BAB VI KESEHATAN KELUARGA
B. Kesehatan Anak
3. Pelayanan Kesehatan Neonatus
Neonatus adalah bayi baru lahir yang berusia sampai dengan 28 hari, dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim menjadi di luar rahim. Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir pada semua sistem. Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Pada usia yang rentan ini, berbagai masalah kesehatan bisa muncul. Tanpa penanganan yang tepat, bisa berakibat fatal. Beberapa upaya kesehatan dilakukan untuk mengendalikan risiko pada kelompok ini diantaranya dengan mengupayakan agar persalinan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan serta menjamin tersedianya pelayanan kesehatan sesuai standar pada kunjungan bayi baru lahir.
Masalah utama penyebab kematian pada bayi dan balita adalah pada masa neonatus (bayi baru lahir umur 0-28 hari). Menurut hasil Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa 78,5% dari kematian neonatal terjadi pada umur 0-6 hari. Komplikasi yang menjadi penyebab kematian terbanyak adalah asfiksia, bayi berat lahir rendah dan infeksi.
Dengan melihat adanya risiko kematian yang tinggi dan berbagai serangan komplikasi pada minggu pertama, maka setiap bayi baru lahir harus mendapatkan pemeriksaan sesuai standar lebih sering (minimal 2 kali) dalam minggu pertama.
Langkah ini dilakukan untuk menemukan secara dini jika terdapat penyakit atau tanda bahaya pada neonatus sehingga pertolongan dapat segera diberikan untuk mencegah penyakit bertambah berat yang dapat menyebabkan kematian. Kunjungan neonatus merupakan salah satu intervensi untuk menurunkan kematian bayi baru lahir.
Terkait hal tersebut, pada tahun 2008 ditetapkan perubahan kebijakan dalam pelaksanaan kunjungan neonatal, dari 2 kali yaitu satu kali pada minggu pertama dan satu kali pada 8-28 hari, menjadi 3 kali yaitu dua kali pada minggu pertama dan satu kali pada 8 – 28 hari. Dengan demikian, jadwal kunjungan neonatal yang dilaksanakan saat ini adalah pada umur 6-48 jam, umur 3-7 hari dan umur 8-28 hari. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program Kesehatan Ibu Anak (KIA) dalam menyelenggarakan pelayanan neonatal yang komprehensif.
Kunjungan neonatal pertama (KN1) adalah cakupan pelayanan kesehatan bayi baru lahir (umur 6 jam - 48 jam) di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang ditangani sesuai standar oleh tenaga kesehatan terlatih di seluruh sarana pelayanan kesehatan. Pelayanan yang diberikan saat kunjungan neonatal adalah pemeriksaan sesuai standar Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) dan konseling perawatan bayi
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
70
baru lahir termasuk ASI eksklusif dan perawatan tali pusat. Pada kunjungan neonatal pertama (KN1), bayi baru lahir mendapatkan vitamin K1 injeksi dan imunisasi hepatitis B0 bila belum diberikan pada saat lahir. Cakupan indikator kunjungan neonatal pertama menurut puskesmas digambarkan pada gambar 6.12.
GAMBAR 6.12
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL PERTAMA (KN1) MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Kesehatan Anak dan Remaja Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016 Capaian KN1 Kabupaten Tegal tahun 2016 sebesar 99,1%. Angka tersebut belum melampaui target program anak dan remaja Dinas Kesehatan Kab. Tegal Tahun 2016, yaitu 100%. Capaian KN1 tahun 2016 lebih rendah daripada capaian tahun 2015, yaitu 100%.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
71
Selain KN1, indikator yang menggambarkan pelayanan kesehatan bagi neonatal adalah KN lengkap yang mengharuskan agar setiap bayi baru lahir memperoleh pelayanan Kunjungan Neonatal minimal 3 kali, yaitu 1 kali pada 6-48 jam, 1 kali pada 3-7 hari, 1 kali pada 8-28 hari sesuai standar di satu wilayah kerja pada satu tahun.
Capaian Kunjungan Neonatal Lengkap di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 sebesar 98%. Capaian ini telah memenuhi target program tahun 2016 sebesar 95%.
Sebanyak 21 puskesmas telah mencapai target KN lengkap. Gambaran cakupan kunjungan KN lengkap menurut puskesmas di kabupaten Tegal terdapat pada gambar 6.15 berikut ini.
GAMBAR 6.13
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP (KN LENGKAP) MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Kesehatan Anak dan Remaja Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016 83,4
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
72
Pada gambar di atas terlihat bahwa pencapaian indikator KN lengkap cukup baik, yang dapat dilihat dari capaian yang melampaui target (90%) di 21 Puskesmas.
Capaian tertinggi terdapat di Puskesmas Dukuhturi, Bangun Galih, dan Kalibakung.
Sedangkan Puskesmas dengan capaian terendah adalah Puskesmas Kesambi yaitu sebesar 83,4%.
Capaian KN lengkap secara kumulatif di tingkat Kabupaten mengalami peningkatan dari tahun 2012, kemudian mengalami penurunan sedikit di tahun 2016.
Gambar berikut menampilkan cakupan KN lengkap dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2016.
GAMBAR 6.14
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP (KN LENGKAP) DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 20102 – 2016
Sumber: Seksi Kesehatan Anak dan Remaja Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016 4. Pelayanan Kesehatan pada Bayi
Bayi juga merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap gangguan kesehatan maupun serangan penyakit. Kesehatan bayi dan balita harus dipantau untuk memastikan kesehatan mereka selalu dalam kondisi optimal. Pelayanan kesehatan bayi termasuk salah satu dari beberapa indikator yang bisa menjadi ukuran keberhasilan upaya peningkatan kesehatan bayi dan balita. Pelayanan kesehatan pada bayi ditujukan pada bayi usia 29 hari sampai dengan 11 bulan dengan memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi klinis kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) minimal 4 kali, yaitu pada 29 hari – 2 bulan, 3 – 5 bulan, 6 – 8 bulan dan 9 – 12 bulan sesuai standar di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
92,2
95,75 99,4 99,4
98
88 90 92 94 96 98 100
2012 2013 2014 2015 2016
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
73
Pelayanan ini terdiri dari penimbangan berat badan, pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/ HB1-3, Polio 1-4, dan Campak), Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) bayi, pemberian vitamin A pada bayi, dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi serta penyuluhan ASI Eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) dan lain-lain.
Gambaran capaian indikator ini di 29 Puskesmas menunjukkan bahwa sebanyak 19 Puskesmas telah memenuhi target program anak dan remaja Dinkes Kab.
Tegal tahun 2016 sebesar 96% seperti yang disajikan pada gambar berikut ini.
GAMBAR 6.15
CAKUPAN KUNJUNGAN BAYI MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Kesehatan Anak dan Remaja Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016 82,9
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
74
Pada gambar 6.15 di atas dapat dilihat bahwa Puskesmas Margasari memiliki capaian tertinggi sebesar 169,8% diikuti oleh Puskesmas Adiwerna sebesar 137,4%
dan Puskesmas Bojong sebesar 119,5%. Puskesmas dengan capaian terendah adalah Puskesmas Dukuhwaru (82,93%).
5. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif
Cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayimendapat makanan pendamping ASI yang bergizi sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.
ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi yang mengandung sel darahputih, protein dan zat kekebalan yang cocok untuk bayi. ASI membantu pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal serta melindungi terhadap penyakit. Gambaran pemberian ASI eksklusif menurut puskesmas disajikan pada gambar berikut ini.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
75
GAMBAR 6.16
CAKUPAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF PADA BAYI 0-6 BULAN MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Cakupan ASI Ekslusif Kabupaten Tegal tahun 2016 adalah sebesar 74,7%.
Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan capaian tahun 2015, yaitu sebesar 67,5%. Namun capaian ASI Ekslusif tahun 2016 sudah melampaui target program gizi Dinkes Kab. Tegal tahun 2016, yaitu sebesar 42%.
Permasalahan terkait pencapaian cakupan ASI Eksklusif antara lain:
a. Pemasaran susu formula masih gencar dilakukan untuk bayi 0-6 bulan yg tidak ada masalah medis
b. Masih banyaknya perusahaan yang mempekerjakan perempuan tidak memberi 25,6
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
76
kesempatan bagi ibu yang memiliki bayi 0-6 bulan untuk melaksanakanpemberian ASI secara eksklusif. Hal ini terbukti dengan belum tersedianya ruanglaktasi dan perangkat pendukungnya.
c. Masih banyak tenaga kesehatan ditingkat layanan yang belum peduli atau belumberpihak pada pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif, yaitumasih mendorong untuk memberi susu formula pada bayi 0-6 bulan.
d. Masih sangat terbatasnya tenaga konselor ASI
e. Belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait pemberian ASI, dan belum semua rumah sakit melaksanakan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM).
Upaya yang dilakukan dalam memecahkan masalah tersebut yaitu:
a. Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif
b. Melakukan pelatihan konseling menyusui dan konseling Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Sampai tahun 2012 telah dilakukan pelatihan konseling menyusui kepada 3.929 orang dan MP-ASI sebanyak 416 orang.
c. Melaksanakan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM), yaitu:
1) Membuat kebijakan tertulis tentang menyusui dan dikomunikasikan kepada semua staf pelayanan kesehatan ;
2) Melatih semua staf pelayanan dalam keterampilan menerapkan kebijakan menyusui tersebut;
3) Menginformasikan kepada semua ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui;
4) Membantu ibu menyusui dini dalam 30 menit pertama persalinan;
5) Membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah dari bayinya;
6) Memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis;
7) Menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu (24 jam);
8) Menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi;
9) Tidak memberi dot kepada bayi
10) Mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar dari sarana pelayanan;
d. Sosialisasi dan kampanye ASI Eksklusif e. KIE melalui media cetak dan elektronik
f. Mengembangkan Strategi Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
77
g. Menciptakan lingkungan yang kondusif terhadap perilaku menyusui melaluiperaturan perundang-undangan dan kebijakan atau PP
h. Penguatan sarana pelayanan kesehatan (RS/RSIA, Puskesmas perawatan, klinikbersalin) dalam menerapkan 10 LMKM
i. Peningkatan komitmen dan kapasitas stakeholder dalam meningkatan,melindungi, dan mendukung pemberian ASI
j. Pemberdayaan ibu, keluarga, dan masyarakat dalam praktek pemberian ASI k. Menjamin terlaksananya strategi pemberian ASI
l. Pengembangan peraturan perundangan-undangan dan kebijakan atau PP m. Pelaksanaan revitalisasi RS dan sarana pelayanan kesehatan sayang bayi n. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan
o. Pemberdayaan ibu, bapak, dan keluarga, serta masyarakat p. Perlindungan pekerja perempuan
q. Bekerjasama dengan lintas sektor terkait dalam pengawasan pemasaran susu formula dan produk makanan bayi sesuai standar produk makanan (codexalimentarius)
r. Advokasi dan promosi peningkatan pemberian ASI
6. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Balita Usia 6-59 Bulan
Sampaidengan usia enam bulan, ASI merupakan sumber utama vitamin A jika ibu memiliki vitamin A yang cukup berasal dari makanan atau suplemen. Anak yang berusia enam bulan sampai lima tahun dapat memperoleh vitamin A dari berbagai makanan seperti hati, telur, ikan, minyak sawit merah, mangga dan papaya, jeruk, ubi, sayur daun berwarna hijau dan wortel.
Anak memerlukan vitamin A untuk membantu melawan penyakit, melindungi penglihatan mereka, serta mengurangi risiko meninggal. Anak yang kekurangan vitamin A kurang mampu melawan berbagai potensi penyakit yang fatal dan berisiko rabun senja. Oleh karena itu dilakukan pemberian kapsul vitamin A dalam rangka mencegah dan menurunkan prevalensi kekurangan vitamin A (KVA) pada balita.
Cakupan yang tinggi dari pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi terbukti efektif untuk mengatasi masalah KVA pada masyarakat.
Di beberapa negara dimana kekurangan vitamin A telah terjadi secara luas, dan anak sering meninggal karena diare dan campak, vitamin A dalam bentuk kapsul dosis tinggi dibagikan dua kali dalam setahun kepada anak usia enam bulan hingga lima tahun. Diare dan campak dapat menguras vitamin A dari tubuh anak. Anak yang
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
78
menderita diare atau campak, atau menderita kurang gizi harus diobati dengan suplemen vitamin A dosis tinggi yang bisa diperoleh dari petugas kesehatan terlatih.
Masalah vitamin A pada balita secara klinis bukan lagi masalah kesehatan masyarakat (prevalensi xeropthalmia < 0,5%). Hasil studi masalah gizi mikro di 10 kota pada 10 provinsi tahun 2006, diperoleh prevalensi xeropthalmia pada balita 0,13%, sedangkan hasil survey vitamin A pada tahun 1992 menunjukkan prevalensi xeropthalmia sebesar 0,33%.
Namun demikian KVA subklinis, yaitu tingkat yang belum menampakkan gejala nyata, masih ada pada kelompok balita. KVA tingkat subklinis ini hanya dapat diketahui dengan memeriksa kadar vitamin A dalam darah di laboratorium. Selain itu, sebaran cakupan pemberian vitamin A pada balita menurut puskesmas sudah mencapai 97,76%. Namun demikian kegiatan pemberian vitamin A pada balita masih perlu dilanjutkan, karena bukan hanya untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, namun lebih penting lagi, vitamin A meningkatkan kelangsungan hidup, kesehatan dan pertumbuhan anak. Pemberian kapsul vitamin A dilakukan terhadap bayi (6-11 bulan) dengan dosis 100.000 SI, anak balita (12-59 bulan) dengan dosis 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pemberian Kapsul Vitamin A diberikan secara serentak setiap bulan Februari dan Agustus pada balita usia 6-59bulan.
Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita usia 6-59 bulan di Kabupaten Tegal tahun 2016 mencapai 99,32%. Capaian ini sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 98,45%. Masih diperlukan upaya untuk meningkatkan cakupan pemberian kapsul vitamin A. Upaya tersebut antara lain melalui peningkatan integrasi pelayanan kesehatan anak, sweeping pada daerah yang cakupannya masih rendah dan kampanye pemberian kapsul vitamin A. Cakupan pemberian kapsul vitamin A menurut puskesmas ditampilkan pada gambar 6.17.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
79
GAMBAR 6.17
CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA BALITA 6-59 BULAN MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Terdapat lima belas puskesmas yang telah mencapai target renstra tahun 2016 (100%). Cakupan tertinggi dicapai oleh Puskesmas Warureja(251,4%). Cakupan terendah dicapai oleh Puskesmas Margasari sebesar 32,7%.
32,7
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
80
7. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu
Sejak lahir sampai dengan usia lima tahun, anak seharusnya ditimbang secara teratur mengetahui pertumbuhannya. Cara ini dapat membantu untukmengetahui lebih awal tentang gangguan pertumbuhan, sehingga segera dapatdiambil tindakan tepat secepat mungkin.Hasil penimbangan, dapat mengetahui apakah seorang anak terlalu cepatbertambah berat badannya dibandingkan usianya atau tidak bertambah berat badannya. Untuk itu memerlukan pemeriksaan berat badan anak lebih lanjut terkait dengan tinggi badannya, yang dapat menentukan apakah seorang anak mempunyai berat badan berlebih/kurang.
Kegiatan penimbangan balita di Posyandu menjadi salah satu indikator yang ditetapkan pada Renstra Dinas Kesehatan Tahun 2016-2019. Indikator ini berkaitan dengan cakupan pelayanan gizi pada balita, cakupan pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi, serta penanganan prevalensi gizi kurang pada balita. Dengan cakupan penimbangan balita yang tinggi, diharapkan semakin tinggi pula cakupan vitamin A, cakupan imunisasi, dan semakin rendah prevalensi gizi kurang. Gambaran cakupan penimbangan balita di posyandu masing masing Puskesma ditampilkan pada gambar 6.18 berikut.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
81
GAMBAR 6.18
CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA DI POSYANDU MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Cakupan penimbangan balita di posyandu di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 sebesar 85,3%. Cakupan ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 yaitu sebesar 78,4%.
Capaian pada tahun 2016 sudah memenuhi target Renstra tahun 2016, yaitu sebesar 84%. Sebanyak 17 puskesmas telah mencapai target tersebut. Capaian tertinggi yaitu oleh puskesmas Lebaksiu (97%). Capaian terendah terdapat di Puskesmas Kesambi sebesar 61,9%.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
82
Setiap anak harus memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS) yang terdapat dalam buku KIA agar dapat dipantau pertumbuhannya. Dengan KMS terlihat apakah anak tumbuh dengan baik sesuai usianya. KMS diberikan pada orang tua pada saat kunjungan balita ke Posyandu. Maka kunjungan balita ke Posyandu sangat berkaitan dengan indikator D/S.
Namun demikian terdapat beberapa kendala yang dihadapi terkaitdengan kunjungan balita ke posyandu. Permasalahan tersebut antara lain : dana operasional dan sarana prasarana untuk menggerakkan kegiatan Posyandu, tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dankonseling, tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat terhadap manfaat Posyandu, serta pelaksanaan pembinaan kader. Data dan informasi tentang penimbangan balita di posyandu pada tahun 2016 terdapat pada lampiran table 47.
8. Imunisasi
Setiap tahun lebih 1,4 juta anak di dunia meninggal karena berbagai penyakit yang sesungguhnya dapat dicegah dengan imunisasi. Beberapa penyakitmenular yang termasuk ke dalam Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) antara lain:
Difteri, Tetanus, Hepatitis B, radang selaput otak, radang paru-paru,pertusis, dan polio.
Anak yang telah diberi imunisasi akan terlindungi dariberbagai penyakit berbahaya tersebut, yang dapat menimbulkan kecacatan atau kematian.
Proses perjalanan penyakit diawali ketika virus/ bakteri/ protozoa/ jamur, masuk ke dalam tubuh. Setiap makhluk hidup yang masuk ke dalam tubuh manusia akan dianggap benda asing oleh tubuh atau yang disebut dengan antigen. Secara alamiah sistem kekebalan tubuh akan membentuk zat anti yang disebut antibodiuntuk melumpuhkan antigen. Pada saat pertama kali antibodi “berinteraksi” denganantigen, respon yang diberikan tidak terlalu kuat. Hal ini disebabkan antibodi belum
“mengenali” antigen. Pada interaksi antibodi-antigen yang ke-2 dan seterusnya, sistem kekebalan tubuh sudah memiliki “memori” untuk mengenali antigen yangmasuk ke dalam tubuh, sehingga antibodi yang terbentuk lebih banyak dan dalamwaktu yang lebih cepat.
Proses pembentukan antibodi untuk melawan antigen secara alamiah disebut imunisasi alamiah. Sedangkan program imunisasi melalui pemberian vaksin adalah upaya stimulasi terhadap sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkanantibodi dalam upaya melawan penyakit dengan melumpuhkan “antigen” yang telah dilemahkan yang berasal dari vaksin. Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
83
kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya sakit ringan.
Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi penduduk terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi diberikan kepada populasiyang dianggap rentan terjangkit penyakit menular, yaitu bayi, anak usia sekolah, wanita usia subur, dan ibu hamil.
a. Imunisasi Dasar pada Bayi
Imunisasi melindungi anak terhadap beberapa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Seorang anak diimunisasi dengan vaksin yang disuntikkan atau diteteskan melalui mulut. Pada beberapa negara hepatitis masih menjadi masalah.
Sepuluh dari 100 orang akan menderita hepatitis sepanjang hidupnya jika tidak diberi vaksin hepatitis B. Sampai dengan seperempat dari jumlah anak yang menderita hepatitis B dapat berkembang menjadi kondisipenyakit hati yang serius, seperti kanker hati. Disamping itu wajib diberikan imunisasi hepatitis B segera setelah bayi lahir untuk mencegah penularan virus hepatitis dari ibu kepada anaknya.
Imunisasi BCG dapat melindungi anak dari penyakit tuberculosis.Imunisasi DPT dapat mencegah penyakit diptheri, pertusis dan tetanus. Diptheri menyebabkan infeksi saluran pernafasan atas, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kesulitan bernafas bahkan kematian. Tetanus menyebabkan kekakuan otot dan kekejangan otot yang menyakitkan dan dapat mengakibatkan kematian. Pertusis atau batuk rejan mempengaruhi saluran pernafasan dana dapat menyebabkan batuk hingga delapan minggu.
Semua anak perlu mendapatkan imunisasi polio. Tanda-tanda polio adalah tungkai tiba tiba lumpuh dan sulit untuk bergerak. Dari 200 anak yangterinfeksi polio, maka satu orang akan menjadi cacat sepanjang hidupnya.
Sebagai salah satu kelompok yang menjadi sasaran program imunisasi,setiap bayi wajib mendapatkan lima imunisasi dasar lengkap (LIL) yang terdiridari : 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio, 3 dosis hepatitis B, dan 1 dosis campak. Dari kelima imunisasi dasar lengkap yang diwajibkan tersebut, campak merupakan imunisasi yang mendapat perhatian lebih yang dibuktikan dengan komitmen Indonesia pada lingkup ASEAN dan SEARO untuk mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%.
Hal ini terkait dengan realita bahwa campak adalah salah satu penyebab utama kematian pada balita. Dengan demikian pencegahan campak memiliki peran signifikan dalam penurunan angka kematian balita.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
84
Kabupaten Tegal memiliki cakupan imunisasi campak pada tahun 2016 sebesar 102,5%, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2015 (99,3%). Capaian tersebut telah memenuhi target 95% yang menjadi komitmen target pada rencana strategis Dinas Kesehatan. Pada tingkat Puskesmas, terdapat 26 puskesmas yang telah berhasil mencapai target 95% seperti yang disajikan pada gambar 6.19 berikut.
GAMBAR 6.19
CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Pada gambar 6.19 di atas dapat diketahui bahwa Puskesmas Balapulang memiliki capaian tertinggi sebesar 112% diikuti oleh Bumijawa sebesar 111,7% dan Bangun Galih sebesar 109,2%. Sedangkan Puskesmas dengan cakupan terendah adalah Puskesmas Jatinegara sebesar 92,8%.
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
85
Program imunisasi pada bayi mengharapkan agar setiap bayi mendapatkan kelima jenis imunisasi dasar lengkap. Keberhasilan seorang bayi dalam mendapatkan 5 jenis imunisasi dasar tersebut diukur melalui indikator imunisasi dasar lengkap.
Capaian indikator ini di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 sebesar 101%. Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan capaian tahun 2015, yaitu sebesar 95,3%.
Capaian tahun 2016 juga sudah memenuhi target Renstra pada tahun 2016 yang sebesar 100%.
GAMBAR 6.20
CAKUPAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016
Sumber: Seksi Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016
Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016
86
Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa puskesmas yang melampaui target capaian imunisasi dasar lengkap pada bayi tahun 2016 sebanyak 16 Puskesmas.
Puskesmas dengan capaian tertinggi adalah puskesmas Balapulang (112%) dan puskesmas dengan capaian terendah adalah Puskesmas Warureja sebesar 89,8%. Data dan informasi terkait imunisasi dasar pada bayi yang dirinci menurut puskesmas tahun 2016 terdapat pada lampiran table 43.
b. Universal Child Immunization (UCI)
Indikator lain yang diukur untuk menilai keberhasilan pelaksanaan imunisasi adalah Universal Child Immunization atau yang biasa disingkat UCI. UCI adalah gambaran suatu desa/kelurahan dimana ≥ 80% dari jumlah bayi (0-11 bulan) yang ada di desa/kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap. Target UCI pada Renstra Dinas Kesehatan tahun 2016 adalah sebesar 100%. Pada tahun 2016 semua
Indikator lain yang diukur untuk menilai keberhasilan pelaksanaan imunisasi adalah Universal Child Immunization atau yang biasa disingkat UCI. UCI adalah gambaran suatu desa/kelurahan dimana ≥ 80% dari jumlah bayi (0-11 bulan) yang ada di desa/kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap. Target UCI pada Renstra Dinas Kesehatan tahun 2016 adalah sebesar 100%. Pada tahun 2016 semua