• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II FUNDAMENTALISME ISLAM:

D. Pemahaman Keagamaan

Fundamentalisme Islam memiliki ciri khas. Salah satunya adalah doktrin sentral “Islam Kaffah”. Doktrin ini menyatakan bahwa Islam tidak hanya merupakan sistem agama, akan tetapi juga sebagai sebuah sistem yang secara total mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam konteks dunia modern, kalangan fundamentalis Islam berpegang teguh pada pola integralisme. Menurut mereka, doktrin-doktrin yang terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah adalah doktrin yang bersifat universal dan telah mencakup segala aspek dalam kehidupan manusia dan berlaku tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Aspek yang penting dalam konteks ini adalah ketaatan mutlak kepada wahyu Tuhan, yang berlaku secara universal. Iman dan ketaatan terhadap wahyu Tuhan, sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an dan praktik

Sunnah Nabi, lebih penting daripada penafsiran-penafsiran terhadap kedua sumber utama pedoman kehidupan umat Islam itu (M. Syafi’i Anwar, dalam Abdul Halim (ed.), 2006: 57-58).

Keimanan dan ketaatan terhadap ajaran Islam menjadi karakteristik yang melekat kuat pada kelompok fundamentalis. Mereka menghindari sejauh mungkin interpretasi karena dianggap sebagai bentuk kesewenangan manusia sekaligus sebagai kecerobohan. Ajaran agama mereka nilai jauh lebih penting untuk diimani dan dijalankan, bukan ditafsirkan dan diperlakukan secara bebas. Kalangan fundamentalis Islam biasanya tidak menyukai terhadap para pemikir Islam yang cenderung liberal dalam menafsirkan ajaran agama. Reaksi keras akan muncul terhadap berbagai bentuk ekspresi terhadap ajaran agama, baik dalam bentuk tafsir, pemikiran, maupun aksi-aksi ritual-sosial yang mereka nilai keluar dari pemahaman mereka.

Tentang doktrin hukum dan politik dalam idiologi Islam, kaum fundamentalis Islam memahaminya sebagai kedaulatan atau supremasi hukum Tuhan. Mereka berkeyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya jalan hidup dan harus ditegakkan tanpa mempertimbangkan pengaruhnya terhadap hak-hak dan kesejahteraan kelompok lain. Kehadiran konsep jalan lurus

(as-Shirât al-Mustaqîm), menurut mereka, telah dipastikan oleh sistem

hukum Tuhan. Syari’ah dapat menghapus semua pertimbangan moral dan nilai-nilai etis yang sepenuhnya tidak terdapat dalam hukum. Tuhan diwujudkan dalam seperangkat perintah hukum positif dan dianggap mampu menunjukkan jalan yang benar dalam bertindak pada semua keadaan. Satu-satunya tujuan hidup manusia di muka bumi ini adalah merealisasikan perwujudan Tuhan dengan melaksanakan hukum-Nya secara patuh dan taat. Moralitas itu sendiri bermula dan berakhir dalam mekanisme

dan teknik-teknik hukum Islam, kendati aliran hukum Islam yang berbeda melahirkan pemahaman hukum yang berbeda pula (Khaled M. Abou El Fadl, 2003: 20).

Doktrin dasar dan manifestasinya dalam kehidupan kaum fundamentalis Islam tidak lahir begitu saja. Ada banyak faktor yang menjadi pendorongnya. Salah satunya adalah keinginan untuk membentengi diri disertai rasa takut dan cemas dalam merespon kesulitan hidup di dunia modern yang sekuler. Sehingga merupakan hal yang wajar manakala mereka menolak terhadap rasionalitas dan modernitas sebagai reaksi terhadap kebudayaan sekuler dan ilmiah. Sebagaimana dikatakan oleh Armstrong, fenomena semacam ini pada awalnya justru terjadi di Barat sendiri yang kemudian meluas ke berbagai penjuru dunia. Sebagai kekuatan dominan dunia, Barat telah mengembangkan tipe peradaban yang berbeda total sehingga reaksi keberagamaan terhadap tipe peradaban yang dikembangkan oleh Barat pun menjadi sesuatu yang unik (Karen Armstrong, 2004: xiii).

Sebagai respon terhadap perubahan zaman, kaum funda-mentalis Islam terus-menerus menggulirkan penolakan atas isu-isu sekularisme, demokrasi, HAM, dan nilai-nilai modern lainnya. Sesuai dengan doktrin sentral mereka yang memandang Islam sebagai jawaban atas semua persoalan, sebagai konsekwensinya fundaments Islam memandang tatanan dunia yang sedang dibangun Barat sebagai sesuatu yang menyimpang dan harus ditolak. Realitas ini bertentangan secara diametral dengan watak hegemonik peradaban Barat atas dunia Timur dalam berbagai dimensi kehidupan. Barat sendiri membutuhkan lawan yang seimbang dalam menjalankan agenda hegemoniknya. Pasca perang dingin, Barat kesulitan menyatukan kekuatan untuk

mencari lawan yang seimbang. Maka, kaum fundamentalis pun dibidik sebagai musuh yang dinilai layak (Bassam Tibi, 2000:2).

Respon yang sifatnya cenderung resisten terhadap segala hal yang bernuansa Barat, terutama isu-isu yang berasal dari Barat, merupakan manifestasi perlawanan sekaligus ikhtiar untuk mem pertahankan diri. Barat telah menjadi kekuatan besar yang sulit untuk ditandingi. Mereka memiliki berbagai perangkat pendukung untuk mewujudkan ambisi idiologis dan kepentingan sosial-politis-ekonomisnya. Jika dibiarkan, apa yang dilakukan oleh Barat akan merusak identitas religius umat Islam. Dalam upaya me lawan realitas yang semacam ini, kaum fundamentalis Islam lebih mengedepankan kerangka resistensi, menolak segala yang berasal dari Barat, dan membangun karakteristik diri yang khas yang berbeda.

Bagi kaum fundamentalis, mempolitisasi agama menjadi sebuah keniscayaan. Hal ini dilakukan karena merupakan benteng terakhir dalam menahan serbuan budaya Barat yang sedemikian agresif. Menurut kalangan fundamentalis, gaya hidup yang dibangun peradaban Barat lebih bersifat negatif sehingga merupakan sesuatu yang tidak aneh manakala pemikir fundaments seperti Muhammad Qutb menilai bahwa kehidupan modern sama dengan kehidupan pra-Islam atau zaman jahiliyah yang harus ditolak. Zaman jahiliyah, di mata Qutb, bukanlah suatu peristiwa sejarah yang hanya sekali terjadi, tetapi merupakan suatu hukum sejarah yang dapat berulang kapan saja. Substansi pada zaman ini adalah kehidupan dengan keadaan spiritual menolak hidayah Ilahi dan suatu tatanan kehidupan yang menampik hukum Allah. Hidayah adalah suatu hakikat yang utuh dan jahiliyah juga demikian adanya. Masing-masing saling bertolak belakang dan memperlihatkan corak serta bentuknya sendiri-sendiri dalam

lapangan kehidupan ekonomi, politik, sosial, ilmu pengetahuan dan berbagai manifestasi lainnya. Bagi Qutb, hanya ada dua pilihan bagi manusia untuk membangun tatanan sosial, ekonomi, politik, dan juga budaya, yaitu kalau tidak dalam hidayah, pasti dalam kesesatan, kalau tidak Islam, pasti dalam kejahiliyahan (Muhammad Qutb, 1995: 25-26).

Paradigma yang serba hitam putih (dualistic world view) yang dikembangkan kalangan fundamentalis menjadikan segala sesuatu dilihat dalam kerangka benar-salah, kita-mereka, islami-jahiliyah, dan seterusnya. Implikasinya, ketika berhadapan dengan tantangan eksternal seperti modernitas dengan segenap ekses negatifnya, mereka bukannya memberikan respon yang sifatnya kreatif tetapi justru membangun penolakan dan membuat garis batas secara tegas. Sikap semacam ini menjadikan kalangan fundamentalis menjadi eksklusif. Mereka menolak segala sesuatu yang mereka nilai tidak sesuai dengan ajaran Islam. Segala sesuatu yang berasal dari luar kelompok mereka akan dinilai sebagai negatif dan kebenaran hanya berasal dari mereka.