• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAYANAN OBAT PROGRAM RUJUK BALIK

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG (Halaman 44-49)

PELAYANAN OBAT A. RUANG LINGKUP PELAYANAN OBAT

C. PELAYANAN OBAT PROGRAM RUJUK BALIK

Pelayanan Obat Program Rujuk Balik adalah pemberian obat-obatan penyakit kronis di fasilitas kesehatan tingkat pertama sebagai bagian dari program pelayanan rujuk balik.

Penyakit yang dikelola melalui program rujuk balik, yaitu Diabetes Mellitus tipe 2 dan Hipertensi.

1. LANDASAN HUKUM

a. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional

b. Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 01 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan

2. Filosofi Program Rujuk Balik

a. Pelayanan Rujuk balik adalah Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita di Fasilitas Kesehatan atas rekomendasi/rujukan dari Dokter Spesialis/Sub Spesialis yang merawat.

b. Pelayanan Program Rujuk Balik adalah Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan di Faskes Tingkat Pertama atas rekomendasi/rujukan dari Dokter Spesialis/Sub Spesialis yang merawat.

3. Manfaat Program Rujuk Balik a. Bagi Peserta

1) Meningkatkan kemudahan akses pelayanan kesehatan

2) Meningkatkan pelayanan kesehatan yang mencakup akses promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif

3) Meningkatkan hubungan dokter dengan pasien dalam konteks pelayanan holistik

4) Memudahkan untuk mendapatkan obat yang diperlukan b. Bagi Faskes Tingkat Pertama

1) Meningkatkan fungsi Faskes selaku Gate Keeper dari aspek pelayanan komprehensif dalam pembiayaan yang rasional

2) Meningkatkan kompetensi penanganan medik berbasis kajian ilmiah terkini (evidence based) melalui bimbingan organisasi/dokter spesialis

3) Meningkatkan fungsi pengawasan pengobatan c. Bagi Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan

1) Mengurangi waktu tunggu pasien di poli RS

3) Meningkatkan fungsi spesialis sebagai koordinator dan konsultan manajemen penyakit

4. Ruang Lingkup Program Rujuk Balik a. Jenis Penyakit

Jenis Penyakit yang termasuk dalam Program Rujuk Balik adalah: 1) Diabetus Mellitus Tipe 2

2) Hipertensi b. Jenis Obat

Obat yang termasuk dalam Obat Rujuk Balik adalah:

1) Obat-obat kronis yang diresepkan oleh dokter spesialis/sub-spesialis di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan.

2) Obat tambahan adalah obat yang diresepkan oleh dokter spesialis/sub spesialis dan mutlak diberikan bersama obat utama untuk mengatasi penyakit penyerta atau mengurangi resiko efek samping akibat obat utama.

Daftar Obat Program Rujuk Balik sesuai Daftar Obat Formularium Nasional yang berlaku dan ditetapkan melalui keputusan Direksi BPJS Kesehatan.

2. Identifikasi peserta Program Rujuk Balik

a. Peserta berobat ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dimana peserta tersebut terdaftar dengan membawa indentitas diri.

b. Apabila atas indikasi medis peserta memerlukan pemeriksaan ataupun tindakan spesialis/sub-spesialis, maka Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama akan memberikan rujukan ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

c. Peserta mendaftar ke BPJS Center dengan membawa surat rujukan dan identitas diri untuk mendapatkan SEP.

d. Dokter Spesialis/Sub Spesialis melakukan pemeriksaan kepada peserta sesuai kebutuhan indikasi medis.

e. Apabila peserta didiagnosa penyakit kronis maka peserta mendapatkan pelayanan kesehatan secara rutin di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan hingga diperoleh kondisi terkontrol/stabil sesuai panduan klinis penyakit kronis.

f. Setelah peserta ditetapkan dalam kondisi terkontrol/stabil, maka dokter Spesialis/Sub Spesialis memberikan SRB (Surat Rujuk Balik) kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dimana peserta yang bersangkutan terdaftar.

3. Pendaftaran Peserta Program Rujuk Balik

a. Peserta mendaftarkan diri pada petugas BPJS Center/Kantor Cabang/Kota/Kabupaten dengan menunjukkan :

1) Kartu Identitas peserta BPJS Kesehatan 2) Surat Rujuk Balik (SRB) dari dokter spesialis

3) Surat Eligibilitas Peserta (SEP) dari BPJS Kesehatan 4) Lembar resep obat/salinan resep

b. Peserta mengisi formulir pendaftaran peserta PRB c. Peserta menerima buku kontrol Peserta PRB d. Petugas BPJS Kesehatan melakukan:

1) Verifikasi keabsahan peserta (identitas BPJS, SRB, SEP dan lembar resep) 2) Verifikasi dan melegalisasi formulir pendaftaran peserta

3) Mendokumentasikan formulir pendaftaran sebagai bukti pendaftaran peserta 4) Melakukan legalisasi obat yang diresepkan oleh Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan

untuk disetujui sebagai obat Program Rujuk Balik serta menyerahkan kembali SEP RJTL dan lembar resep kepada peserta

5) Mencatat jenis dan jumlah obat yang disetujui untuk obat Program Rujuk Balik (sesuai resep obat yang dilegalisasi) pada:

i. Formulir Pendaftaran Peserta Rujuk Balik ii. Buku Kontrol Peserta PRB

6) Mencatat identitas peserta PRB pada buku Register Manual peserta PRB

7) Menyerahkan SRB dan buku kontrol Peserta PRB kepada peserta disertai dengan pemberian informasi mekanisme pelayanan Program Rujuk Balik.

4. Prosedur Pelayanan Obat Program Rujuk Balik

a. Apabila obat Program Rujuk Balik dari dokter spesialis/subspesialis telah habis, selanjutnya peserta berobat ke Faskes Tingkat Pertama dimana dia terdaftar dengan menunjukkan Identitas sebagai peserta BPJS, SRB dan Buku Kontrol Peserta PRB.

b. Peserta melakukan kunjungan ulang ke faskes tingkat pertama (tempatnya terdaftar) dengan menunjukkan identitas peserta BPJS, SRB dan buku kontrol peserta PRB.

c. Dokter faskes tingkat pertama melakukan pemeriksaan dan menuliskan resep obat rujuk balik yang tercantum pada buku kontrol peserta PRB.

d. Peserta memperoleh obat rujuk balik dari apotek PRB dengan menyerahkan resep dari Faskes Tingkat Pertama serta menunjukkan SRB dan Buku Kontrol Peserta

e. Petugas Apotek melakukan verifikasi obat dengan menggunakan aplikasi pengendalian obat APDALINE.

f. Apabila peserta telah mendapatkan obat yang sama dari Apotek lain dan masih dalam range waktu pemberian obat, maka petugas apotek tidak boleh memberikan obat tersebut. Jika pelayanan obat tetap diberikan maka biaya obat tersebut akan menjadi beban Apotek.

g. Apabila sebelumnya peserta belum pernah mendapatkan obat atau obatnya telah habis maka petugas Apotek memberikan obat Program Rujuk Balik disertai dengan informasi penggunaan obat.

h. Pelayanan obat rujuk balik dilakukan 3 kali berturut-turut selama 3 bulan

i. Setelah 3 (tiga) bulan peserta dapat dirujuk kembali oleh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan untuk dilakukan evaluasi oleh dokter spesialis/sub-spesialis.

j. Apabila hasil evaluasi kondisi peserta dinyatakan masih terkontrol/stabil oleh dokter spesialis/sub-spesialis, maka pelayanan program rujuk balik dapat dilanjutkan kembali dengan memberikan SRB baru kepada peserta. SRB tersebut dilegalisasi oleh petugas BPJS di BPJS Center/Kantor Cabang/Kota/ Kabupaten. Untuk pelayanan pada bulan tersebut, maka peserta mendapatkan obat dari RS yang sudah termasuk dalam paket tarif INA CBG’s, kemudian untuk selanjutnya peserta kembali periksa ke fasiltas kesehatan tingkat pertama untuk mendapatkan obat rujuk balik.

5. Ketentuan pelayanan obat Program Rujuk Balik

a. Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan meresepkan dan memberikan obat kronis pada pasien yang akan diberikan pelayanan Program Rujuk Balik.

b. Obat PRB diberikan untuk kebutuhan maksimal 30 (tiga puluh) hari setiap kali peresepan dan harus sesuai dengan Daftar Obat Program Rujuk Balik BPJS Kesehatan serta ketentuan lain yang berlaku.

c. Perubahan/penggantian obat program rujuk balik dapat dilakukan oleh Dokter faskes tingkat pertama hanya pada dosis obat sesuai dengan kondisi pasien dan sesuai dengan batas kewenangan dokter tersebut.

d. Obat PRB dapat diperoleh di Apotek atau depo farmasi Fasilitas Kesehatan tingkat pertama yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

e. Jika peserta masih memiliki obat PRB, maka peserta tersebut tidak boleh dirujuk ke Faskes Rujukan Tingkat Lanjut, kecuali terdapat keadaan emergency atau kegawatdaruratan yang menyebabkan pasien harus konsultasi ke Faskes Rujukan Tingkat Lanjut.

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG (Halaman 44-49)