BAB III KEADAAN UMUM
NAMA DAS NAMA DESA
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4. Pemanfaatan Ruang oleh Masyarakat
5.4.1. Pemanfaatan Ruang oleh Masyarakat Desa Bungan
Seperti pada umumnya masyarakat pedalaman yang tinggal di sekitar hutan, masyarakat Desa Nanga Bungan memiliki ketergantungan yang sangat kuat dengan sumber daya hutan. Ketergantungan ini terjadi karena sulitnya akses untuk mencapai sentra-sentra ekonomi dari wilayah permukiman mereka dan didukung oleh masih tersedianya sumber daya alam dari dalam hutan. Masyarakat memanfaatkan areal hutan untuk berladang, berburu, menangkap ikan dan memungut hasil hutan. Kegiatan masyarakat tersebut dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Pemanfaatan Ruang Masyarakat Desa Nanga Bungan di Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun
No
Pemanfaatan
Ruang Batas Lokasi Keterangan
1 Perladangan Riam Batu Lintang - Lebar ladang hingga ke
Riam Bang Be Puncak-puncak bukit di
(S.Kapuas) Kiri – kanan Sungai Kapuas
Desa Bungan – Riam
Bakang (S. Bungan)
2 Menangkap Ikan Riam Batu Lintang - Lebar sungai ± 50 m
Riam Matahari (S. Kapuas)
Nanga Bungan – Riam Bakang
(S. Bungan)
3 Berburu Sepan Suwa Hara Anak Sungai Kapuas
Sepan Meloloi Sungai Pono
Sepan (S. Tesapan) Anak Sungai Kapuas
4 Mengumpulkan hasil Sepanjang Sungai Kapuas Hingga ke puncak-puncak
Hutan Antara Riam Batu Lintang - bukit di kiri dan kanan sungai
Riam Matahari – Riam
Bakang
5 Permukiman Desa Persimpangan Sungai Desa Bungan terbagi dua
Bungan Kapuas – Sungai Bungan di sisi kiri dan kanan Sungai
Kapuas
Sumber : Hasil pendataan di lapangan (2007)
Perladangan yang dibuat masyarakat Desa Nanga Bungan berada di sisi kiri dan kanan Sungai Kapuas dan Sungai Bungan yang merupakan anak Sungai Kapuas. Hal ini terjadi karena masyarakat Desa Bungan memanfaatkan jalur
sungai sebagai jalur transportasi satu-satunya yang ada, sehingga dalam pemanfaatan lahan selalu berpatokan pada sungai dan anak sungai. Sedangkan batas lebar ladang adalah puncak-puncak bukit yang berada di kiri dan kanan sungai.
Berdasarkan analisis spasial tutupan lahan Wilayah Seksi Bungan lebar perladangan dari sisi kiri atau kanan sungai rata-rata maksimum 1000 m dan berdasarkan analisis spasial topografi wilayah perladangan tersebut, puncak-puncak bukit yang menjadi areal perladangan rata-rata berjarak 1000 m (1 km) dari pinggir sungai. Pertimbangan pemilihan batas maksimum perladangan hingga ke puncak bukit adalah untuk mempermudah pengawasan areal ladang terhadap serangan hama dari jalur sungai. Hal tersebut menjadi dasar dalam penentuan luas
buffer yang digunakan dalam analisis spasial, yaitu 1000 m.
Sedangkan batas awal dan akhir areal perladangan masyarakat Desa Bungan tersebut menggunakan batas-batas alam seperti riam/jeram atau anak sungai. Batas-batas tersebut sudah disepakati melalui musyawarah adat oleh seluruh masyarakat Desa Nanga Bungan.
Batas awal perladangan Desa Nanga Bungan adalah dari Riam Batu Lintang hingga ke Riam Bang Be di jalur Sungai Kapuas dan Desa Nanga Bungan hingga Riam Bakang untuk jalur Sungai Bungan. Ladang-ladang masyarakat tersebut ditanami padi tahunan dan diselingi jenis-jenis sayuran. Sistem perladangan yang mereka lakukan adalah sistem gilir balik, yaitu perpindahan ladang setiap tahun bisa dilakukan sampai batas-batas alam yang sudah ditentukan melalui kesepakatan adat tersebut, dan dapat kembali ke areal ladang yang telah ditinggalkan. Kegiatan perladangan dimulai dengan penebangan pohon, pembakaran, penanaman dan pemeliharaan. Bekas-bekas perladangan tersebut membentuk formasi hutan sekunder yang permanen. Letak ladang dan musim mulai berladang setiap tahunnya juga disepakati melalui musyawarah adat. Dengan demikian batas ruang perladangan untuk masyarakat Desa Nanga Bungan terbentuk secara permanen menggunakan batas-batas alam yang sudah disepakati bersama oleh masyarakat setempat. Lokasi ladang-ladang tersebut tidak akan meluas melewati batas kesepakatan masyarakat yang telah terbentuk karena
sistem perladangan digunakan oleh masyarakat adalah sistem gilir balik dengan tidak membuka lahan pada hutan primer atau lahan baru. Menurut Atok (1998), bahwa ladang gilir balik adalah pengganti sebutan ladang berpindah. Istilah ladang berpindah dinilai tidak mencerminkan hal yang sebenarnya di lapangan. Masyarakat adat Dayak di Kalimantan tidak berpindah semau-maunya, tetapi berpindah pada tanah yang di masing-masing dusun secara adat dialokasikan untuk perladangan. Hal itu dilakukan untuk memberi kesempatan kepada tanah untuk subur kembali. Pola demikian mencerminkan masyarakat Dayak arif terhadap lingkungan hidup.
Sedangkan pemanfaatan ruang untuk kegiatan mengumpulkan hasil hutan seperti Rotan, Kulit Kayu, Daun Pandan dan buah-buahan hutan, hampir sama bentuknya dengan ruang perladangan, yaitu dengan memanfaatkan jalur sungai sebagai jalur transportasi. Ruang yang dimanfaatkan hingga ke puncak-puncak bukit di kiri dan kanan sungai. Ruang kegiatan tersebut secara tak langsung dibatasi oleh alam karena adanya jeram/riam besar yang sulit dilewati oleh perahu tempel yang menjadi sarana trasportasi utama masyarakat setempat. Riam yang membatasi ruang tersebut adalah Riam Batu Lintang hingga Riam Matahari untuk jalur Sungai Kapuas dan Desa Nanga Bungan hingga ke Riam Bakang untuk jalur Sungai Bungan.
Faktor alam, biaya, tenaga dan waktu menjadi pembatas ruang masyarakat Desa Nanga Bungan untuk memanfaatkan hasil hutan di dalam kawasan Taman Nasional Betung Kerihun. Untuk melewati riam/jeram besar seperti Riam Matahari yang menjadi batas ruang dibutuhkan waktu 1 (satu) jam dan juga sangat menguras tenaga seluruh penumpang perahu untuk menarik perahu ke darat agar dapat melewati riam tersebut. Harga bahan bakar minyak yang sangat tinggi (Bensin Rp. 10.000,-/liter) juga membatasi ruang gerak masyarakat Nanga Bungan untuk memanfaatkan hasil hutan sehingga masyarakat setempat menghindari melewati riam-riam besar yang membutuhkan banyak bahan bakar untuk melewatinya.
Riam-riam yang sulit dilewati perahu juga menjadi faktor pembatas Masyarakat Nanga Bungan dalam memanfaatkan sungai untuk menangkap ikan.
Setiap hari selalu ada saja anggota masyarakat yang menangkap ikan dengan jala, pukat atau pancing. Mereka menangkap ikan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa ada kegiatan komersialisasi seperti menjual secara langsung atau mengolah jadi bahan makanan lain. Sehingga eksploitasi ikan di ruang yang dimanfaatkan oleh masyarakat sehari-hari tidak terjadi. Batas ruang yang dimanfaatkan sangat kecil, karena hanya menggunakan jalur sungai dari Riam Bakang sampai Riam Matahari untuk jalur Sungai Kapuas dan Desa Nanga Bungan hingga ke Riam Bakang untuk jalur Sungai Bungan serta muara anak-anak sungai dari kedua sungai utama tersebut.
Kegiatan berburu binatang yang umum dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan hutan juga dilakukan oleh masyarkat Desa Nanga Bungan. Namun ruang yang mereka manfaatkan juga sangat kecil dan lokasinya sudah permanen. Dengan adanya lokasi-lokasi sumber air asin dari dalam tanah yang menjadi lokasi berbagai jenis satwa untuk minum, menjadi lokasi berburuh binatang yang permanen oleh masyarakat setempat. Jenis binatang yang mereka buru hanya jenis Babi Hutan (Sus barbatus) sedangkan mamalia lainnya tidak akan terganggu.
Tiga buah sumber air asin dalam bahasa setempat disebut Sepan,menjadi titik lokasi berburu utama oleh masyarakat setempat, yaitu Sepan Suwa Hara, Sepan Tesapan di Sungai Kapuas dan Sepan Mololoi di Sungai Pono yang merupakan anak Sungai Bungan. Namun tidak tertutup kemungkinan perburuan dilakukan pada lokasi-lokasi perladangan yang sering dirusak oleh binatang buruan terutama jenis Babi Hutan.
Kebiasaan masyarakat setempat yang lebih menyenangi untuk mengkonsumsi jenis Babi Hutan (Sus barbatus) membuat jenis-jenis mamalia lain terutama yang dilindungi undang-undang seperti Rusa (Cervus sp), Kijang (Muntiacus muncak) dan kancil (Tragulus napu) tidak terancam keberadaannya. Belum adanya prilaku komersialisasi untuk hasil buruan antar masyarakat Desa Bungan juga tidak akan mendorong eksploitasi satwa buruan, hususnya jensi Babi Hutan. Dengan demikian ruang yang mereka manfaatkan untuk berburu juga dapat tetap permanen, tanpa ada desakan untuk memperluas lokasi berburu (Ngo, 1998).
Letak permukiman yang mereka bangun sudah permanen yaitu dipersimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Bungan dan dibuat di 2 (dua) sisi sungai yaitu kiri dan kanan Sungai Kapuas hingga ke sisi kiri Sungai Bungan. Jumlah penduduk Desa Nanga Bungan sebanyak 65 (enampuluh lima ) kepala keluarga dengan jumlah jiwa sebanyak 282 orang (BTNBK, 2006). Batas-batas ruang aktifitas sehari-hari masyarakat Nanga Bungan di luar dan di dalam kawasan Wilayah Seksi Bungan Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dapat dilihat pada gambar 17.