadilan. M aka keberhasilan penyidikan sangat penting untuk tahapan-tahapan selanjutnya.
c. Pelatihan mengenai konsep-konsep penanggulangan terorisme
Densus 88 AT Polri Bekerja sama dengan pemerintah Australia yang didukung oleh Uni Eropa membangun sarana tempat pelatihan anti teror untuk peserta dari mancanegara. Ide awalnya untuk peserta dari
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
negara-negara Asia Pasifik, namun kenyataannya para peserta datang dari berbagai belahan dunia termasuk dari Eropa dan Afrika. Pusat Pelatihan anti teror ini dinamakan
JCLEC (Jakarta Center for Law Enforcement
Cooperation) yang khusus dibangun di dalam lokasi Akademi Kepolisian di Semarang dengan fasilitas internasional. Pelatihan di JCLEC lebih banyak diberikan mengenai pengetahuan terorisme kontemporer, termasuk konsep-konsep terbaru tentang bagaimana menanggulangi terorisme, pertukaran informasi intelijen dan sebagainya.
Untuk mendukung pertukaran informasi intelijen didukung dengan proyek M NOST (Multi National Operations Support Team), namun sejak M aret 2009 kegiatan M NOST telah dihentikan. Selain itu pihak Australia melalui ASIS (Australian Secret Intelligence Service) juga memberikan pelatihan AM RT (Agent Management Reqruitmen Traning) yang dilaksanakan di beberapa kota dan sampai saat ini telah dilatih sampai 5 angkatan dengan jumlah personil sebanyak 90 orang.
Berikut ini adalah jenis-jenis pelatihan yang dilaksanakan di JCLEC – Semarang (dalam bentuk workshop, pelatihan, maupun course):
1) Law Enforcement Working Group & Legal Issues. 2) Islam : Law & Politics in South East Asia I. 3) Major Investigation Management Workshop. 4) Basic Intelligence Training.
5) Human Tarfficing.
6) Post Blast Incident Management.
7) Certificate Course on Terrorist Operation & Organization.
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
Plagiat
8) International Management of Serious Crime (IMOSC).
9) Program Prinsip dan Praktek Intelijen (PPPI).
10) Finamcial Intelligence Analysis AUSTRAC. 11) Anti Money Loundering.
12) Indictment Preparation (Training).
13) Evidence Handling (in Criminal Prosecutions. Continues)Intelligence Officers Program.
14) Field Officers Intelligence Course. 15) Disaster Victim Identification (DVI).
16) Electronic Surveillance Program Police Technical Team.
17) Arson Investigator Course.
18) Examination on Witness in Court – AU Said Funded. 19) CT Law – AU Said Funded.
20) Elicitation Course.
21) Sueveilance Couse (British Embassy Field Course).
22) Anvanced Analysist of Terrorist Organisations and Operation Course (AATOOC).
23) Intelligence Officers Development Program (IODP). 24) Coasted Patrol Course Program.
Oleh karena penanggulangan terorisme memerlukan kerjasama berbagai pihak, maka didirikan Pusat Pelatihan Anti Teror Nasional (PLATINA) juga dibangun di lingkungan Akademi Kepolisian di Semarang.