4.1 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Daerah Penyangga TNGC
4.1.1 Pemanfaatan TNGC oleh Masyarakat Desa Penyangga
Sebagai salah satu jenis sumber daya alam, taman nasional mempunyai bermacam manfaat bagi kehidupan manusia, yakni manfaat ekologis, sosial dan ekonomis. Manfaat ekologis taman nasional dapat berupa manfaat hidroorologis, sumber plasma nutfah, keanekaragaman hayati, siklus nutrisi, produksi carbon, pencegah erosi, dan lain-lain, manfaat sosial dapat berupa nilai estetika, spiritual, dan budaya, dan manfaat ekonomis dapat berupa produksi hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu (seperti madu, daging, buah, getah), menyerap tenaga kerja, dan lain-lain. Penelitian ini mengkaji akses masyarakat daerah penyangga baik secara individu maupun kelompok terhadap pemanfaatan TNGC. Mengingat historis kawasan taman nasional sangat berpengaruh terhadap akses masyarakat daerah penyangga terhadap TNGC maka kajian dibagi menjadi dua yakni periode sebelum dan setelah ditetapkan sebagai TNGC.
4.1.1.1 Akses Sebelum Ditetapkan Sebagai Taman Nasional
Sebelum ditetapkan sebagai taman nasional, status kawasan Gunung Ciremai mengalami beberapa kali perubahan. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 419/Kpts-II/1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat seluas sekitar 1.045.071 ha, kawasan hutan di Gunung Ciremai seluas 15.518,23 ha yang terletak di perbatasan Kabupaten Kuningan dan Majalengka, Hutan Lindung (7.748,75 ha), Hutan Produksi (2.690,48 ha), Hutan Produksi Terbatas ((4.943,62 ha), dan Areal Penggunaan Lain (135,38 ha). Kelompok hutan tersebut dikelola oleh Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani).
Pada periode tersebut tingkat penjarahan hutan di Kabupaten Kuningan cukup tinggi. Selama tahun 1998–2001 luas penjarahan hutan di Kabupaten Kuningan mencapai 3.062,32 ha dengan taksiran kerugian mencapai Rp 2.997.567.330 (Anonim 2002). Mengingat tingginya tingkat kerusakan hutan akibat penjarahan tersebut, serta menyadari pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan, Perum Perhutani menerapkan program baru pengelolaan hutan dengan melibatkan masyarakat sekitar yang diberi nama Perhutanan Sosial (PS). Program tersebut selanjutnya berkembang menjadi Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) yang kemudian disempurnakan menjadi program PMDH Terpadu. Namun demikian program tersebut ternyata tidak mampu memperbaiki kondisi kesejahteraan masyarakat dan mencegah timbulnya berbagai macam kerusakan hutan. Kondisi ini terjadi karena program tersebut menempatkan masyarakat sebagai obyek dan bukan sebagai subyek dalam sistem pengelolaan hutan.
Selanjutnya pada tahun 2000, berdasarkan Keputusan Direksi Perum Perhutani Nomor 1061/Kpts/Dir/2000, Perhutani menerapkan program baru pengelolaan hutan yang diberi nama Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Keputusan tersebut selanjutnya diganti dengan Keputusan Dewan Pengawas Perum Perhutani Nomor 136/KPTS/DIR/2001 tentang Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat.
Meskipun implementasi PHBM di tingkat lapangan masih banyak menemui masalah, namun telah menunjukkan hasil positif pada aspek kelestarian hutan, terutama dalam hal percepatan rehabilitasi hutan dan penurunan tingkat kerusakan hutan akibat pencurian kayu. Berdasarkan data Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kuningan tahun 2005, dalam periode tahun 2000- 2004 telah berhasil dilakukan rehabilitasi hutan kritis seluas 9.448 Ha. Selain itu tingkat pencurian kayu menurun dari 15.694 pohon pada tahun 1999 menjadi 6.017 pohon pada tahun 2000, kemudian turun menjadi 1.766 pohon pada tahun 2002, dan 549 pohon pada tahun 2004. Hal tersebut semakin menguatkan keyakinan bahwa kegagalan pengamanan hutan bukan disebabkan oleh masalah teknis tetapi masalah sosial masyarakat sekitar. Selain itu, berdasarkan hasil evaluasi PHBM yang dilakukan oleh Universitas Kuningan pada tahun 2004 menunjukkan bahwa pendapatan peserta PHBM rata-rata meningkat sebesar Rp 177.000,- per tahun atau mengalami kenaikan sebesar 7,8 % dibandingkan dengan sebelum mengikuti PHBM.
44
Terkait dengan pelaksanaan PHBM dalam hubungannya dengan akses masyarakat terhadap TNGC, peneliti melakukan studi kasus di Desa Pajambon Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan. Program PHBM di Desa Pajambon dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu sosialisasi, pembentukan forum PHBM, pemetaan, inventarisasi, perencanaan desa, NKB (Nota Kesepakatan Bersama), NPK (Nota Perintah Kerja), dan pembuatan Peraturan Desa. Pelaksanaan PHBM di Desa Pajambon telah dituangkan dalam Peraturan Desa (Perdes) Pejambon Nomor 5 /Pemdes/IV/2003. Dasar penyusunan Perdes tersebut adalah 1) Nota Kesepakatan Bersama (NKB) antara PT. Perhutani KPH Kuningan dengan Pemerintah Desa Pejambon tanggal 29 Desember 2001 tentang PHBM, dan 2) Perjanjian kerjasama antara PT. Perhutani KPH Kuningan dengan Kelompok Tani Penggerak Pariwisata (POKTAPEPAR) Pajambon dalam rangka PHBM.
Nota Kesepakatan Bersama (NKB) adalah sebuah kesepakatan umum tentang pelaksanaan PHBM antara masyarakat Desa Pajambon yang diwakili oleh Ketua BPD Desa Pajambon dengan PT. Perhutani yang diwakili oleh Administratur Perhutani KPH Kuningan. Sedangkan NPK adalah sebuah perjanjian yang bersifat teknis pelaksanaan PHBM di Desa Pejambon antara PT Perhutani yang diwakili oleh Administratur Perhutani KPH Kuningan dengan KTH/Poktapepar Desa Pajambon, yang diwakili oleh Ketua KTH/ Poktapepar. PHBM di Desa Pajambon dilaksanakan pada kawasan lindung dan hutan negara dibawah pengelolaan PT Perhutani, yang masuk dalam wilayah administratif Desa Pajambon.
Beberapa ketentuan umum bagi kelompok tani hutan (KTH) yang diatur dalam Perdes tersebut adalah :
1. KTH bersama para anggotanya melakukan penanaman, pemeliharaan dan penjagaan hutan tanaman, mencegah terjadinya longsor, kebakaran dan pengrusakan hutan.
2. KTH dan komponen poktapepar lainnya melakukan bimbingan dan pengawasan kepada para anggota dalam mengambil/ memanfaatkan hasil sumber daya hutan termasuk hasil budidaya antara lain, pertanian/tanaman keras, dll dari areal yang telah ditetapkan, sesuai peruntukannya.
3. KTH dan komponen poktapepar mengkoordinir kegiatan anggotanya dalam pengawasan dan pencegahan gangguan terhadap flora dan fauna oleh oknum masyarakat setempat maupun masyarakat dari luar.
Untuk menjaga kelestarian hutan Gunung Ciremai, pada Perdes tersebut dicantumkan beberapa larangan bagi masyarakat, sebagai berikut :
1. Siapapun dilarang keras melakukan tindakan yang langsung maupun tidak langsung berakibat pada kerusakan hutan lindung di wilayah desa Pajambon.
2. Tanaman musiman di lahan kawasan hutan lindung dihentikan dan dilarang diteruskan sejak bulan Agustus 2003, usaha tani dialihkan ke tanaman keras dan jasa ekowisata.
3. Siapapun dilarang keras berburu satwa di kawasan hutan lindung dan objek ekowisata Cilengkrang
4. Siapapun dilarang keras memotong atau mengambil tumbuhan di dalam kawasan hutan lindung dan obyek ekowisata Lembah Cilengkrang.
Sedangkan kewajiban masyarakat yang diatur pada Perdes tersebut adalah :
1. Seluruh masyarakat desa Pajambon wajib turut melakukan pencegahan terhadap gangguan hutan atau pelanggaran terhadap larangan tersebut, baik dengan lisan maupun dengan cara melaporkan kepada aparat pemerintahan desa
2. Setiap anggota KTH (pemilik andil garapan) wajib mengembalikan hak garapnya apabila diperlukan bagi kepentingan yang lebih luas, oleh PWC (Pengelola Ekowisata Cilengkrang) dan atau pemerintah.
3. Setiap pedagang atau kegiatan usaha di lokasi ekowisata dikenakan retribusi oleh PWC melalui poktapepar.
Dari Perdes tersebut dapat dilihat bahwa sejak tahun 2003 Perum Perhutani sudah mulai melarang masyarakat untuk melakukan penanaman tanaman semusim di kawasan hutan lindung dan menggantikan dengan tanaman keras dan usaha jasa ekowisata. Sedangkan untuk di hutan produksi masyarakat masih diberi kesempatan untuk melakukan penanaman tanaman semusim dan memelihara tegakan pohon milik Perhutani. Kebijakan yang tertuang dalam Perdes tersebut menunjukkan bahwa kedua belah pihak (Perhutani dan masyarakat) mempunyai kesamaan pandangan untuk memberi akses kepada masyarakat untuk memanfaatkan lahan di kawasan Gunung Ciremai dengan melakukan penanaman yang bernilai ekonomi, dan disisi lain menjaga kondisi hutan lindung yang mempunyai fungsi sangat penting dalam penyediaan air bersih bagi masyarakat. Selain itu melalui Perdes tersebut
46
masyarakat mulai didorong untuk memanfaatkan jasa ekowisata pada hutan lindung di kawasan Gunung Ciremai sebagai alternatif sumber pendapatan.
Selanjutnya pada tahun 2003 status kawasan hutan di Gunung Ciremai mengalami perubahan. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 185/Kpts-II/2003 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Propinsi Jawa Barat seluas 816.605 ha, status kawasan Gunung Ciremai berubah menjadi Hutan Lindung. Perubahan status kawasan tersebut pada dasarnya merubah legalitas akses masyarakat sekitar terhadap sumberdaya alam di kawasan Gunung Ciremai. Namun karena perubahan status sebagai Hutan Lindung tersebut relatif singkat (hanya sekitar satu tahun), maka ditingkat lapangan tidak banyak menyebabkan perubahan akses masyarakat terhadap sumber daya alam di Gunung Ciremai.
4.1.1.2 Akses Setelah Ditetapkan Sebagai Taman Nasional
Status kawasan Gunung Ciremai selanjutnya mengalami perkembangan. Berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan Nomor 424/Menhut-II/2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung Pada Kelompok Hutan Gunung Ciremai Seluas 15.500 ha Terletak di Kabupaten Kuningan dan Majalengka Provinsi Jawa Barat, status kawasan Gunung Ciremai berubah menjadi Taman Nasional.
Perubahan status kawasan Hutan Lindung Gunung Ciremai menjadi Taman Nasional Gunung Ciremai menimbulkan reaksi berbeda dari beberapa stakeholders. Sebagian stakeholders, antara lain Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuningan dan Universitas Kuningan (UNIKU) menyambut positif perubahan status menjadi taman nasional. Namun sebagian stakeholders lainnya, yakni Lembaga Pelayanan Implementasi (LPI) PHBM dari unsur LSM dan kelompok masyarakat yang terlibat dalam PHBM di Gunung Ciremai menolak atau mengkritisi kebijakan tersebut. Alasan tidak setujunya mereka terhadap perubahan status kawasan tersebut karena terdapat 25 desa pada 7 kecamatan di kawasan Gunung Ciremai yang termasuk Kabupaten Kuningan yang telah dalam proses implementasi PHBM. Dari 25 desa tersebut, 18 desa diantaranya telah menandatangani Nota Kesepakatan Bersama (NKB), dan lima desa lain telah menandatangi Nota Perjanjian Kerjasama (NPK) dengan Perum Perhutani, artinya pada lima desa masyarakat telah melaksanakan pengelolaan hutan di lapangan. Dengan perubahan fungsi menjadi taman nasional maka
kewenangan pengelolaan hutan berganti dan kesepakatan kerjasama tersebut tidak berlaku lagi.
Secara tegas, salah satu anggota LSM AKAR sesuai hasil diskusi pada tanggal 7 Februari 2011, menyatakan bahwa pada prinsipnya LSM Akar kurang setuju dengan perubahan fungsi menjadi Taman Nasional tersebut mengingat ketidak siapan pemerintah dalam mencari jalan keluar bagi masyarakat yang selama ini terlibat dalam program PHBM.
Secara operasional, pengelolaan TNGC untuk sementara dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat II. Selama masa transisi pengelolaan oleh Balai KSDA Jawa Barat tersebut, masyarakat tetap diberi akses untuk melakukan kegiatan-kegiatan di kawasan TNGC seperti yang terdapat dalam program PHBM. Selanjutnya pada tahun 2005 dengan dibentuknya Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) maka pengelolaan TNGC beralih dari Balai KSDA Jawa Barat ke BTNGC.
Pada awal pengelolaan oleh BTNGC tersebut masyarakat masih tetap diberi akses untuk melakukan kegiatan pemanfaatan kawasan TNGC untuk budi daya tanaman. Contoh lahan garapan masyarakat di kawasan TNGC dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7 Contoh lahan garapan masyarakat di dalam kawasan TNGC Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan wawancara dengan masyarakat, didapatkan bahwa jenis tanaman yang dibudidayakan oleh masyarakat di kawasan TNGC sangat bervariasi, ada yang menanam tanaman sayuran, seperti di Desa Karangsari dan Cisantana, dan ada yang membudidayakan tanaman MPTS/buah-buahan seperti masyarakat di desa Seda dan Pajambon. Masyarakat di Desa Karangsari menaman tanaman sayuran petsay, bawang daun, dan kubis, sedangkan di Desa Cisantana jenis sayuran yang dibudidayakan adalah wortel, bawang daun dan petsay.
48
Masyarakat di Desa Seda membudidayakan tanaman melinjo, cengkeh, pisang dan kopi dan di Desa Pajambon menanam alpuket, durian dan kopi.
Pada tahun 2009, Balai TNGC mulai melakukan langkah-langkah penertiban terhadap penggarapan lahan di kawasan TNGC. Langkah tersebut mendapatkan dukungan dari Bupati Kuningan yang diwujudkan dalam bentuk surat perintah Bupati Kuningan kepada Camat dan Kepala Desa di sekitar TNGC untuk menghentikan usaha tani tanaman sayuran di kawasan TNGC, serta Instruksi Bupati Kuningan Nomor 3 Tahun 2009 tentang Penertiban Penggunaan Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sebagai Lahan Pertanian dan Perkebunan. Upaya penertiban tersebut cukup berhasil, sekitar 2.331 orang penggarap (1.654 KK) telah menghentikan aktifitasnya dari kawasan TNGC tanpa menimbulkan gejolak yang besar di lapangan seperti yang biasa terjadi di lokasi lain. Jumlah bekas penggarap kawasan TNGC disajikan pada Lampiran 1.
Saat ini Balai TNGC bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Kuningan, Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) dan Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar), mengembangkan usaha masyarakat berbasis jasa ekowisata. Hal tersebut dapat dilihat pada beberapa desa yang terdapat obyek wisata alam, seperti desa Cisantana, desa Pajambon dan desa Manis Kidul, dimana masyarakat sekitar diberi kesempatan untuk terlibat dalam beberapa jenis kegiatan ekowisata, seperti sebagai pemandu, penitipan kendaraan, pengelola loket masuk, penjual makanan dan minuman, serta penjual souvenir.
Selain itu dalam upaya pengembangan masyarakat di daerah penyangga TNGC, Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui dinas terkait saat ini mengembangkan intensifikasi pemanfaatan lahan melalui program agroforestri seperti di desa Karangsari, desa Seda dan desa Pajambon. Pada program tersebut masyarakat menanam jenis tanaman pertanian seperti cabe rawit, jagung, padi huma, kubis, sawi, melinjo, cengkeh, kelapa, dll, dan jenis tanaman kehutanan seperti sengon, mahoni, kayu afrika, mindi, waru, pinus, jati dll.
Undang-undang no 5 tahun 1990 mengatur kemungkinan lahan pekarangan sebagai salah satu status lahan yang diperbolehkan menjadi daerah penyangga, yang terpenting adalah pengembangan daerah penyangga harus memperhatikan perencanaan tata ruang, yaitu kebijakan peruntukan pemanfaatan ruang bagi berbagai kegiatan pembangunan yang akan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam suatu kurun waktu tertentu (Direktorat Jendral Perlindungan dan Pelestarian Alam 1997). Selanjutnya bahwa penetapan
daerah penyangga juga tidak mengurangi hak atas tanah, tetapi hanya bersifat pengaturan cara pengolahan agar daerah penyangga tersebut memiliki nilai ekonomis yang tinggi bagi peningkatan taraf hidup masyarakat serta menjadi pendukung untuk menjaga kelestarian taman nasional.
Pemanfaatan potensi kawasan taman nasional oleh masyarakat di daerah penyangga hanya dalam bentuk pemanfaatan jasa lingkungan hutan dan ekowisata. Berbagai bentuk pemanfaatan ini pada umumnya dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi dan budaya yang berkembang di masyarakat.
Pasal 26 Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, menyebutkan bahwa pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan, a) pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam, dan b) pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar. Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam ini dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan (Pasal 27) dan pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi, daya dukung, dan keaneka- ragaman jenis tumbuhan dan satwa liar. Agar kelestarian fungsi kawasan tetap terjaga, maka daerah penyangga ini mempunyai fungsi yang sangat penting, yaitu untuk mengurangi tekanan penduduk ke dalam kawasan pelestarian dan suaka alam, memberikan kegiatan ekonomi masyarakat dan merupakan kawasan yang memungkinkan adanya interaksi manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat dengan kawasan konservasi.
Daerah penyangga merupakan kawasan penting sebagai pendukung kawasan konservasi dan merupakan daerah yang sangat potensial untuk dikelola guna mempertahankan kelestarian biodiversitas dan ekosistem taman nasional, baik sebagai asset ekowisata alam, penyangga kawasan konservasi, kawasan budidaya, sumber penghasil pangan, kayu bakar dan obat-obatan. Fungsi daerah penyangga ini juga dapat diwujudkan secara optimal dengan pengelolaan pemanfaatan jasa lingkungan, nilai ekonomi dan konservasi lahan masyarakat, melalui rehabilitasi lahan kritis dalam sistem hutan kemasyarakatan, hutan rakyat atau agroforestri.
4.1.2 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Contoh
Pengertian desa secara umum lebih sering dikaitkan dengan pertanian. Egon Bergel dalam Rahardjo (2004) mendefinisikan desa sebagai “setiap
50
pemukiman para petani”. Ciri utama yang melekat pada desa adalah fungsinya sebagai tempat tinggal (menetap) dari suatu kelompok masyarakat yang relatif kecil. Dengan perkataan lain, suatu desa ditandai oleh keterikatan warganya pada suatu wilayah tertentu. Keterikatan terhadap wilayah ini disamping terutama untuk tempat tinggal juga untuk menyangga kehidupan mereka. Sementara Paul Landis (Rahardjo 2004) mengemukakan ciri-ciri desa adalah mempunyai pergaulan hidup yang saling saling mengenal antara ribuan jiwa, ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan, serta cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi oleh alam seperti : iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan. Oleh karena itu sebelum membahas mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat yang bekerja di ekowisata dan agroforestri, maka terlebih dulu dianalisis mengenai karakteristik dari setiap Desa contoh. Desa-desa contoh terdiri dari desa yang memiliki potensi ekowisata, yaitu Desa Cisantana, Manis Kidul dan Pajambon dan desa yang memiliki potensi agroforestri yaitu Desa Karangsari, Seda dan juga termasuk Pajambon. Lima desa contoh ini memiliki karakteristik yang berbeda, baik dalam potensi fisik maupun sosial ekonomi seperti disajikan pada Tabel 23.
Tabel 23 memperlihatkan bahwa mata pencaharian masyarakat dominan sebagai petani dan buruh tani, kecuali desa Maniskidul yang sebagian besar adalah pedagang, karena adanya potensi obyek wisata Cibulan yang sangat diminati oleh wisatawan. Pada Desa Pajambon dan Seda, proporsi buruh tani yang lebih besar menunjukkan tingkat kepemilikan lahan yang sempit yaitu dibawah 0,250 ha. Jarak pemukiman terdekat dengan kawasan adalah antara satu hingga tiga kilometer, sedangkan lahan pertanian masyarakat berbatasan dengan dengan kawasan TNGC. Penggunaan lahan sebagian besar desa adalah sawah dan tegalan, kecuali pada Desa Cisantana yang didominasi oleh hutan milik negara. Meskipun secara persentase luas hutan negara mencapai 50,52%, namun luas lahan untuk usaha tani (sawah, tegalan, ladang dan perkebunan rakyat) di Desa Cisantana tetap memiliki luasan yang lebih besar diantara desa lainnya, sehingga komoditas hasil pangan cukup banyak diproduksi di desa ini. Demikian juga di Desa Karangsari, sebagian besar penggunaan lahan adalah tegalan/ladang, yang ditanami palawija dan pohon berkayu. Desa Cisantana merupakan sentra produksi susu sapi di Kecamatan Cigugur dengan kepemilikan ternak sapi mencapai 1.726 ekor sapi perah.
Tabel 23 Karakteristik Desa Contoh
Sumber ; Profil Desa tahun 2009
No Aspek Cisantana Manis
Kidul
Pajambon Karangsari Seda
1 Luas (ha) 1.199,5 137,201 83,59 277 215,614 2 Jarak dari TNGC (km) 1 3 1 2,5 1 3 Jumlah Penduduk - Laki-laki - Perempuan 6.420 3.342 3.058 6.131 3.121 3.010 2.648 1.322 1.325 2.138 1.079 1.058 2.513 1.330 1.193 4 KK 1.760 1.232 686 588 651 5 Mata Pencaharian (%) - Petani - Buruh tani - Peternak - Pedagang - PNS - Swasta/Jasa 54,25 2,34 12,46 2,34 3,90 0,85 10,47 14,25 - 38,72 4,59 15,95 31,99 35,33 - 2,04 0,85 29,23 40,18 24,88 0,80 2,99 1,1 0,98 29,36 56,03 7 2,83 0,54 4,24 6 Agama (%) - Islam - Katolik - Kristen 64,88 22,07 13,15 Tidak ada data 100 - - 99,86 0,14 - 100 - - 7 Pendidikan (%) - Tidak Tamat SD - Tamat SD - Tamat SMP - Tamat SLTA - > SLTA - 73,60 13,35 13,06 - 46,38 17,23 15,25 80,17 35,57 Tidak ada data 8 Penggunaan Lahan (%) - Sawah - Tegalan/ladang - Perkebunan Rakyat - Pekarangan - Pemukiman - Hutan Negara dll 7,18 36,42 1,57 3,01 2,35 50,52 Tidak ada data 42,14 24,09 - - 21,52 12,25 10,83 72,72 9,03 - 4,69 2,73 32,59 36,28 - - 11,97 19,16 9 Komoditas
- Hasil Pangan (ha) - Tanaman Obat (ha) - Hijauan Pakan Ternak (ha) - Ternak (ekor)
Unggas
Non Unggas (sapi, kambing dan babi)
189 3 10 2.432 1.830 237,5 - - 6.000 475 106 10 1 t.a.d 425 172,43 5 0,5 30.020 262 Tidak ada data 10 Pemanfaatan Air - Mata Air - Anak Sungai/Sungai - Air Terjun
- Sumber Air Panas
7 2 2 - Tidak ada data 1 1 - 2 3 2 Tidak ada data 11 Potensi
-Wisata alam 2 air terjun
di desa, 2 di TNGC Pemandian dan wisata religi 2 sumber air panas di TNGC Potensi Bumi Perkema- han Tidak ada
52
Berdasarkan hasil analisis terhadap desa contoh, pada saat ini kondisi sosial ekonomi masyarakat pada lima desa contoh disajikan pada Tabel 24. Tabel 24 Kondisi sosial ekonomi lima Desa Contoh
No. Desa Kategori Persentase Mata Pencaharian Persentase Angkatan Kerja (usia 15–55 thn) Persentase Tingkat Pendidikan 1. Cisantana Rata-rata sejahtera
Petani (54,25%) 61,69%. Sebagian besar tamat SD (73,60%) 2. Pajambon Pra sejahtera Buruh tani (35,33%), 33,46% (bekerja penuh) 45,51% (bekerja tidak menentu) Sebagian besar tamat SD (80,17%) 3. Manis Kidul Rata-rata sejahtera Pedagang/ wiraswasta (38,72%) 48,00% Sebagian besar tamat SD (46,38%) 4. Karangsari Pra sejahtera
Petani 40,18% 45,51%, Sebagian besar tamat SD (35,57%) 5. Seda Rata-rata sejahtera Buruh tani 56,03% 75,00% Sebagian besar tamat SD (40,00%)
Sumber : profil desa Cisantana, Pajambon, Manis Kidul, Karangsari, Seda dan wawancara dengan perangkat desa (2010)
Berdasarkan Tabel 24 dapat dilihat bahwa rata-rata masyarakat desa bekerja sebagai petani dan buruh tani dengan dengan luas garapan rata-rata 0,250 ha, serta berpendidikan sebagian besar tamat SD. Lima Desa contoh ini dapat dikatakan mewakili kondisi sosial ekonomi masyarakat desa di daerah penyangga secara keseluruhan yang berjumlah 27 desa, yang secara umum dapat menjadi potret masyarakat daerah penyangga TNGC, karena berdasarkan data Bappeda (2010), mata pencaharian penduduk Kabupaten Kuningan sebagian besar adalah petani (57%) dengan luas garapan antarara 0,1 – 0,3 ha/KK, dan sebagian besar berpendidikan sekolah dasar.
4.1.2.1 Masyarakat yang Bekerja di Ekowisata
Konsep ekowisata yang digunakan mengacu pada Ceballos-Lascurain (1998) dalam Mc Neely, et.al. (1992) mendefinisikan wisata alam sebagai kegiatan wisata dalam bentuk perjalanan ke kawasan alami yang relatif masih asli dengan tetumbuhan dan satwa liarnya beserta manifestasi aspek-aspek kebudayaan yang ada, baik yang merupakan warisan budaya masa lampau maupun yang berlaku saat ini. Keuntungan aktual masyarakat dari ekowisata, dapat diperoleh dari berbagai peluang usaha seperti usaha akomodasi yaitu pondok wisata, bumi perkemahan, karavan dan penginapan remaja, usaha makanan dan minuman, usaha sarana wisata tirta, angkutan wisata, usaha cindera mata dan sarana budaya (ICEL 1999).
Pada saat ini masyarakat daerah penyangga desa contoh yang bekerja di ekowisata sekitar 142 orang, 41 orang di lokasi obyek wisata Lembah Cilengkrang, 34 orang di lokasi obyek wisata Buper Palutungan, dan 67 orang di lokasi obyek wisata Cibulan.
Menurut Biro Pusat Statistik, bekerja artinya melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit satu jam secara terus menerus dalam seminggu yang lalu, termasuk pekerja keluarga tanpa upah yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi.
Responden yang bekerja di sektor ekowisata sebagian besar berusia 41 hingga 50 tahun, berpendidikan SD dan bekerja sebagai pedagang. Sebagian besar tidak memiliki lahan, dengan pendapatan rata-rata per bulan antara Rp 700.000 hingga Rp 1.500.000, serta pernah menggarap di lahan TNGC selama