• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANTAUAN MELALUI OBSERVASI LAPANG, PENCITRAAN

Dalam dokumen ProsidingSemnasIX Kim Pen Kim Rev 3 (Halaman 155-163)

SATELIT, DAN SIG TAMBANG TALAWAAN-TATELU

Tommy Martho Palapa, Alfonds Andrew Maramis

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Manado [email protected]

ABSTRAK

Aktivitas pertambangan emas tradisional di sekitar wilayah Talawaan-Tatelu, Kabupaten Minahasa-Utara, berdasarkan data tahun 2004 mempunyai luas keseluruhan ±822 ha, yang keseluruhannya termasuk dalam wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Talawaan, yang meliputi luasan 34.000 ha. Pengolahan emas di lokasi tambang Talawaan-Tatelu terdiri dari tiga jenis, yaitu: penggalian, penggilingan dan amalgamasi, dan penggunaan tangki sianida. Ketiga jenis pengolahan emas ini dapat dibedakan sesuai dengan karakteristiknya masing-masing melalui kenampakan dalam pencitraan jarak jauh (satelit). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memantau kondisi fisik daerah tambang emas tradisional Talawaan-Tatelu sesuai ketiga jenis pengolahan emas yang dilakukan di daerah tambang. Penelitian dilakukan menggunakan teknik pencitraan jarak jauh (satellite imagery), penentuan titik berdasarkan Sistem informasi Geografis (SIG), dan observasi lapangan. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa masing-masing ketiga jenis pengolahan emas memperlihatkan kenampakan pencitraan jarak jauh yang berbeda dan spesifik. Data kenampakan pencitraan jarak jauh dan data SIG, diperkuat dengan hasil observasi lapangan, dapat dipakai untuk membedakan antara jenis pengolahan yang satu dengan yang lainnya. Melalui teknik pencitraan jarak jauh dan observasi lapangan juga diperoleh data kondisi fisik daerah aktivitas perekonomian masyarakat (pertanian, peternakan, dan perikanan) yang bersebelahan dengan daerah pertambangan tradisional dalam wilayah DAS Talawaan. Hasil penelitian ini dan penelitian lainnya yang berkaitan dengan kandungan pencemar yang berasal dari aktivitas tambang tradisional dapat digunakan sebagai referensi bagi pemerintah setempat dalam menyusun suatu kebijakan di bidang penyehatan lingkungan.

Kata-kata kunci: observasi lapangan, pencitraan jarak jauh, sistem informasi geografis, tambang tradisional, panggalian, penggilingan dan amalgamasi, tangki sianida, DAS Talawaan.

PENDAHULUAN

Lokasi tambang emas tradisional Talawaan-Tatelu berada di Desa Talawaan dan Desa Tatelu Rondor, masing-masing berada di Kecamatan Talawaan dan Kecamatan Dimembe, dua kecamatan yang berbatasan dalam wilayah Kabupaten Minahasa- Utara. Aktivitas tambang rakyat di daerah ini telah dimulai sekitar tahun 1998 [1]. Awalnya, pengolahan emas berlangsung menggunakan teknik yang sangat sederhana. Bijih emas yang digali dari terowongan sempit dengan kedalaman 20 – 30 m dipindahkan ke tempat pengolahan untuk digiling dan dilanjutkan dengan teknik amalgamasi (penggunaan air raksa untuk menangkap/melarutkan emas dari bijih emas). Pada bulan Juli 2000, diperkirakan ada sekitar 200-250 unit penggilingan beroperasi di lokasi ini [2]. Limbong dan koleganya [3] menambahkan

bahwa, pada bulan Juni 2001 (± 12 tahun lalu) di Sulawesi Utara, ada sekitar 400 unit pengolahan amalgamasi emas. Teknik amalgamasi masih menjadi satu-satunya pilihan sampai pertengahan tahun 2002, meskipun pemerintah Propinsi Sulawesi Utara telah memfasilitasi transfer teknologi dari amalgamasi ke penggunaan tangki sianida pada tahun 2000 yang dimulai dengan pembuatan demplot pengolahan emas dengan teknologi sianida [4].

Seiring berjalannya waktu, pengolahan emas yang semula hanya menggunakan teknik amalgamasi mulai dikombinasikan dengan teknik sianida. Sebagian penambang menyimpan limbah (tailing) amalgamasi dalam karung untuk dijual pada pengolah yang memiliki tangki sianida, sebagian lagi langsung menjual bijih emas yang telah digiling (tanpa amalgamasi). Satu tangki sianida

595

kapasitas besar mampu memproses 20 ton material, menggunakan natrium sianida (NaCN, 100 – 200 mg/L) dan karbon aktif (100 – 150 kg karbon aktif dapat digunakan untuk 3 kali proses leaching) [2].

Aktivitas pertambangan emas tradisional di sekitar wilayah Talawaan-Tatelu mempunyai luas keseluruhan ± 822 ha (data tahun 2004) yang mencakup beberapa desa yaitu: Wasian, Tatelu, Tatelu Rondor, Warukapas, Talawaan, Kolongan, Tetey, dan Mapanget. Kedelapan desa ini merupakan wilayah hulu dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Talawaan yang meliputi luasan 34.000 ha (Gambar 1). Dalam wilayah DAS Talawaan terdapat tiga sungai besar, yaitu: Sungai Talawaan, Sungai Kima, dan Sungai Bailang [5]. Seperti yang telah dikemukakan di atas, pengolahan emas di lokasi tambang tradisional Talawaan-Tatelu terdiri dari tiga jenis, yaitu: 1) penggalian; 2) penggilingan dan amalgamasi; dan 3) penggunaan tangki sianida. Keberadaan ketiga jenis pengolahan ini di lokasi tambang emas tradisional Talawaan-Tatelu perlu untuk diketahui dengan jelas baik dari segi jumlah unit pengolahan maupun dari segi luasannya. Data jumlah unit pengolahan dan luasannya sangat diperlukan mengingat kegiatan pertambangan tradisional di wilayah ini memberikan beban masukan pencemaran, khususnya merkuri, yang cukup signifikan ke lingkungan sekitarnya [1-3,5]. Jumlah unit atau kumpulan unit dan luasan dari ketiga jenis pengolahan dapat diidentifikasi kenampakannya menggunakan teknik pencitraan jarak jauh. Data satelit penginderaan jarak jauh merupakan salah satu data untuk memperoleh informasi fenomena alam di permukaan bumi yang diperoleh melalui alat media (sensor) yang dipasang pada sebuah pesawat atau satelit [6]. Data penginderaan jauh dapat diolah bersama dengan data sistem informasi geografis (SIG) dan digunakan untuk menganalisis kondisi lingkungan suatu wilayah [7]. Selanjutnya, untuk memperkuat hasil pengolahan data penginderaan jauh dan data sistem informasi geografis, perlu dilakukan survei atau observasi lapangan [8].

Sampai saat ini, tidak ada referensi yang melaporkan tentang pemetaan kondisi fisik daerah tambang emas tradisional Talawaan-Tatelu yang pemantauannya spesifik berdasarkan jenis

pengolahan tambang. Referensi yang paling relevan yaitu pemetaan daerah tambang emas tradisional Talawaan-Tatelu yang dilaporkan oleh Lasut dan koleganya [5,9]. Namun, kedua referensi ini hanya mengkaji tentang pemetaan daerah tambang emas tradisional Talawaan-Tatelu yang dikombinasikan dengan pemetaan DAS Talawaan. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk memantau kondisi fisik daerah tambang emas tradisional Talawaan-Tatelu sesuai ketiga jenis pengolahan emas yang dilakukan di daerah tambang, melalui data penginderaan jauh, data sistem informasi geografis, dan data observasi lapang.

BAHAN DAN METODE

Bahan, Tempat, dan Waktu Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa data citra satelit (Landsat, dan DigitalGlobe) beserta data SIG yang tersedia dalam situs Google Maps (awal 2014), maupun foto dokumentasi hasil observasi lapangan. Observasi lapangan dilakukan selama tiga bulan (September-November 2013) di sekitar daerah tambang emas tradisional Talawaan-Tatelu, Kabupaten Minahasa-Utara. Pengolahan dan interpretasi citra dilaksanakan pada bulan Desember 2013 sampai Januari 2014. Persiapan dan Pengolahan Data Observasi Lapangan, Citra Satelit, dan SIG

Untuk tahap persiapan meliputi pengkajian referensi, pemilihan peta tematik, observasi lapangan, dan wawancara. Observasi disesuaikan dengan aksesibilitas di lapangan berdasarkan peta tematik dan hasil wawancara dengan beberapa masyarakat dan perangkat desa. Observasi yang dilakukan mempertimbangkan aksesibilitas, khususnya yang berhubungan dengan keamanan karena adanya resistensi dari pekerja tambang terhadap keberadaan peneliti.

Selanjutnya dilakukan registrasi citra satelit langsung melalui situs Google Maps dengan mempertimbangkan hasil observasi lapangan. Registrasi citra satelit bertujuan untuk melakukan georeferensi citra [8], dengan cara menentukan titik-titik yang karakteristiknya tergolong pada masing-masing jenis pengolahan tambang tradisional dan menyesuaikan masing-masing titik

596

dengan data SIG, baik koordinat maupun sistem proyeksinya yang teramati langsung melalui situs Google Maps. Intergrasi antara teknologi penginderaan jauh dengan SIG dapat digunakan untuk melakukan identifikasi perkembangan multi temporal [10], yang dapat dimanfaatkan pada penelitian di masa yang akan datang bila ingin mengetahui pergeseran kuantitas unit pengolahan tambang emas tradisional pada waktu tertentu. HASIL DAN DISKUSI

Lokasi Tambang Emas Tradisional Talawaan- Tatelu Berdasarkan Peta DAS Talawaan Lokasi yang menjadi fokus penelitian ini yaitu daerah sekitar tambang emas tradisional Talawaan-Tatelu. Namun, observasi lapangan yang dilakukan hanya di sekitar daerah sepanjang jalan yang menghubungkan Desa Tatelu Rondor dengan Desa Talawaan, dengan alasan

pertimbangan keamanan. Dekat jalan ini terletak Sungai Talawaan yang merupakan salah satu sungai yang mengaliri DAS Talawaan. Luasan DAS Talawaan yang mencakup wilayah Kabupaten Minahasa-Utara dan Kota Manado dapat dilihat dalam Gambar 1. Di sekitar daerah tambang emas tradisional Talawaan-Tatelu terdapat beberapa sungai kecil yang bermuara pada Sungai Talawaan. Dari beberapa unit pengolahan yang dapat diobservasi, unit-unit ini melepaskan buangan cair yang berasal dari proses pengolahan ke dalam sungai-sungai kecil. Patut menjadi perhatian bahwa di sekitar hilir sungai- sungai kecil ini terdapat kolam ikan air tawar, sawah padi, kandang ternak babi, maupun perumahan warga Desa Talawaan. Selain itu, masyarakat sekitar lokasi ini memanfaatkan Sungai Talawaan untuk kegiatan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci [9].

Gambar 1. Lokasi Tambang Emas Tradisional Talawaan-Tatelu (Segi Tiga Hijau) dalam Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) Talawaan (Sumber: Lasut & Yasuda [9]).

Data Citra Satelit dan SIG

Berikut ini disajikan Gambar 2 yang memuat lokasi unit pengolahan (penggalian, penggilingan dan amalgamasi, dan tangki sianida) di daerah tambang Talawaan-Tatelu berdasarkan citra satelit

yang diperoleh melalui situs Google Maps. Selanjutnya, disajikan Tabel 1 yang memuat data berupa radius wilayah dan letak geografis dari titik-titik unit pengolahan yang teridentifikasi dalam Gambar 2.

597

Tabel 1. Letak geografis dan radius wilayah dari tiap titik pengolahan di daerah tambang talawaan-tatelu

Titik Jenis Pengolahan Radius

Wilayah (m)

Letak Geografis Lintang (U) Bujur (T)

A Tangki Sianida 20 1o31,970’ 124o58,192’

B Penggilingan dan Amalgamasi 40 1o31,863’ 124o58,276’

C Penggalian 160 1o32,299’ 124o58,263’

D Tangki Sianida 50 1o32,184’ 124o58,440’

E Penggilingan dan Amalgamasi 40 1o32,246’ 124o58,396’ F Penggilingan dan Amalgamasi 50 1o32,312’ 124o58,410’

G Penggalian 60 1o32,381’ 124o58,377’ H Penggalian 20 1o32,490’ 124o58,330’ I Penggalian 80 1o32,448’ 124o58,506’ J Tangki Sianida 100 1o31,890’ 124o58,504’ K Penggalian 60 1o31,742’ 124o58,597’ L Penggalian 80 1o32,089’ 124o58,668’ M Penggalian 5 1o32,002’ 124o58,845’

N Penggilingan dan Amalgamasi 25 1o31,856’ 124o58,861’

O Tangki Sianida 60 1o31,739’ 124o58,967’

P Tangki Sianida 15 1o31,818’ 124o59,027’

Q Tangki Sianida 25 1o31,936’ 124o59,090’

R Tangki Sianida 20 1o31,992’ 124o59,076’

S Penggilingan dan Amalgamasi 40 1o32,079’ 124o59,064’

T Tangki Sianida 40 1o32,312’ 124o59,071’ U Tangki Sianida 10 1o32,083’ 124o59,147’ V Tangki Sianida 20 1o32,004’ 124o59,247’ W Tangki Sianida 10 1o31,946’ 124o59,324’ X Tangki Sianida 25 1o31,978’ 124o59,368’ Y Tangki Sianida 40 1o31,603’ 124o59,345’

598

Gambar 3. Kenampakan citra satelit pengolahan emas di daerah tambang Talawaan-Tatelu, berdasarkan jenisnya: C) penggalian; J) tangki sianida; dan N) penggilingan dan amalgamasi (Inset huruf yang terletak di sudut kanan atas

merujuk pada titik-titik yang terdapat dalam Gambar 2 dan Tabel 1. Sumber: modifikasi dari

599

Ketiga jenis pengolahan ditentukan berdasarkan hasil citra satelit DigitalGlobe (ditunjukkan pada gambar 2 dan 3, yang merupakan modifikasi dari data dalam www.maps.google.co.id), maupun hasil observasi langsung di lapangan ketika dilakukan pengambilan sampel. Untuk jenis penggalian (Gambar 3C), dapat diidentifikasi dari lahan yang mengalami deforestasi pada hasil

pencitraan satelit. Lahan galian terlihat berwarna coklat tanah, yang berbeda dengan sekitar lokasi galian yang berwarna hijau, yang merupakan area rerumputan maupun tutupan pepohonan. Untuk jenis penggilingan dan amalgamasi (gambar 3N), ternampak dari sekumpulan bangunan pada hasil pencitraan jarak jauh, diperkuat dengan hasil observasi langsung di lapangan (Gambar 4).

A

B

C

D

E

F

Gambar 4. Hasil observasi lapangan pada pengolahan jenis penggilingan dan amalgamasi: A) satu unit bangunan pengolahan; B) perangkat peralatan dalam unit pengolahan; C) alat penggilingan; D) tromol; E) bak penampungan

600

hasil penggilingan dan amalgamasi; dan F) kolam penampungan tailing penggilingan dan amalgamasi (Sumber: dokumentasi pribadi, diambil tanggal 14 September 2013).

Untuk jenis penggilingan dan amalgamasi, hanya beberapa kumpulan unit pengolahan yang dapat diidentifikasi melalui observasi, terutama tempat yang terletak di pinggiran jalan utama Talawaan- Tatelu. Observasi tidak dapat dilakukan ke lokasi- lokasi yang terletak jauh dari jalan utama dengan pertimbangan keamanan. Pada Gambar 3, tampak beberapa kumpulan bangunan yang diduga merupakan unit pengolahan jenis penggilingan dan amalgamasi. Jenis penggilingan dan amalgamasi dapat dilihat dari tampilan citra satelit berupa bangunan yang dilengkapi dengan kolam penampungan yang berbentuk teratur, dikelilingi oleh dinding beton (berbeda dengan kolam penampungan tailing tangki sianida yang tanpa dikelilingi oleh dinding beton). Tampilan yang lebih jelas dari unit pengolahan penggilingan dan amalgamasi dapat dilihat dalam gambar 4. Bila dihubungkan antara kenampakan pencitraan satelit dalam Gambar 3 dengan informasi yang dikemukakan Limbong dan koleganya [3] bahwa pada bulan Juni 2001 terdapat sekitar 400 unit pengolahan, terlihat bahwa dalam rentang waktu 12 tahun, unit penggilingan dan amalgamasi di lokasi tambang Talawaan-Tatelu relatif stagnan jumlahnya.

Selanjutnya, untuk jenis pengolahan tangki sianida terlihat relatif mengalami peningkatan dalam hal jumlah. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa sampai dengan pertengahan tahun 2002, teknik tangki sianida belum menjadi pilihan para penambang di daerah Talawaan- Tatelu [4]. Dari hasil pencitraan jarak jauh (Gambar 2), jenis pengolahan tangki sianida dapat diidentifikasi melalui kenampakan lahan yang terdiri dari bangunan tempat tangki sianida dioperasikan dan kolam penampungan tailing sianida yang berwarna kecoklatan. Kolam-kolam penampungan tailing sianida ini sangat mudah teridentifikasi melalui pencitraan jarak jauh (Gambar 3J). Seperti dikemukakan oleh Veiga dan koleganya [2], tailing hasil pengolahan tangki sianida didepositkan pada kolam penampungan yang tidak dikelilingi oleh pembatas (misalnya, dinding beton), berbeda dengan kolam penampungan tailing hasil penggilingan dan amalgamasi.

Perbedaan fisik kolam penampungan dari kedua jenis ini lebih disebabkan oleh karakteristik tailing. Tailing dari jenis penggilingan dan amalgamasi masih mengandung emas dalam kandungan yang tinggi, dan masih dimungkinkan untuk diperoleh kembali melalui teknik tangki sianida. Itu sebabnya dinding dan dasar kolam tailing penggilingan dan amalgamasi dibuat dari beton untuk menghindari agar emas tidak terendap atau terserap ke dalam matriks tanah. Berbeda dengan tailing jenis tangki sianida yang kandungan emasnya sangat rendah karena sudah terserap oleh karbon aktif dalam tangki sianida, sehingga tailing dibuang begitu saja tanpa perlakuan apapun khususnya pada fisik kolam penampungan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa masing-masing ketiga jenis pengolahan emas di tambang tradisional Talawaan-Tatelu memperlihatkan kenampakan pencitraan jarak jauh yang berbeda dan spesifik. Data kenampakan pencitraan jarak jauh dan data SIG diperkuat dengan hasil observasi lapangan, dapat dipakai untuk membedakan antara jenis pengolahan yang satu dengan yang lainnya. Melalui teknik pencitraan jarak jauh dan observasi lapangan juga diperoleh data kondisi fisik daerah aktivitas perekonomian masyarakat (pertanian, peternakan, dan perikanan) yang bersebelahan dengan daerah pertambangan tradisional dalam wilayah DAS Talawaan. Hasil penelitian ini dan penelitian lainnya yang berkaitan dengan kandungan pencemar yang berasal dari aktivitas tambang tradisional dapat digunakan sebagai referensi bagi pemerintah setempat dalam menyusun suatu kebijakan di bidang penyehatan lingkungan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penelitian ini merupakan bagian dari Penelitian Strategis Nasional (tahun pertama, pendanaan tahun 2013). Oleh sebab itu, kami sebagai peneliti mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang telah berkenan mendanai penelitian ini.

601

DAFTAR PUSTAKA

[1] D. Limbong, J. Kumampung, J. Rimper, T.

Arai, and N. Miyazaki, “Emissions and

Environmental Implications of Mercury from Artisanal Gold Mining in North Sulawesi, Indonesia,” Science of The Total Environment, Vol. 302, No. 1-3, pp. 227- 236, 2003.

[2] M. M. Veiga, D. Nunes, B. Klein, J. A. Shandro, C. Velasquez, and R. N. Sousa,

“Mill Leaching: A Viable Substitute for

Mercury Amalgamation in The Artisanal Gold Mining Sector,” Journal of Cleaner Production, Vol. 17, pp. 1373-1381, 2009. [3] D. Limbong, J. Kumampung, I. F. M.

Rumengan, T. Arai, and N. Miyazaki,

“Measurement of Total Mercury

Concentration in the Water Source Pool of Public Drink Water Installations Around

Manado City, North Sulawesi, Indonesia,”

Otsuchi Marine Science, No. 28, pp. 99-101, 2003.

[4] Swarawanua, Sekilas Tambang di Wilayah Tatelu, 2004. [Online] Available: http://swarawanua.blogspot.com/2011_04_0 1_archive.html (January 15, 2014).

[5] M. T. Lasut, and Y. Yasuda, Potential Contamination of Mercury from Artisanal Gold Mining in the Talawaan Watershed Area, North Sulawesi, Indonesia. National Institute for Minamata Disease (NIMD) Forum, 2009.

[6] N. Suwargana, “Resolusi Spasial, Temporal, dan Spektral pada Citra Satelit Landsat,

Spot, dan Ikonos,” Jurnal Ilmiah WIDYA, Vol. 1, No. 2, pp. 167-174, 2013.

[7] S. Parman, “Deteksi Perubahan Garis Pantai Melalui Penginderaan Jauh di Pantai Utara

Semarang, Demak,” Jurnal Geografi, Vol. 7, No. 1, pp. 30-38, 2010.

[8] Indarto, and A. Faisol, “Identifikasi dan Klasifikasi Peruntukan Lahan Menggunakan

Citra ASTER,” Media Teknik Sipil, Vol. IX,

No. 1, pp. 1-8, 2009.

[9] M. T. Lasut, and Y. Yasuda, On Mercury Diffusion from Artisanal Gold Mining: A Case Study from Talawaan Watershed, North Sulawesi, Indonesia. National Institute for Minamata Disease (NIMD) Forum, 2010.

[10] B. W. Mutaqin, E. Trihatmoko, A. K. N.

Fitriani, dan Jumari, “Studi Pendahuluan Dinamika Wilayah Kepesisiran di Muara Delta Porong Setelah Erupsi Mud-Volcano

Sidoarjo Tahun 2006,” Prosiding Seminar Nasional Pendayagunaan Informasi Geospatial untuk Optimalisasi Otonomi Daerah 2013, pp. 27-31, 2013.

DISKUSI

Pertanyaan : -

602

PENENTUAN PATI RESISTEN DAN KADAR GIZI

Dalam dokumen ProsidingSemnasIX Kim Pen Kim Rev 3 (Halaman 155-163)