• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PEMAHAMAN ETIKA PERGAULAN DENGAN

1. Pemahaman Etika Pergaulan dengan Lawan

a. Pengertian Pemahaman

Pemahaman berasal dari kata paham yang mempunyai arti mengerti benar, sedangkan pemahaman merupakan proses pembuatan cara memahami.1 Pemahaman bukan hanya berpikir, melainkan kemampuan seseorang dalam melakukan, menghayati, dan menafsirkan apa yang pernah ia terima dari pengetahuan.

Menurut Nana Sudjana, pemahaman adalah hasil belajar, misalnya peserta didik dapat menjelaskan dengan suasana kalimatnya sendiri atas apa yang dibacanya atau didengarnya.2 Sedangkan Suharsimi mengatakan bahwa pemahaman (comprehension) adalah bagaimana seseorang mempertahan-kan, membedamempertahan-kan, menduga (estimates), menerangmempertahan-kan,

1

EM Zul Fajri dan Ratu Aprilia Senja, Kamus Lengkap Bahasa

Indonesia, (Semarang: Diva Publisher, 2008), hlm. 607-608.

2

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 24.

memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasi-kan, memberi contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan.3

Pemahaman individu terpengaruh oleh pertumbuhan organis, fisiologis, akal, emosi, dan sosialnya. Oleh karena itu, pemahaman remaja berbeda dengan pemahaman anak kecil karena perbedaan pertumbuhan mereka. Hasil-hasil studi S. Escalana dalam Sayyid Muhammad, menunjukkan bahwa sensitivitas pemahaman terpengaruh oleh bidang yang dominan atas individu dan oleh situasi sekitarnya. Artinya sensitivitas ini tergantung kepada seberapa jauh respon individu terhadap unsur-unsur situasi ini dan tingkat pemahamannya terhadap situasi tersebut.4

Dapat disimpulkan bahwa pemahaman adalah tingkat pengetahuan seseorang sehingga orang tersebut tidak sekadar tahu melainkan juga menghayati, membedakan, menerangkan, menyimpulkan, dan mampu menerapkan apa yang dipahami. b. Indikator Pemahaman

Indikator pemahaman seseorang akan suatu konsep, antara lain: 1) Dapat menyatakan pengertian konsep dalam bentuk

definisi menggunakan kalimat sendiri.

2) Dapat menjelaskan makna dari konsep kepada orang lain.

3

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 118.

4

Sayyid Muhammad Az-Za’Balawi, Pendidikan Remaja antara Islam

3) Dapat menganalisis hubungan antara konsep dengan suatu hukum atau prinsip.

4) Dapat menerangkan konsep untuk: menganalisis dan menjelaskan gejala-gejala khusus, memecahkan masalah baik teoritis maupun praktis, memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada suatu sistem bila kondisi tertentu dipenuhi.

5) Dapat mempelajari konsep lain yang berkaitan dengan cepat.

6) Dapat membedakan konsep yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain.

7) Dapat membedakan konsepsi yang benar dengan konsepsi yang salah dan dapat membuat peta konsep dari konsep-konsep yang ada dalam suatu pokok bahasan.5

Anderson dan Krathwohl mengemukakan bahwa, dalam kategori memahami mencakup tujuh proses kognitif, meliputi: menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exemplifying), mengklasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menarik inferensi/ menyimpulkan (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining).6 c. Etika

1) Pengertian Etika

Secara etimologi etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan

5

Kartika Budi, Pemahaman Konsep Gaya dan Beberapa Salah

Konsepsi yang Terjadi, (Widya Dharma, 1992), hlm. 114.

6

Anderson, L., dan Krathwohl, D., Kerangka landasan untuk

pembelajaran, pengajaran, dan assesmen, (Yogyakarta: Pustaka

(custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu mos dan dalam bentuk jamaknya mores, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan) dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.7

2) Macam-macam Etika

Menurut penulis, sebagaimana yang dikemukakan oleh ahli filsafat yang lain juga, etika dibagi menjadi tiga, yaitu: etika deskriptif, etika normatif, dan metaetika.

a) Etika deskriptif

Sebagaimana yang dikatakan Jan Hendrik Rapar dalam bukunya Abd. Haris, adalah etika yang menguraikan dan menjelaskan kesadaran dan pengalaman moral secara deskriptif.

b) Etika normatif

Etika normatif inilah yang sering disebut dengan filsafat moral (moral philosophy) atau biasa juga disebut etika filsafati (philosophical ethics).

c) Metaetika

Metaetika adalah sebuah cabang dari etika yang membahas dan menyelidiki serta menetapkan arti dan makna istilah-istilah normatif yang diungkapkan lewat

7

Rosady Ruslan, Etika Kehumasan Konsepsi dan Aplikasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 31.

pertanyaan-pertanyaan etis yang membenarkan atau menyalahkan suatu tindakan.8

d. Etika Islam

Muhammad Quraish Shihab membedakan antara istilah etika dan akhlak. Akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika, jika etika dibatasi pada sopan santun antar sesama manusia, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah. Akhlak lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan terdahulu serta mencakup pula beberapa hal yang tidak merupakan sifat lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran. Akhlak diniyah (agama) mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah hingga kepada sesama makhluk.9

Sebagai cabang dari filsafat, etika bersumber dari akal pikiran bukan dari agama, sedangkan akhlak bersumber dari ajaran agama. Etika Islam menurut H. Hamzah Ya’qub adalah etika yang berbasis pada ajaran Islam. Penjelasannya adalah sebagai berikut.

1) Etika Islam mengajarkan dan menuntun manusia kepada perilaku yang baik dan menjauhkan diri dari perilaku yang buruk.

8

Abd. Haris, Etika Hamka; Konstruksi Etik Berbasis

Rasional-Religius, (Yogyakarta: LKIS, 2010), hlm. 35-37.

9

Muhammad Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i

2) Etika Islam menetapkan sumber moral, ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia didasarkan atas ajaran Allah.

3) Etika Islam bersifat universal dan komprehensif (kaffah) dapat diterima oleh seluruh umat manusia pada setiap waktu dan tempat.

4) Etika Islam tidak hanya bersifat konseptual-teoritis, tetapi juga bersifat praktis, sesuai dengan fitrah dan akal pikiran manusia.

5) Etika Islam mengatur dan mengarahkan fitrah manusia ke jenjang akhlak yang luhur dan meluruskan perbuatan manusia yang begkok di bawah bimbingan ajaran Allah sehingga manusia terhindar dari pikiran dan tindakan yang salah dan menyesat.10

Berdasarkan pemaparan tersebut, maka etika Islam merupakan nilai-nilai yang dijadikan landasan baik dan buruknya suatu perbuatan berdasarkan pada Al Quran dan Hadits.

e. Pergaulan dengan Lawan Jenis

Pergaulan berasal dari kata dasar gaul yang berarti hidup berteman (bersahabat). Dalam KBBI pergaulan diartikan: perihal bergaul; kehidupan

10

Hamzah Ya’qub, Etika Islam, (Bandung: Diponegoro, 1983), hlm. 14.

bermasyarakat.11 Sedangkan pengertian pergaulan secara terminologi yaitu menjunjung tinggi kebersamaan, persekawanan, dan persaudaraan yang dimana mereka lebih cenderung memiliki sifat afatisme dan hedonisme yang artinya mereka akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.12

Dalam bergaul dengan lawan jenis atau pergaulan antara laki-laki dan perempuan Islam memiliki aturan atau batasan-batasan yang harus diperhatikan dan tidak boleh diabaikan. Bila pergaulan antara laki-laki dan perempuan sampai melampaui batas, maka akan mengarah pada perilaku menyimpang dan bahaya perzinahan atau seks bebas. Maka pergaulan dengan lawan jenis dalam Islam dapat diartikan sebagai tata cara bergaul dengan lawan jenis yang sesuai dengan hukum dan aturan Islam.

11

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke-3. (Jakarta: Balai Pustaka. 2005), hlm. 339.

12

M. Yusuf Ahmad, “Etika Pergaulan Islami Santri Madrasah Aliyah (MA) di Pesantren Jabal Nur Kecamatan Kandis Kabupaten Siak”, Jurnal Al

f. Pemahaman Etika Pergaulan dengan Lawan Jenis dalam Islam

Pemahaman merupakan kemampuan yang mengharapkan seseorang untuk mampu memahami suatu objek tertentu. Dengan pemahaman seseorang mampu melakukan sesuatu secara mendalam dan memahami konsepnya sehingga dalam pengamalan ibadah akan melaksanakan ibadah dengan penuh keikhlasan semata-mata mengharap ridha Allah.

Etika pergaulan dengan lawan jenis dalam Islam dapat dipahami sebagai tata cara bergaul dengan lawan jenis serta batasan-batasannya yang sesuai dengan hukum dan aturan-aturan dalam Islam, yaitu berdasarkan pada Al-Quran dan Hadits. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 89 bahwa Al-Quran ialah petunjuk dalam mengatur segala urusan dalam hidup.



















































Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan Kami

turunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim) (QS. An-Nahl /16: 89).13

Dalam menjalankan kehidupannya, seorang mukmin tidak hanya menjalin hubungan dengan Allah (habluuminallah) melainkan juga menjalin hubungan dengan sesama (habluuminannas). Saling mengenal satu sama lain, saling mengasihi, dan menghargai sehingga terciptalah ukhuwah islamiyah.14

مهسَ ًيهع الله ىهص يبىنا هع ًىع الله يضر سوأ هعَ

ًسفىن بذي ام ًيخلا بذي ىتد مكذدأ همؤي لا ؛لال

)ًيهع كفتم (

Dari Anas ra, dari Nabi saw bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang sebelum dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaq Alaih)15

Agar ukhuwah terjaga maka ta’aruf, tafahum, dan taawun merupakan satu rangkaian dalam membangun persaudaraan atau ukhuwah islamiyah.16

13

Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, …., hlm. 737. 14

Muhyiddin Abdusshomad, Etika Bergaul:Di Tengah Gelombang

Perubahan (Kajian Kitab Kuning), (Surabaya: Khalista, 2007), hlm. 11.

15

Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, (Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2015), hlm. 179.

16

Tobroni, Memperbincangkan Pemikiran Pendidikan Islam: Dari

Idealisme Substansif Hingga Konsep Aktual, (Jakarta: Kencana, 2018), hlm.

1) Ta’aruf

Ta’aruf atau saling mengenal menjadi suatu yang wajib ketika kita akan melangkah keluar untuk berinteraksi dengan orang lain. Dengan ta’aruf kita dapat mengetahui sesuatu yang sifatnya elementer seperti nama, asal daerah, tempat tinggal, keluarga dan dari sinilah melahirkan kenalan.

2) Tafahum

Tafahum adalah sikap saling pengertian dan saling memahami keadaan orang lain secara komprehensif. Dengan adanya sikap tafahum ini, hubungan sosial dapat lebih harmonis, lebih terjaga dari ketegangan dan konflik kesalahpahaman.17 Dengan memahami pula, seseorang dapat menilai dan memilih siapa yang harus menjadi teman bergaulnya dan siapa yang harus dijauhi sebab agama seseorang dipengaruhi oleh agama temannya.

ا هع ىسُم ىبأ هع

َ ح مهسَ ًيهع الله ىهص يبىن

ُبأ اىثذد ًن ظفهناَ يواذمٍنا ءلاعنا هب ذمذم اىثذد

يبىنا هع ىسُم يبأ هع ةدزب يبأ هع ذيزب هع تماسأ

خناصنا سيهجنا مثم اموا لال مهسَ ًيهع الله ىهص

17

Tobroni, Memperbincangkan Pemikiran Pendidikan Islam: Dari

مماذف زيكنا خفاوَ كسمنا مماذك ءُسنا سيهجناَ

اماَ ًىم ع اتبت نأ اماَ كيذذي نأاما كسمنا

ذجت نأ

اماَ كبايث قزذي نأ اما زيكنا خف اوَ تبيط اذير ًىم

)مهسم ل ياَر ( تثيبخ اذير ذجت نأ

Abu Musa RA berkata, Nabi SAW berabda: “Perumpamaan kawan yang baik dan yang jelek, bagaikan penjual minyak wangi dengan tukang besi. Penjual minyak wangi bisa menghadiahkan minyak wangi padamu atau engkau membeli darinya, atau mendapat bau harum darinya. Adapun tukang besi, jika tidak membakar bajumu atau engkau mendapat bau yang busuk darinya.” (Dikeluarkan Bukhari pada Kitab ke-72, Kitab Sembelihan dan Buruan bab ke-31, bab Wewangian).18

3) Ta’awun

Setelah mengenal dan memahami, rasanya ada yang kurang jika belum wujud sikap ta’awun atau saling menolong. Sebab itulah yang akan mewujudkan rasa cinta pada seseorang terhadap kita. Sebagaimana potongan ayat 2 dari QS. Al-Maidah “…saling tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” (QS. Al-Ma’idah/5: 2).

زنا ذبع يبأ هع

الله يضر يىٍجنا ذناخ هب ذيس همد

شٍج هم مهسَ ًيهع الله ىهص الله لُسر لال ؛لال ًىع

18

Muhammad Fuad Abdul Baqi, Shahih Bukhari-Muslim, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2017), hlm. 983.

ًهٌأ يف ايساغ فهخ همَ اشغ ذمف الله ميبس يف ايساغ

ًيهع كفتم (اشغ ذمف زيخب

)

Dari Abu Abdurrahman bin Zaid bin Khalid Al Juhani RA, dia mengatakan; Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menyediakan perbekalan perang di jalan Allah, sama halnya dia ikut perang. Siapa yang tidak ikut perang lalu menjaga baik-baik keluarga yang ditinggalkan orang yang ikut perang, sama halnya dia ikut berperang.” (Muttafaq Alaih)19

Penting bagi seorang mukmin untuk mengetahui pergaulan secara Islami sehingga mampu mempererat tali silaturahmi dan terwujudnya ukhuwah Islamiyah. Namun yang tidak kalah penting dalam pergaulan Islam ialah pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang harus diperhatikan. Islam telah mengatur pula hubungan antara laki-laki dan perempuan serta memisahkan keduanya sesuai syariat Islam demi menjaga dan menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Dalam ayat 30 dan 31 QS. An-Nur, Al-Quran memberikan pelajaran terkait etika pergaulan antara laki-laki dan perempuan.20

19

Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, terj. Solihin, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2015), hlm. 140.

20

Zaitunah Subhan, Al-Quran dan Perempuan; Menuju Kesetaraan

QS. An-Nur/24: 30-31

































Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS. An-Nur/24: 30).21































































































































21

Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, …., hlm. 943-944.

































Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa Nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannnya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara-saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap perempuan, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur/24: 31)22

Etika pergaulan dengan lawan jenis dalam Islam, pergaulan antara laki-laki dan perempuan. a) Menundukan Pandangan dan Menjaga Kemaluan

Laki-laki dan perempuan harus dapat menundukkan pandangan matanya dan

22

Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, …., hlm. 944-945.

memelihara nafsu seksualnya sebagaimana yang diperintahkan dalam QS. An-Nur/24: 31).23

Rasulullah SAW bersabda: “Pandangan mata adalah panah beracun dari iblis. Siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberikannya keimanan yang dirasakan kenikmatannya dalam hati”. (HR. Hakim, Thabrani, dan Baihaqi)24

Zina mata ialah dengan melihat, zina hati dengan membayangkan apa yang dilihatnya, sedangkan kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.

Menundukkan pandangan adalah jalan untuk menjaga hati, karena hati awalnya bebas dari penyakit, tapi kemudian panca indra mengotorinya dengan masukan-masukan yang diberikannya. Allah menjadikan mata sebagai cermin hati. Maka jika seseorang menundukkan pandangannya, niscaya hatinya akan menundukkan syahwat dan nafsunya. Sementara jika orang itu membebaskan pandangan matanya,

23

M. Yusuf Ahmad, “Etika Pergaulan Islami Santri Madrasah Aliyah (MA) di Pesantren Jabal Nur Kecamatan Kandis Kabupaten Siak”, Jurnal Al

Hikmah, (Vol. 13 , No. 2, tahun 2016), hlm. 211.

24

Abdul Aziz Al-Ghazuli, Menahan Pandangan Menjaga Hati, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), hlm. 41.

niscaya hatinya akan membebaskan syahwatnya. Karena membebaskan pandangan mata akan menyebabkan kejadian berikutnya, berupa memikirkan objek yang telah dilihat dan mengangankannya.25 Sedangkan angan-angan bisa membawanya pada jalan haram. Namun demikian, pengharamannya merupakan pengharaman suatu sarana, maka ia dibolehkan untuk suatu maslahat yang lebih besar. Sehingga menundukkan pandangan bukan secara mutlak, tetapi untuk menahan sebagian darinya.

Sedangkan menjaga kemaluan adalah kewajiban dalam segala kondisi, dan tidak dibolehkan kecuali pada yang hak, karena itulah perintah untuk menjaganya pun disampaikan secara umum.26

b) Menutup Aurat

Dalam QS. An-Nur/24:31 ada perkara yang patut diketahui oleh wanita muslimah, yaitu aurat. Dalam Kamus Fiqh sebagaimana dalam Qomaruddin Awwam, aurat dimaknai cacat atau kekurangan sehingga wajib ditutupi dan

25

Abdul Aziz Al-Ghazuli, Menahan Pandangan Menjaga Hati, …., hlm. 41-49.

26

Abu Malik Kamal, Fikih Sunnah Wanita: Referensi Fikih Wanita

dihalangi. Makna lain aurat adalah sesuatu yang menjadi kehormatan bagi manusia yang tidak patut dibuka.27

Aurat tidak boleh terlihat dihadapan orang lain atau non mahram, dan tetap memakai pakaian sopan walaupun dihadapan mahram seperti Ayah dan Ibu, kakak dan saudara yang termasuk kategori mahram lainnya khususnya bagi seseorang (laki-laki atau perempuan) yang telah masuk ke dalam fase baligh atau dewasa. Hal tersebut demi menghindari hal-hal yang termasuk dalam perbuatan asusila atau kejahatan serta penyimpangan seksual lainnya.28













































Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk

27

Qomaruddin Awwam, Fiqih Wanita: Panduan Hidup Wanita dalam

Perspektif Islam, (Jakarta: Cerdas Interaktif, 2017), hlm. 3.

28

Siska Lis Sulistiani, “Konsep Pendidikan Anak dalam Islam untuk Mencegah Kejahatan dan Penyimpangan”, Jurnal Ta’dib, (Vol. 5, No. 1, tahun 2016, hal. 104.

dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab/33: 59)29

Ayat tentang kewajiban menutup aurat bagi wanita (QS. An-Nur/24:31 dan QS. Al-Ahzab/33:59), sudah dipahami seluruh ulama sepanjang sejarah Islam, bahwa wanita muslimah wajib menutup tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan.30 Sedangkan aurat bagi laki-laki ialah anggota tubuh dari pusar sampai lutut.

Hijab dalam QS. An-Nur/24:31 yang dimaksud ialah pakaian Islam. Kata khimar diartikan sebagai penutup kepala (kerudung), sedangkan jilbab diartikan sebagai baju kurung yang panjang (gamis). Hukum menggunakan hijab bagi wanita muslimah yang baligh adalah wajib.31

Dapat dipahami bahwa aurat merupakan sesuatu yang menjadi kehormatan seseorang yang harus ditutupi, baik laki-laki maupun perempuan.

29Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, …., hlm. 1140. 30

Abdurrahman al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Quran, (Jakarta: Gema Insani, 2007), hlm. 24.

31

Qomaruddin Awwam, Fiqih Wanita: Panduan Hidup Wanita dalam

Bagi wanita, seluruh tubuhnya merupakan aurat kecuali muka dan telapak tangan.32

c) Tabarruj (QS. Al-Ahzab/33: 33)





















































Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahhulu, dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab/33: 33)33

Kata tabarruj mempunyai dua makna dasar, artinya tampak atau muncul. Kata tersebut digunakan untuk menunjukkan bola mata indah setiap wanita. Makna kedua adalah sengaja menampakkan kecantikan dan perhiasannya kepada laki-laki. Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa tabarruj adalah ajang pertemuan

32

Badawi Mahmud Syaikh, Riyadhu ash-Shalihat: Taman

Wanita-wanita Saleh, (Jakarta: Qisthi Press, 2006), hlm. 114.

wanita dan perempuan yang mengumbar aurat dan syahwat untuk menarik lawan jenis.34

Maka segala upaya dalam rangka menampakkan kecantikan perempuan dihadapan laki-laki bukan mahram ialah termasuk dalam bentuk tabarruj yang dilarang dalam syariat. Bahwa kecantikan wanita tidak untuk diumbar, seperti memakai pakaian ketat, transparan, menutup sebagian aurat dan membiarkan sebagian yang lain, berdandan berlebihan sewaktu bepergian adalah bentuk-bentuk tabarruj.

d) Berbicara Seperlunya









































Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertawa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS. Al-Ahzab/33: 32)35

34

Qomaruddin Awwam, Fiqih Wanita: Panduan Hidup Wanita dalam

Perspektif Islam, …., hlm. 10-13.

35

Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, …., hlm. 1128-1129.

Perempuan boleh berbicara dengan laki-laki yang bukan muhrim sesuai dengan batasan-batasan syariat. Berbicara seperlunya dan dengan suara yang sewajarnya, tidak mendesah dan semisalnya sehingga tidak menimbulkan pembicaraan ke arah yang tidak dinginkan atau sampai pada timbulnya keinginan-keinginan (syahwat).

e) Bersentuhan dengan yang Bukan Muhrim

Maqil ibn Yasar berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (At-Thabrani)36

f) Berkhalwat (Berdua-duaan)

Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya”37

Rasulullah begitu tegas dalam melarang hal ini sebab perzinaan diawali dengan berkhalwat atau berdua-duaan. Setan tidak akan menjerumuskan seseorang begitu saja dalam kubangan zina,

36

Abu Malik Kamal, Fikih Sunnah Wanita: Referensi Fikih Wanita

Terlengkap, (Jakarta: Qisthi Press, 2013), hlm. 437.

37

Abu Malik Kamal, Fikih Sunnah Wanita: Referensi Fikih Wanita,

melainkan dengan menggiringnya perlahan seperti, pegangan tangan, saling raba, berciuman, berpelukan, hingga akhirnya sampailah pada zina, hubungan intim sebelum ada ikatan pernikahan.

Perintah menutup aurat baik laki-laki ataupun perempuan, tidak bersentuhan tangan bagi non muhrim berlawan jenis, serta tidak berdua-duaan merupakan bentuk preventif Islam untuk menanggulangi masalah kejahatan maupun penyimpangan seksual. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berdua dengan wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua”. (HR. Ahmad)38

g) Ikhtilat

Ikhtilat merupakan campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Islam menghendaki agar pergaulan antara laki-laki dan perempuan tidak campur baur.

Islam sungguh arif dalam mengatur hubungan pria dan wanita, jangankan berzina, mendekatinya pun haram. Ikhtilat adalah perilaku yang

38

Siska Lis Sulistiani, “Konsep Pendidikan Anak dalam Islam untuk Mencegah Kejahatan dan Penyimpangan”, Jurnal Ta’dib, (Vol. 5, No. 1, tahun 2016, hal. 106.

jelas mendekatkan dirinya pada perzinaan. Tidak ada yang menjamin keselamatan kehormatan seorang wanita yang hidup membiasakan diri bergerombol dengan yang bukan muhrim, sebab di dalamnya akan timbul banyak fitnah.39

2. Akhlak Pergaulan

Dokumen terkait