• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pelindungan Merek Dagang Terdaftar

2. Pelindungan Merek Dagang Secara Internasional

a. Paris Convention for the Protection of Industrial Property

Secara keseluruhan konvensi Internasional di bidang merek dimulai pada tahun 1883 dengan ditandatanganinya Paris Convention for the Protection of Industrial Property (selanjutnya disebut konvensi Paris) yang merupakan salah satu konvensi intelektual pertama dan terpenting.158 Dalam Konvensi Paris, terminologi HKI meliputi: paten, utility model, industrial design, trademarks, service marks, trade names, indications of source or appellation of origin, dan repression of unfair competition.

157

Lihat Pasal 88 UU No. 15 Tahun 2001 yang menyatakan bahwa “Dalam hal penetapan sementara: a. dikuatkan, uang jaminan yang telah dibayarkan harus dikembalikan kepada pemohon penetapan dan pemohon penetapan dapat mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud Pasal 76; b. dibatalkan, uang jaminan yang telah dibayarkan harus segera diserahkan kepada pihak yang dikenai tindakan sebagai ganti rugi akibat adanya penetapan sementara tersebut.”

158

Sampai saat ini jumlah anggotanya 174 negara dan Indonesia termasuk didalamnya. (http://www.wipo.int/treaties/en/ShowResults.jsp?lang=en&search_what=B&bo_id=5).

Tujuan Konvensi Paris antara lain adalah untuk mencapai unifikasi di bidang perundang-undangan merek sedapat mungkin, dengan harapan agar tercipta satu macam hukum tentang merek atau cap dagang yang dapat mengatur soal-soal merek secara seragam di seluruh dunia. Ada 3 (tiga) hal penting yang diatur dalam Konvensi Paris ini, yaitu national treatment, yang artinya bahwa setiap warga negara peserta Konvensi Paris bisa mengklaim negara peserta lainnya, agar ia diperlakukan sama dengan warga negaranya sendiri, dalam hal pemberian pelindungan merek, Priority rights, yaitu hak-hak prioritas yang diberikan kepada setiap warga negara peserta konvensi untuk mendaftarkan mereknya dalam jangka waktu 6 (enam) bulan terhitung sejak tanggal pendaftaran mereknya di negara peserta konvensi Paris, dan registration yang merupakan harmonisasi secara global sehubungan dengan pendaftaran merek bagi setiap peserta Konvensi Paris.159

Pelindungan terhadap merek terkenal pertama kali dikenal dalam Pasal 6 bis Konvensi Paris yang berbunyi sebagai berikut:

(1) The countries of the Union undertake, ex officio if their legislation so permits, or at the request of an interested party, to refuse or to cancel the registration, and to prohibit the use, of a trademark which constitutes a reproduction, an imitation, or a translation, liable to create confusion, of a mark considered by the competent authority of the country of registration or use to be well known in that country as being already the mark of a person entitled to the benefits of this Convention and used for identical or similar goods. These provisions shall also apply when the essential part of the mark constitutes a reproduction of any such well-known mark or an imitation liable to create confusion therewith.( Negara-negara perserikatan yang bersedia, jika undang-undang mereka mengizinkan demikian, atau karena permintaan suatu pihak yang berkepentingan untuk menolak atau membatalkan pendaftaran dan untuk melarang penggunaan suatu merek yang merupakan reproduksi, imitasi atau

159

Dwi Rezeki Sri Astarini, Penghapusan Merek Terdaftar, (Bandung: PT. Alumni, 2009), hlm. 62.

suatu terjemahan yang menciptakan kebingungan dari suatu merek yang dianggap terkenal oleh pihak berwenang yaitu kompeten di negara tempat pendaftaran karena merek tersebut telah menjadi merek dari orang lain yang berhak atas manfaat konvensi ini dan digunakan untuk barang-barang yang serupa atau mirip. Ketentuan-ketentuan ini juga berlaku ketika suatu bagian penting merek tersebut merupakan reproduksi atau merek terkenal lainnya atau suatu instansi yang mampu menciptakan kebingungan)

(2) A period of at least five years from the date of registration shall be allowed for requesting the cancellation of such a mark. The countries of the Union may provide for a period within which the prohibition of use must be requested.( Izin permintaan atas merek tersebut akan diberikan sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sejak tanggal pendaftaran. Negara-negara perserikatan memberikan suatu masa permintaan larangan penggunaan suatu merek)

(3) No time limit shall be fixed for requesting the cancellation or the prohibition of the use of marks registered or used in bad faith.( Tidak ada batas waktu yang ditetapkan untuk meminta pembatalan atau larangan penggunaan merek yang terdaftar atau digunakan dengan itikad buruk)

Pasal 6 bis ini mengatur 2 (dua) aspek yang berbeda yaitu pendaftaran dan penggunaan. Pasal tersebut menjelaskan bahwa negara yang meratifikasi konvensi tersebut seharusnya:

a. Menolak atau membatalkan pendaftaran suatu merek yang merupakan imitasi, yang menciptakan kebingungan, dari suatu merek terkenal sehubungan dengan barang yang identik atau serupa; dan

b. Melarang penggunaan suatu merek yang merupakan suatu imitasi yang mengacaukan dari suatu merek terkenal sehubungan dengan barang yang identik atau serupa.

Pasal 6 bis Konvensi Paris ini sendiri baru disetujui oleh Indonesia pada tanggal 5 September Tahun 1997. Untuk menciptakan pelindungan seperti yang termaktub dalam Konvensi Paris Pasal 6 bis perlu menunjukan bahwa merek tersebut akan dikenal di negara dimana pelindungan itu diperlukan. Dengan begitu tidak akan berjalan jika merek tersebut hanya dikenal di negara asalnya saja, pasal

ini juga memberikan pelindungan terhadap pemilik hak yang sah untuk melindungi mereknya dari pendaftaran maupun penggunaan yang tidak sah di negara-negara tersebut.

Pasal 6 bis Konvensi Paris ini dengan jelas mengatur bahwa pendaftaran atau pemakaian suatu merek yang merupakan suatu reproduksi, imitasi atau juga terjemahan dari suatu merek yang telah dianggap sebagai merek terkenal oleh instansi yang berwenang (competent authority) harus ditolak atau dibatalkan. Pemilik merek terkenal tersebut dianggap memiliki hak atas fasilitas yang diberikan dalam Konvensi Paris ini. Penolakan atau pembatalan tersebut dilakukan dengan syarat apabila perundang-undangan negara membolehkan atau atas permohonan daripada pihak yang berkepentingan. Namun demikian, ketentuan penolakan dan pembatalan merek ini hanya berlaku untuk barang yang sama atau identik. Pelindungan terhadap merek terkenal ini belum berlaku bagi merek jasa (service mark). Selain itu, jangkauan keterkenalan merek yang diakui hanyalah dalam negara yang bersangkutan. Dengan kata lain, untuk mendapatkan fasilitas pelindungan bagi merek dari negara peserta Konvensi Parismenurut pasal 6 bis Konvensi Paris, maka merek tersebut harus terkenal khusus di negara dimana akan dimintakan pelindungan. Ketentuan ini juga tidak mensyaratkan suatu pendaftaran merek terkenal yang bersangkutan di negara dimana hendak dimintakan pelindungan. Syarat utama untuk mendapatkan pelindungan atas merek terkenal menurut ketentuan ini adalah adanya tindakan yang menimbulkan

atau memiliki resiko untuk menimbulkan kekeliruan.160 Menurut Konvensi ini, penolakan suatu pelindungan diperbolehkan apabila registrasi atau pendaftaran di negara yang bersangkutan melanggar hak-hak pihak ketiga sebelumnya apabila merek yang bersangkutan tidak memiliki karakter pembeda atau secara eksklusif mengandung syarat-syarat deskriptif atau apabila merek tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip moralitas atau ketertiban umum yang diterima masyarakat, khususnya apabila merek tersebut memperdayakan masyarakat.161

Dalam ayat (2) lebih lanjut ditentukan bahwa dalam hal merek pihak ketiga tersebut telah didaftarkan, maka jangka waktu permohonan pembatalan merek tersebut adalah 5 (lima) tahun sejak tanggal registrasi. Negara peserta Konvensi Paris dapat menentukan suatu jangka waktu dalam mana harus diajukan permohonan untuk melarang dipakainya merek yang palsu tersebut. Namun dalam hal pendaftaran atau penggunaan merek tersebut didasarkan atas itikad tidak baik, maka tidak ada jangka waktu yang ditentukan untuk meminta pembatalan merek tersebut atau pun melarang penggunaan merek yang bersangkutan162

Selain itu, untuk melindungi merek terkenal Konvensi Paris juga mengatur mengenai persaingan tidak sehat (unfair competition). Pasal 10 bis Konvensi Paris menyebutkan bahwa:163

(1) The countries of the Union are bound to assure to nationals of such countries effective protection against unfair competition.

160

Article 6 (bis) Konvensi Paris. Lihat juga dalam Sudargo Gautama dan Rizawanto Winata, Pembaharuan Hukum Merek Indonesia (Dalam Rangka WTO, TRIPS 1997), (Bandung: PT Citra Aditya Bakti), 1997, hlm. 45.

161

Cita Citrawinda Priapantja, Budaya Hukum Indonesia Menghadapi Globalisasi: Pelindungan Rahasia Dagang di Bidang Farmasi, Jakarta: Chandra Pratama, 1999.hlm 5-7.

162Ibid. 163

(2) Any act of competition contrary to honest practices in industrial or commercial matters constitutes an act of unfair competition.

(3) The following in particular shall be prohibited:

(i) all acts of such a nature as to create confusion by any means whatever with the establishment, the goods, or the industrial or commercial activities, of a competitor;

(ii) false allegations in the course of trade of such a nature as to discredit the establishment, the goods, or the industrial or commercial activities, of a competitor;

(iii) indications or allegations the use of which in the course of trade is liable to mislead the public as to the nature, the man ufact uringprocess, the characteristics, the suitability for their purpose, or the quantity, of the goods.

Ketentuan Pasal 10 bis tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa yang dimaksud persaingan tidak sehat (unfair competition) adalah tiap perbuatan yang bertentangan dengan honest practices industrial and commercial matters. Negara- negara anggota Konvensi Paris terikat untuk memberikan pelindungan yang efektif agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat tersebut. Ketentuan ini juga melarang para pelaku usaha untuk melakukan tiadakan berupa perbuatan yang dapat menimbulkan kekeliruan dengan cara apapun yang berkaitan dengan asal usul barang atau yang berkaitan dengan usaha-usaha industrial dan pengusaha pesaing, serta tindakan dan indikasi yang dapat mengacaukan publik mengenai sifat dan asal-usul dari suatu barang.

Ketentuan mengenai persaingan tidak sehat ini tentu merupakan salah satu ketentuan yang juga memberikan pelindungan bagi pemilik merek terkenal. Ketentuan ini dapat melindungi pemilik merek terkenal dari pihak-pihak yang beritikad tidak baik yang bermaksud membonceng ketenaran yang telah diperoleh dari pemilik merek terkenal sesungguhnya. Hal tersebut misalnya dapat dilakukan dengan menggunakan merek yang sudah terkenal baik secara keseluruhan ataupun hanya menyerupai yang mana dapat menimbulkan kebingungan ataupun

kekacauan dalam masyarakat mengenai asal-usul dari barang dan atau jasa yang bersangkutan.

Meskipun dalam beberapa pasal tersebut tampak secara jelas pengaturan tentang merek terkenal, namun sesungguhnya pengaturan tersebut tidak secara tegas dan konsisten diterapkan dalam pengadilan di negara-negara peserta Konvesi Paris.164 Hal ini disebabkan oleh karena dalam kenyataannya, Konvensi Paris tidak memberikan suatu definisi tertentu atau kriteria yang tepat kapan merek dapat diakui sebagai terkenal (well known mark) .

b. Protocol Relating to The Madrid Agreement 1989

Mekanisme pendaftaran merek secara internasional di antaranya diatur dalam dua perjanjian internasional yakni The Madrid Agreement Concerning The International Registration of Marks165 yang ditandatangani tahun 1881 dan mulai berlaku efektif tahun 1892166. serta Protocol Relating to The Madrid Agreement 1989 (Madrid Protocol) yang mulai berlaku efektif tanggal 1 Januari 1995 dan mulai dioperasikan tanggal 1 April 1996. Kedua perjanjian internasional ini dikenal sebagai Madrid System yang menyediakan pendaftaran merek,

164

Nils Victor Montan, Chander M. Lall dan Clifford Borg-Marks, (Author & Ed.),

Trademark Anticounterfeiting in Asia and The Pasffic RIM, (New York: INTA), 2001, hlm. 96. 165 The Protocol Relating to the Madrid Agreement Concerning the International

Registration of Marks -- the Madrid Protocol -- is one of two treaties comprising the Madrid System for international registration of trademarks. The protocol is a filing treaty and not a substantive harmonization treaty. (Protokol Terkait dengan Perjanjian Madrid Mengenai Pendaftaran Merek Internasional - Protokol Madrid - adalah salah satu dari dua perjanjian yang terdiri dari Sistem Madrid untuk pendaftaran internasional merek dagang. Protokol adalah sebuah perjanjian pengajuan dan bukan harmonisasi perjanjian substantif) (http: //www. uspto. gov/ trademark/ laws-regulations/ madrid-protocol).

166

Perjanjian ini telah mengalami 6 kali revisi sejak tahun 1900 sampai 1967 (http://www.wipo.intt/trademarks/nl/treaties.html.)

pemeliharaan merek dan pengaturan merek secara tersentral melalui Internasional Biro (IB) pada the World Intellectual Property Organization (WIPO).

Pendaftaran Internasional tersebut memungkinkan diperolehnya pelindungan merek dagang di seluruh negara anggota peserta Perjanjian Madrid melalui satu pendaftaran saja. Permohonan pendaftaran merek internasional harus berdasarkan pada satu atau lebih pendaftaran pada negara protocol dimana Pemohon tinggal, berbisnis atauberkewarganegaraan. Permohonan tersebut harus diajukan melalui kantor merek negara tersebut. Kantor merek akan memeriksa detail dari permohonan internasional tersebut termasuk kesamaannya dengan aplikasi atau pendaftaran pada negara tersebut selanjutnya mengirim ke WIPO International Bureau (IB). IB tidak melakukan pemeriksaan substantif, IB hanya melakukan pemeriksaan formalitas termasuk juga biaya, pengklasifikasian merek berdasarkan Nice Agreement.167

Apabila ada ketidaksesuaian maka IB akan memberitahukan kantor merek negara asal dan atau pemohon, dan memberikan waktu untuk perbaikan. Apabila tidak ada ketidaksesuaian atau perbaikan sudah dilakukan maka IB akan mendaftar merek tersebut pada International Register, memberitahukan kantor merek negara asal dan mengirim sertifikat pendaftaran pada pemegang. IB juga akan mempublikasikan pendaftaran pada Berita Resmi WIPO atas

167The Nice Agreement establishes a classification of goods and services for the purposes

of registering trademarks and service marks (the Contracting States must indicate, in official documents and publications in connection with each registration, the numbers of the classes of the Classification to which the goods or services for which the mark is registered belong.( Perjanjian Nice menetapkan klasifikasi barang dan jasa untuk keperluan mendaftar merek dagang dan merek jasa (Nice Klasifikasi). Kantor-kantor merek dagang dari Negara-negara harus menunjukkan, dalam dokumen resmi dan publikasi sehubungan dengan masing-masing pendaftaran, jumlah kelas dari Klasifikasi mana barang atau jasa dimana mereknya didaftarkan) (http://www.wipo.int/treaties/en/classification/nice/)

merek internasional dan mengirim detail ke negara-negara tujuan. Masing- masing negara tujuan akan memeriksa International Registration berdasarkan UU Mereknya masing-masing.

Apabila ada keberatan atau oposisi maka negara tujuan akan memberi tahu IB yang akan menyampaikan kepada pemegang merek. Selanjutnya penyelesaian akan diteruskan dengan melalui bantuan agen merek lokal. Berdasarkan Madrid Protocol, kantor merek harus mengeluarkan penolakan dalam jangka waktu 12 bulan dengan pilihan perpanjangan 6 bulan. Apabila tidak ada penolakan dalam 12 atau 18 bulan maka merek harus mendapatkan pelindungan.

Tujuan yang hendak dicapai dari Perjanjian Madrid adalah mempermudah cara pendaftaran merek-merek di berbagai negara dan juga menghindarkan pemberitahuan asal barang secara palsu. Indonesia sendiri sampai saat ini belum masuk sebagai anggota Perjanjian Madrid. Tentunya dengan diratifikasinya Madrid Protocol maka pendaftaran merek international akan lebih hemat. Hal ini menimbulkan harapan bahwa merek-merek nasional akan dapat mudah masuk ke pasar internasional. Namun harus disadari walaupun biaya pendaftaran merek internasional menjadi lebih murah tetapi merek merupakan biaya kecil apabila dilihat dari scope untuk orbit ke pasar internasional. Masih ada besarnya biaya ekspor barang ke luar negeri yang harus dipikirkan, biaya pemasaran/tempat penjualan, biaya promosi, dll. Biaya-biaya lainnya ini tentunya sangat besar untuk mempertahankan agar

merek yang didaftarkan di negara lain ini tetap tergolong merek yang digunakan.

Madrid Protocol memiliki prinsip ketergantungan pada pendaftaran di Negara asal. Untuk 5 (lima) tahun pertama mengikuti pada tanggal efektif dari pendaftaran internasional, keberlakuan dan cakupan dari pendaftaran di Negara lain akan tergantung pada nasib dari permohonan atau pendaftaran di negara asal. Misalnya saja ada pembatasan, penolakan final atau abandonment di negara asal, atau pembatalan, pencabutan pada negara asal dalam jangka waktu 5 tahun, maka akan memiliki efek yang sama pada pendaftaran internasional dan pada pendaftaran di negara-negara anggota Madrid Protocol. Termasuk juga untuk abandonment, pembatalan atau semacamnya pada pendaftaran nasional yang terjadi sesudah masa 5 tahun dimana proses terjadi selama periode 5 tahun. Konsep ketergantungan ini sering menjadi central attack (dimana muncul peran dari pihak ketiga). Pendaftaran baru bebas dari gugatan ini apabila telah melewati masa 5 tahun. Namun diberikan kesempatan untuk melakukan transformasi dimana diijinkan untuk mentransformasi pendaftaran internasional menjadi pengajuan permohonan individual yang harus diajukan dalam jangka waktu 3 bulan dari pembatalan atas pendaftaran internasional. Tentunya dengan sistem ketergantungan ini maka akan merugikan pemilik merek apabila pendaftaran merek di negara asal mengalami hambatan karena berdampak pada negara-negara lainnya. Dengan diratifikasinya Madrid Protocol maka tentunya pasal yang menyatakan bahwa semua pendaftaran

HKI harus melalui Konsultan HKI akan dikesampingkan. Maka pendaftaran melalui Madrid Protocol dapat dilakukan langsung ke Kantor Merek melalui IB. Tentunya Konsultan HKI akan kehilangan pendapatan melalui pendaftaran secara signifikan mengingat negara yang telah meratifikasi Madrid Protocol sudah cukup banyak yakni lebih dari 80 negara. Termasuk juga hilangnya pemasukan dari service renewal. Apabila dikatakan bahwa Konsultan HKI akan mendapatkan kenaikan melalui proses litigasi belum tentu dapat terbukti benar mengingat sejauh ini penolakan terhadap merek tidak terlalu banyak dibandingkan dengan aplikasi yang masuk sebagaimana digambarkan dalam data statistic 2001, 2002, 2003 dimana total penolakan adalah sebesar 10% dari permohonan pendaftaran merek yang masuk. Kantor Merek tidak terlalu mengalami kerugian kecuali angka pendaftaran merek menjadi turun. Karena apabila aplikasi tetap jumlahnya, biaya juga tidak lebih besar dibandingkan permohonan melalui nasional. Yang pasti pekerjaan kantor merek menjadi jauh lebih banyak karena harus langsung berkorespondensi dan merespons secara lebih cepat kepada IB. Hal ini akan meyebabkan kerugian bagi Pemerintah, karena dengan pendapatan yang berkurang pada Konsultan HKI akan berdampak pada penerimaan pajak oleh pemerintah.168

168

Belinda Rosalina, Madrid Protocol: Untung dan Ruginya Meratifikasi, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2008), hlm. 3, lihat juga https:// belindarosalina. wordpress.com/ 2008/01/08/madrid-protocol-untung-dan-ruginya meratifikasi/.

c. The World Trade Organization’s Agreement on Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights Including Trade In Counterfeit Goods (TRIPS)

Dalam Pasal 16 ayat (3) TRIPS mengatur tentang pelindungan terhadap merek terkenal yaitu merek terkenal yang telah didaftarkan terhadap barang atau jasa yang tidak sama, asalkan memenuhi beberapa persyaratan khusus. Pelindungan dan penerapan sanksi pidana yang dapat kita lihat dalam ketentuan TRIPS antara lain:

1) Provisional Measures (Penetapan Sementara Pengadilan).

Mengingat merek merupakan bagian dari perekonomian dunia, penyelesaian sengketa merek memerlukan badan peradilan khusus, yaitu Pengadilan Niaga, dengan begitu sengketa merek dapat diselesaikan dengan relatif cepat. Disamping itu upaya pelindungan hukum lainnya adalah dengan adanya penetapan sementara pengadilan untuk mencegah masuknya barang-barang yang diduga hasil pemalsuan merek dan untuk menjaga bukti yang relevan sehubungan dengan pelanggaran yang digugat. Selain itu pemilik merek diberi kesempatan untuk menyelesaikan sengketanya melalui badan selain badan peradilan, yaitu arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa. Provisional measures ini umum dikenal dalam peraturan arbitrase, maupun konvensi tentang penyelesaian sengketa penanaman modal.169

169

2) Injunction (Kewenangan Pengadilan).

Injunction diatur dalam article 44 TRIPS. Injunction adalah kewenangan pengadilan untuk memerintahkan kepada si pemalsu barang untuk menghentikan perbuatan pelanggaran tersebut, dan mencegah penetrasi barang-barang yang diduga melanggar merek orang lain, di dalam negaranya sendiri.Dalam article 44 TRIPS menginginkan penegasan lebih kuat, bahwa perintah untuk menghentikan produksi barang yang menggunakan merek palsu tersebut disertai penyitaan dan pemusnahan barang, sehingga upaya mencegah penetrasi barang ke dalam pasar dapat tercapai. Article 45 TRIPS mengatur masalah hak dari pihak pemilik merek untuk memohon ganti rugi untuk memulihkan kerugian.

3) Special Requirements Related to Border Measures (Persyaratan Khusus Yang Berkaitan Dengan Batasan-Batasan).

Ketentuan ini diatur dalam Article 50-60 TRIP. Border Remedies merupakan suatu ketentuan baru yang dipandang perlu diatur dalam upaya mencegah barang yang diduga menggunakan merek palsu ke dalam sebuah negara dan diperdagangkan dalam pasar ekonomi masyarakat negara tersebut. Tiap negara anggota WTO yang menerapkan persetujuan TRIPS, diwajibkan untuk mengimplementasikan aturan ini ke dalam perundang-undangan masing-masing negara.

4) Criminal Procedures (Prosedur Tehadap Suatu Pelanggaran).

Pada Article 61 TRIPS dikemukakan bahwa negara anggota harus menyiapkan suatu prosedur pidana bagi tindakan pelanggaran merek. Secara tegas dikatakan bahwa pemalsuan atau pelanggaran merek diberi sanksi pidana berupa

pidana penjara dan/atau denda. Artinya hakim dapat memilih apakah sanksi tersebut diberikan secara kumulatif atau hanya salah satunya saja. Ada 2 (dua) macam pemeriksaan kasus pelanggaran merek, jika salah satu terpenuhi, penggugat akan menang. Penggugat harus membuktikan bahwa merek tergugat: a) Memiliki persamaan pada pokoknya terhadap merek yang dimiliki tergugat. b) Persamaan yang menyesatkan konsumen pada saat membeli produk atau

jasa tergugat. Merek tergugat akan melanggar merek penggugat jika cenderung menipu konsumen sampai dibatas mereka keliru membeli merek tergugat. Padahal mereka sebenarnya bermaksud membeli merek penggugat.

Pelindungan merek terkenal merupakan salah satu aspek penting dari hukum merek. Kepentingan ekonomi dari merek-merek terkenal diakui dalam perjanjian internasional WIPO Bab XX. Untuk melengkapi kekurangan pengaturan dalam ketentuan TRIPS, direkomendasikan dalam WIPO Joint Recommendation Concerning Provisions on the Protection of Well –Known Marks terdapatnya pelindungan merek terkenal dengan memberikan rumusan unsur-unsur yang perlu dipenuhi untuk menentukan merek dapat dikategorikan