• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

4.1. Perilaku Menyimpang dalam Novel Negeri para Bedebah

4.1.5 Pemalsuan

Pemalsuan atau penipuan adalah sebuah kebohongan yang dibuat untuk keuntungan pribadi tetapi merugikan orang lain.

Pemalsuan yang terjadi dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 dapat dilihat pada paragraf berikut ini:

”Aku mengusap wajah, menuggu ruangan kembali hening, lantas berkata perlahan, Kunci solusinya hanya tiga kata: rekayasa, rekayasa, dan rekayasa. Itu saja. Sejak zaman Firaun, sejak zaman Xerxes dari Persia, hanya itu solusi menghadapi krisis ekonomi besar. Termasuk bagaimana menyelamatakan uang kalian yang telanjur terbenam di perusahaan terancam bangkrut”. (Tere Liye. 2012:16).

Pada paragraf di atas menjelaskan bahwa kunci solusi yang dijelaskan oleh Thomas pada peserta rapat untuk menghadapi krisis ekonomi besar dalam perusahaan yang terancam bangkrut adalah rekayasa, rekayasa dan rekayasa demi menyelamatkan uang yang sudah disimpan dalam perusahaan tersebut.

Contoh lain dari penipuan selanjutnya yang terdapat dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 dapat dilihat pada paragraf berikut ini:

”Meski amatiran, selalu seru satu-dua pulang dengan wajah lebam, mereka terpaksa berbohong pada istri masing-masing bilang terjatuhlah. Theo tertawa”. (Tere Liye.

2012:31).

Dapat dilihat pada paragraf di atas adanya sebuah alasan untuk penipuan. Penipuan sama halnya dengan berbohong. Kebohongan yang di buat peserta club pertarungan yaitu membohongi para istrinya yang sedang dirumah dan salah satu tokohnya adalah Theo.

Penipuan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam Novel Negeri Para Bedebah Episode 1-14 merupakan penyimpangan perilaku yang tidak jujur.

Contoh penipuan selanjutnya yang terdapat dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 dapat dilihat pada paragraf berikut ini:

”Apakah polisi di luar tahu bahwa Tante sudah siuman? Aku bertanya pada orang-orang di dalam kamar. Dokter menggeleng. Belum ada yang memberitahu mereka. Itu kabar bagus. Aku menggepalkan tinju”. (Tere Liye. 2012:47).

”Baik dengarkan aku! Aku meminta perhatian seluruh orang yang berada di dalam kamar, mataku menatap tajam ke setiap orang. Kalian semua akan menutup mulut hingga semua urusan selesai”. (Tere Liye. 2012:47).

”Bilang ke polisi di luar, kondisi Tante Liem semakin parah. Aku menarik salah satu perawat itu sebelum keluar dari ruangan. Kalau mereka bertanya detail, jangan dijawab, dan jangan pernah biarkan mereka mendekati pintu kamar ini. Kau mengerti?

Perawat itu mengangguk meski masih dengan wajah bingung. Apa..apa yang sedang kaulakukan, Tom? Om Liem bertanya gugup. Menyelamatkan seluruh keluarga ini.

Apa lagi? Aku berseru cepat. Kau, ya kau bantu melepas infus dari tangan Tante Liem. Segera! Aku meneriaki dua perawat yang tersisa di kamar”. (Tere Liye.

2012:47-48).

”Astaga? Apa lagi yang ingin kalian tahu! Aku memasang badan agar mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Nyonya rumah terbaring sekarat, dia butuh segera dibawa ke rumah sakit. Tuan rumah tidak akan ke mana-mana. Lihat, dengan memakai tongkat, tangkapan kalian tidak akan bisa kabur dari sini, bahkan berjalan seratus meter pun dia tidak akan kuat. Para petugas saling lirik. Kalian akan terus menonton, atau lebih baik menuggu di ruang depan? Aku melotot. Percayalah, setelah nyonya rumah dibawa pergi oleh ambulans, kalian dengan mudah bisa memborgol Tuan Liem. Besok kalian akan mendapatkan kenaikan pangkat atas tangkapan hebat ini. Komandan polisi terlihat ragu-ragu, tetapi aku sudah balik kanan, kasar menutup pintu. Kau naik ke atas ranjang dorong, aku mendesis. Om Liem tampak bingung”.

”Om Liem patah-patah naik, berbaring. Aku segera menyuruh dua perawat bekerja di bawah ancaman stick golf. mereka takut-takut segera menyelimuti tubuh tua itu, memasang masker di wajah, memasang penutup kepala, infus, alat bantu pernapasan, apa saja yang bisa membuat kamuflase”. (Tere Liye. 2012:50).

”Aku akan menukar Om Liem. Rencana ini nekat, meski perawat sudah berusaha membuat tampilan Om Liem terbaring tidak dikenali lagi dengan selimut dan peralatan medis. Jika ada salah satu petugas polisi yang detail memeriksa, mereka dengan cepat akan tahu. Tetapi dalam kondisi panik, darurat, pukul dua dini hari, tetap ada kemungkinan skenario ini berhasil”. (Tere Liye. 2012: 50).

”kalian aku menunjuk empat perawat yang masih gentar melihat stick golf yang kupegang. Bantu aku berpura-pura seperti situasi darurat. Berteriak-teriak, suruh menyingkir polisi yang berjaga di ruang tengah. Kau, dok, pimpin rombongan paling depan, bertingkahlah seperti dokter yang galak dalam situasi darurat. Kau paham?

Dokter dihadapanku menelan ludah, aku mengacungkan stick golf tinggi-tinggi”.

(Tere Liye. 2012:51).

”Kalian tahan polisi selama kalian bisa, berbual, karang alasan, bilang Om Liem tiba-tiba sakit perut, ada di toilet, atau bilang Om Liem memanjat jendela, kabur ke taman belakang”. (Tere Liye. 2012:51).

Pada paragraf di atas dapat dilihat bahwa Thomas yang berusaha keras ingin menyelamatkan Om Liem dari tangkapan polisi di rumahnya. Thomas bekerja sama dengan Dokter, perawat-perawat, serta orang-orang yang ada di dalam kamar. Thomas memerintahkan pada seluruh orang-orang yang ada di dalam kamar segera membantu proses pelarian mereka. Pada halaman-49 Thomas berhasil menipu polisi yang sedang berjaga di depan pintu kamar Om Liem, penipuan berlangsung dengan cara Thomas sendiri. Thomas keluar dari pintu kamar lalu mengatakan pada polisi yang sedang berjaga: apa lagi yang ingin kalian tahu! Aku memasang badan agar mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam.

Nyonya rumah terbaring sekarat, dia butuh segera dibawa ke rumah sakit. Tuan rumah tidak akan ke mana-mana. Percayalah, setelah nyonya rumah dibawa pergi oleh ambulans, kalian dengan mudah bisa memborgol Tuan Liem. Besok kalian akan mendapatkan kenaikan pangkat atas tangkapan hebat ini. Komandan polisi terlihat ragu-ragu, tetapi aku sudah balik kanan, kasar menutup pintu.

Penipuan selanjutnya yang terjadi dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 dapat dilihat pada paragraf berikut ini:

”rencana menukar Om Liem dengan Tante sejauh ini berhasil”. (Tere Liye. 2012:53).

Dilihat pada paragraf di atas bahwa rencana Thomas untuk menukar Om Liem dengan Tante ternyata berhasil dari tangkapan polisi dirumahnya.

Novel Negeri para Bedebah memasukkan unsur penipuan dalam rangkaian ceritanya.

Dalam novel ini penipuan atau pemalsuan dituliskan sebagai salah satu unsur yang menguatkan kesan bahwa novel ini tokoh-tokohnya melakukan perilaku menyimpang.

Berikut ini beberapa penggalan paragraf dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 yang menunjukkan penipuan:

”Semua orang di kamar kompak bilang kau telah mengancam, lantas pergi begitu saja melarikan Om Liem, tidak tahu hendak ke mana”. (Tere Liye. 2012:55).

”telepon sebanyak mungkin rumah sakit, laporkan situasi palsu, bilang ada keadaan darurat di sembarang tempat, suruh mereka mengirim ambulans. Aku ingin satu menit lagi ada belasan ambulans berkeliaran di jalanan kota, itu akan mengelabui polisi yang sedang melakukan pengejaran. Waktuku bukan menit, Ram, tapi detik, jadi bergegaslah”. (Tere Liya. 2012:56).

Selanjutnya pada paragraf di atas menjelaskan bahwa Ram dan orang-orang yang ada di dalam kamar kompak mensiasati polisi bahwa Thomas la yang telah mengancam mereka lalu melarikan Om Liem yang tidak tahu ke mana. Ram juga membantu Thomas dalam melaporkan situasi palsu, menelpon banyak rumah sakit agar dikirimkan segera banyak ambulans yang berkeliaran di kota ketika polisi melakukan pengejaran pada Thomas dan Om Liem.

Penipuan selanjutnya yang terjadi dalam Novel Negeri para Bedebah Episode 1-14 dapat dilihat pada paragraf berikut ini:

”Istri Tuan ini amat pemarah dan selalu curiga, aku berbisik, pura-pura merendahkan suara, menunjuk dengan ujung siku ke arah Om Liem yang terus berjalan di lorong garbarata. “kalau saja istrinya tahu kami tertunda enam jam, apalagi dua belas jam, orang tua malang itu habis diomeli. Astaga, kau tidak bisa membayangkan bagaimana istrinya marah. Aku meniru ekspresi galak seorang wanita tua. Jadi, demi istrinya yang pemarah itu, tolong catat manifes penerbangan bahwa kami tetap berangkat.

Gadis di hadapanku tertawa. Kau bisa melakukannya? Dia mengangguk. Aku ikut mengangguk takzim. Melambaikan tangan”. (Tere Liye. 2012:67).

Perilaku menyimpang di atas menjelaskan bahwa Thomas menipu sekaligus memerintahkan pramugari pesawat dengan mengatakan catat manifes penerbangan bahwa mereka tetap berangkat ke luar negeri, kalau tidak istrinya Tuan (Tante Liem) marah dan selalu curiga bahwa pada saat itu pesawat mereka tertunda enam jam.

Dokumen terkait