• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelestarian Warisan Budaya Selama Rekonstruksi

BAB 5:Tema-Tema Lintas Sektoral dan Tantangan-Tantangan Pelaksanaan

OMPAK

Pendekatan Rekompak bersifat fleksibel untuk mengadaptasi kebutuhan dan konteks lokal, seperti membantu masyarakat membangun kembali arsitektur tradisional yang merupakan ciri khas lingkungan Kota Gede di Yogyakarta.

Foto:

Tim Rekompak Rekompak menyediakan buku-buku panduan bagi masyarakat tentang pelestarian

warisan arsitektur budaya.

Sumber:

Tim Rekompak

BAB 5:Tema-Tema Lintas Sektoral dan Tantangan-Tantangan Pelaksanaan

MENGHADAPI TANTANGAN-TANTANGAN PELAKSANAAN: BEBERAPA MASALAH DAN SOLUSI UMUM

Pendekatan Rekompak adalah sebuah proses yang berkembang terus menerus.

Model dasarnya harus disesuaikan secara teratur agar cocok dengan situasi setempat. Penyesuaian-penyesuaian yang berdasarkan hasil pembelajaran senantiasa dilakukan untuk peningkatan kinerja. Sebagaimana proyek berskala besar lainnya, banyak tantangan muncul selama pelaksanaan dari hari ke hari yang tidak terlihat pada tahap perancangan. Aksi cepat dibutuhkan dalam sebuah konteks pascabencana, dan desakan untuk menanggapi kebutuhan warga harus dipertimbangkan, mengingat waktu yang diperlukan bagi penilaian dan persiapan praproyek yang rinci yang dapat menanggulangi masalah terkait pelaksanaan. Menyusul suatu bencana alam, tanggapan harus cepat dan efisien, mampu menangani rekonstruksi berskala besar, mampu menyediakan rumah-rumah berkualitas baik dan mampu menjamin transparansi dan akuntabilitas transaksi keuangan. Setiap persyaratan menghadirkan sejumlah tantangan.

Berikut ini adalah beberapa tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan Rekompak di Indonesia dan solusi yang diterapkan.7

Fasilitator mengukur kekuatan balok rumah di desa Lasikin, Aceh. Foto:

Tim Rekompak

OMPAK

TANTANGAN:

Penerima manfaat dengan pengetahuan metode konstruksi yang tidak memadai. Selain trauma yang telah mereka alami, sebagian besar pemilik rumah belum pernah membangun apapun dan tidak akrab dengan teknik-teknik konstruksi. Sebagian besar pendekatan berbasis masyarakat menggunakan tenaga kerja lokal yang tidak terampil dan seringkali pemilik rumah sendiri yang membangun kembali rumah mereka. Rekompak bergantung pada pengawas pembangunan dan fasilitator masyarakat untuk memberikan keahlian teknik dan kendali mutu. Selama pelaksanaan awal di Aceh, terdapat kelangkaan tenaga fasilitator terlatih karena kerasnya persaingan dalam mendapatkan pekerja masyarakat berkualitas tinggi untuk mendukung upaya rekonstruksi umum. Jadi, dukungan lapangan, kendali mutu dan pengawasan terhadap pembangunan seringkali kurang memadai karena bergantung pada kecakapan yang dan tingginya perpindahan kerja di kalangan fasilitator. Dalam beberapa komunitas, hal ini menyebabkan persiapan dan pemahaman masyarakat yang tidak memadai, yang menunda pembangunan perumahan dan mengakibatkan kendali mutu yang lemah.

SOLUSI:

Ketentuan akan pengawasan yang ketat dan berkesinambungan oleh staf lapangan yang sangat terlatih untuk menjamin penyelesaian rumah sesuai jadwal dengan kualitas yang dapat diterima. Jumlah fasilitator terlatih yang memadai harus diupayakan untuk memberikan bantuan teknis dan pengawasan pembangunan. Pendekatan berbasis masyarakat bersifat kemampuan mengelola intensif dan memerlukan dedikasi dan komitmen yang kuat dan berkelanjutan dari para manajer proyek dan fasilitator. Untuk meningkatkan kualitas fasilitator di lapangan, fasilitator senior ditugaskan untuk memimpin dan mendukung tiga atau empat fasilitator junior. Selain itu, fasilitator diawasi oleh seorang Konsultan Manajemen Kabupaten. Peningkatan kapasitas dalam bentuk pelatihan kerja dan bimbingan diberikan kepada para fasilitator untuk menjamin persiapan dan pelaksanaan program yang lebih efektif.

BAB 5:Tema-Tema Lintas Sektoral dan Tantangan-Tantangan Pelaksanaan TANTANGAN:

Kualitas struktural tahan gempa yang tidak memadai.

Mempertahankan pembangunan berkualitas baik merupakan sebuah tantangan utama dalam situasi pascabencana apapun. Hal ini khususnya benar dalam situasi-situasi yang tenaga kerjanya cakap dan bahan-bahan bangunan berkualitas telah relatif langka karena pelaksanaan berbagai proyek perumahan dalam waktu bersamaan. Ketergesaan untuk melaksanakan secara cepat dapat mengkompromikan kualitas konstruksi. Menjamin agar rumah yang sedang dibangun berkualitas memadai dan memenuhi standar minimum merupakan masalah yang terus menjadi keprihatinan dalam Rekompak. Masalah pembangunan paling umum adalah: (a) batang penguat yang tidak dibengkokkan dengan tepat untuk menjamin kaitan yang kuat antara kolom dan balok; (b) kekuatan beton yang rendah karena campuran semen, pasir, kerikil dan air yang tidak tepat; dan (c) kurangnya angkur antara atap dan balok untuk menjamin rumah yang tahan gempa dan badai.

SOLUSI:

Ketersediaan fasilitator teknis yang terlatih di lapangan dan pelaksanaan sebuah sistem untuk mengaudit kualitas konstruksi.

Pengawasan oleh fasilitator teknis yang sangat terlatih yang tersedia dalam jumlah memadai dalam proses pembangunan merupakan kepentingan kunci. Insinyur teknik sipil disertakan dalam Gugus Tugas Fasilitator yang mengawasi kualitas konstruksi. Terdapat hubungan langsung antara kualitas fasilitator dengan mutu konstruksi. Rekompak meningkatkan pelatihan teknis dan pengawasan terhadap fasilitator dalam upaya meningkatkan kualitas kerja mereka di lapangan. Selain itu, uji mutu secara acak (audit teknis) dilakukan pada rumah-rumah yang sedang dibangun dan yang telah selesai dibangun. Penting untuk menggunakan peralatan ujian, termasuk uji palu, uji pindai dan densitometer. Bagi mereka yang rumahnya memiliki kekurangan, perbaikan mutu segera dilaksanakan di bawah program peningkatan kualitas khusus, dengan menggunakan jaring kawat baja las, misalnya, untuk memperkuat dinding. Perbaikan struktur bangunan semacam itu membutuhkan tambahan biaya, namun menghasilkan rumah berkualitas lebih baik dan penerima bantuan yang lebih puas. Di Jawa, rumah-rumah diuji dan disertifikasi oleh para ahli dari luar.

OMPAK

TANTANGAN:

Pengelolaan keuangan yang lemah dan tidak wajar. Pengelolaan keuangan dana hibah kurang memuaskan selama tahap awal pelaksanaan proyek di Aceh karena masyarakat sering tidak mematuhi panduan. Hal-hal yang khususnya berhubungan dengan penyimpanan uang kas, pembukuan dan penyebaran laporan keuangan selalu bermasalah. Pada awalnya, terdapat kasus-kasus salah kelola dan penyalahgunaan dana oleh beberapa kelompok rumah tangga yang diungkapkan oleh mekanisme pertanggungjawaban Rekompak seperti penanganan keluhan. Penemuan-penemuan ini mengakibatkan penundaan kegiatan pembangunan hingga masalah diselesaikan. Kasus-kasus penyalahkelolaan keuangan umumnya terbagi ke dalam dua kategori: (a) dana yang digunakan untuk keperluan selain perumahan (biasanya untuk mengatasi keperluan keluarga yang mendesak seperti pengobatan); dan (b) perubahan desain (biasanya perluasan rumah) dilakukan oleh pemiliknya tanpa dibekali dana pribadi yang cukup.

Masalah-masalah semacam itu adalah yang paling menyulitkan pada tahap-tahap awal pelaksanaan, di saat sulit pula mendapatkan fasilitator yang berkualitas untuk mengawasi pembangunan.

SOLUSI:

Mengaitkan pencairan dana dengan kemajuan fisik dan mekanisme penanganan keluhan yang efektif. Pelaporan mandiri oleh fasilitator terlatih juga menolong, selain tekanan rekan sejawat yang dilakukan oleh anggota kelompok terdampak. Dalam peraturan Rekompak, jika satu rumah tangga dalam kelompok menyalahgunakan dana perumahan, pencairan dana untuk seluruh kelompok akan ditunda dengan tahapan pendanaan berikutnya tidak dicairkan hingga masalah diselesaikan dan dana yang disalahgunakan dikembalikan. Di bawah sistem ini, tekanan masyarakat memaksa mereka yang menyalahgunakan dana untuk membayar kembali atau jika tidak, menyelesaikan masalah secepat mungkin. Seiring dengan kemajuan pelaksanaan, mekanisme periksa dan timbang yang diprakarsai oleh proyek dan masyarakat dilaksanakan, seperti mekanisme penanganan keluhan dan “saluran siaga” untuk melaporkan dugaan penyalahgunaan.

Mekanisme-mekanisme ini terbukti efektif. Belajar dari pengalaman di Aceh, Rekompak mengatur pencairan dana dalam tiga tahap dibandingkan di Jawa dengan dua tahap , yang mensyaratkan pencapaian kemajuan pembangunan fisik tertentu dipenuhi oleh semua anggota kelompok rumah tangga sebelum dana tahap berikutnya dicairkan. Sistem penanganan keluhan segera dibentuk di Jawa untuk mendorong akuntabilitas dan transparansi. Karena masalah-masalah awal hampir terselesaikan, perhitungan akhir menunjukan bahwa hanya sedikit sekali persentase dana Rekompak Aceh disalahgunakan, dengan jumlah kurang dari satu persen dari total dana proyek.

BAB 5:Tema-Tema Lintas Sektoral dan Tantangan-Tantangan Pelaksanaan

Rekompak mensosialisasikan transparansi melalui komunikasi yang jelas dan penyebaran informasi. Spanduk ini mengajak masyarakat membantu mengawasi dana hibah komunitas JRF, dengan mengatakan bahwa tidak ada suap dan tidak ada kolusi atau nepotisme. Nomor-nomor telepon diberikan bilamana ada keluhan.

Foto:

Sekretariat JRF

TANTANGAN:

Sasaran penerima manfaat yang tidak akurat. Penentuan sasaran yang tidak akurat dan persyaratan kelayakan yang tidak jelas merupakan alasan ketidakpuasan paling umum di antara para penerima bantuan perumahan. Dalam beberapa kasus, pertanyaan muncul mengenai soal kelayakan menerima bantuan. Beberapa penerima manfaat yang terpilih adalah individu-individu yang dipekerjakan penuh waktu di luar kawasan proyek. Beberapa memiliki hunian permanen di daerah lain dan permintaan mereka rumah Rekompak adalah karena alasan warisan. Supaya berhasil, pendekatan berbasis masyarakat mensyaratkan bahwa penerima bantuan harus terlibat secara aktif dalam rekonstruksi rumah mereka sendiri, dan berperan serta dalam perencanaan komunitas dan pengelolaan keuangan. Jika bukan itu yang terjadi, yang dirugikan adalah kualitas kontruksi, sehingga pemilik rumah yang tidak berperan serta akan memberikan dampak bagi keberhasilan proyek tersebut.

SOLUSI:

Penerapan kriteria yang ketat dan transparan sebagaimana telah disepakati untuk menyeleksi penerima manfaat yang memenuhi syarat. Para penerima manfaat Rekompak harus merupakan penduduk tetap daerah sasaran dan bersedia berperan serta penuh dalam perencanaan komunitas, pengelolaan dana dan pengawasan pembangunan rumah mereka. Informasi mengenai kriteria kelayakan ini perlu disebarluaskan dan diterangkan dengan jelas oleh para fasilitator dalam sesi-sesi informasi masyarakat.

OMPAK

TANTANGAN:

Double dipping atau satu penerima manfaat menuntut lebih dari satu rumah. Memutuskan siapa yang memenuhi syarat untuk menerima sebuah rumah baru adalah salah satu aspek tersulit dari program rekonstruksi perumahan apapun. Masalah keadilan dapat menggagalkan sebuah program jika penerima manfaat tidak menerima keputusan sasaran dan kelayakan. Terdapat beberapa kasus pada tahap awal yang bertolak belakang dari kebijakan proyek karena beberapa penerima manfaat menerima lebih dari satu rumah dari Rekompak. Dalam kasus-kasus lain, beberapa pemilik rumah dilaporkan memperoleh pendanaan untuk pembangunan kembali satu rumah dan untuk rehabilitasi rumah lain.

SOLUSI:

Dengan sungguh-sungguh melibatkan masyarakat dan pimpinan daerah dalam penetapan sasaran penerima manfaat dan dalam pengumpulan fakta untuk memfasilitasi pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Kasus-kasus, yang kelayakannya dipertanyakan, diperiksa dan dikonfirmasi oleh inspeksi lapangan. Terdapat beberapa kasus seorang individu memiliki dua atau lebih rumah yang hancur karena tsunami.

Namun, menurut aturan Rekompak, setiap rumah tangga hanya berhak atas satu rumah dari Rekompak, tanpa memandang berapa banyak rumah yang mungkin pernah dimiliki individu tersebut sebelum tsunami. Melalui umpan balik dari masyarakat dan pimpinan pemerintah daerah, dugaan kasus-kasus “rumah ganda” diidentifikasi, dianalisa, dan dikategorikan.

Lewat proses konsultasi, Unit Pengelolaan Proyek dan masyarakat bersama-sama tiba pada beberapa opsi untuk menangani kasus-kasus ini. Peran yang dimainkan oleh pemerintah daerah lewat camat dan kepala desa membantu penyelesaian perselisihan.

Tantangan Solusi/Opsi

• Penerima manfaat memiliki dua

rumah yang hancur karena tsunami. • Anak laki-lakinya dijadikan penerima manfaat untuk rumah kedua yang dia terima sebagai warisan. Ini melegitimasi klaim atas bantuan bagi masing-masing dari kedua rumah tersebut.

• Penerima manfaat memiliki dua rumah, satu dimiliki sebelum bencana dan satu lagi adalah warisan dari orang tua setelah tsunami

• Penerima manfaat secara hukum mengalihkan kepemilikan salah satu rumahnya kepada seorang saudara kandungnya yang kemudian menjadi penerima manfaat yang memenuhi syarat.

• Penerima manfaat secara hukum hanya memiliki satu rumah tetapi menerima bantuan untuk lebih dari satu rumah dengan memalsukan data

• Penerima manfaat mengembalikan uang yang digunakan untuk membangun kembali salah satu rumahnya.

Sumber: Aceh after Tsunami: Rebuilding Houses and Communities.

BAB 5:Tema-Tema Lintas Sektoral dan Tantangan-Tantangan Pelaksanaan TANTANGAN:

Kenaikan harga bahan bangunan dan upah pekerja dalam rekonstruksi berskala besar. Sebagai akibat dari sangat besarnya permintaan akan bahan-bahan bangunan dan tenaga kerja begitu rekonstruksi dimulai di Aceh, biaya konstruksi melonjak hampir dua kali lipat dalam tahun pertama. Awalnya, Pemerintah menetapkan biaya rekonstruksi rumah per unit sebesar AS$3.300 . Namun, pada saat Rekompak MDF memulai pembangunan kembali, biaya per unit meningkat hingga lebih dari AS$6.000. Bagi Rekompak MDF, ini berarti membangun rumah yang lebih sedikit daripada yang direncanakan semula, mengubah target dan bekerja untuk 130 komunitas, ketimbang 200 komunitas.

SOLUSI:

Ketentuan mengenai rumah inti ketimbang rumah penuh. Daripada membangun lebih sedikit rumah pada komunitas yang lebih sedikit seperti di Aceh, Rekompak JRF mengubah pendekatannya di Jawa.

Ketimbang memberikan sebuah rumah penuh, Rekompak berkomitmen untuk membangun kembali rumah inti yang tahan gempa. Pemilik rumah didorong untuk menyumbangkan dana mereka sendiri untuk memberikan sentuhan akhir pada struktur bangunan dasar. Pilihan lain bagi pemilik adalah membangun sebuah rumah yang sedikit lebih kecil daripada rumah berstandar 36 meter persegi dan menggunakan “penghematan”-nya untuk menyempurnakan rumah tersebut. Pilihan-pilihan lainrumah berstandar 36 meter persegi dan menggunakan “penghematan”-nya termasuk menggunakan kembali bahan-bahan dari tempat-tempat tinggal sementara dan pemiliknya menyelesaikan sendiri sebagian besar pekerjaan pembangunan rumah. Dengan membangun rumah inti sebagai hunian tahan gempa yang memadai ketimbang rumah penuh, pendanaan disesuaikan sehingga sumber daya proyek yang tersedia dapat digunakan untuk membantu lebih banyak rumah tangga.

Para fasilitator Rekompak menguji bagian samping dan atas balok dinding rumah

untuk memastikan kekuatannya. Desa Lasikin, Aceh, 2009. Foto: Tim Rekompak

OMPAK

TANTANGAN:

Lebih sedikit perempuan dibandingkan laki-laki berperan serta dalam kegiatan Rekompak. Menjamin partisipasi yang setara bagi perempuan dalam rekonstruksi Rekompak tetap menjadi tantangan bagi Rekompak MDF dan JRF. Rekompak mensyaratkan 30 persen partisipasi perempuan pada pertemuan dan keterwakilan pada wali amanat desa dan komite Rekompak. Sulit untuk memenuhi kuota 30 persen dan akibatnya, dibuat kewajiban untuk melibatkan paling tidak satu perempuan pada komite Rekompak. Bahkan ketika perempuan menghadiri pertemuan, mereka tidak selalu berperan serta pada tingkat yang sama dengan laki-laki, yang sebagian karena sejumlah perempuan tidak terbiasa mengeluarkan pendapat mereka, dan bahkan ketika mereka benar-benar berbicara, pendapat mereka tidak selalu dihargai dan tidak mengandung bobot yang sama dengan pendapat laki-laki.

SOLUSI:

Mencari solusi khusus untuk mendorong partisipasi perempuan.

Proyek Rekompak mengadaptasi proses konsultatif mereka dengan memisahkan forum resmi dan tidak resmi khusus untuk perempuan di dalam lingkungan yang nyaman untuk mengeluarkan pendapat dan masukan. Dengan perubahan ini, partisipasi perempuan dalam kegiatan-kegiatan Rekompak dapat ditingkatkan, namun belum optimal di dalam semua komunitas penerima manfaat. Walaupun penting untuk mengakui kemajuan yang dicapai dan pencapaian para perempuan itu sendiri, penting pula mengakui bahwa menjamin partisipasi yang setara bagi perempuan menghadirkan sejumlah tantangan. Pengalokasian sumber daya yang memadai untuk kegiatan pengarusutamaan gender, termasuk pelatihan gender bagi fasilitator, disarankan bagi pelaksanaan proyek Rekompak di masa depan.

BAB 5:Tema-Tema Lintas Sektoral dan Tantangan-Tantangan Pelaksanaan

Pekerja lokal memasang batangan-batangan baja bertulang untuk kolom dan balok sebuah rumah baru di Jawa. Para penerima bantuan diharuskan menaati standar tahan gempa dan teknik rekonstruksi dalam membangun rumah mereka.

Foto:

Tim Rekompak

TANTANGAN:

Rumah-rumah dengan infrastruktur tidak lengkap dan kurangnya akses terhadap layanan. Di Aceh, tidak semua rumah Rekompak dilengkapi dengan hubungan dan akses kepada air dan listrik. Layanan ini seharusnya disediakan oleh badan-badan lain atau pemerintah daerah. Dalam kasus-kasus di mana akses terhadap layanan tidak tersedia, rumah-rumah tersebut terkadang tidak dihuni hingga layanan tersebut tersedia.

SOLUSI:

Pastikan koordinasi yang erat untuk menghindari keterlambatan dalam penyediaan fasilitas listrik dan air. Koordinasi antara mereka yang bertanggung jawab untuk menyediakan layanan dan proyek perumahan sebaiknya bertujuan menuntaskan layanan air dan listrik pada saat yang sama ketika rumah selesai dibangun sehingga penundaan untuk menempati rumah dapat dihindari.

OMPAK

1 Making Women’s Voices Count. Integrating Gender Issues in Disaster Risk Management Overview and Resources, Bank Dunia, 2012. 2

2 Making Women’s Voices Count. Integrating Gender Issues in Disaster Risk Management Overview and Resources Note 1, Bank Dunia, 2012. 2

3 Making Women’s Voices Count. Integrating Gender Issues in Disaster Risk Management Guidance Note 5, Bank Dunia, 2012. 1

4 Untuk informasi lebih lanjut, lihat Making Women’s Voices Count: Integrating Gender Issues in Disaster Risk Management Guidance Note 5, Bank Dunia, 2012

5 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pulau Nias (PNPM–R2PN), yang didanai oleh MDF.

6 Untuk informasi tambahan mengenai pertimbangan-pertimbangan lingkungan hidup, lihat Jha, Abhas, Safer Homes, Stronger Communities, a Handbook for Reconstructing after Natural Disasters, Bank Dunia, 2010. Bab 9 Environmental Planning.

7 Beberapa tantangan dan solusi yang disebutkan dalam bagian ini diadaptasikan dari Aceh after Tsunami: Rebuilding Houses and Communities. 49-59.

Bab 5 menguraikan tentang tema-tema lintas sektoral yang dijalinkan ke dalam seluruh kegiatan Rekompak: pengurangan risiko bencana, pemberdayaan masyarakat, peran serta perempuan, perlindungan lingkungan hidup, dan penguatan kapasitas. Contoh-contoh tantangan pelaksanaan dan bagaimana hal-hal tersebut ditangani oleh Rekompak juga dibahas.

Bab berikut, Bab 6, menghantarkan kepada kesimpulan kisah pengalaman Rekompak di Indonesia.