BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA
B. Pelibat Wacana ( Tenor of Discourse )
yang dicantumkan dalam teks (berita); sifat orang-orang itu, kedudukan dan peranan mereka. Dengan kata lain, siapa saja yang dikutip dan bagaimana sumber itu digambarkan sifatnya.
c. Sarana Wacana (mode of discourse) menunjuk pada bagian yang
diperankan oleh bahasa: bagaimana komunikator (media massa) menggunakan gaya bahasa untuk menggambarkan medan (situasi) dan pelibat (orang-orang yang dikutip); apakah menggunakan bahasa yang diperhalus atau dihiperbolik, eufemistik atau vulgar.
14
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, Analisis Framing, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), h. 148
15
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, Analisis Framing, h. 148
Skripsi yang menjadi acuan peneliti untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Judul skripsi “Representasi Budaya Betawi Dan Religiusitas Islam
dalam Bens Radio (Analisis Semiotika Sosial M.A.K Halliday
Program Acara Nasi Ulam (Nasihat Ulama) dan Batavian)” oleh Syifa
Fauziah Jurusan Konsentrasi Jurnalistik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Persamaan skripsi ini yaitu peneliti yang juga menggunakan metode analisis semiotika sosial namun subyek dan obyek berbeda dengan yang diteliti oleh peneliti.
2. Judul jurnal “Jejak Halliday Dalam Linguistik Kritis Dan Analisis
Wacana Kritis” oleh Anang Santoso Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Peneliti menggunaka jurnal ini karena memiliki kesamaan dari metode yang digunakan yaitu semiotika sosial MAK Halliday.
3. Judul skripsi “Representasi Suap Daging Sapi Impor Pada Sampul
Majalah Tempo” oleh Eko Ramanudin Jurusan Konsentrasi Jurnalistik
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Persamaan skripsi ini dalam menggunakan metode semiotika namun berbeda model semiotikanya dan subjek serta objek pun berbeda dengan peneliti.
Untuk mengetaui secara global tentang penulisan ini, maka sistematika penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:
Bab I. Bab ini berisi Pendahuluan yang mencakup dari Latar Belakang masalah, Pembatan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat penelitian, Metodologi Penelitian, Kajian Pustaka dan Sistematika Penulisan.
Bab II. Bab ini berisi kerangka teori yang meliputi Definisi Semiotika, Semiotika Sosial M.A.K Halliday, Definisi Pemberitaan, Media Online, Definisi Pernikahan Beda Agama, Pernikahan Beda
Agama menurut Pandangan Islam dan Hukum di Indonesia.
Bab III. Bab ini berisi profil media online, yaitu terdiri profil Tempo Inti Media yang meliputi sejarah perusahaan, prestasi dan penghargaan, visi, dan misi.
Bab IV. Bab ini berisi analisis semiotika sosial membahas
konstruksi terhadap pemberitaan pernikahan beda agama di Tempo.co
dengan cara mengurai realitas objektif pemberitaan Jonnas Rivano dengan Asmirandah, temuan penelitian menggunakan analisis semiotika sosial M.A.K Halliday yang dilihat dari medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana.
Bab V. Bab ini berisi penutup yang memuat kesimpulan penelitian dan sekaligus untuk menjawab pertanyaan yang diajukan dalam perumusan masalah, serta menyampaikan saran-saran dan lampiran-lampiran yang terkait dengan penelitian.
1. Pengertian Semiotika
Semiotika sebagai suatu metode dari ilmu pengetahuan sosial memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan „tanda’.1
Secara etimologis, istilah semiotik berasal dari
kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Secara terminologis, semiotik
dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas
objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda.2
Menurut Charles Sandra Peirce dikutip Alex Sobur,
mendefinisikan semiosis sebagai “a relationship among a sign, an object,
and a meaning (suatu hubungan di antara tanda, objek, dan makna)”.3
Peirce mengaanggap semiotika adalah studi tentang tanda. Melalui tanda manusia berhubungan dengan orang lain kemudian memberi makna.
Peirce adalah seorang ahli logika dan matematika yang terkenal
juga dengan teori segitiga makna (triangle meaning). Semiotika bagi
Peirce terbagi atas tiga unsur, yaitu Tanda (Sign), Acuan Tanda (Object),
dan Pengguna Tanda (Interprentat).
1
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, Analisis Framing, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), h. 87
2
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, Analisis Framing, h. 95
3
Gambar 1 Elemen Makna Peirce
Peirce membagi tanda pada tiga jenis, yaitu icon (ikon), index
(indeks), dan symbol (simbol). Ikon adalah tanda yang berhubungan antara
penanda dan petandanya dengan bentuk objek yang alamiah atau serupa. Indeks adalah tanda yang hubungan penanda dan petandanya bersifat sebab akibat atau langsung mengacu pada peristiwa. Simbol adalah tanda
yang berhubungan dengan perjanjian sejumlah orang atau masyarakat.4
Ferdinand de Saussure, semiotika adalah ilmu yang mengkaji tanda. Saussure lebih memfokuskan masalah bahasa dan struktur yang digunakan oleh manusia dalam memaknai realitas pada kehidupan, termasuk bahasa sebagai tanda. Oleh karena itu, sistem tanda dalam
linguistik menjadikan landasan utama semiologinya.5
Ada lima paradigma Saussure tentang prinsip dasar semiotika,
yaitu pertama, signifer (penanda) dan signified (petanda); kedua, form
(bentuk) dan content (isi); ketiga, langue (bahasa) dan parole (tuturan,
4
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 41-42
5
Dadan Rusmana, Filsafat Semiotika: Paradigma, Teori, dan Metode Interpretasi Tanda dari Semiotika Struktural Hingga Dekonstruksi Praktis, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2014), h. 97
ujaran); keempat, syinchronic (sinkronik) dan diachronic (diakronik); dan
kelima, syntagmatik (sintagmatik) dan assosiative (paradikamatik).6
Seorang ahli semiotika, Umberto Eco menghasilkan teori tentang
tanda yang paling komprehensif dan kontemporer.7 Eco menghasilkan
studi tanda ini masih berkaitan dengan mazhab Saussure dan Peirce.
Melalui buku “A Theory of Semiotics”, Umberto Eco mengkonstruksikan
semiotika sebagai persoalan signifikasi dan komunikasi. 8 Eco juga
menekankan teori tanda ini pada dua hal, yaitu teori kode dan teori produksi tanda.
Roland Barthes merupakan seorang ahli semiotik Perancis dan penerus pemikiran Saussure. Fokus utama dalam teori Barthes adalah
gagasan signifikasi dua tahap (two order of signification),9 yaitu denotasi
dan konotasi. Denotasi adalah makna yang sesuai harfiah atau makna
sebenarnya dan bagi Barthes menjadi sistem makna tingkat pertama.10
Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes sebagai signifikasi
tingkat kedua.11 Konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebut
sebgai „mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberi
6
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 46
7
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, h. 19
8
Dadan Rusmana, Filsafat Semiotika: Paradigma, Teori, dan Metode Interpretasi Tanda dari Semiotika Struktural Hingga Dekonstruksi Praktis, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2014), h.293
9
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, Analisis Framing, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), h. 127
10
Dadan Rusmana, Filsafat Semiotika: Paradigma, Teori, dan Metode Interpretasi Tanda dari Semiotika Struktural Hingga Dekonstruksi Praktis, h. 200
11
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, Analisis Framing, h. 128
pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.12
Gambar 2 Signifikasi Dua Tahap Barthes
Dengan demikian peneliti menyimpulkan dari definisi diatas, semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda. Tanda dapat menunjukkan adanya peristiwa, benda, sifat, dan lainnya. Seperti contoh, lampu merah menandakan untuk kendaraan berhenti, awan mendung menandakan akan hujan, menangis tanda kesedihan, dan sebagainya.
Semiotika mengkaji tanda, penggunaan tanda, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan tanda. Kemudian semua jelas dapat menjadi tanda sehingga tidak ada yang dijadikan topik penelitian semiotika. Dengan kata lain, perangkat pengertian semiotika diterapkan pada semua bidang kehidupan asalkan persyaratannya terpenuhi, yaitu ada arti yang diberikan, ada pemaknaan, ada interpretasi. Lebih baik lagi, seorang semiotikus dapat
12
http://www.academia.edu/4049657/Semiotika_dalam_Desain_Komunikasi_Visual_roland _bartes, diakses oleh Paramita Nadia, 18 Oktober 2014, 21:11 WIB
bekerja dimanapun dan kapan pun semiosis berlangsung, baik di dalam
maupun di luar komunikasi.13
Mengenal lebih jauh tentang semiotika, tidak terlepas dari tokoh pemuka semiotika yang menjadi tokoh penting dan sangat berpengaruh dalam ilmu semiotika, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) di Swis dan Charles Sanders Peirce (1834-1914) di Amerika Serikat. Kedua tokoh inilah yang muncul dua aliran utama semiotika modern, yaitu satu menggunakan konsep Peirce dan satu lagi menggunakan konsep Saussure. Ketidaksamaan ini mungkin terutama disebabkan oleh perbedaan yang mendasar, yaitu Saussure adalah cikal bakal linguistik umum, sedangkan Peirce adalah ahli filsafat dan ahli logika. Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotika tidak hanya secara terpisah tapi juga tidak saling mengenal satu sama lainnya. pemahaman atas dua gagasan ini merupakan syarat mutlak bagi mereka yang ingin memperoleh pengalaman dasar mengenai semiotika.
2. Macam-macam Analisis Semiotika
Kurang lebih terdapat sembilan macam semiotika yang dikenal
sekarang. Jenis-jenis semiotika diantaranya yaitu sebagai berikut:14 (a)
Semiotik analitik ialah semiotik yang menganalisis sistem tanda. Peirce menyatakan bahwa semiotik berobjekkan tanda dan menganalisisnya
13
Chritomy. T dan Untung Yuwono, Semiotika Budaya, (Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Direktorat Riset dan Pengabdian Mayarakat, 2004), h. 79
14
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, Analisis Framing, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), h. 100-101
menjadi ide, objek, dan makna. (b) Semiotik deskriptif ialah semiotik yang memperhatikan sistem tanda yang dapat kita alami sekarang, meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang. (c) Semiotik faunal (zoosemiotic), semiotik yang khusus memperhatikan
sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. (d) Semiotik kultural, semiotik
yang khusus menelaah sistem tanda yang berlaku dalam kebudayaan
masyarakat tertentu. (e) Semiotik naratif, semiotik yang menelaah sistem
tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan cerita lisan (folklore). (f)
Semiotik natural, semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang
dihasilkan oleh alam. (g) Semiotik normatif, semiotik yang khusus
menelaah sistem tanda yang dibuat oleh manusia yang berwujud
norma-norma, misalnya rambu-rambu lalu lintas. (h) Semiotik sosial, semiotika
yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lambang, baik lambang berwujud kata maupun lambang berwujud kata dalam satuan yang disebut kalimat. Buku Halliday (1978) itu sendiri berjudul Language Social Semiotic. Dengan kata lain, semiotik
sosial menelaah sistem tanda yang terdapat dalam bahasa. (i) Semiotik
Struktural, semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa.
3. Analisis Semiotika Sosial M.A.K Halliday
Semiotika sosial dijelaskan oleh Michael Alexander Kirkwood
Semiotic. Semiotika sosial merupakan cabang dari studi mengenai tanda yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lambang, baik lambang berwujud kata maupun lambang berwujud kata dalam satuan yang disebut kalimat. Dengan kata lain,
semiotika sosial menelaah sistem tanda yang terdapat dalam bahasa.15
Selain itu, istilah semiotika sosial merupakan hubungan setiap manusia dengan lingkungan manusia yang memiliki arti, dan arti tersebut akan dimaknai oleh orang-orang yang saling berinteraksi dengan melibatkan lingkungan tersebut.
Menurut Halliday dan Hasan istilah semiotika sosial diartikan secara berbeda yaitu semiotika dan sosial. Konsep „semiotik’ mulanya berasal dari konsep tanda, dan kata modern ini ada hubungannya dengan
istilah semainon (penanda) dan semainomenon (petanda) yang digunakan
dalam ilmu bahasa Yunani kuno oleh pakar filsafat Stoik.16 Sedangkan
„sosial’ yang artinya sistem sosial atau kebudayaan sebagai suatu sistem makna.17
Dengan demikian, semiotika sosial itu sendiri merupakan suatu pendekatan yang memberi tekanan pada konteks sosial, yaitu pada fungsi sosial yang menentukan bentuk bahasa. Perhatian utamanya terletak pada
15
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, Analisis Framing, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), h. 101
16
Halliday. M.A.K. dan Ruqaiya Hasan, Bahasa, Konteks, dan Teks, Aspek-Aspek Bahasan dalam Pandangan Semiotika Sosial, (Yogyakarta: Gadjahmada university Press, 1994), h. 3
17
Halliday. M.A.K. dan Ruqaiya Hasan, Bahasa, Konteks, dan Teks, Aspek-Aspek Bahasan dalam Pandangan Semiotika Sosial, h. 5
hubungan antara bahasa dengan struktur sosial dengan memandang
struktur sosial sebagai satu segi dari sistem sosial.18
Aliran Halliday juga dikenal pula dengan sebutan semiotik
behavioris yang mengembangkan teori semiotik dengan jalan memanfaatkan temuan-temuan baru dalam psikologi yang berpengaruh
pada linguistik.19 Sebenarnya, aliran semiotika Halliday memiliki banyak
sebutan, terutama sebutan yang “berbau” linguistik, antara lain Tata Bahasa Mazhab Haliday, Scale and Category Lingusitics dan Systemic Linguistics; dalam istilah bahasa Indonesia adalah linguistik sistematik.20
Semiotika sosial lebih menelaah mengenai bahasa. Karena bahasa sebagai salah satu makna yang secara bersama-sama membentuk budaya
manusia.21 Bahasa juga sangat diperlukan dalam kebutuhan manusia untuk
memahami seseorang dalam kehidupan.
Bahasa sebagai semiotik sosial yang terjadi dari tiga unsur (yang juga disebut tiga tingkat), yakni arti, bentuk, dan ekspresi. Secara teknis
disebut semantik, tata bahasa (lexicogrammar) dan fonologi (lisan),
grafologi (tulisan), atau isyarat (sign).22 Jadi, dari unsur pertama yaitu arti direalisasikan oleh bentuk (kosa kata dan tata bahasa) kemudian bentuk
18
Halliday. M.A.K. dan Ruqaiya Hasan, Bahasa, Konteks, dan Teks, Aspek-Aspek Bahasan dalam Pandangan Semiotika Sosial, (Yogyakarta: Gadjahmada university Press, 1994), h. 5
19
Dadan Rusmana, Filsafat Semiotika: Paradigma, Teori, dan Metode Interpretasi Tanda dari Semiotika Struktural Hingga Dekonstruksi Praktis, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2014), h. 216
20
Dadan Rusmana, Filsafat Semiotika: Paradigma, Teori, dan Metode Interpretasi Tanda dari Semiotika Struktural Hingga Dekonstruksi Praktis, h. 216
21
Halliday. M.A.K. dan Ruqaiya Hasan, Bahasa, Konteks, dan Teks, Aspek-Aspek Bahasan dalam Pandangan Semiotika Sosial, h. 5
22
Amrin Saragih, Bahasa dalam Konteks Sosial: Pendekatan Linguistik Fungsional Sistemik terhadap Tata Bahasa dan Wacana, (Medan: Program Pascasarjana USU, 2006), h. 227
mengekspresikannya melalui bunyi yang berupa bahasa lisan dalam tulisan. Hubungan ketiga unsur ini dalam persepsi bahasa sebagai semiotik sosial.
Dalam bahasa berkaitan pula teks dengan konteks. Menurut Dadan Rusmana, teks adalah bahasa yang sedang melaksanakan tugas untuk mengekspresikan fungsi atau makna sosial dalam konteks situasi dan
konteks kultural.23 Kemudian menurut Halliday dan Hasan bahwa teks
dibatasi sebagai unit bahasa yang fungsional dalam konteks sosial.
Ada teks dan ada teks lain yang menyertainya: teks yang menyertai teks itu disebut konteks. Namun, pengertian mengenai hal yang menyertai teks itu meliputi tidak hanya yang dilisankan atau ditulis, tetapi juga meliputi kejadian-kejadian yang nonverbal lainnya pada keseluruhan
lingkungan teks itu.24 Konteks pun terbagi menjadi tiga yaitu konteks
sosial (meliputi field, tenor dan mode), konteks budaya dan konteks
ideologi.
Konteks situasi itu sendiri adalah keseluruhan lingkungan, baik lingkungan tutur (verbal) maupun lingkungan tempat teks itu diproduksi (diucapkan atau ditulis). Ketiga konteks situasi berkaitan dengan tiga metafungsi penggunaan bahasa di dalam proses sosial pada masyarakat.
23
Dadan Rusmana, Filsafat Semiotika: Paradigma, Teori, dan Metode Interpretasi Tanda dari Semiotika Struktural Hingga Dekonstruksi Praktis, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2014), h. 219
24
Halliday. M.A.K. dan Ruqaiya Hasan, Bahasa, Konteks, dan Teks, Aspek-Aspek Bahasan dalam Pandangan Semiotika Sosial, (Yogyakarta: Gadjahmada university Press, 1994), h. 6
Ketiga metafungsi bahasa, yaitu sebagai berikut: fungsi ideasional, fungsi interpersonal, dan fungsi tekstual.
Dalam pandangan Halliday konteks situasi terdiri atas tiga unsur,
yakni medan wacana, pelibat wacana, dan sarana atau modus wacana.25
a. Medan Wacana
Medan wacana (field of discourse) adalah konteks situasi yang
merujuk kepada aktivitas sosial yang sedang terjadi serta latar institusi tempat satuan-satuan bahasa itu muncul. Dalam menganalisis medan wacana terdapat tiga hal yang perlu diungkap; ranah pengalaman, tujuan jangka pendek, dan tujuan jangka panjang.
Ranah pengalaman merujuk kepada ketransitifan yang mempertanyakan apa yang terjadi dengan seluruh “proses”, “partisipan”, dan “keadaan”. Tujuan jangka pendek merujuk pada tujuan yang harus segera dicapai. Tujuan ini bersifat amat konkret. Tujuan jangka panjang merujuk pada tempat teks dalam skema suatu persoalan yang lebih besar. Tujuan ini bersifat lebih abstrak.
b. Pelibat Wacana
Pelibat wacana (tenor of discourse) adalah konteks situasi yang
merujuk pada narasumber yang dikutip, termasuk pemahaman peran dan statusnya dalam konteks sosial dan lingual. Untuk menganalisis pelibat wacana ada tiga hal yang perlu diungkap; peran agen atau
25
Anang Santoso, “Jejak Halliday dalam Linguistik Kritis dan Analisis Wacana Kritis,” Bahasa dan Seni, Tahun 36, Nomor I (Februari 2008), h. 4
masyarakat, status sosial, dan jarak sosial. Peran status, dan jarak sosial dapat bersifat sementara dan dapat pula permanen.
c. Sarana Wacana
Sarana atau modus wacana (mode of discourse) adalah konteks
situasi yang merujuk pada bagian bahasa yang sedang dimainkan dalam situasi, termasuk saluran yang dipilih, apakah lisan atau tulisan. Untuk menganalisis sarana paling tidak ada lima hal yang diungkap; peran bahasa, tipe interaksi, medium, saluran dan modus retoris.
Peran bahasa terkait dengan kedudukan bahasa dalam aktivitas
bisa saja bersifat wajib (konstitutif) atau tidak
wajib/penyokong/tambahan. Peran wajib terjadi apabila bahasa sebagai aktivitas keseluruhan. Peran tambahan terjadi apabila bahasa membantu aktivitas lainnya. Tipe interaksi merujuk pada jumlah pelaku: monologis atau dialogis. Medium terkait dengan sarana yang digunakan: lisan, tulisan, atau isyarat. Saluran berkaitan dengan bagaimana teks itu dapat diterima: fonis, grafis, atau visual. Modus retoris merujuk pada “perasaan” teks secara keseluruhan: persuasif, kesastraan, akademis, edukatif, mantra, dan sebagainya.
B. Pemberitaan
1. Pengertian Berita
Pemberitaan adalah proses, cara, perbuatan memberitan
(melaporkan, memaklumkan), perkabaran atau maklumat.26 Menurut
Totok Djuroto, Istilah kata berita berasal dari bahasa sansekerta, yakni Vrit
yang dalam bahasa Inggris disebut write, arti sebenarnya ialah ada atau
terjadi. Sebagian ada yang menyebut dengan vritta, artinya “kejadian” atau
“yang telah terjadi”. Vritta dalam bahasa Indonesia kemudian menjadi
berita atau warta.27
Menurut Mitchel U. Charrley dan James M. Neal yang dikutip AS.
Haris Sumadiria, berita atau news adalah laporan tentang suatu peristiwa, opini, kecenderungan, situasi, kondisi, interpretasi yang penting, menarik,
masih baru dan harus secepatnya disampaikan.28 Ada beberapa definisi
tentang berita diantaranya: 29
a. Dean M. Spencer mendefinisikan berita sebagai suatu kenyataan atau
ide yang benar dan dapat menarik perhatian pembaca.
b. Dr. Williard C. Blayer, berita adalah termasuk (baru) yang dipilih oleh
wartawan untuk dimuat dalam media cetak karena itu ia dapat menarik atau mempunyai makna dan dapat menarik minat bagi pembaca.
26
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 140-141
27
Totok Djunarto, Manajemen Penerbitan Pers, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), cet ke-1, h. 46
28
AS. Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature Panduan Jurnalis Profesional, ( Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2005), cet ke-1, h. 64
29
c. Willian S. Maulsby menyebutkan berita sebagai suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi.
d. Eric C. Hefwod berita adalah laporan pertama dari kejadian yang
penting dan menarik perhatian pembaca.
Dengan kata lain, berita adalah laporan peristiwa atau kejadian yang benar terjadi (fakta), sangat penting, penuh makna dan menarik perhatian pembaca untuk disebarluaskan kepada publik.
2. Klasifikasi Berita
Berita dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori: berita berat (hard news) dan berita ringan (soft news). Selain itu, berita juga dapat dibedakan menurut lokasi peristiwanya, di tempat terbuka atau di tempat tertutup. Sedangkan berdasarkan sifatnya, berita bisa dipilih menjadi berita diduga dan berita tak terduga. Selebihnya, berita juga dapat dilihat
menurut materi isinya yang beraneka macam.30
Berita berat, sesuai dengan namanya menunjuk pada kejadian yang menggemparkan dan menarik perhatian seperti kebakaran, gempa bumi, kerusuhan. Sedangkan berita ringan, juga sesuai dengan namanya, menunjuk pada peristiwa yang lebih bertumpu pada unsur-unsur
30
AS. Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature Panduan Jurnalis Profesional, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2005), cet ke-1 h. 65
ketertarikan manusiawi, seperti pesta pernikahan bintang film, atau
seminar sehari tentang perilaku seks bebas di kalangan remaja.31
Berdasarkan sifatnya, berita terbagi atas berita diduga dan berita tak terduga. Berita diduga adalah peristiwa yang direncanakan atau sudah diketahui sebelumnya, seperti lokakarya, pemilihan umum, peringatan hari-hari bersejarah. Sebaliknya berita tak terduga adalah peristiwa yang sifatnya tiba-tiba dan tidak direncanakan, tidak ketahui sebelumnya, seperti kereta api terguling, gedung perkantoran terbakar, bus tabrakan,
dan sebagainya.32
Berita juga bisa dibedakan menurut lokasi peristiwanya. Ada berita
di tempat tertutup (indoor news) dan tempat terbuka (outdoor news).
Berita tentang sidang kabinet, seminar berlangsung di tempat tertutup.
Berita jenis ini masuk kategori berita ringan (soft news), karena berita
tersebut tidak sampai mengguncangkan perhatian serta tidak menimbulkan dampak yang luas terhadap masyarakat. Sedangkan berita tentang kerusuhan, bencana alam berlangsung di tempat terbuka. Berita jenis ini
masuk kategori berita berat (hard news). 33
31
AS. Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature Panduan Jurnalis Profesional, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2005), h. 66
32
AS. Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature Panduan Jurnalis Profesional, h. 66
33
AS. Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature Panduan Jurnalis Profesional, h. 66-67
3. Jenis-Jenis Berita
Dalam dunia jurnalistik, berita berdasarkan jenisnya dapat dibagi
ke dalam tiga kelompok: elementary, intermediate, advance. Berita
elementary mencakup pelaporan berita langsung (straight news), berita
mendalam (dept news report), dan berita menyeluruh (comprehensive
news report). Berita intermediate meliputi pelaporan berita interpretatif (interpretative news report) dan pelaporan karangan-khas (feature story report). Sedangkan untuk kelompok advance menunjuk pada pelaporan
mendalam (dept reporting), dan penulisan tajuk encana (editorial writin).
Berikut ini penjelasan singkat tentang straight news report, dept news
report, interpretative report, investigative reporting, dan feature:34
a. straight news report adalah laporan langsung mengenai suatu peristiwa. Misalnya, sebuah pidato biasanya merupakan berita-berita langsung yang hanya menyajikan apa yang terjadi dalam waktu singkat. Biasanya berita ini ditulis dengan unsur-unsur yang dimulai
dari what, who, when, where, why, dan how (5W+1H).
b. dept news report merupakan laporan yang sedikit berbeda dengan straight news report. Reporter menghimpun fakta-fakta mengenai peristiwa itu sendiri sebagai informasi tambahan untuk peristiwa itu tersebut. Jenis laporan ini memerlukan pengalihan informasi, bukan opini reporter. Fakta-fakta yang nyata masih tetap besar.
34
AS. Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature Panduan Jurnalis Profesional, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2005), h. 69
c. Comprehensive news merupakan laporan tentang fakta yang bersifat menyeluruh ditinjau dari berbagai aspek. Berita menyeluruh,
sesungguhnya merupakan jawaban terhadap kritik sekaligus