• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBUDAYAAN ETNIK LAUT DI DESA TANJUNG PASIR

2.5. Sistem Kemasyarakatan dan Organisasi Sosial 1. Organisasi Sosial

2.8.4. Pelayanan Kesehatan dan Fasilitas Kesehatan

Desa Tanjung Pasir merupakan desa yang ada di bawah Kecamatan Tanah Merah dengan ibukota Kecamatan adalah Kelurahan Kuala Enok. Kecamatan ini sendiri memiliki 2 Puskesmas Induk, yaitu Puskesmas Tanah Merah yang ada di Desa Tanah Merah dan Puskesmas Rawat Inap di Kuala Enok. Desa Tanjung Pasir berada di bawah tanggung jawab Puskesmas Kuala Enok.

Puskesmas Rawat Inap Kuala Enok terletak di ibukota Kecamatan Tanah Merah. Selain membawahi Kelurahan Kuala Enok dan Desa Tanjung Pasir, Puskesmas ini juga membawahi 3 desa lainnya. Untuk berobat ke Puskesmas, Desa Tanjung Pasir dapat menggunakan pompong untuk menyebrang sampai Kuala Enok dan dilanjutkan dengan naik sepeda motor. Struktur jalan di Kuala Enok, sebagian dari beton dan sebagian jalan papan, dan luasnya yang tidak begitu lebar hanya memungkinkan dilalui oleh sepeda motor sebagai transportasi daratnya.

Bentuk fisik bangunan Puskesmas cukup baik dan fasilitasnya sudah cukup lengkap untuk standar Puskesmas. Namun karena sesuai dengan struktur jalanan yang tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan roda empat, maka

Puskesmas tidak memiliki mobil ambulans, sampai saat ini mereka hanya menggunakan tandu untuk membantu membawa pasien dari pelabuhan menuju ke Puskesmas. Tandu ini akan ditaruh di atas gerobak untuk memudahkan membawa pasien tersebut.

Gerobak itupun merupakan sumbangan dari salah satu warga yang memang diperuntukkan untuk memudahkan untuk membawa pasien ke puskemas. Jarak yang ditempuh dari pelabuhan menuju ke pukesmas sekitar 500 meter, dalam pendorongan gerobak ini biasanya yang lebih berperan adalah pihak keluarga yang sakit bukan petugas pukesmas yang mendorongnya. Gerobak ini juga berfungsi sebagai sarana untuk mengangkut obat dan membawa oksigen dari satu tempat ke tempat yang lainnya.

Gambar 2.18.

“Ambulans” Puskesmas Kuala Enok

Ada akses yang sedikit lebih mudah yaitu melalui jalur sungai kecil yang letaknya lebih dekat dengan Puskesmas. Jarak yang ditempuh dari pelabuhan kecil menuju Puskesmas ini kurang lebih hanya 150 meter. Namun sayangnya jalur ini hanya bisa digunakan atau dilalui oleh perahu ketika air sedang pasang saja, ketika air sedang surut tidak ada kapal yang bisa masuk ke wilayah ini, sehingga pasien dari desa lain biasanya tetap harus menyandarkan perahu mereka di pelabuhan besar.

Gambar 2.19.

Pelabuhan “Darurat” Dekat Pukesmas Sumber: Dokumentasi Peneliti

Berdasarkan informasi dalam acara Lokakarya Mini di Puskesmas yang peneliti ikuti, ada rencana akan mengadakan ambulans apung atau ambulans air pada tahun berikutnya, hal ini untuk menyesuaikan dengan geografis di Kecamatan Tanah Merah, dimana hampir semua desa lebih banyak ditempuh dengan menggunakan transportasi air. Sebenarnya dahulu sudah pernah ada transportasi air yang digunakan sebagai ambulans atau menjadi Puskesmas keliling di wilayah kecamatan Tanah Merah ini, yaitu berupa kapal. Namun ternyata tidak dapat

berlangsung lama karena biaya perawatan dan biaya operasional yang cukup tinggi mengakibatkan pada akhirnya kapal ini tidak terawat dan tidak bisa dipergunakan lagi, dan hingga saat ini belum ada lagi kapal atau perahu khusus dan berfungsi sebagai ambulans yang diperuntukkan untuk membantu Puskesmas tersebut.

Masalah ketiadaan ambulans ini berakibat juga jika ada pasien darurat yang harus segera dirujuk ke Rumah Sakit yang ada di Tembilahan (ibukota Indragiri Hilir). Waktu tempuh pun tergantung dari perahu atau kapal apa yang dipergunakan untuk menuju rumah sakit. Jika menggunakan boat besar, yang merupakan angkutan umum, maka waktu yang dibutuhkan relatif sebentar yaitu 1 jam saja (di luar waktu untuk menunggu boat tersebut). Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp. 45.000,- per orang, biaya tersebut relatif mahal bagi masyarakat. Angkutan umum ini juga biasanya hanya beroperasi sampai sore hari saja. Boat terakhir menuju Tembilahan adalah sore hari, sekitar pukul 16.00. Di luar jam tersebut biasanya masyarakat terpaksa menyewa boat tersebut dengan harga yang cukup tinggi yaitu kurang lebih satu juta rupiah (Rp. 1.000.000,-) dan bahkan bisa lebih mahal lagi yaitu sebesar satu juta dua ratus ribu rupiah (Rp. 1.200.000,-) apabila harus menyewa boat pada malam hari untuk satu kali pergi.

Alternatif kedua bisa ditempuh dengan menggunakan kapal nelayan yang bisa dimiliki oleh mereka sendiri atau dengan pertolongan tetangga yang memiliki kapal. Karena kapal nelayan mesinnya berukuran lebih kecil maka waktu tempuh biasanya lebih lama lagi, yaitu paling cepat sekitar 2 jam. Biaya sedikit lebih murah, karena biasanya biaya yang dikeluarkan adalah sebesar harga minyak atau bahan bakar yang dikeluarkan saja.

Karena alasan biaya dan transportasi tersebut akhirnya sebagian masyarakat, khususnya yang tidak mampu,

mengurungkan diri untuk pergi ke rumah sakit di Tembilahan dan kembali ke rumah, mereka membiarkan saja penyakit tersebut dengan harapan sembuh sendiri atau mencari jalan alternatif dengan berobat dengan cara tradisional dengan mengandalkan

dukun kampung.

Desa Tanjung Pasir memiliki tiga orang tenaga kesehatan yang ditempatkan di desa untuk bekerja di Puskesmas Pembantu (Pustu) yaitu 2 (dua) perawat (masing-masing 1 laki-laki dan 1 perempuan) dan 1 bidan. 1 perawat perempuan juga saat ini berfungsi sebagai bidan. Untuk bangunan fisik pustunya pun terbagi atas 2 (dua) bangunan, yaitu bangunan tempat pemeriksaan dan rumah dinas pustu. Bangunan pustu tempat pemeriksaan terdiri dari ruang periksa dan juga ruang gudang penyimpanan obat. Sedangkan untuk rumah dinas sebagai tempat tinggal tenaga kesehatan pustu bisa dikatakan tidak layak dan sangat kotor, bahkan ketika tim kami pertama kali datang pustu tersebut menjadi sarang kelelawar dan menurut informasi penduduk bahkan juga ada tikus yang menghuni rumah dinas bagi tenaga kesehatan pustu.

Ketiga tenaga kesehatan yang ditempatkan di desa ini memang tidak ada yang menempati rumah dinas tersebut karena mereka tidak tinggal di desa ini. Ketiganya bertempat tinggal di ibukota kecamatan di Kuala Enok, ada juga yang tinggal di desa lain. Selama penelitian berlangsung, hanya terlihat dua tenaga kesehatan yang ada, sedangkan tenaga kesehatan yang lainnya tidak pernah sekalipun datang ke pustu. Berdasarkan pengamatan, setiap harinya mereka datang bergantian (sistem

shift), hanya jika ada Posyandu saja mereka datang berdua.

Meskipun mereka datang bergantian, tetapi kadang mereka tidak datang setiap hari, biasanya pada hari Minggu mereka tidak datang ke desa. Jam kerja pustu pun terbatas yaitu dari pukul 9 pagi sampai pukul 11 atau 12 siang.

Gambar 2.20.

Pukesmas Pembantu Desa Tanjung Pasir Sumber: Dokumentasi Peneliti 2014

Pustu ini juga bisa dikatakan hanya bisa dijangkau oleh dua dusun, yaitu dusun Tanjung Harapan dan dusun Sungai Rumah, karena letak Sungai Bandung sangat jauh dan aksesnya juga sulit maka pasien dari dusun ini bisa dibilang luput dari jangkauan pustu ini, sedangkan sampai saat ini belum ada rencana dari Puskesmas untuk membangun fasilitas kesehatan di dusun Sungai Bandung tersebut. Masyarakat di dusun Sungai Bandung ini sampai saat ini tidak pernah mengeluh dengan tidak adanya Puskesmas pembantu disana, mereka cenderung berobat ke Puskesmas yang di kecamatan, walaupun dengan kendala akses yang cukup sulit.

Secara interaksi dengan pihak medis masyarakat Etnik Laut tidak pernah merasa kesulitan karena bahasa yang

dipergunakan adalah bahasa keseharian mereka yaitu bahasa Melayu.

Berdasarkan pengamatan peneliti, pustu tidak selalu ramai. Ada hari yang ramai, namun ada juga ada hari yang tidak ada pasien sama sekali. Namun menurut perawat H, jumlah pasien di pustu ini cukup tinggi, bahkan dikatakan hampir sama banyaknya dengan Puskesmas induk. Hal ini membuat kadang obat di pustu cepat habis sedangkan persediaannya terbatas.

Untuk tenaga pelayanan kesehatan yang ada di pustu sudah cukup baik dalam hal memberikan pelayanan kepada masyarakat desa, tenaga kesehatan dengan rutin mengadakan kegiatan Posyandu dan Posyandu lansia setiap bulannya. Dan masyarakat Desa Tanjung Pasir, termasuk orang Laut, sebagian sudah memaksimalkan pustu tersebut untuk melakukan pengobatan, namun tak sedikit juga yang menyatakan kritikannya terhadap pustu tersebut. Seperti perisitiwa yang pernah dialami oleh ibu Ls sebagai berikut.

“Ibu lisa mengatakan pemberian imunisasi yang ada di Desa Tanjung Pasir ini sering berubah-rubah dan tidak ada kepastian dari pihak pelayanan pukesmas pembantunya, jadi yang kami dapatkan ketika imunisasi ini tidak pernah lengkap dan petugasnya juga sering salah memberikan obat kepada masyarakatnya ketika sakit, jadi saya pun sudah mulai kurang percaya dengan pelayan petugas yang ada di pukesmas pembantu ini.”

Ada yang menyatakan bahwa karena ketiadaan persediaan obat atau kurangnya persediaan obat, ia tidak percaya dengan pengobatan di pustu. Ada juga yang menyatakan mereka kesulitan untuk menemui para nakes disini karena jadwal kerja seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sedangkan terkadang masyarakat membutuhkan para nakes tersebut di sore atau malam hari ketika para nakes sudah pulang. Oleh karena itu

mereka lebih memilih langsung ke praktek dokter yang ada di kecamatan atau berobat ke Puskesmas (yang biasa mereka sebut juga dengan rumah sakit).