• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peluang dan Tantangan Implementasi ASEAN ICT Master Plan 2015

PROSPEK IMPLEMENTASI ASEAN ICT MASTERPLAN 2015

B. Peluang dan Tantangan Implementasi ASEAN ICT Master Plan 2015

ASEAN ICT Masterplan 2015 merupakan komitmen bersama Negara-negara ASEAN untuk berkerjasama dalam memajukan kemampuan ICT di kawasan Asia Tenggara serta memaksimalkan manfaat yang di dapatkan dari peningkatan kemampuan ICT dan dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi serta peningkatan kualitas hidup masyarakat ASEAN di segala bidang. Pada

72 ASEAN. 2012. TRPC Briefing Paper. Di akses melalui

http://trpc.biz/wp-content/uploads/IICAsiaForum-2012-04-03_TRPC.BriefingPaper_AIM2015.pdf pada tanggal 2 November 2012

105 prosesnya, pengimplementasian ASEAN ICT Masterplan 2015 tentu saja akan menghadapi kondisi yang memberikan tantangan dan peluang selama proses pengimplementasiannya. Berikut adalah tantangan-tantangan yang dihadapi :

1. Perbedaan Kemampuan Kesiapan Berjejaring Masing-Masing Negara di ASEAN

Penelitian yang dilakukan oleh World Economic Forum (WEF) tentang Indeks Kesiapan Berjejaring (Networked Readiness Index) di seluruh dunia menjadi tolak ukur kesiapan negara-negara di dunia dalam pemanfaatan ICT di masing-masing negaranya. Ada empat hal utama yang diteliti yaitu, kerangka peraturan dan sikap pemerintah terhadap ekonomi terkait dengan perkembangan ICT, tingkat kesiapan negara (pemerintah, bisnis dan perorangan) untuk menggunakan sarana dan prasarana ICT, upaya yang dilakukan para pelaku untuk meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan ICT dan bagaimana menggunakan kemampuan itu dalam kehidupan sehari-hari, dan dampak ekonomi dan sosial yang diperoleh negara dari penggunaan ICT. Indeks Kesiapan Berjejaring (Networked Readiness Index) di ASEAN bisa di lihat pada tabel 3 (lihat Bab 3).

Pada tabel tersebut digambarkan bahwa peringkat dunia Negara-negara ASEAN untuk indeks kesiapan berjejaringa masih terpaut cukup jauh antara masing-masing Negara. Singapura menduduki urutan tertinggi dan hampir tertinggi di seluruh dunia yaitu peringkat ke-2. Sedangkan Malaysia menduduki urutan ke-29 terpaut 27 peringkat dari Singapura. Sedangkan Brunei menduduki

106 urutan ke-54 dunia, terbilang cukup jauh dari Malaysia. Thailand, Indonesia, Vietnam, dan Filiphina, terpaut 3 peringkat di antaranya yaitu urutan ke-77, 80, 83, dan 86.. Kamboja menduduki urutan jauh lebih rendah yaitu urutan ke-108. Myanmar menduduki urutan yang lebih rendah lagi yaitu ke-116, dan sebagai Laos menjadi Negara ASEAN yang memiliki indeks kesiapan berjejaring yaitu pada urutan ke-128, terpaut sangat jauh dari Singapura, Malaysia, dan Brunei.

Perbedaan kesiapan berjejaring di antara negara-negara ASEAN inilah

yang menjadi tantangan yang cukup besar bagi ASEAN untuk

mengimplementasikan ASEAN ICT Masterplan dalam kurung waktu 5 tahun. Perbedaan ini menyebabkan ASEAN masih harus berbenah banyak untuk dapat mencapai target pengerjaan selama 5 tahun dan untuk mencapai tujuan-tujuan secara maksimal yang telah di tetapkan di dalam ASEAN ICT Masterplan 2015.

2. Penyelesaian Hambatan yang di Hadapi Pada Periode 2010-2012.

Hambatan-hambatan yang di alami selama periode 2010-2012 akan menjadi tantangan terbesar bagi ASEAN dalam mengimplementasian ASEAN ICT Masterplan hingga pada tahun 2015. Hal ini menjadi sangat beresiko karena waktu untuk menyelesaikan Masterplan ini tinggal 3 tahun lagi. Hambatan-hambatan-hambatan tersebut yaitu, Perbedaan Kepemilikan infrastruktur ICT di Antara Negara-Negara ASEAN, Perbedaan Tingkat urgensi terhadap pengunaan ICT pada Masyarakat di masing-masing negara ASEAN, Perbedaan alokasi anggaran terhadap teknologi informasi tiap-tiap negara ASEAN, Perbedaan tingkat pendidikan atau kemampuan baca tulis dan melek ICT di negara-negara

107 ASEAN, Masih dibutuhkannnya bantuan dari negara-negara partner dan organisasi internasional dalam bentuk bantuan teknis dan dana, dan Masih Belum Terlihatnya Hasil Yang Signifikan Tentang Kontribusi ICT Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Negara-Negara ASEAN.

Proses penyelesaian hambatan-hambatan di atas harus dikerjakan dengan cepat, karena untuk periode 2012-2015 masih banyak target yang ingin dicapai yang akan dilaksanakan dalam bentuk program-program kerja yang strategi yang pada akhirnya akan mencapai tujuan akhir yang diinginkan dari ASEAN ICT Masterplan 2015 ini yaitu ICT sebagai alat dalam proses pertumbuhan bagi negara-negara ASEAN, Pengakuan terhadap ASEAN sebagai pusat ICT di tingkat global, dan Peningkatan kualitas hidup masyarakat di ASEAN. Target yang ingin dicapai pada periode 2012-2015 bisa dilihat pada tabel 1( lihat bab 3).

3. Komitmen yang Lebih Kuat dari Negara-Negara ASEAN

Pengimplementasian ASEAN ICT Masterplan 2015 merupakan program kerja 5 tahun dan mungkin akan terus berlanjut dalam upaya ASEAN untuk terus meningkatkan kemajuan ICT di kawasan. Tujuan bersama ini membutuhkan komitmen dan konsistensi yang terus stabil dari semua negara-negara ASEAN beserta komponen-komponennya baik itu dari pemerintah, swasta sampai pada level masyarakat yang paling bawah, sehingga tujuan bersama itu akan terwujud dan dinikmati oleh semua masyarakat yang ada di kawasan ASEAN.

Hambatan-hambatan yang dihadapi dalam proses pengimplementasian ASEAN ICT Masterplan 2015 tentunya juga dibarengi dengan peluang-peluang

108

yang memungkinkan ASEAN untuk bisa mewujudakan tujuan dari

pengimplementasian Masterplan ini. Peluang-peluang tersebut bisa dilihat dari kekuatan-kekuatan apa yang dimiliki oleh ASEAN yang bisa dipakai untuk mengimplementasikan ASEAN ICT Masterplan 2015 ini. Kekuatan ini bisa dilihat dari kondisi dan kapabilitas ICT yang ada di negara-negara ASEAN serta dengan melihat fenomena-fenoma yang terjadi selama proses pengimplementasian ICT Masterplan 2015 selama periode 2010-2012

Peluang-peluang yang dimiliki oleh ASEAN dalam pengimplementasian ASEAN ICT Masterplan 2015 yaitu :

1. ASEAN Memiliki Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam yang maju di bidang ICT. Kondisi ini bisa dilihat dari kapabilitas ICT yang ditunjukkan oleh ketiga Negara ini melalui berbagai prestasi yang dimilikinya di bidang ICT. Pada tabel 2 tentang kemampuan ICT Negara-negara ASEAN. Singapura yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 4.353.893, memiliki pengguna internaet sebanyak 3.890.950 orang, memiliki jaringan telepon tetap per 100 orang sebanyak 1.996.100 orang , dan memiliki jumlah telepon genggam sebanyak 7.755.200. Dengan kemampuan ini membuat Singapura menjadi urutan pertama dalam hal kapabilitas ICT. Peringkat kedua diisi oleh Malaysia dan ketiga oleh Brunei Darussalam dengan perbandingan jumlah penduduk dan kepemilikan infrastruktur ICT yang tinggi pula. Selain itu pada tabel 4 tentang indeks kesiapan berjejaring Negara-negara ASEAN, dalam level ASEAN Singapore menduduki peringkat 1, Malaysia pada peringkat ke-2 dan Brunei pada peringkat ke-3 tertinggi di antara negara-negara ASEAN lainnya.

109 Kekuatan ICT 3 negara ini akan menjadi kekuatan ASEAN dalam memajukan ICT kawasan karena 3 negara ini akan membagi kemampuannya kepada negara-negara ASEAN lainnya baik melalui transfer of knowledge, transfer of expert maupun transfer of infrastructure. Hal ini menjadi peluang bagi ASEAN untuk dapat mengimplementasikan ASEAN ICT Masterplan 2015.

2. Lebih dari setengah Negara-negara ASEAN yang memiliki Indeks Kesiapan Berjejaring yang Tinggi. Kondisi ini diperbandingkan dengan Negara-negara lain yang berada di Afrika maupu di Asia lainnya. Berdasarkan Indeks kesiapan berjejaring yang dibuta oleh World Economic Forum (WEF) yang telah menilai 142 negara di dunia. Hanya Kamboja, Myanmar dan Laos yang menduduki urutan di atas 100. Mayoritas dari Negara-negara Afrika dan beberapa Negara Asia dan Amerika Latin menduduki urutan diatas 100 dunia

dalam indeks kesiapan berjejaringnnya.73 Hal ini menujukkan bahwa kekuatan

ICT ASEAN masih lebih baik dari banyak negara di dunia dan hal ini menjadi peluang bagi ASEAN untuk dapat mengimplementasikan ASEAN ICT Masterplan 2015.

3. Keinginan Kuat Negara-negara ASEAN untuk meningkatkan Kekuatan Ekonomi Kawasan. Kondisi ini bisa dilihat dari upaya-upaya ASEAN untuk terus meningkatkan kekuatan Kawasan di segala bidang khususnya di bidang Ekonomi. Hal ini ditunjukkan dari pembentukkan Komunitas ASEAN

73 World Economic Forum. 2012. Global IT Report 2012. Di akses melalui

110 (ASEAN Community) yang salah satu pilarnya adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN yang bertujuan untuk mewujudkan Integrasi ekonomi di kawasan ASEAN. Salah satu dari komponen yang membantu secara siginikan untuk bisa mencapai hal tersebut yaitu peningkatan kapabilitas ICT di kawasan. Komitment itu mencapai puncaknya pada pertemuan TELMIN yang ke-9 yang di adakan di Vientine, Laos pada tahun 2009 yang menghasilkan kesepakatan untuk meningkatkan kerjasama ICT di ASEAN ke level yang lebih tinggi yaitu pembuatan sebuah Masterplan di bidang ICT yang akan menjadi acuan dalam pengembangan kapabilitas ICT di kawasan. Pada tahun 2010 menjadi tahun selesainya pembuatan ASEAN ICT Masterplan 2015 dan dengan itu ASEAN telah memiliki instrument yang akan dipakai untuk mmemajukan ICT. Sehingga keinginan besar Negara-negara ASEAN untuk meningkatkan ekonomi di Kawasan tercermin dari pengimplementasia ASEAN ICT Masterplan 2015 ini.

4. Kemampuan Baca Tulis (literacy rate) Masyarakat ASEAN yang tergolong tinggi. Kondisi ini bisa dilihat pada tabel 4 tentang kemampuan baca tulis masing-masing Negara ASEAN. Rata-rata kemampuan baca tulis masyarakat di masing-masing negara ASEAN berada pada posisi 70% ke atas dan dapat dikategorikan kedalam kemapuan baca tulis yang tinggi. Masyarakat Singapura memiliki kemampuan baca tulis sebesar 94%, Malaysia sebesar 92,5%, Brunei sebesar 95,3%, Thailand 93,5%, Indonesia 92,2%, Filiphina 95,4%, Vietnam 92,8%, Myanmar 92%, Kamboja 77,6%, dan Laos 72,7%. Kemampuan baca tulis juga akan berhubungan dengan tingkat pendidikan masyarakatnya. Hal ini

111 membuktikan bahwa kemungkinan masyarakat ASEAN untuk dapat memahami baik penggunaan maupun pemanfaatan ICT tergolong tinggi, sehingga menjadi peluang untuk dapat berpartisipasi dalam pencapaian implementasi ASEAN ICT Masterplan 2015.

112 BAB IV