• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. GAMBARAN UMUM

5.4. Proses Produksi dan Penggunaan Input

5.4.7. Pemanenan

Pemanenan dilakukan apabila buah jambu biji telah matang, ditandai dengan tangkai buah tampak kekuningan dan kulit buah bertekstur halus dan tipis, warna buah telah berubah dari hijau pekat menjadi hijau muda keputihan, daging buah agak lunak dan berwarna merah muda. Apabila jambu biji akan dikirim ke pasar besar atau untuk ekspor, pemanenan dilakukan pada saat buah jambu biji masih hijau namun sudah agak matang. Jambu biji merupakan tanaman yang berbuah sepanjang tahun, sehingga pemanenan buah dapat dilakukan 2 kali dalam seminggu sepanjang tahun. Selama setahun tanaman jambu biji dapat berbunga sampai tiga kali, sehingga periode panen besar yaitu pada saat awal buah jambu

68 biji matang secara bersamaan bisa terjadi 2 kali dalam setahun pada tanaman yang telah tumbuh secara produktif. Cara pemanenan yang baik yaitu dipetik berserta tangkainya dan dapat juga dilakukan pemangkasan secara bersamaan. Biasanya pemanenan dilakukan dengan menggunakan alat bantu gunting pangkas atau dipetik secara langsung. Waktu pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena bobot buah pada pagi hari dalam keadaan optimal akibat penimbunan zat makanan pada malam hari dan buah belum terkena sinar matahari, sehingga belum terjadi penguapan. Pemanenan dilakukan langsung oleh pedagang pengumpul di kebun jambu biji, sehingga biaya pemanenan ditanggung oleh pedagang pengumpul.

Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani jambu biji seluruhnya adalah tenaga kerja pria dengan satuan Hari Kerja Pria (HKP). Biaya tenaga kerja per HKP adalah Rp 35.000 selama delapan jam, yaitu petani bekerja mulai dari pukul 06.00 – 12.00 kemudian dilanjutkan pada pukul 13.00 – 15.00. Besarnya penggunaan setiap input variabel per Ha untuk tanaman jambu biji dijelaskan pada Tabel 10.

Tabel 10. Rata-rata Penggunaan Input Usahatani Jambu Biji per Ha Tahun 2009

Sumber: Data primer, diolah (2010)

69 VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN

PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM).

PAM juga dapat digunakan untuk menganalisis keuntungan finansial dan ekonomi serta dampak kebijakan pemerintah terhadap usahatani jambu biji dengan indikator transfer output, transfer input, transfer faktor, NPCO, NPCI, EPC, PC, dan SRP. Matriks ini tersusun dari komponen penerimaan, input tradable, input non tradable, dan keuntungan yang dipisahkan dalam dua analisis, yaitu ekonomi dan finansial. Hasil perhitungan menggunakan PAM untuk usahatani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal secara singkat dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Matriks Analisis Kebijakan untuk Usahatani Jambu Biji di Kecamatan Tanah Sareal Tahun 2009 (Rp/Ha)

Uraian Penerimaan Biaya Input Keuntungan

Tradable Non Tradable

Privat 26.466.265 422.896 12.710.215 13.333.154 Sosial 40.045.866 405.340 10.074.093 29.566.434 Dampak

Kebijakan

-13.579.602 17.556 2.636.122 -16.233.280

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

6.1. Analisis Keuntungan Finansial dan Ekonomi

Berdasarkan perhitungan PAM pada Tabel 11, usahatani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal dapat dikatakan menguntungkan secara ekonomi dan finansial karena menghasilkan nilai keuntungan yang positif. Akibat distorsi perdagangan yang dilakukan pemerintah, petani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal memperoleh keuntungan sebesar Rp 13.333.154/Ha. Hal tersebut disebabkan usahatani ini menghasilkan penerimaan yang lebih besar dari biaya produksinya. Apabila pasar jambu biji berada dalam kondisi pasar persaingan sempurna dan tanpa ada distorsi kebijakan, produsen jambu biji mampu

70 memperoleh keuntungan sebesar Rp 29.566.434/Ha. Besarnya keuntungan sosial disebabkan oleh penerimaan sosial jambu biji yang tinggi karena harga sosial jambu biji yang tinggi. Penggunaan input tradable (pupuk anorganik) yang rendah akan mengurangi biaya produksi yang mengandung komponen impor, sehingga mampu meningkatkan keuntungan sosial usahatani jambu biji. Berdasarkan hasil perhitungan dari Tabel 11, kemudian dapat dilakukan perhitungan lebih lanjut untuk menganalisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah yang dilihat dari indikator-indikator pada Tabel 12.

Tabel 12. Indikator-Indikator PAM pada Usahatani Jambu Biji di Kecamatan Tanah Sareal Tahun 2009

No. Indikator Nilai

1. Keuntungan Privat (PP) (Rp/Ha) 13.333.154

2. Keuntungan Sosial (SP) (Rp/Ha) 29.556.434

3. Rasio Biaya Privat (PCR) 0,488

4. Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) 0,254

5. Transfer Output (TO) (Rp/Ha) -13.579.602

6. Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) 0,661

7. Transfer Input (TI) (Rp/Ha) 17.556

8. Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) 1,043

9. Transfer Faktor (TF) (Rp/Ha) 2.636.122

10. Koefisien Proteksi Efektif (EPC) 0,657

11 Transfer Bersih (NT) (Rp/Ha) -16.233.393

12. Koefisien Keuntungan (PC) 0,451

13. Rasio Subsidi Produsen (SRP) -0,405

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

6.2. Analisis Daya Saing

Analisis daya saing usahatani jambu biji diukur melalui keunggulan komparatif dan kompetitif. Keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dilihat dari sisi produsen, sedangkan keunggulan komparatif merupakan keunggulan yang dilihat dari sisi komoditas (jambu biji) ketika tanpa ada distorsi kebijakan pemerintah.

71 6.2.1. Keunggulan Kompetitif

Keunggulan Kompetitif dapat dilihat dari indikator nilai PCR. Berdasarkan pada Tabel 12, nilai PCR diperoleh sebesar 0,488 artinya untuk meningkatkan nilai tambah output sebesar 100 persen usahatani tersebut membutuhkan biaya faktor domestik sebesar 48,8 persen. Semakin kecil nilai PCR, maka usahatani jambu biji ini semakin efisien secara privat dan semakin besar keunggulan kompetitifnya. Usahatani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal dikatakan telah mampu membiayai faktor domestik pada harga privat. Hal ini disebabkan oleh usahatani tersebut bisa memperoleh penerimaan yang lebih besar dari biaya produksinya, sehingga bisa menghasilkan keuntungan dan mempertahankan kelangsungan produksi.

6.2.2. Keunggulan Komparatif

Efisiensi dalam penggunaan sumberdaya ketika tidak ada distorsi perdagangan dilihat dari Biaya Sumberdaya Domestik (DRC). Nilai DRC tersebut yang juga digunakan sebagai indikator keunggulan komparatif usahatani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal. Berdasarkan pada Tabel 12, nilai DRC yang diperoleh adalah 0,254, artinya untuk meningkatkan nilai tambah output jambu biji sebesar 100 persen, diperlukan biaya korbanan sumberdaya domestik sebesar 25,4 persen. Secara ekonomi pemenuhan permintaan domestik lebih menguntungkan dengan meningkatkan produksi domestik dibandingkan mengimpor dari luar negeri. Semakin kecil nilai DRC, maka usahatani tersebut semakin efisien dalam penggunaan sumberdaya dan usahatani tersebut dapat dikatakan efisien secara ekonomi dan memiliki keunggulan komparatif.

72 6.3. Dampak Kebijakan

Kebijakan pemerintah dalam aktivitas ekonomi dapat memberikan dampak postif atau negatif bagi para pelaku ekonomi, demikian pula dengan usahatani jambu biji. Kebijakan pemerintah dapat berupa subsidi, pajak, dan penentuan tarif impor. Dampak kebijakan pemerintah bisa dilihat melalui beberapa indikator dalam PAM, yaitu kebijakan terhadap output (Transfer Output/ TO, Koefisien Proteksi Output Nominal/ NPCO), kebijakan terhadap input (Transfer Input/ TI, Koefisien Proteksi Input Nominal/ NPCI, Transfer Faktor/ TF), dan kebijakan input-output (Koefisien Proteksi Efektif/ EPC, Transfer Bersih/NT, Koefisien Keuntungan/ PC, Rasio Subsidi bagi Produsen/ SRP).

6.3.1. Kebijakan Pemerintah terhadap Output

Kebijakan pemerintah terhadap output menyebabkan perbedaan harga output pada tingkat harga privat maupun sosial. Hal ini bertujuan untuk melindungi produsen atau konsumen output. Kebijakan terhadap output dilihat dari transfer output (TO) dan koefisien proteksi terhadap output (NPCO).

Berdasarkan hasil perhitungan PAM pada Tabel 12, nilai TO sebesar negatif Rp 13.579.602/Ha. Nilai TO yang negatif mengindikasikan bahwa penerimaan privat lebih rendah dari penerimaan sosial. Hal ini disebabkan oleh harga domestik jambu biji lebih rendah dari harga sosialnya. Dapat dikatakan bahwa konsumen dalam negeri membeli jambu biji dengan harga yang lebih rendah dari harga yang seharusnya dibayar dibandingkan apabila pasar tidak terdistorsi atau tanpa kebijakan pemerintah. Namun kebijakan ini menguntungkan konsumen dalam negeri, sehingga menimbulkan transfer (insentif) dari petani kepada konsumen.

73 Dampak kebijakan terhadap output juga dilihat dari nilai NPCO. Nilai NPCO jambu biji sebesar 0.661 (NPCO < 1), menunjukkan bahwa penerimaan domestik jambu biji lebih rendah 33,91 persen dari penerimaan sosialnya. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan pemerintah dalam memproteksi petani (petani) jambu biji masih belum efektif, sehingga penerimaan yang diterima oleh petani menjadi lebih rendah. Namun pada kenyataannya tidak ada kebijakan pemerintah yang benar-benar terjadi pada komoditi jambu biji. Rendahnya harga jambu biji yang diterima petani disebabkan oleh ketidakefektifan peran kelompok tani dan kurangnya pemberdayaan petani dalam penguasaan informasi harga, jaringan pasar, dan kontinuitas produksi. Hal ini membuat para petani berada dalam posisi tawar-menawar yang lemah karena petani tidak memiliki alternatif lain untuk menjual jambu biji selain kepada pedagang pengumpul.

6.3.2. Kebijakan Pemerintah terhadap Input

Kebijakan pemerintah tidak hanya berpengaruh terhadap output, tapi juga berpengaruh terhadap input. Kebijakan tersebut berupa subsidi (positif atau negatif) dan hambatan perdagangan (penetapan tarif atau kuota) agar produsen dapat memanfaatkan sumberdaya secara optimal dan pemerintah dapat melindungi produsen dalam negeri. Ukuran besarnya insentif pemerintah terhadap input produksi usahatani jambu biji dapat dilihat dari nilai Transfer Input (TI), Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI), dan Transfer Faktor (TF).

TI merupakan indikator untuk melihat besarnya divergensi (distorsi kebijakan) yang dikenakan pada input tradable. Berdasarkan Tabel 12, nilai TI adalah Rp 17.556 dalam 1 Ha. Nilai TI yang positif menunjukkan terdapat

74 kebijakan pemerintah terhadap input tradable berupa pajak pada obat-obatan tanaman jambu biji dan herbisida serta pajak pada input plastik pembungkus.

Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) menunjukkan besarnya tingkat insentif yang diberikan pemerintah terhadap input tradable. Berdasarkan Tabel 12, nilai NPCI diperoleh sebesar 1,043. NPCI yang lebih besar dari satu menunjukkan bahwa terdapat kebijakan pemerintah berupa pajak terhadap input, sehingga petani membayar input lebih tinggi 4,33 persen dari harga sebenarnya.

Hal ini menyebabkan transfer dari konsumen input (petani) kepada produsen input.

Transfer Faktor (TF) menunjukkan dampak kebijakan pada input faktor domestik seperti lahan, modal, peralatan dan tenaga kerja. Nilai TF pada usahatani jambu biji di lokasi penelitian adalah Rp 2.636.122/Ha. Nilai TF yang positif mengindikasikan bahwa terdapat pajak atau terjadi transfer dari petani kepada pemerintah dan produsen input domestik, sehingga petani harus membayar input domestik lebih tinggi dari harga sosialnya. Kebijakan tersebut adalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada obat-obatan tanaman jambu biji dan pestisida.

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa kebijakan pemerintah terhadap input belum memberikan insentif kepada petani jambu biji untuk mengembangkan usahanya. Penetapan PBB dan PPN pada input menyebabkan biaya produksi menjadi lebih besar dari yang seharusnya dibayarkan petani.

Walaupun demikian, usahatani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal mampu menghasilkan produksi yang lebih besar, sehingga petani memperoleh keuntungan dan bisa mempertahankan kelangsungan produksi dalam usahatani jambu biji.

75 6.3.3. Kebijakan Pemerintah terhadap Input-Output

Kebijakan pemerintah terhadap input-output merupakan analisis gabungan dari kebijakan input dan kebijakan output. Dampak dari kebijakan tersebut dapat dijelaskan melalui indikator-indikator seperti nilai Koefisien Proteksi Efektif (EPC), Transfer Bersih (NT), Koefisien Keuntungan (PC), dan Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP). Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 12, nilai EPC usahatani jambu biji adalah 0,657. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa nilai tambah yang diperoleh petani (privat) lebih rendah daripada nilai tambah yang seharusnya diterima (sosial). Hal ini berarti pengaruh instrumen kebijakan pemerintah terhadap input berupa PBB dan PPN serta harga domestik jambu biji yang lebih rendah dari harga sosialnya menimbulkan dampak disinsentif bagi pengembangan produksi jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal.

Indikator lain yang menunjukkan dampak kebijakan proteksi pemerintah terhadap petani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal adalah Transfer Bersih (NT). NT digunakan untuk melihat besarnya tambahan surplus produsen atau berkurangnya surplus produsen akibat intervensi pemerintah. Nilai NT yang negatif berarti kebijakan pemerintah yang ada terhadap input dan output masih belum memberikan insentif ekonomi untuk meningkatkan produksi, karena terjadi pengurangan surplus produsen sebesar Rp 16.233.280/Ha.

Nilai PC diperoleh sebesar 0,451 (PC<1). Nilai tersebut mengindikasikan bahwa kebijakan pemerintah terhadap input-output telah menyebabkan keuntungan privat dari usahatani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal lebih rendah sekitar 54,9 persen dari keuntungan yang seharusnya diterima petani (keuntungan sosial). Secara keseluruhan kebijakan pemerintah yang memengaruhi

76 usahatani jambu biji di lokasi penelitian masih belum memberikan insentif kepada petani dan menyebabkan keuntungan yang diterima petani (privat) lebih rendah dari keuntungan yang seharusnya diterima (sosial).

Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP) merupakan perbandingan antara nilai transfer bersih dengan nilai output yang dihasilkan pada tingkat harga sosial (penerimaan sosial). Nilai SRP menunjukkan tingkat penambahan atau pengurangan penerimaan atas suatu komoditi akibat adanya intervensi pemerintah.

Nilai SRP yang diperoleh adalah negatif 0,405 (SRP <0), artinya transfer akibat kebijakan pemerintah yang terjadi menyebabkan pendapatan petani jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal menurun sehingga menjadi lebih rendah 40,5 persen dibandingkan tanpa ada kebijakan.

Ada beberapa hal yang menyebabkan nilai tambah yang diperoleh petani jambu biji di lokasi penelitian lebih rendah dari harga sosialnya, yaitu: (1) Manajemen kelembagaan kelompok tani jambu biji yang belum efektif, sehingga tidak ada sarana yang dapat mendukung petani untuk mengetahui informasi harga dan kelembagaan pemasaran jambu biji, (2) Keterbatasan modal yang dimiliki petani sering dimanfaatkan oleh para tengkulak untuk meraih keuntungan dari petani, sehingga posisi tawar-menawar petani untuk jambu biji menjadi lemah, (3) Keterbatasan ilmu pengetahuan, kemampuan budidaya dan adaptasi teknologi yang dimiliki petani membuat petani menjadi kurang termotivasi dalam mengembangkan usahatani jambu biji dan memanfaatkan sumberdaya secara efisien, sehingga para petani terus mengandalkan bantuan dari pemerintah.

77 VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH

DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA

USAHATANI JAMBU BIJI

Analisis sensitivitas perlu dilakukan karena analisis dalam metode PAM merupakan analisis yang bersifat statis. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui perubahan pada keuntungan finansial dan ekonomi serta tingkat daya saing jambu biji di Kecamatan Tanah Sareal apabila terjadi perubahan pada kebijakan pemerintah dan faktor lainnya terhadap harga output maupun harga input.

Analisis sensitivitas yang dilakukan pada penelitian ini adalah penurunan harga jambu biji domestik dan internasional, kenaikan harga jambu biji domestik, kenaikan dan penurunan harga pupuk anorganik, penghapusan PPN 10 persen, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menguat dan melemah, serta analisis sensitivitas gabungan.

7.1. Analisis Sensitivitas terhadap Perubahan Harga Output

Analisis sensitivitas terhadap perubahan harga output meliputi penurunan harga jambu biji domestik atau internasional. Selain itu juga dilakukan analisis terhadap kenaikan harga jambu biji domestik dengan asumsi faktor lainnya tetap (ceteris paribus). Penurunan harga jambu biji internasional disebabkan oleh fluktuasi harga jambu biji di pasar pelelangan internasional jambu biji. Adapun penurunan harga jambu biji domestik disebabkan prediksi supply jambu biji yang melimpah pada saat musim panen. Tabel 13 memperlihatkan hasil dari analisis penurunan harga jambu biji domestik.

78 Tabel 13. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji dengan Penurunan

Harga Jambu Biji Domestik sebesar 15 persen (Rp/Ha)

Nilai Sebelum Setelah Perubahan (%)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

Penurunan harga jambu biji domestik menyebabkan penerimaan petani menjadi berkurang dan keuntungan privat menurun sebesar 29,77 persen. Nilai PCR meningkat menjadi 0,576 menunjukkan bahwa keunggulan kompetitif usahatani jambu biji menurun. Supply jambu biji yang melimpah menyebabkan petani harus menerima harga yang lebih rendah dari pedagang dan mengalami penurunan keuntungan. Petani tidak memiliki alternatif lain untuk menjual hasil produksi jambu biji menyebabkan posisi tawar-menawar petani menjadi lemah.

Perbandingan antara keuntungan privat dengan keuntungan sosial (PC) mengalami penurunan 13,43 persen akibat menurunnya keuntungan privat.

Tabel 14. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji dengan Penurunan Harga Jambu Biji Inernasional sebesar 17 persen (Rp/Ha)

Nilai Sebelum Setelah Perubahan (%)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

79 Penurunan harga jambu biji internasional sebesar 17 persen menyebabkan penurunan keuntungan sosial usahatani jambu biji hingga 44,27 persen. Begitu pula dengan keunggulan komparatif usahatani ini juga menurun. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan nilai DRC yang mengindikasikan bahwa kemampuan usahatani jambu biji di lokasi penelitian dalam membiayai faktor domestik pada harga sosial berkurang sebesar 12,53 persen. Penurunan keuntungan sosial menyebabkan rasio antara keuntungan privat dan keuntungan sosial (PC) meningkat sebesar 35,83 persen.

Selain penurunan harga output, perubahan harga output lainnya yang diuji dalam analisis sensitivitas ini adalah kenaikan harga jambu biji domestik sebesar 20persen yang ditampilkan pada Tabel 15. Rancangan Ditjen Hortikultura Kementrian Pertanian yang ingin menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) pada produk-produk sayur dan buah-buahan termasuk jambu biji akan meningkatkan kualitas jambu biji10. Apabila kualitas jambu biji domestik meningkat, maka hal ini akan mengakibatkan kenaikan harga jambu biji domestik.

Tabel 15. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji dengan Kenaikan Harga Jambu Biji Domestik sebesar 20 persen (Rp/Ha)

Nilai Sebelum Setelah Perubahan (%)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

10 Harian Bisnis Indonesia. 20 Januari 2010. Daya Saing Produk Buah dan Sayuran Harus Digenjot

80 Kenaikan harga jambu biji domestik telah meningkatkan penerimaan privat, sehingga keuntungan privat juga meningkat sebesar 39,7 persen.

Keunggulan kompetitif mengalami peningkatan ditunjukkan dengan nilai PCR yang menurun (16,89 persen). Nilai PC yang meningkat sebesar 17,9 persen menunjukkan bahwa rasio keuntungan yang diterima petani terhadap keuntungan sosialnya meningkat. Namun upaya penerapan SNI jambu biji ini masih terdapat kendala pada kesiapan petani untuk menerima standardisasi tersebut. Oleh karena itu diperlukan pendampingan dan penyuluhan yang lebih efektif serta bantuan fasilitas dari pemerintah, seperti bibit unggul dan penyuluhan pasca panen.

7.2. Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Harga Input

Analisis ini digunakan untuk mengetahui apakah kegiatan usahatani jambu biji di lokasi penelitian masih tetap efisien untuk diusahakan apabila terjadi kenaikan harga input (pupuk anorganik) sebesar 35 persen. Kenaikan harga pupuk tersebut disebabkan oleh kenaikan biaya produksi pupuk anorganik dan pengurangan subsidi pupuk anorganik.

Tabel 16. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji dengan Kenaikan Harga Pupuk Anorganik sebesar 35 persen (Rp/Ha)

Nilai Sebelum Setelah Perubahan (%)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

Tabel 16 memperlihatkan peningkatan harga pupuk hanya menyebabkan perubahan pada keuntungan privat dan keunggulan kompetitif, sedangkan

81 keuntungan sosial dan keunggulan komparatifnya tetap. Perubahan kebijakan berupa pengurangan subsidi hanya berdampak di lingkungan domestik dan tidak memengaruhi harga CIF pupuk urea dan TSP. Terlihat bahwa keuntungan privat menunjukkan nilai yang positif, artinya petani jambu biji masih memperoleh keuntungan dengan kenaikan harga pupuk tersebut. Meskipun demikian, keuntungan privat menurun sebesar 0,34 persen. Begitu pula dengan nilai PCR mengalami peningkatan yang mengindikasikan teradi penurunan keunggulan kompetitif. Dampak dari kenaikan harga pupuk anorganik ini menyebabkan keuntungan yang diterima petani menurun terhadap keuntungan sosialnya sehingga nilai PC menurun.

Keadaan sebaliknya dapat terjadi apabila pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan anggaran subsidi pupuk dan menyebabkan harga pupuk yang diterima petani menurun sebesar 35 persen seperti yang terlihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji dengan Penurunan Harga Pupuk Anorganik sebesar 35 persen (Rp/Ha)

Nilai Sebelum Setelah Perubahan (%)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

Penurunan harga pupuk juga tidak menyebabkan perubahan pada analisis sosial, karena kebijakan penambahan anggaran subsidi pupuk hanya berpengaruh pada harga privat. Hal ini mengakibatkan keuntungan privat meningkat dan terjadi

82 kenaikan keunggulan kompetitif. Perbandingan antara keuntungan privat dengan keuntungan sosialnya juga mengalami peningkatan sebesar 0,14 persen.

Perubahan persentase pada keuntungan privat, keunggulan kompetitif dan koefisien keuntungan yang tidak begitu besar disebabkan oleh proporsi penggunaan input pupuk anorganik yang relatif sedikit.

Tabel 18. Analisis Sensitivitas Usahatani Jambu Biji Apabila PPN Dihapuskan (Rp/Ha)

PP (Private Profit) : Keuntungan privat SP (Social Profit) : Keuntungan sosial

PCR (Private Cost Ratio) : Rasio keuntungan privat

DRC (Domestic Resource Cost) : Biaya sumberdaya domestik PC (Profit Coefficient) : Koefisien keuntungan

Sumber: Data Primer, diolah (2010)

Tabel 18 memperlihatkan kebijakan pemerintah lainnya yang berpengaruh terhadap usahatani jambu biji, yaitu PPN pada pestisida, obat-obatan tanaman jambu biji, dan plastik pembungkus. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada pestisida dan input nontradable merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk melindungi produsen input. Dalam analisis ekonomi, PPN merupakan transfer pembayaran dari produsen input kepada konsumen input (petani). Penghapusan PPN sebesar 10 persen pada produk pendukung sektor pertanian diusulkan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia11. Apabila penghapusan PPN 10persen diterima, maka dampak yang terjadi pada usahatani jambu biji adalah peningkatan keuntungan privat dan keunggulan kompetitif.

Kebijakan ini tidak berdampak pada analisis sosial, karena PPN hanya terjadi

11 Harian Seputar Indonesia. 23 September 2008. Tarif BKP Pertanian

83 pada analisis privat. Dilihat dari nilai PC, penghapusan PPN 10 persen ternyata menyebabkan keuntungan yang diterima petani meningkat 67 persen dari keuntungan sosialnya.

7.3. Dampak Perubahan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat Sebesar 6persen

Faktor lain yang memengaruhi keunggulan komparatif dari usahatani jambu biji ini adalah dampak perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat baik melemah maupun menguat sebesar 6 persen (ceteris paribus). Perubahan nilai tukar ini hanya berdampak pada keuntungan sosial dan keunggulan komparatif, sedangkan pada keuntungan privat dan keunggulan kompetitif tidak terjadi perubahan. Hal ini disebabkan perubahan nilai tukar hanya

Faktor lain yang memengaruhi keunggulan komparatif dari usahatani jambu biji ini adalah dampak perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat baik melemah maupun menguat sebesar 6 persen (ceteris paribus). Perubahan nilai tukar ini hanya berdampak pada keuntungan sosial dan keunggulan komparatif, sedangkan pada keuntungan privat dan keunggulan kompetitif tidak terjadi perubahan. Hal ini disebabkan perubahan nilai tukar hanya