• Tidak ada hasil yang ditemukan

SITUASI UPAYA KESEHATAN

A. PELAYANAN KESEHATAN

7. PELAYANAN KESEHATAN USIA LANJUT (LANSIA)

Proses penuaan atau aging berhubungan dengan menurunnya fungsi fisiologis tubuh seseorang yang terlihat dari kemunduran fisik dan kelemahan organ tubuh. Proses tersebut diikuti dengan timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif seperti coronary arterial disease (CAD), penyakit serebrovaskular, penyakit ginjal dan paru. Selain penurunan kondisi fisik, aging juga ditandai dengan menurunnya kondisi psikologis maupun sosial yang berdampak pada penarikan diri lansia dari lingkungan, dimensia, depresi, dan tidak produktif.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjadikan status kesehatan para usia lanjut meningkat dan mandiri dengan dibentuknya pos pembinaan terpadu (Posbindu) di tingkat RW. Berbagai kegiatan dilaksanakan di Posbindu antara lain pemeriksaan kesehatan, olah raga bersama, rekreasi, penyuluhan, majelis talim, dan saling tukar pengalaman antar lansia. Selain itu juga peningkatan dan pemantapan upaya kesehatan para usia lanjut di pelayanan kesehatan dasar, khususnya Puskesmas dan juga kelompok usia lanjut, dilakukan melalui konsep Puskesmas Santun Lanjut Usia. Saat ini UPT Puskesmas Puter Kota Bandung menjadi puskesmas dengan Program Unggulan Puskesmas Santun Lansia.

55 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 Populasi penduduk lansia (usia di atas 60 tahun) di Kota Bandung tahun 2016 sebanyak 203.290 jiwa. Meski jumlah posbindu / kelompok meningkat di tahun 2015 dari tahun sebelumnya, terjadi peningkatan lansia yang mendapat layanan kesehatan. Tercatat layanan kesehatan diberikan bagi lansia (usia di atas 60 tahun) sebanyak 110.619 orang lansia atau 54,41

%yang dilaksanakan di Puskesmas maupun unit UKBM seperti Posbindu.

Lansia wanita lebih banyak mendapat layanan kesehatan dengan jumlah 68.448 orang (64,31%), sedangkan lansia pria mendapat layanan kesehatan sebanyak 42.131 orang (43.53%).

GRAFIK IV.15

PELAYANAN KESEHATAN USIA LANJUT DI KOTA BANDUNG TAHUN 2013 – 2016

Sumber : Seksi Kesehatan Khusus Dinas Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016

8. KEGAWATDARURATAN

Layanan unit gawat darurat (UGD) adalah ujung tombak pelayanan kesehatan kegawatdaruratan di sebuah rumah sakit. Setiap rumah sakit memiliki layan UGD yang melayani layanan medis kegawatdaruratan selama 24 jam. Tujuan dari pelayanan gawat darurat adalah untuk memberikan pertolongan pertama bagi pasien yang datang dan mengurangi berbagai resiko, seperti kematian, menanggulangi korban kecelakaan, atau bencana lainnya yang langsung membutuhkan tindakan segera.

Fasilitas Instalasi gawat darurat level 1 adalah tempat pelayanan pasien kegawatdaruratan yang memiliki setidaknya tenaga kesehatan dokter umum berada ditempat 24 jam dengan kualifikasi general emergency life

56 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 support dan atau advance life support, advance cardiac life support serta memiliki alat transportasi dan komunikasi.

Fasilitas kesehatan mampu memberikan pelayan gawat darurat level I di Kota Bandung terdapat di 5 puskesmas perawatan, 1 puskesmas 24 jam, dan 30 rumah sakit dari 33 rumah sakit atau 93,75 %. Tingkat ketersedian layanan kegawatdaruratan level I di rumah sakit meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 88,89 % menjadi 93,75 %.

Kota Bandung tahun 2013-2015 merintis sistem penanganan gawat darurat terpadu (SPGDT) bersama PT. Telkom Indonesia Tbk, di 6 UPT Puskesmas dan 32 rumah sakit daerah dengan UPT Yankesmob sebagai lokasi call center. Enam puskesmas SPGDT yang masuk dalam jaringan layanan gawat darurat adalah UPT Puskesmas Padasuka, UPT Puskesmas Puter, UPT Puskesmas Ibrahim Adjie, UPT Puskesmas Pagarsih, dan UPT Puskesmas Garuda, dan UPT Puskesmas Kopo. Adapun RS daerah yang masuk dalam jaringan layanan SPGDT adalah RSUD Ujungberung Kota Bandung dan RSKIA Astanaanyar. Layanan ini berkembang dengan mengikutsertakan seluruh rumah sakit yang ada di Kota Bandung sebagai jaringannya.

GAMBAR IV.1

PUSKESMAS, CALL CENTER, DAN RS JARINGAN SPGDT DI KOTA BANDUNG TAHUN 2016

Sumber: Seksi Data dan Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016

57 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 9. PENYAKIT POTENSI KEJADIAN LUAR BIASA

Kejadian luar biasa merupakan status yang mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit. Merebaknya penyakit wabah diketahui dari timbul dan meningkatnya kasus akibat suatu penyakit atau kemaitannya yang diukur secara epidemiologis di wilayah dan waktu tertentu.

Kejadian penyakit potensi kejadian luar biasa (KLB) yang terjadi di Kota Bandung sepanjang tahun 2016 sebanyak 18 kejadian dengan 4 jenis kejadian / penyakit wabah. Kejadian penyakti potensi KLB terdiri dari kejadian Difteri, Leptospirosis, keracunan makanan, dan Hepatitis A. Jenis penyakit/kejadian yang timbul dalam 6 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut ini.

TABEL IV.1

PENYAKIT POTENSIAL WABAH DI KOTA BANDUNG TAHUN 2011 – 2016

Penyakit Potensi KLB 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Difteri      

Leptospirosis      

Keracunan makanan      

Hepatitis A  

Tetanus Neonatorum  

Suspek Avian Influenza H5N1 (Flu Burung)   

Filariasis  

Susp. MERS CoV 

Campak 

Sumber: Sumber: Seksi Pemantau Penyakit Kota Bandung Tahun 2016

Kondisi dan penyakit berpotensi KLB menyerang 13 kecamatan dari 30 kecamatan di Kota Bandung. Kecamatan yang terserang kondisi dan penyakit berpotensi KLB adalah Kecamatan Sukarasa, Sukajadi, Andir, Cidadap, Bandung Wetan, Cibeunying Kaler, Cibeunying Kidul, Bojongloa Kaler (3 kejadian), Babakan Ciparay (2 kejadian), Antapani, Arcamanik (2 kejadian), Cinambo, Cibiru (2 kejadian).

Jumlah penderita penyakit berpotensi KLB tahun 2016 sebanyak 124 orang, yang terdiri Difteri 6 orang, Leptospirosis 8 orang, Hepatitis A 6 orang, dan kasus keracunan makanan 78 penderita.

58 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 10. PELAYANAN KESEHATAN

10.1. RATIO TAMBAL / CABUT GIGI TETAP

Pelayanan medik gigi dasar meliputi tindakan tumpatan (tambal) gigi tetap, pencabutan gigi tetap, dan pembuangan karang gigi (scaling). Tingkat keberhasilan program upaya kesehatan gigi dan mulut terutama pelayanan medik gigi dasar salah satunya dengan melihat perbandingan antara tumpatan gigi tetap dan pencabutan gigi tetap dengan rasio 1 : 1 sesuai dangan target yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Jumlah gigi tetap yang mendapat perawatan penumpatan dan pencabutan di tahun 2016 sebanyak 41.512 gigi terdiri dari 23.725 perawatan tumpatan dan 17.787 pencabutan gigi tetap dengan Ratio tambal /cabut 1,3.

Pada grafik di bawah dapat diamati perkembangan jumlah layanan pencabutan dan tumpatan pada gigi tetap yang diberikan oleh puskesmas.

GRAFIK IV.16

JUMLAH GIGI PADA TINDAKAN PENCABUTAN DAN TUMPATAN GIGI TETAP

DI KOTA BANDUNG TAHUN 2013 – 2016

Sumber : Seksi Kesehatan Khusus Dinas Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016

Rasio pencabutan terhadap tumpatan gigi tetap dari tahun ke tahun dapat diperhatikan dari grafik berikut.

59 Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016 GRAFIK IV.17

RASIO TINDAKAN PENCABUTAN DAN TUMPATAN GIGI TETAP DI PUSKESMAS DI KOTA BANDUNG TAHUN 2016

Sumber : Seksi Kesehatan Khusus Dinas Kesehatan Kota Bandung Tahun 2016

Dengan capaian rasio tumpatan gigi tetap terhadap pencabutan gigi tetap ≥ 1 maka telah mencapai target karena rasio tambalan gigi tetap terhadap pencabutan gigi tetap yang ideal adalah ≥1.

Dokumen terkait