• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KELAYAKAN ASPEK NON FINANSIAL

B. Manajemen Air

2. Pemanenan dan Sortasi Benih

Proses persiapan pengepakan dilakukan mulai 2 hari sebelum pemanenan. Proses persiapan pengepakan antara lain: persiapan bahan baku, pengikatan kantong plastik, dan pengisian tabung oksigen. Bahan baku yang dibutuhkan adalah plastik ukuran 60 cm x 40 cm, karet, gas oksigen, dan Elbayou. Satu kantong berisi 1 000 ekor benih dan dibutuhkan 2 buah kantong plastik, 8 buah karet, dan larutan Elbayou sebanyak 50 ml per kantong. Proses pemanenan dan sortasi benih ukuran 3/4 inci dilakukan pada hari ke-15, hari ke-18, dan hari ke-21.

Peralatan panen dan sortasi yang dibutuhkan adalah serokan halus, bak fiber

bulat, baskom, gelas, selang aerasi, blower kecil, centong, ember grading, dan selang penyedot air. Langkah pertama adalah air dibuang sebesar 62.5 persen, kemudian benih dijaring dan dipindahkan ke dalam baskom secara hati-hati. Benih dipindahkan ke bak fiber untuk melewati tahap sortasi.

Proses sortasi merupakan proses seleksi benih berdasarkan pada keseragaman ukuran dengan ember grading. Tujuan sortasi adalah menyeragamkan ukuran benih dan mengategorikan benih berdasarkan pada grade

dan harga. Pengelompokkan benih, yaitu benih ukuran kurang dari 3/4 inci dan benih ukuran 3/4 inci. Benih yang memiliki bobot lebih dari 0.025 g akan tersangkut di ember grading, sedangkan bobot benih yang kurang dari 0.025 g

59 keluar dari ember grading dan dikembalikan ke akuarium. Benih yang tidak lolos tahap seleksi dipelihara di dalam akuarium dengan padat tebar 25 000 ekor per akuarium atau 32 ekor per liter. Pengobatan untuk mengurangi stres dan mengobati luka-luka dilakukan setelah sortasi dengan racikan obat yang terdiri atas: 5 g Elbayou, 5 g Supertetra, 5 g Mr.Fish Probio, dan 7.5 l air. Larutan obat dituangkan ke dalam setiap akuarium sebanyak 250 ml.

Proses pengepakan dilakukan beberapa jam sebelum pembeli tiba atau pengiriman langsung ke lokasi pembeli. Apabila jumlah benih yang dikemas banyak, maka teknik menghitung benih adalah sampling. Sampling merupakan proses menghitung benih sebanyak 1 000 ekor per gelas dengan centong plastik dan gelas tersebut diberi tanda dengan karet. Setelah seluruh kantong terisi benih, air, dan Elbayou, maka kantong tersebut diisi oksigen secukupnya dan diikat menggunakan karet sebanyak 2 buah dengan rapat. Proses panen benih, sortasi benih, sampling, dan pengepakan ditunjukkan pada Gambar 26.

Proses Pembenihan Ikan Patin Siam dengan Teknik Inkubasi Telur Menggunakan Sistem Corong Resirkulasi

Proses pembenihan ikan patin siam dengan sistem corong resirkulasi mengalami perubahan mulai dari proses manajemen induk hingga proses penetasan telur agar derajat penetasan telur dapat mendekati nilai sebesar 80.67 persen ≈ 81 persen sesuai hasil riset Iswanto dan Tahapari (2010) dengan menggunakan sistem corong resirkulasi. Skema proses pembenihan ikan patin siam dengan sistem corong resirkulasi terdapat dalam Lampiran 2. Teknik pembenihan ikan patin siam dengan sistem corong resirkulasi adalah sebagai berikut:

1. Tahap Manajemen Induk

Iswanto dan Tahapari (2010) memberikan pakan induk sebesar 2 persen biomassa per hari. Total bobot induk yang dipelihara diperkirakan seberat 1 275 kg atau 1.28 ton. Rata-rata bobot induk betina adalah 3 kg per ekor dan berjumlah 300 ekor, sementara rata-rata bobot induk jantan adalah 2.5 kg per ekor dan berjumlah 150 ekor. Oleh sebab itu, jumlah pemberian pakan ditingkatkan menjadi 26 kg per hari. Jenis pelet yang digunakan tidak berubah karena kandungan protein antara 31 persen dan 33 persen telah memenuhi Standar Nasional Indonesia.

2. Tahap Persiapan Pemijahan Buatan

Sterilisasi Hatchery, Unit Penetasan Telur, dan Peralatan Pemijahan Unit penetasan telur perlu disterilisasi, yakni mencuci dan mengeringkan corong-corong penetasan, wadah penampungan larva, wadah panen larva, dan bak filter beserta komponen bahan filter dengan cara dijemur. Corong-corong penetasan diberi bubuk Kalium Permanganat sebanyak 20 ppm (20 mg l-1) selama

60

30 menit untuk menghindari kontaminasi jamur atau bakteri (Khairuman dan Sudenda 2009). Langkah selanjutnya mengisi air bersih dari kolam treatment

menuju ke bak filter. Pompa air dinyalakan untuk mengecek kinerja sistem resirkulasi air selama 24 jam. Proses sterilisasi unit penetasan telur dilakukan pada hari kedua sejak siklus dimulai.

Seleksi Induk

Jumlah seleksi induk betina adalah 11 ekor per siklus untuk pemijahan di

hatchery ke-1 dan 12 ekor per siklus untuk pemijahan di hatchery ke-2. Alasan penggunaan jumlah induk betina sebanyak 11 ekor per siklus dan 12 ekor per siklus selain batas minimum seleksi induk betina adalah penyesuaian kapasitas maksimum pemeliharaan larva di hatchery ke-1 sebanyak 2 800 000 ekor per siklus dan 3 150 000 ekor per siklus di hatchery ke-2 dengan padat penebaran larva sebanyak 88 ekor per liter.

Pemberokan

Proses pemberokan adalah mempuasakan induk sebelum disuntik selama 6 jam. Induk jantan dan induk betina dipisahkan agar proses penangkapan induk lebih mudah, sehingga ovulasi induk betina tidak terlambat.

3. Tahap Pemijahan Buatan

Penyuntikan Hormon

Induk yang telah diberokan terlebih dahulu ditimbang untuk mengetahui dosis hormon yang dibutuhkan. Penyuntikan pertama dengan hormon Chorulon sebanyak 500 IU kg-1 bobot induk betina. Penyuntikan kedua menggunakan Ovaprim dengan dosis 0.6 ml kg-1 bobot induk betina. Penyuntikan induk jantan menggunakan Ovaprim dengan dosis 0.2 ml kg-1 induk dan waktu penyuntikan induk jantan dilakukan bersamaan saat penyuntikan kedua induk betina (Iswanto dan Tahapari 2010). Selang waktu antara penyuntikan pertama dan penyuntikan kedua adalah 24 jam.

Inkubasi Induk

Inkubasi induk pertama merupakan proses menunggu induk betina mendapat giliran penyuntikan kedua dengan Chorulon selama selang waktu 24 jam. Inkubasi induk kedua adalah proses menunggu induk betina dan induk jantan memasuki masa waktu ovulasi selama 10 jam.

Stripping dan Pembuahan Buatan

Menurut Mahyuddin (2010) dan Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (2011b), teknologi pembenihan ikan patin siam dengan sistem corong resirkulasi menerapkan metode pembuahan sistem basah. Pembuahan basah adalah mengeluarkan sperma terlebih dahulu dan dicampur dengan NaCl dan dilanjutkan dengan mengeluarkan telur untuk dicampur dengan larutan sperma. Stripping

pertama bertujuan mengeluarkan sperma induk jantan langsung ditampung dalam botol yang telah berisi larutan 0.9 persen NaCl fisiologis buatan PT Widatra Bhakti dengan perbandingan volume sperma dan volume NaCl fisiologis sebanyak 1:5 (Iswanto dan Tahapari 2010). Sperma dan larutan NaCl fisiologis dicampur merata dan disimpan pada suhu antara 0 0C dan 5 0C (BPPI 2013b).

Stripping kedua bertujuan mengeluarkan telur dari induk betina dan dicampur larutan sperma dengan cara diaduk sekitar 1 menit. Kumpulan telur ditimbang untuk mengetahui bobot telur. Selanjutnya kumpulan telur dicampur dengan larutan sperma. Setiap 100 g telur dibuahi oleh 20 ml larutan sperma (Mahyuddin 2010). Aktivasi proses pembuahan menggunakan air mineral Aqua

61 buatan PT Tirta Investama (Iswanto dan Tahapari 2010) secukupnya dan diaduk sekitar 1 menit. Lalu kumpulan telur dicuci dan dibilas hingga bersih.

Penghilang daya rekat menggunakan larutan lumpur tanah liat. Lumpur tanah yang telah dibersihkan dicampur dengan air mendidih. Larutan tanah liat terdiri atas 1 kg tanah liat dan 2 l air. Setiap 100 ml larutan tanah liat yang telah disaring digunakan untuk 200 g telur (Slembrouck et al. 2005). Tujuannya adalah memisahkan telur yang saling menempel dan diaduk hingga merata dengan bulu ayam. Kemudian telur dibilas dengan air sampai bersih.

4. Tahap Penetasan Telur

Penebaran Telur

Cara penebaran telur yang telah dibilas adalah telur dimasukkan ke dalam corong maksimum 300 g dan keran inlet air dimatikan. Setelah telur-telur tenggelam, selanjutnya keran inlet diatur debit airnya antara 36 ml per detik dan 76 ml per detik. Telur-telur terus bergerak melalui dorongan air hasil resirkulasi dari drum penampungan air melalui pipa 1/2 inci secara gravitasi. Larva dan sisa cangkang akan bergerak ke atas dan mengalir melalui bak penampungan larva melalui pipa 1 inci. Larva akan tertahan di hapa, sementara air sisa penetasan telur keluar melalui pipa 2 inci menuju ke bak filter melalui proses filtrasi. Air hasil filtrasi tersirkulasi kembali menuju ke drum penampungan air dengan menggunakan pompa air untuk dialirkan ke corong-corong selama 24 jam. Aerasi dipasang di bak penampungan larva agar kandungan oksigen terlarut terjaga. Suhu penetasan telur menggunakan lampu penerangan yang tepat berada di atas corong- corong dan suhu ruangan ditingkatkan menggunakan kompor.

Fekunditas induk betina sebanyak 120 000 butir per kg. Pemijahan di

hatchery ke-1 menggunakan 11 ekor induk ikan patin siam betina, sehingga telur yang dihasilkan sebanyak 3 960 000 butir per siklus. Pemijahan di hatchery ke-2 menggunakan 12 ekor induk ikan patin siam betina, sehingga telur yang dihasilkan sebanyak 4 320 000 butir per siklus. Batas maksimum telur yang ditebar sebanyak 3 600 butir per corong, sehingga pemijahan di hatchery ke-1 membutuhkan 11 corong dan pemijahan di hatchery ke-2 membutuhkan 12 corong. Penggunaan corong saat musim kemarau berkurang 50 persen.

Penetasan Telur dan Panen Larva

Proses penetasan telur (inkubasi telur) berlangsung selama 24 jam. Proses pemanenan larva dilakukan secara bertahap ke dalam bak panen larva. Setelah 24 jam berakhir, larva dipanen dan ditebar ke dalam akuarium. Penerapan sistem corong resirkulasi memanfaatkan kapasitas maksimum padat penebaran larva sebanyak 88 ekor per liter dengan ketinggian air 40 cm atau 45 cm. Selanjutnya proses pengobatan seperti kondisi aktual. Setelah proses penetasan telur berakhir, air dalam bak filter maupun sisa penetasan telur dibuang dan dicuci.

Dokumen terkait