BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2 Pembahasan
5.2.1 Pemahaman Guyub Tutur terhadap Leksikon Ekolog
5.2.1.1 Pemahaman Guyub Tutur Bahasa Karo terhadap
ekologi Lau Bingei diperoleh dengan cara membagi 409 leksikon menjadi 14 kelompok. Leksikon tersebut diujikan kepada guyub tutur bahasa Karo di enam belas kelurahan dalam satu kecamatan di Kecamatan Sei Bingei. Leksikon nomina diujikan pada tiga generasi manusia dengan usia ≥ 46 tahun, usia 21-45 tahun, dan 15-20 tahun. Jumlah informan tiap kelurahan 6 orang, tiap generasi 32 orang, dan total informan dalam satu kecamatan 96 orang. Dari hasil pengujian
dan analisis data, pemahaman guyub tutur bahasa Karo terhadap leksikon nomina ekologi kesungaian Lau Bingei dapat dideskripsikan pada tabel berikut ini.
Tabel 5.1
Deskripsi Rangkuman Persentase Pemahaman Guyub Tutur Bahasa Karo terhadap Kelompok Leksikon Nomina Kesungaian Lau Bingei
Dari hasil analisis pemahaman leksikon nomina ekologi kesungaian Lau Bingei maka dapat disimpulkan bahwa kategori A secara umum diperoleh Jumlah Pemaham (JP) 12093 (30,79%). Kategori B dengan JP 14898 (37,94%). Kategori C dengan JP 5251 (13,39%). Kategori D dengan JP 7018 (17,87%). Kelompok
NO KELOMPOK LEKSIKON NOMINA A B C D JP % JP % JP % JP % 1 Benda-benda Lau Bingei 602 36,88 745 45,64 111 6,80 174 10,66
2 Bagian Lau Bingei 1016 52,91 487 25,36 316 16,45 101 5,26
3 Alat penangkap nurung„ikan‟
727 50,48 372 25,83 167 11,59 174 11,87
4 Nama nurung„ikan‟ 1251 52,12 504 21 404 16,83 241 10,04
5 Tumbuhan jenis dukut„rumput- rumputan‟ 20 0,83 1234 51,41 508 21,16 638 26,58 6 Tumbuhan yang dapat dimakan 4292 91,24 198 4,20 118 2,50 96 2,04 7 Tumbuhan yang tidak dapat dimakan
314 5,27 3104 52,15 1126 18,91 1408 23,65
8 Tumbuhan obat 1740 25,89 1393 20,72 793 11,80 2794 41,57
9 Hewan sekitar Lau Bingei 782 14,81 3523 66,72 709 13,42 266 5,03 10 Nama piduk „burung‟ 402 16,10 1380 55,28 345 13,82 367 14,70 11 Nama serangga 0 0 1555 89,98 152 8,79 21 1,21 12 Nama perangkat rumah adat 844 38,22 254 11,50 429 19,42 681 30,84 13 Tradisi yang menggunakan Lau Bingei 95 32,98 136 47,22 39 13,54 18 6,25 14 Teknologi yang menggunakan Lau Bingei 8 8,33 13 13,54 36 37,5 39 40,62 Total 12093 14898 5251 7018 Rata-rata 30,79 37,94 13,39 17,87
leksikon yang paling tinggi untuk kategori A adalah kelompok leksikon tumbuhan yang dapat dimakan dengan JP 4292 (91,24%). Kelompok leksikon yang paling rendah adalah kelompok leksikon nama serangga dengan JP 0 (0%) atau sama sekali tidak digunakan. Kelompok leksikon kategori B paling tinggi jumlah pemaham adalah nama serangga dengan JP 1555 (89,98%). Kelompok leksikon yang paling rendah adalah kelompok leksikon tumbuhan yang dapat dimakan dengan JP 198 (4,20%). Kelompok leksikon kategori C yang paling tinggi pemahamnya adalah kelompok leksikon teknologi dengan JP 36 (37,5%). Kelompok leksikon yang paling rendah adalah kelompok leksikon tumbuhan yang dapat dimakan dengan JP 118 (2,50%). Kelompok leksikon kategori D pemaham paling tinggi adalah kelompok leksikon tumbuhan obat dengan JP 2794 (41,57%). Kelompok leksikon yang paling rendah adalah kelompok leksikon nama serangga dengan JP 21 (1,21%). Untuk lebih jelasnya lihat gambar diagram batang 5.1 berikut ini.
Gambar 5.1
Deskripsi Rangkuman Jumlah Pemaham Guyub Tutur Bahasa Karo terhadap Leksikon Nomina Ekologi Kesungaian Lau Bingei
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 A B C D
Dari keempat kategori yang telah dianalisis menunjukkan bahwa pemahaman guyub tutur bahasa Karo di Kecamatan Sei Bingei dengan kategori A dan B menyatakan bahwa leksikon nomina ataupun kelompok leksikon yang diujikan masih ada dan bertahan walaupun telah mengalami penyusutan yang terlihat pada kategori C dan D. Kelompok leksikon dengan JP tertinggi adalah leksikon tumbuhan yang dapat dimakan. Hal ini karena guyub tutur bahasa Karo lebih banyak menggunakan leksikon tersebut sebagai kebutuhan sehari-hari. Tumbuhan yang dapat dimakan banyak ditanam oleh guyub tutur bahasa Karo. Umumnya guyub tutur di wilayah kesungaian Lau Bingei mata pencahariaanya adalah bertani. Leksikon yang paling rendah atau tidak diketahui adalah leksikon tumbuhan obat. Hal ini karena tumbuhan obat sudah jarang ditemukan di daerah kesungaian Lau Bingei, padahal tumbuhan obat sangat dibutuhkan oleh guyub tutur bahasa Karo dan merupakan warisan budaya suku Karo.
Berikut ini akan diuraikan satu per satu deskripsi pemahaman leksikon nomina ekologi kesungaian Lau Bingei berdasarkan pengelompokannya.
1. Pemahaman Leksikon Nomina Benda-Benda Lau Bingei
Benda-benda Lau Bingei merupakan sumber daya alam yang sangat bermanfaat buat guyub tutur bahasa Karo di Kecamatan Sei Bingei. Leksikon yang dikelompokkan dalam benda-benda Lau Bingei ini merupakan aset buat guyub tutur bahasa Karo. Batu buruh, batu gingging,batu nabun, batu mangga, batu perkas, batu penggilingen, batu rintik, batu talah, dan kersik merupakan benda Lau Bingei yang dapat dijadikan bahan bangunan yang sangat baik dan unggul di Kabupaten Langkat. Lau „air‟ Lau Bingei merupakan sungai yang
memiliki debit air yang besar sehingga ia merupakan irigasi dengan debit air terbesar di Sumatera Utara. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu debit air sungai tidak lagi sebesar dahulu. Hal ini karena beberapa faktor. Salah satunya karena penanaman sawit di hulu sungai dan di pinggir sungai yang meresap air dan penebangan pohon secara liar. Lau Bingei mengairi 6.500 Ha. persawahan di seluruh Kecamatan Sei Bingei. Tanah di sekitar Lau Bingei juga tanah tersubur di Kabupaten Langkat, sehingga pertanian terbaik dan tertata di Kabupaten Langkat berada di wilayah lingkungan kesungaian Lau Bingei, Kecamatan Sei Bingei.
Dari uraian di atas, dapat ditarik simpulan bahwa Lau Bingei dan ekologinya sangat bermanfaat dan perlu dijaga kelestariannya. Jika lingkungan
Lau Bingei lestari, maka leksikon nomina yang sering digunakan juga lestari. Untuk itu, perlu dilihat sejauh mana pemahaman guyub tutur bahasa Karo terhadap benda-benda yang ada di Lau Bingei. Pemahaman guyub tutur bahasa Karo terhadap leksikon nomina benda-benda Lau Bingei terdiri atas 17 leksikon nomina yaitu batu buruh, batu gingging, batu nabun, batu mangga, batu perkas, batu penggilingen, batu rintik,batu talah, bunga lau/ugub, kersik, kubang, lau malir, lau telneng, taneh dagal, taneh mbiring, taneh gara, dan taneh liat
diujikan kepada tiga generasi dengan kategori A (pernah melihat, mendengar, dan menggunakan), B (pernah mendengar dan melihat), C (pernah mendengar saja), dan D (tidak tahu (tidak dengar dan tidak pernah menggunakan)).
Persentase leksikon dalam satu generasi dihitung dengan menggunakan
rumus . Jumlah informan dalam satu kecamatan 96 orang (generasi
Untuk melihat penjelasan persentase leksikon lihat sub bab 3.5 pengujian data halaman 45.
Untuk melihat persentase leksikon selanjutnya lihat lampiran 2 tabel 2.1. Dari hasil analisis tersebut dapat dirangkum bahwa pemahaman guyub tutur bahasa Karo terhadap leksikon ekologi kesungaian Lau Bingei dapat dideskripsikan dengan Kategori A (pernah melihat, mendengar, dan menggunakan) dengan jumlah pemaham (JP) 602 (36,88%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina benda Lau Bingei yang paling sering dilihat, didengar, dan digunakan dengan urutan teratas adalah lau malir dengan JP 88 (91,66%). Lau malir digunakan sebagai sarana kehidupan sehari-hari. Batu penggilingen dengan JP 77 (80,20%) digunakan untuk menggiling ramuan makanan dan ramuan obat tradisional. Kersik dengan JP 74 (77,20%) digunakan sebagai bahan bangunan. Taneh mbiring dengan JP 72 (75%) digunakan sebagai lahan pertanian.
Kategori B (pernah mendengar dan melihat) dengan JP 745 (45,64%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina benda Lau Bingei yang sering didengar dan dilihat dengan tiga urutan teratas adalah kubang dengan JP 95 (98,95%). Hal ini menandakan air Lau Bingei semakin keruh. Ketika musim hujan air Lau Bingei akan keruh dan ketika air menyusut lumpur akan mengendap di pinggir sungai. Leksikon urutan kedua yang sering dilihat adalah taneh dagal dengan JP 79 (82, 29%). Hal ini karena di pinggir sungai banyak terdapat taneh dagal. Taneh dagal ini adalah tanah yang keras yang menahan pinggiran sungai agar tidak terjadi abrasi di pinggir sungai.
Urutan ke tiga adalah taneh gara dengan JP 72 (75%). Hal ini karena di Kecamatan Sei Bingei selain taneh mbiring guyub tutur juga mengusahai ladang dengan taneh gara.
Kategori C (pernah mendengar saja) dengan JP 111 (6,80%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina benda Lau Bingei yang pernah didengar saja adalah batu perkas dengan JP 16 (16,66%). Batu mangga dengan JP 15 (15,62%). Perolehan ini umumnya yang tidak melihat atau hanya mendengar saja adalah generasi usia 15-20 tahun, namun dari hasi pantauan penulis ke lapangan batu mangga masih banyak di sekitar sungai. Akan tetapi, sebagian informan muda tidak mengetahui nama batu mangga sedangkan batu perkas jarang dijumpai di sungai.
Kategori D (tidak tahu (tidak dengar dan tidak pernah menggunakan)) dengan JP 174 (10,66%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina benda Lau Bingei yang tidak diketahui oleh informan adalah batu gingging dengan JP 37 (38,54%). Hal ini karena batu ini jarang dijumpai dan nama tersebut tidak diketahui. Pemaham
batu gingging dari tiga generasi, yakni usia ≥ 46 tahun dengan JP 0 (0%), usia 21-45 tahun dengan JP 11 (34,37%), dan usia 15-20 tahun dengan JP 26 (81,25%). Artinya, banyak generasi usia 15-20 tahun yang sama sekali tidak tahu jenis batu ini.
2. Pemahaman Leksikon Nomina Bagian Lau Bingei
Leksikon nomina bagian Lau Bingei terdiri atas 20 leksikon antara lain
aras, aleren, alur/ aluren, lingling, baluren, baturen, boah, cinah, elok, julu/kenjelu, jahe/kenjahe, kuala, lubang, lepar, namo, paler-paler, palung, pancur, tapin, dan ulu. Leksikon tersebut diujikan kepada tiga generasi dengan kategori A (pernah melihat, mendengar, dan menggunakan) dengan JP 1016 (52,91%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina bagian Lau Bingei yang digunakan dengan tiga urutan teratas adalah pancur dengan JP 96 (100%). Hasil ini menandakan bahwa pancur sudah pernah digunakan oleh guyub tutur. Walaupun belakangan ini mata air pancur
sudah mulai menyusut karena penanaman sawit sampai ke dekat mata air. Larangan bahwa menebang pohon di dekat mata air sudah tidak diindahkan lagi oleh masyarakat karena keterdesakan kebutuhan ekonomi. Leksikon kedua
lubang dengan JP 96 (100%). Hal ini sangat wajar karena guyub tutur tinggal di sekitar sungai. Leksikon ketiga tapin dengan JP 94 (97,91%). Tapin adalah tempat dan kegiatan khas guyub tutur, melakukan kegiatan mandi, mencuci, dan kegiatan ritual dan tradisi suku Karo yang berhubungan dengan sungai dilakukan di tapin. Namun belakangan ini sebagian dari guyub tutur sudah melakukan kegiatan tersebut di rumah dengan bantuan sumur, sumur bor, alat pemompa air, dst.
Kategori B (pernah mendengar dan melihat) dengan JP 487 (25,36%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina bagian Lau Bingei yang didengar dan dilihat dengan tiga urutan teratas
adalah aleren dengan JP 78 (81,25%). Sungai tidak bisa terlepas dengan aleren. Leksikon kedua adalah paler-paler dengan JP 67 (69,79%). Baturen dengan JP 66 (68,75%). Baturen digunakan sebagai penahan air, jika sewaktu-waktu air meluap. Upaya mempertahankan morfologi alamiah sungai dapat diartikan sebagai upaya mempertahankan dan menjaga kelangsungan ekosistem di sungai yang bersangkutan (Maryono, 2005: 95).
Kategori C (pernah mendengar saja) dengan JP 316 (16,45%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina bagian Lau Bingei yang didengar saja dengan tiga urutan teratas adalah
elok dengan JP 64 (66,66%). Umumnya yang hanya mendengar adalah generasi 15-20 tahun. Guyub hanya mendengar bentuk sungai ini karena sebagian generasi usia 15-20 tahun sudah jarang melihat sungai dan mengucapkan istilah sungai. Padahal umumnya bentuk sungai di dunia ini berbelok-belok. Leksikon kedua adalah paler-paler dengan JP 38 (39,58%). Ketiga arehen dengan JP 37 (38,54%).
Kategori D (tidak tahu (tidak dengar dan tidak pernah menggunakan)) dengan JP 101 (5,26%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina bagian Lau Bingei yang tidak tahu (tidak dengar dan tidak pernah menggunakan) adalah arehen dengan JP 27 (28,12%). Leksikon bagian Lau Bingei mengalami penyusutan secara umum dari keseluruhan leksikon dengan persentase yang bervariasi. Lebih jelasnya lihat lampiran 2 tabel 2.1.
3. Pemahaman Leksikon Nomina Alat Penangkap Nurung
Leksikon nomina alat penangkap nurung Lau Bingei terdiri atas 15 leksikon antara lain bedil, bubu, durung, jala, kawil, lambo, areh-areh, petar- petar, perdah, seterum, tuba, tuwar, lembing tempuling, piso/sekin, dan oncor
diujikan kepada tiga generasi dengan kategori A (pernah melihat, mendengar, dan menggunakan) dengan JP 727 (50,48%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama alat penangkap nurung Lau Bingei dengan tiga urutan teratas adalah piso/sekin dengan JP 96 (100%).
Piso ini digunakan untuk nenggil ikan. Istilah nenggil ikan sudah jarang dilakukan karena ikan sudah semakin jarang. Urutan kedua adalah durung dengan JP 91 (94, 79%). Alat ini sampai sekarang masih banyak digunakan oleh guyub tutur Karo karena selain praktis lebih mudah menangkap ikan-ikan kecil di sungai karena umumnya saat ini ikan sungai kecil-kecil. Urutan ke tiga adalah kawil
dengan JP 69 (71,87%). Kawil umumnya masih dikenal oleh guyub tutur karena kegiatan memancing selain di sungai alat ini banyak digunakan untuk memancing ikan di kolam-kolam ikan.
Kategori B (pernah mendengar dan melihat) dengan JP 372 (25,83%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama alat penangkap nurung Lau Bingei dengan tiga urutan teratas adalah tuba dan seterum dengan JP 49 (51,04%). Tuba sudah jarang digunakan karena tumbuhan ini sudah jarang ada. Seterum dilarang digunakan karena menggunakan mesin listrik yang dapat membuat ikan kecil juga mati. Jika ikan
kecil mati maka generasi ikan yang berikutnya akan habis. Jika ikan punah maka bahasa atau istilah untuk ikan tersebut pelan-pelan juga akan punah. Urutan ke tiga adalah bedil dengan JP 40 (41,66%).
Kategori C (pernah mendengar saja) dengan JP 167 (11,59%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama alat penangkap nurung Lau Bingei yang hanya didengar adalah
areh-areh dengan JP 44 (45,83%). Cara menangkap ikan dengan areh-areh
adalah salah satu cara yang baik dan tidak mematikan ikan-ikan kecil. Akan tetapi, tidak praktis baik secara tenaga,waktu, maupun hasil, sehingga kegiatan
ngareh ditinggalkan oleh guyub tutur suku Karo. Leksikon berikutnya adalah
tuwar dengan JP 36 (37,5%) dan ini hanya di dengar oleh generasi 21-45 tahun. Generasi 15-20 tahun sama sekali tidak mengetahui alat penangkap ikan ini.
Kategori D (tidak tahu (tidak dengar dan tidak pernah menggunakan)) dengan JP 174 (11,87%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama alat penangkap nurung Lau Bingei yang paling tinggi persentase tidak tahu adalah perdah dengan JP 50 (52,08%). Perdah tidak diketahui oleh guyub tutur generasi muda karena alat ini sudah jarang digunakan oleh guyub tutur. Bahkan dapat dikatakan berdasarkan hasil pengamatan alat ini sudah tidak digunakan lagi.
4. Pemahaman Leksikon Nomina Nama Nurung
Leksikon nomina nama nurung terdiri atas 25 leksikon antara lain ancin- ancin, bado, belut, bias-bias, buntal, cancan, cibaro, cibakut, cibet, cih, dung-
dung, gampual, galabue, gayo, garap, gemuh, itek, jurung, kaperas, lebo, ndurabit, odang, rakut batu, sulung, dan tereb-tereb. Leksikon tersebut diujikan kepada tiga generasi dengan kategori A (pernah melihat, mendengar, dan menggunakan) dengan JP 1251 (52,12%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama nurung Lau Bingei
leksikon atau nama nurung yang pernah dilihat, didengar, dan digunakan adalah
nurung bado dengan JP 96 (100%). Ikan ini adalah ikan yang hidup di tepi sungai, di arehen, baluren, bahkan di paret-paret kecil sawah irigasi. Ikan ini juga ikan yang dapat hidup di kolam-kolam masyarakat. Sampai saat ini, ikan ini masih banyak. Leksikon atau nama ikan yang kedua adalah belut, cih, dan odang
dengan JP 90 (93,75%). Jenis leksikon ini juga masih banyak di Lau Bingei
hanya saja 2,25% generasi muda sudah jarang atau tidak menggunakan cih dan
odang sungai. Udang sungai memang sudah jarang diperjualbelikan dan susah di dapat.
Kategori B (pernah mendengar dan melihat) dengan JP 504 (21%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama nurung Lau Bingei leksikon atau nama nurung yang pernah dilihat dan didengar adalah galabue dengan JP 54 (56,25%). Kedua buntal dengan JP 48 (50%). Ketiga dung-dung dengan JP 44 (45, 83%). Jenis ikan ini sudah jarang terdapat di Lau Bingei.
Kategori C (pernah mendengar saja) dengan JP 404 (16,83%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama nurung Lau Bingei leksikon nama nurung yang pernah didengar
saja adalah jurung dengan JP 47 (48,95%). Ikan ini adalah ikan terbesar di Lau Bingei. Dari cerita sejarah masyarakat Belinteng ikan ini adalah ikon Lau Bingei. Ikan ini memiliki nilai sejarah yang berhubungan dengan panglima perang wanita Nini Br Tarigan yang makamnya atau istilah suku Karo geritennya terdapat di Kelurahan Belinteng (jelasnya lihat bab 6 nilai budaya). Dari hasil pengujian dan pengamatan ikan jurung sudah tidak ada di Lau Bingei, akan tetapi namanya masih terdengar. Ikan jurung saat ini masih ada tetapi hasil budidaya masyarakat di kolam-kolam ikan itu pun sulit ditemukan. Selanjutnya adalah ikan gemuh dengan JP 54 (56,25%). Berikutnya, ndurabit dengan JP 47 (48,95%). Ikan ini juga sulit ditemukan di Lau Bingei untuk saat ini.
Kategori D (tidak tahu (tidak dengar dan tidak pernah menggunakan)) dengan JP 241 (10,04%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama nurung Lau Bingei.
Leksikon atau nama nurung yang tidak tahu dengan nilai tertinggi diperoleh oleh leksikon rakut batu dengan JP 44 (45,83%). Kedua bias-bias dengan JP 36 (37,5%). Ketiga garap dengan JP 30 (31,25%).
5. Pemahaman Leksikon Nomina Tumbuhan Dukut
Tumbuhan dukut atau rumput mempunyai peran yang sangat penting baik bagi ekologi fauna sungai maupun secara hidraulik sungai. Tumbuhan dukut atau perdu maupun herba merupakan habitat bagi fauna sungai dengan perannya sebagai peredam kecepatan aliran air, pelindung dari sinar matahari, dan penyedia bahan makanan (Maryono, 2005:100). Leksikon nomina tumbuhan
bubuk biang, ciperut-ciperut, pugun taneh, gadung-gadung, genjer-genjer, kawat-kawat, kembili-kembili, paha labang, parang teguh, page-page, rih, risi- risi, sabagori, sampe lulut, sampun, sanggar, seperatus, sirap-rap, tengkua, terbiah, dan tilam buaya diujikan kepada tiga generasi dengan kategori A (pernah melihat, mendengar, dan menggunakan) dengan JP 20 (0,83%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama tumbuhan dukut Lau Bingei yang digunakan adalah seperatus
dengan JP 20 (20,83%). Leksikon ini digunakan sebagai pertolongan pertama di ladang atau di tepi sungai jika terkena sesuatu atau terluka.
Kategori B (pernah mendengar dan melihat) dengan JP 1234 (51,41%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama tumbuhan dukut yang pernah didengar dan dilihat adalah
parang teguh, page-page, dan rih dengan JP 90 (93, 75%). Jenis tumbuhan ini paling banyak dan paling sering dilihat di sekitar sungai.
Kategori C (pernah mendengar saja) dengan JP 508 (21,16%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama tumbuhan dukut yang hanya didengar saja adalah tengkua dan
terbiah dengan JP 53 (55,20%), pugun taneh dengan JP 49 (51,04%). Berdasarkan pengamatan tumbuhan jenis dukut masih ada, tetapi tidak dikenal oleh informan yang diujikan untuk usia 15-20 tahun dan sebagian usia 21-45 tahun. Hal ini karena dukut bukanlah kebutuhan utama buat guyub tutur. Pugun taneh merupakan rumput kecil yang tidak begitu mengganggu tumbuhan ladang guyub tutur.
Kategori D (tidak tahu (tidak dengar dan tidak pernah menggunakan)) dengan JP 638 (26,58%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama tumbuhan dukut yang tidak tahu (tidak dengar dan tidak pernah lihat) adalah leksikon paha labang
dengan JP 59 (61,45%). Kedua risi-risi dengan JP 58 (60,41%). Ketiga bubuk biang, gadung-gadung, dan sanggar dengan JP 48 (50%).
6. Pemahaman Leksikon Nomina Tumbuhan Dapat Dimakan
Leksikon nomina tumbuhan dapat dimakan terdiri atas 49 leksikon diujikan kepada tiga generasi dengan kategori A (pernah melihat, mendengar, dan menggunakan) dengan JP 4292 (91,24%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama tumbuhan yang dapat dimakanyang pernah dilihat, didengar, dan digunakan adalah acem cikala, arum, bewan, boncis, bungke, cimpedak, cimen, cina, durin, gadung, geliman, jambe, jaung, jering, kacang, katola, kembiri, kumangi, kurma parik, langsat, lekang, manggis, mayang, mbacang, mbertik, page, perira, peria-ria, rambe, retak, sabi, sere, sukat, terung gara, tubis, dan tualah dengan JP 96 (100%). Semua jenis ini pernah dimakan oleh pemaham guyub tutur bahasa Karo. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari. Urutan kedua adalah leksikon tumbuhan paku dengan JP 89 (92,70%), gundur, terung kaluat dengan JP 88 (91,66%), acem gelugur dengan JP 84 (87,5%), terung kibul
dengan JP 80 (83,33%) pola dengan JP 74 (77,08%), galuh sitabar dengan JP 62 (64,58%), gundera dengan JP 50 (52,08%).
Kategori B (pernah mendengar dan melihat) dengan JP 198 (4,20%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama tumbuhan yang dapat dimakan yang pernah didengar dan dilihat adalah galuh sitabar dengan JP 30 (31,25%). Kedua mandike dengan JP 30 (31,25%). Ketiga terung bola dengan JP 27 (28,12%).
Kategori C (pernah mendengar saja) dengan JP 118 (2,50%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama tumbuhan yang dapat dimakan yang pernah didengar saja adalah
gundera dengan JP 46 (47,91%). Kedua tabu dan acem kana dengan JP 32 (33,33%). Ketiga galuh sitabar dan pola dengan JP 4 (4,16%).
Kategori D (tidak tahu (tidak dengar dan tidak pernah menggunakan)) dengan JP 96 (2,04%). Berdasarkan lampiran 2 tabel 2.1 rangkuman deskripsi pemaham leksikon nomina nama tumbuhan yang dapat dimakan yang tidak tahu (tidak pernah melihat dan mendengar) atau tidak dikenal adalah tumbuhan acem kana, mandike, dan tabu dengan JP 32 (33,33%).
7. Pemahaman Leksikon Nomina Tumbuhan yang Tidak Dapat Dimakan
Tumbuhan yang tidak dapat dimakan dan tumbuhan besar adalah tumbuhan yang memiliki fungsi. Fungsi hidraulik tumbuhan besar pinggir sungai antara lain sebagai penahan tebing dari longsor, sebagai penahan erosi kaki tebing, sebagai peredam energi pada zona perakaran yang masuk ke badan sungai, serta sebagai media munculnya mata air di pinggir sungai (Maryono, 2005: 100). Mengingat pentingnya fungsi tumbuhan besar. Di bawah ini akan
dijabarkan bagaimana pemahaman guyub tutur terhadap tumbuhan yang tidak dapat dimakan/tumbuhan besar pinggir sungai. Leksikon nomina tumbuhan tidak dapat dimakan terdiri atas 62 leksikon antara lain aleban, arimas, ban-ban, bas- bas, belo-belo, bengkuang, beringin, belasih, birah, bingei, binjai, buluh belin, buluh blangke, buluh cina, buluh cina, buluh didi, buluh dinding, buluh laga, buluh minak, buluh regen, buluh rires, bunga rinte, bungbung more, capet, ceni, cike, cingkam, dengdeng, duri serit, galuh-galuh, gambal batu, guang-guang, kamuna, kabu-kabu, kayang-kayang, karet, kayu embun, kelempen, kerah kandang, ketang kedah, ketang belnung, lateng ndiru, lateng manuk, leweh kerangen, liga-liga, lumut, mindi, nderasi, nderung, pakam, parimbalang, peldang, rampah, rube, rudang, rumbia, sira-sira, sitekap, sukat-sukat, tereb- tereb, tualang, waren mbarilang,dan waren mbuk-buk. Leksikon ini diujikan