BAB V PENUTUP
B. Pemaknaan Ulang Peristiwa “15 Januari 1974”
Mengamati sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia memberikan pelajaran baru yang dapat melengkapi narasi sejarah tentang Republik Indonesia. Hal
71
tersebut menunjukkan bahwa sejarah berkembangnya Republik Indonesia tidak hanya dibentuk oleh tokoh-tokoh Negarawan, Teknokrat, Militer, kaum Ulama, namun juga melibatkan golongan Mahasiswa, yang relatif lebih muda baik secara umur ataupun pemikiran.
Usia dan pemikiran yang relatif muda dan sederhana tidak lantas menyurutkan pengaruh gerakan dari golongan yang dianggap sebagai agen perubahan ini. Terjadinya Peristiwa 15 Januari 1974 menunjukkan bahwa kesatuan aksi mahasiswa di Indonesia pernah memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap jalannya pemerintahan di dalam negeri.
Dalam konteks Peristiwa 15 Januari 1974, kelompok mahasiswa telah bertransformasi menjadi pengawas terhadap segala bentuk kebijakan pemerintah yang dirasa tidak memihak rakyat kecil. Kelompok mahasiswa menjadi barisan terdepan dalam melindungi kesejahteraan dan hak rakyat kecil. Berbagai ekspresi kritik pasti dilakukan oleh golongan mahasiswa selama hal tersebut berpengaruh terhadap kesejahteraan dan nasib rakyat kecil.
Namun pada kenyataannya, gerakan mahasiswa dalam Peristiwa 15 Januari
1974 hampir tanpa hasil positif. Kerugian, baik berupa kerugian material atau
korban jiwa jumlahnya cukup besar. Pengaruh politis mahasiswa juga praktis
digembosi oleh pemerintah yang berkuasa pada periode tersebut. Kondisi ini
diperparah dengan sikap pemerintah yang juga tidak bergeming dalam membatasi aktivitas investasi modal asing di dalam negeri. Singkat kata, setelah seluruh perjuangan yang dilakukan mahasiswa dengan berkorban moral maupun material, sedikitpun tuntutuan mereka tidak terealisasikan.
72
Tanpa bermaksud untuk menafikan fakta tentang babak akhir Peristiwa 15
Januari 1974, seyogianya sebuah analisa sejarah mampu memaknai ulang segala
peristiwa yang diteliti. Dalam Peristiwa 15 Januari 1974 tetap dapat dipetik pelajaran yang berguna bagi kehidupan di masa mendatang. Pelajaran tersebut dikelompokkan dalam beberapa poin yang menjadi kata kunci dalam memaknai kembali gerakan mahasiswa Indonesia pada Peristiwa 15 Januari 1974.
Berikut adalah beberapa poin kesimpulan atas pemaknaan ulang terhdap
Peristiwa 15 Januari 1974;
1. Perintis Gerakan Mahasiswa Era Orde Baru.
Terjadinya Peristiwa 15 Januari 1974 secara tidak langsung mengawali gelombang aktifitas gerakan mahasiswa Indonesia, mengkritisi kinerja pemerintahan yang sedang berjalan, Pemerintahan Orde Baru. Gerakan mahasiswa era Pemerintahan Orde Baru yang berkembang pada periode selanjutnya tidak jauh berubah orientasi tuntutannya dengan tuntutan mahasiswa dalam Peristiwa 15 Januari 1974 yang dingeruhi oleh ide-ide tentang pembangunan alternatif dan ketimpangan pendapatan. Munculnya aksi mahasiswa pada Peristiwa 15 Januari 1974 mempengaruhi corak gerakan mahasiswa Indonesia era Pemerintahan Orde Baru di kemudian hari.
73
2. Pelajaran Berharga Bagi Perkembangan Gerakan Mahasiswa Era Pemerintahan Orde Baru.
Sesuai dengan tendensi dari penelitian tentang perilaku kolektif mahasiswa Indonesia ini, dalam Peristiwa 15 Januari 1974 terbukti para mahasiswa mampu mempertahankan independensi gerakan mereka di tengah tekanan dari pihak-pihak yang berkuasa. Dengan kata lain, gerakan mahasiswa dalam Peristiwa 15
Januari 1974 tidak memihak pada pemangku kekuasaan manapun, kecuali rakyat.
Gerakan mahasiswa dalam Peristiwa 15 Januari 1974 tidak kehilangan komitmen untuk memperjuangkan cita-cita ideal mereka, walaupun ancaman bermunculan.
Independensi gerakan mahasiswa 1974 di tengah himpitan para pemegang kekuasaan menjadi sebuah pelajaran berharga bagi gerakan mahasiswa era Pemerintahan Orde Baru yang berkembang kemudian.
3. Solidaritas di antara para mahasiswa dalam memperjuangkan nasib rakyat. Dalam Peristiwa 15 Januari 1974, dapat dilihat adanya solidaritas di antara para mahasiswa dalam memperjuangkan nasib rakyat. Solidaritas tersebut ditunjukkan melalui kesediaan para mahasiswa, yang berasal dari berbagai wilayah berbeda untuk salong menjaga dan mendukung satu sama lain selama proses perumusan dan eksekusi aksi mereka, bahkan sampai dengan beberapa di antara para aktifis mahasiswa tersebut ditangkap dan ditahan. Salah satu contohnya terlihat ketika para aktifis mahasiswa yang tidak terkena penahanan pasca Peristiwa 15 Januari 1974 tetap memberikan dukungan moral dan material
74
bagi teman-teman akfitisnya yang ditahan dengan secara rutin menjenguk mereka di rumah tahanan.
75
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
A. Yoghaswara (2009). Dalang Malapetaka 15 Januari ( MALARI). Yogyakarta : Penerbit Media Pressindo.
Abd Rahman Hamid & Muhammad Saleh Madjid (2011). Pengantar Ilmu
Sejarah. Yogyakarta : Penerbit Ombak.
Altbach, Philip G. (Ed.) (1988). Politik Dan Mahasiswa Perspektif dan
Kecenderungan Masa Kini. Jakarta : PT. Gramedia.
Aria Wiratma Yudhistira. (2010). Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde
Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an. Banten : Marjin Kiri.
Arif Zulkifli (Ed.) (2015). Rahasia-rahasia Ali Moertopo cetakan ke-4. Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).
Asvi Warman Adam. (2007). Seabad Kontroversi Sejarah. Yogyakarta : Ombak. Carr, E. H. (1964). What Is History?. England : Penguin Books.
Daulay, Amir Husin & Imran Hasibuan (Ed.) (2011). Hariman & Malari,
Gelombang Menentang Modal Asing. Jakarta : Q-Communication.
Denny J.A (2006). Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era 80-an. Yogyakarta : LKiS.
Fachry Ali. (1985). Sistem Politik di Indonesia dan Negara. Jakarta : Inti Sarana Aksara.
Frederick, William H. Et al. (Ed.). (1984). Pemahaman Sejarah Indonesia cetakan ke-2. Jakarta : LP3ES.
Jopie Lasut (2011). Malari Melawan Soeharto & Barisan Jenderal Orba. Depok : Yayasan Penghayat Keadilan.
Kuntowijoyo (2013). Pengantar Ilmu Sejarah Edisi Baru Cetakan ke-I. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yogya.
(2003). Metodologi Sejarah. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yogya. (2008). Penjelasan Sejarah (Historical Explanation). Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yogya.
76
Lewis, Bernard. (2009). Sejarah Diingat, Ditemukan Kembali, Ditemu-Ciptakan. Yogyakarta : Ombak.
Max Diaz Riberu et al. (2015). Anak Tentara Melawan Orba : Biografi Judilherry
Justam. Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia.
Moustakas, Clark (1990). Heuristic Research Design, Methodology, and
Applications. Newbury Park : SAGE Publication.
R. Moh Ali. (2012). Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia cetakan ke-I. Yogyakarta : LKiS.
Raillon, Francois (1985). Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia. Jakarta : LP3ES.
Revrisond Baswir. (2006). Mafia Berkeley dan Krisis Ekonomi Indonesia.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Ricklefs, M.C. (2011). Sejarah Indonesia Modern cetakan ke-10. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Sartono Kartodirdjo (1992). Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta : Gramedia.
Smelser, Neil J. (1971). Theory of Collective Behaviour. New York : The Free Press.
Soe Hok Gie (1983). Catatan Seorang Demonstran. Jakarta : LP3ES.
Storey, William Kelleher (2011). Menulis Sejarah: Panduan untuk Mahasiswa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sundhaussen, Ulf. (1988). Politik Militer Indonesia 1945-1967 : Menuju Dwi
Fungsi ABRI cetakan ke-2. Jakarta : LP3ES.
Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia (2010). Sejarah Nasional Indonesia
Jilid VI, Edisi Pemutakhiran Cetakan ke-4. Jakarta : Penerbit Balai Pustaka.
Widiarsi Agustina et al.( 2014) Massa Misterius Malari Rusuh Politik Pertama
dalam Sejarah Orde Baru. Jakarta : Tempo.
Wineburg, Sam (2006). Berpikir Historis : Memetakan Masa Depan,