• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMAPARAN DATA DAN ANALISIS

B. Penyajian Data

1. Pemalsuan Identitas Pernikahan

Dalam setiap awal pertanyaan, penulis selalu menanyakan pendapat subjek dan informan mengenai fenomena pemalsuan identitas dalam pernikahan di beberapa daerah di Indonesia. Adapun pandangan pemalsuan identitas pernikahan menurut subjek SP sebagai berikut :

Untuk di KUA Kecamatan Jekan Raya selama saya jadi kepala KUA, dari 2014 sampai sekarang masih belum pernah ada pelaporan mengenai pemalsuan identitas pernikahan. Kami bersama BIMAS Islam sudah berusaha untuk menjaga kevalidan data pernikahan. Misal sekarang ini, kami sudah mulai menggunakan SIMKAH

online yang sistem kerjanya menggunakan NIK yang ada di SIAK

DUKCAPIL sehingga data yang di validasi tersingkron dengan data kependudukan.115

Pernyataan subjek SP di atas senada dengan subjek MD. Menurut subjek MD bahwa pemalsuan identitas pernikahan memang sangat rentan

114

Ibid.

115

SP adalah salah satu subjek penelitian yang berprofesi sebagai Kepala KUA Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya periode 2014-sekarang. Penulis telah wawancara bersama subjek pada tanggal 13 Maret 2019 di KUA Jekan Raya pukul 14.50 – 16.00 WIB.

Kementerian Agama melalui BIMAS Islam telah berupaya bersifat

preventif dan refresif dalam hal menjaga kevalidan data nikah yaitu dengan

reformasi birokrasi berupaya SIMKAH online.116 Pernyataan di atas juga selaras dengan subjek SK yang berprofesi sebagai Penyuluh Agama Islam merangkap PPN. Menurut subjek SK bahwa memang untuk pemalsuan identitas pernikahan rentan terjadi, terutama di daerah yang masyarakatnya banyak seperti Jawa, apalagi ketika masih menggunakan SIMKAH offline yang mana setiap sistemnya hanya manual. Tapi selama selama subjek SK bekerja mulai 2014 sampai sekarang masih belum ada pelaporan dari masyarakat perihal pemalsuan identitas pernikahan.117 Pendapat subjek SK tersebut senada dengan Subjek MJ yang juga berprofesi sebagai penyuluh Agama Islam merangkap PPN.118

Selanjutnya penulis mewawancarai subjek AN yang berprofesi sebagai penghulu fungsional. Subjek AN berpendapat sebagai berikut :

Memang benar untuk selama saya menjadi penghulu sejak 1995 waktu saya di KUA Kecamatan Bukit Batu sampai dengan sekarang

116

Data yang didapat bersumber dari seseorang yang berinisial MD yang bekerja sebagai salah satu penghulu fungsional merangkap operator SIMKAH di KUA Kecamatan Jekan Raya kota Palangka Raya. Wawancara dilakukan pada tanggal 14 Maret 2019 di KUA Kecamatan Jekan Raya kota Palangka Raya pada pukul 14.00 WIB sampai dengan 014.30 WIB.

117

Subjek penelitian yang berinisial SK merupakan salah satu pegawai penyuluh Agama Ahli Muda sekaligus sebagai PPN di KUA Kecamatan Jekan Raya kota Palangka Raya.. Adapun pendidikan terakhir dari subjek adalah S1- Tarbiyah. Penulis melakukan wawancara secara langsung pada tanggal 14 Maret 2019 di KUA Kecamatan Jekan Raya kota Palangka Raya pada pukul 13.10 WIB sampai dengan 13.50 WIB.

118

MJ berprofesi sebagai pejabat Penyuluh Agama Islam merangkap PPN di KUA Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya dimana pendidikan terakhirnya adalah strata satu atau sebagai seorang sarjana. Penulis melakukan wawancara langsung pada tanggal 19 Maret 2019 di KUA Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya pada pukul 15. 35 WIB sampai dengan 16.00 WIB.

pemalsuan identitas, tetapi kita selaku lembaga pencatatan dan pemeriksaan pernikahan sanggat mengapreriasi ade mahasiswa cepat tanggap terhadap fenomena tersebut dan menurut saya kita wajib mencegah atau memperbaiki jikalau dikemudian hari juga terjadi di Kota Palangka Raya. Mengingat juga bahwa menikahkan orang yang salah maka akan berlaku hukum zina selamanya, kita sebagai saksi perninakahanpun akan ikut terlibat dalam persaksian tersebut. Apalagi sekarang sudah canggih, pihak KUA dengan SIMKAH

online nya dengan mudah memvalidasi data pernikahan karena data

pernikahan SIMKAH tersingkron dengan data kependudukan yang ada di DUKCAPIL.119

Selanjutnya penulis mewawancarai informan MH yang meruapakan Kepala Seksi BIMAS Islam Kementerain Agama Kota Palangka Raya. Informan MH berpendapat sebagai berikut :

Yah memang saya juga pernah mendengar terjadi pemalsuan identitas di beberapa daerah di Indonesia. Tentu tindakan tersebut banyak merugikan para pihak dan mengakibatkan kebanyakan pernikahan mereka batal. Kami sebagai lembaga pengawas KUA, selama saya jadi Kadis BIMAS dari 2011 hingga sekarang masih belum pernah terjadi pelaporan ke kami mengenai pemalsuan identitas di ruang lingkup KUA se-Kota Palangka Raya. Kami selalu mengingatkan KUA agar selalu memenuhi dengan baik prosedur hukum yang telah ada, apalagi sekarang ada SIMKAH online yang mana dalam hal memvalidasi kebenaran data lebih mudah dan akurat karena terhubung dengan data kependudukan di DUKCAPIL. Dan juga lewat penelitian ini saya menghimbau kepada masyarakat khususnya masyarakat kota Palangka Raya agar jangan sungkan untuk melapor jikalau menemukan adanya pemalsuan identitas calon pengantin ke BIMAS Islam, karena kita ingin mengajak masyarakat agar sama-sama menjaga kemurnian acara sakral (pernikahan) tersebut.120

Kesemua pendapat di atas merupakan pendapat dari pejabat-pejabat di ruang lingkup Kementerian Agama. Penulis juga mewawancarai pihak

119 Perolehan data tersebut bersumber dari subjek bernama AN yang menjabat sebagai Penghulu fungsional di KUA Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya. Adapun pendidikan terakhir dari subjek adalah S1 Syariah. Wawancara yang penulis lakukan tepat pukul 15.00-15.30 WIB tanggal 19 Maret 2019 bertempat di KUA Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya.

SIMKAH. Informan AI berpendapat sebagai berikut :

Kalau menanggapi isu tentang pemalsuan identitas, menurut saya ada beberapa penyebabnya, yaitu 1) Oknum ingin cepat-cepat berurusan, maka dari itu menggunakan calo, padahal calo itu biasanya karena banyak juga yang ditangani mengambil jalan yang mudah juga dan cepat yaitu memalsukan proses pembuatan kartu identitasnya. 2) Biasanya masyarakat tidak jujur dan takut ketahuan makanya memberikan data yang salah. Misalnya bisa terjadi 2 kali perekaman ditempat yang berbeda sehigga terjadi double NIK dan alamat yang kurang jelas. 3) Karena berurusan melalui proses dan atrian yang panjang. 4) Tidak melapor terhadap perbaharuan identitas. 5) Fikiran licik manusia yang berusaha mengelabui orang lain.121

Dokumen terkait