• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1. Perubahan Perancangan

4.1.1. Pemasangan Lakban

Perancangan yang terdapat pada gambar 3.6 pemasang lakban menggunkan silinder pneumatik sebagai pemotong lakban, namun karena adanya hasil alat yang tidak memungkinkan untuk peletakan silinder pneumatic sehingga diubah dengan sistem mekanis yang digerakkan oleh per, terlihat pada gambar 4.1.

Gambar 4.1. Pemasangan lakban 4.1.2. Penggeser Kardus

Perancangan yang terdapat pada gambar 3.4 penggeser kardus menggunakan motor stepper sebagai penggeraknya. Dalam proses pengerjaan program ditemukan suatu kendala.

Kendala tersebut adalah PLC CP1E-N40SDR-A tidak bisa menggerakan motor stepper, sehingga motor stepper diganti dengan motor DC 12V yang ditunjukan dengan gambar 4.2.

Gambar 4.2. Penggeser kardus

Perubahan komponen pada mekanisme penggeser kardus mengkibatkan penambahan rangkaian relay yang berfungsi supaya motor DC dapat berputar dua arah (CW dan CCW), serta penambahan komponen transformator step down yang berfungsi sebagai penurun tegangan pada motor DC. Transformator step down menurnkan tegangan pada motor DC maka rpm pada motor DC akan semakin kecil. Rangkaian relay ditunjukkan dengan gambar 4.3.

Gambar 4.3. Rangkaian relay 4.1.3. Dimensi Alat

Perancngan yang terdapat pada gambar 3.2 dimensi alat diubah menjadi gambar 4.4.

Gambar 4.4. dimensi alat 4.1.4. Posisi dan Fungsi Sensor

Pada gambar 3.8 dan 3.9 letak sensor menunjukan posisi komponen sensor dan keterangan kegunaan setiap sensornya, namun karena ada perubahan bentuk alat sehingga posisi sensor berubah seperti pada gambar 4.5.

Gambar 4.5. Posisi limit switch

Sensor fotoelektik yang berfusngsi untuk mengaktifkan konveyor ditiadakan karena konveyor sudah aktif dari tombol start pada HMI dan penambahan limit switch untuk menonaktifkan silinder pneumatik, terlihat pada gambar 4.5

4.1.5. Konveyor

Pada gambar 3.3 konveyor yang ditunjukkan pada nomor 4 dihilangkan dan dan diganti dengan lembaran alumunium, seperti pada gambar 4.6.

Gambar 4.6. konveyor 4.1.6. Perubahan Tampilan Monitoring pada HMI

Terdapat beberapa perubahan yang bertujuan untuk memudahkan operator dalam memonitoring sistem. Perubahan tampilan monitoring seperti pada gambar 4.7 dijelaskan pada tabel 4.1.

Gambar 4.7. Tamilan monitoring Tabel 4.1. Fungsi tombol pada HMI

No Keterangan Fungsi Syarat

1 Tombol “Isi Kardus”

Set nilai sisa kardus menjadi 20

Operator mengisi penampungan kardus sampai batas maksimum

Lanjutan Tabel 4.1. Fungsi tombol pada HMI

No Keterangan Fungsi Syarat

2 Indikator sisa kardus

Menunjukan jumlah kardus yang ada pada

penampungan 3 Tombol “Reset

Lakban” pada bagian bawah

Set nilai sisa lakban menjadi 5000cm

Operator mengganti lakban bagian bawah yang hambir habis 4 Lampu indikator

lakban bagian bawah

Menunjukan lakban bagian bawah harus segera

diganti lakban bagian bawah yang

tersedia

-

6 Tombol “Reset Lakban” pada

bagian atas

Set nilai sisa lakban menjadi 5000cm

Operator mengganti lakban bagian atas yang hambir habis 7 Lampu indikator

lakban bagian atas

Menunjukan lakban bagian atas harus segera

diganti 8 Indikator sisa

lakban bagian atas

Menunjukan panjang lakban bagian atas yang

tersedia 4.2. Implementasi Hardware

Bagian ini menjelaskan tentang implementasi perangkat keras dari perancangan yang telah dibuat sebelumnya. Terdiri dari penggeser kardus, konveyor, pemasang lakban, beserta komponen prototipe secara keseluruhan.

4.2.1. Penggeser Kardus

Proses penggeseran kardus digerakkan menggunakan motor DC yang dapat berputar dua arah (CW dan CCW). Motor DC yang oleh batang besi sehingga memasuki konveyorditampilkan pada gambar 4.8. dan limit switch sebagai input untuk menghentikan dan memutar balik motor dc.

Gambar 4.8. Posisi motor dc dan limit switch

Keterangan gambar 4.8.

a. Motor dc b. Limit switch 4.2.2. Konveyor

Pada gambar 4.9 dan 4.10 memperlihatkan gambar bagian-bagian pada konveyor.

Pada gambar 4.9. terdapat sensor fotoelektrik yang berfungsi sebagai penghitung banyaknya kardus yang sudah terlakban dan melewati seluruh proses dan sebagai penghitung sisa lakban. Dan pada gambar 4.10 terdapat pemasang lakban, motor dc dan 2 konveyor samping.

Konveyor tersebut yang digerakkan oleh motor dc untuk membawa kardus melewati proses pemasangan lakban.

Gambar 4.9. sensor fotoelektrik Keterangan gambar 4.9.

c. Sensor fotoelektrik

Gambar 4.10. konveyor tampak atas Keterangan gambar 4.10.

d. Konveyor e. Motor dc

f. Pemasang lakban

4.2.3. Pemasang Lakban

Pada gambar 4.11 memperlihatkan gambar pemasang lakban. Lakban yang sudah diletakkan pada tempatnya, ujung lakban diletakkan pada roller untuk melekatkan lakban pada kardus dengan melewati roller kecil. Roller kecil berfungsi untuk mempermudah ketika lakban tertarik pada proses pemasangan lakban. Lalu lakban akan terpotong oleh besi pemotong lakban.

Gambar 4.11. Pemasang lakban Keterangan gambar 4.11.

g. Pemotong lakban h. Roller kecil

i. Roller untuk melekatkan lakban pada kardus j. Tempat meletakkan lakban

4.3. Implementasi Software

Pada bagian ini akn dibahas mengenai fungsi tombol dan indikator yang terdapat pada tampilan HMI. Setiap tombol memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan diagram ladder pada PLC. Sedangkan pada tampilan HMI terdapat lampu indikator yang mewakili kejadian pada prototie secara real time.

4.3.1. Tombol On dan Off

Tombol on pada HMI dan PLC menggunakan alamat 0.00, sedangkan tombol off pada HMI dan PLC menggunakan alat 0.01. Tombol tersebut berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan sistem secara keseluruhan, ketika tombol on ditekan akan mengubah indikator sistem berwarna hijau dan ketika tombol off ditekan akan mengubah indikator sistem berwarna merah. Gambar 4.12 merupakan diagram ladder tombol on dan tombol off pada

PLC. Sedangkan gambar 4.13 merupakan tombol on dan off pada HMI dengan lampu indikator sistem sebagai penanda hidup dan matinya sistem.

Gambar 4.12. Diagram ladder tombol on dan off

Gambar 4.13. Menu utama 4.3.2. Tombol Start, Stop, dan Reset

Tombol start pada HMI dan PLC menggunakan alamat 200.01, berfungsi untuk memulai proses mesin mulai dari proses melipat kardus sampai proses pemasangan lakban bagian atas. Sedangkan tombol stop pada HMI dan PLC menggunakan alamat 200.02, berfungsi untuk menghentikan proses mesin. Gambar 4.14. merupakan diagram ladder tombol start dan tombol stop pada PLC.

Gambar 4.14. Diagram ladder tombol start dan stop

Tombol reset pada HMI dan PLC menggunakan alamat 200.04, berfungsi untuk mengembalikan ke posisi awal seperti pada saat tombol start belum ditekan. Gambar 4.15

merupakan diagram ladder tombol reset pada PLC. Sedangkan gambar 4.16. merupakan tombol start, stop, dan reset pada tampilan HMI.

Gambar 4.15 . diagram ladder tombol reset

Gambar 4.16. Tombol start, stop, dan reset pada tampilan HMI 4.3.3. Indikator Proses Melakban

Indikator proses melakban pada HMI dan PLC menggunakan alamat 0.07 dan 0.08, berfungsi untuk memperlihatkan proses pemasangan lakban bagian bawah dan atas sedang berjalan. Gambar 4.17. merupakan diagram ladder indikator proses melakban pada PLC.

Sedangkan gambar 4.18. merupakan indikator proses melakban pada tampilan HMI.

Gambar 4.17. diagram ladder indikator proses melakban

Gambar 4.18. Indikator proses melakban pada tampilan HMI 4.3.4. Tombol Reset Lakban dan Indikator Lakban

Panjang lakban yang masih tersedia ditunjukan pada kotak sisa lakban. Jika lakban sudah <= 100cm maka indikator lakban akan aktif. Indikator lakban yang aktif akan berubah warna dari hijau ke merah. Setelah indikator aktif operator akan mengganti lakban dan menekan tombol “reset lakban”. Tombol memicu kotak sisa lakban menjadi 5000cm.

Tombol reset lakban bagian bawah dan bagian atas pada HMI dan PLC menggunakan alamat 200.09 dan 200.05, sedangkan lampu indikator lakban bagian bawah dan bagian atas HMI dan PLC mnggunakan alamat 200.10 dan 200.08, serta kotak sisa lakban bagian bawah dan bagian atas pada HMI dan PLC menggunakan memori D100 dan D103. Gambar 4.19.

merupakan diagram ladder tombol reset lakban dan indikator lakban pada PLC. Sedangkan gambar 4.20. merupakan tombol reset lakban dan indikator lakban pada tampilan HMI.

Gambar 4.19. tombol reset lakban dan indikator lakban

Gambar 4.20. tombol reset lakban dan indikator lakban pada tampilan HMI 4.3.5. Jumlah Kardus

Jumlah kardus yang sudah selesai melalui proses packaging akan terlihat pada kotak jumlah kardus yang menggunakan alamat D101 pada HMI dan PLC. Gambar 4.21.

merupakan diagram ladder yang menunjukan jumlah kardus pada PLC. Sedangkan gambar 4.22. merupakan kotak jumlah kardus pada tampilan HMI.

Gambar 4.21. memori jumlah kardus

Gambar 4.22. kotak jumlah kardus pada tampilan HMI

4.3.6. Pemrograman HMI

Pemrograman HMI menggunakan NB-designer. Pengalamatan pada NB-designer ditentukan dengan menyesuaikan alamat pada CX-Programer yang dibutuhkan. Terlihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2. Pemrograman HMI

No Tampilan Pemrograman HMI Keterangan

1 -Tombol on dan proses dan sistem menggunakan bit

Lanjutan Tabel 4.2. Pemrograman HMI

No Tampilan Pemrograman HMI Keterangan

4 -tampilan

Lanjutan Tabel 4.2. Pemrograman HMI

No Tampilan Pemrograman HMI Keterangan

7 -tampilan

Lanjutan Tabel 4.2. Pemrograman HMI

No Tampilan Pemrograman HMI Keterangan

10 -tampilan

Lanjutan Tabel 4.2. Pemrograman HMI

No Tampilan Pemrograman HMI Keterangan

13 -tampilan

Lanjutan Tabel 4.2. Pemrograman HMI

No Tampilan Pemrograman HMI Keterangan

16 -tampilan

4.4. Hasil Pengamatan Sistem

Pada bagian ini akan menjelaskan mengenai cara kerja sistem secara keseluruhan.

Hasil data diambil berdasarkan hasil percobaan yang sudah dilakukan pada sistem.

Pengamatan sistem secara keseluruhan sistem utama dan sub sistem. Pada sistem utama meliputi proses pemasangan lakban atas dan bawah kardus. Serta tampilan indikator dan data kardus yang telah selesai melewati semua proses oleh HMI, sedangkan sub sistem akan dilakukan dengan mengukur tegangan pada setiap komponen.

4.4.1. Data Pengamatan HMI

Bagian ini akan menganalisi proses kerja sistem secara keseluruhan. Data yang diambil berdasarkan on/off indikator HMI. Data tampilan HMI ditunjukan pada tabel 4.2.

Tabel 4.3. Data percobaan HMI proses pelipatan kardus

No Tampilan HMI Keterangan

1

Tampilan awal menu utama sebelum sistem dinyalakan atau kondisi

“OFF”.

Lampu indikator sistem berwarna merah.

2

Tampilan menu utama HMI setelah tombol “ON”

ditekan.

Lanjutan Tabel 4.3. Data percobaan HMI proses pelipatan kardus

No Tampilan HMI Keterangan

3

Tampilan sistem

monitoring HMI, semua lampu indikator sistem berwarna merah.

Kotak pada sisa lakban bernilai sama seperti data terakhir.

5

Tampilan berubah ketika tombol start dan kedua reset lakban

Lanjutan Tabel 4.3. Data percobaan HMI proses pelipatan kardus

No Tampilan HMI Keterangan

6

Dan kotak pada jumlah kardus bernilai 1.

Menandakan jumlah kardus yang telah selesai dilakban. kardus bagian atas untuk kardus ke dua.

Kotak sisa lakban bernilai 4940, sebagai indikator Panjang lakban.

Lanjutan Tabel 4.3. Data percobaan HMI proses pelipatan kardus

No Tampilan HMI Keterangan

9 Tampilan ketika kardus

memasuki proses pemasangan lakban bagian atas untuk kardus ke dua.

Kotak sisa lakban bernilai 4940, sebagai indikator Panjang lakban.

Dan kotak pada jumlah kardus bernilai 2.

Menandakan jumlah kardus yang telah selesai dilakban.

Berdasarka percobaan yang dilakukan, komunikasi HMI dengan semua komponen input maupun output berjalan dengan baik.

Gambar 4.23. Tampilan HMI yang memperlihatkan lakban harus diganti

Dari gambar 4.23 memperlihatkan lampu indikator berubah warna menjadi merah serta kotak indikator menunjukan angka 500, menandakan lakban harus diganti. Indikator akan tetap berwarna merah dan kotak indikator akan terus berkurang sebelum lakban diganti dan tombol reset lakban ditekan.

4.4.2. Data Pengamatan Proses Pemasangan Lakban

Bagian ini akan menjelaskan bagaimana proses sistem pemasangan lakban secara keseluruhan. Data diambil berdasarkan perubahan ON atau OFF push button, limit switch sensor, dan photoelectric sensor. Kemudian semua komponen output yang aktifkan oleh komponen input pada plant. Data dapat dilihat seperti pada tabel 4.4.

Tabel 4.4. Data pengamatan komponen I/O proses pelipatan kardus

No Kondisi Komponen Input

Komponen Output Berhasil L1 L2 L4 P1 P2

1 Posisi awal 0 0 1 0 0 Konveyor ON dan

motor DC OFF YA

2 Motor mendorong

kardus 1 0 0 0 0 Konveyor ON dan

motor DC CW YA

3 Motor Kembali

keposisi awal 0 1 0 0 0 Konveyor ON dan

motor DC CCW YA

4 Pemasangan lakban

bagian bawah 0 0 1 1 0 Konveyor ON YA

5 Pemasangan lakban

bagian atas 0 0 1 0 1 Konveyor ON YA

6 Pneghitungan jumlah

kardus 0 0 1 0 1 Konveyor ON YA

Ket. L1 = Limit Switch 1, L2 = Limit Switch 2, L4 = Limit Switch 4, P1 = Photoelectric sensor 1, P2 = Photoelectric sensor 2.

Data pengamatan pada proses pemasangan lakban ini dimulai dari posisi awal ketika tombol ON pada HMI ditekan, kemudian tombol START pada halaman monitoring HMI ditekan. Pada posisi awal motor DC sebagai penggeser kardus pada posisi idle dengan L4 aktif seperti kondisi no 1. Motor DC akan mulai bergerak ketika L1 aktif seperti kondisi no 2. L1 akan aktif setelah proses penarikan kardus selesai dilakukan. Kardus yang digeser motor DC mulai memasuki konveyor yang sudah aktif ketika tombol START pada HMI ditekan. Selama didalam konveyor proses dimulai dari pemasangan lakban bagian bawah, lalu pemasangan lakban bagian atas, dan berakhir setelah melewati penghitungan jumlah kardus.

Percobaan pemasangan lakban berlangsung 10 kali percobaan. Jika dilihat dari segi elektronisnya, sistem pemasang lakban dapat berjalan lancar dengan 10 kali keberhasilan.

Tetapi dilihat dari segi mekanisnya, sistem pemasang lakban tidak dapat berjalan sama sekali

secara otomatis melainkan membutuhkan bantuan tangan untuk membantu prosesnya atau 0 kali keberhasilan.

Rumus yang digunakan untuk menghitung persentase keberhasilan dari percobaan secara elektornis dan secara mekanis adalah :

Percobaan Berhasil x 100%

Banyaknya Percobaan

Dilihat dari rumus tersebut persentase keberhasilan sistem secara elektronis adalah 100%, sedangkan secara mekanis adalah 0%.

Rumus yang digunakan untuk menghitung persentase keberhasilan dari percobaan secara keseluruhan adalah :

Persentase secara elektronis + Persentase secara mekanis 2

Dilihat secara keseluruhan sistem pemasang lakban dapat berjalan dengan persentase 50%.

4.4.3. Hasil Pengamatan Sub Sistem

Pengamatanan sub sistem dilakukan dengan cara mengukur nilai tegangan komponen ketika kondisi ON dan OFF. Nilai tegangan kompone ditunjukan pada tabel 4.5.

Tabel 4.5. Data pengamatan tegangan pada komponen input No Komponen Kondisi Tegangan Terbaca

(VDC)

Berdasarkan data yang diambil dari hasil pengukuran didapatkan tegangan terukur yang tidak sesuai dengan tegangan masukkan. Perbedaan tegangan tersebut menyebabkan komponen tidak berkerja secara maksimal, namun hal ini tidak mempengaruhi kinerja komponen, dan komponen masih dapat aktif bekerja dengan baik.

4.4.4. Analisis Hardware Keseluruhan Sistem

Pada bagian ini akan membahas tentang sistem kerja hardware yang digunakan. Pada sistem ini ada beberapa bagian hardware yang mengalami kegagalan pada saat sistem sedang berjalan. Berikut merupakan bagian hardware yang mengalami kegagalan antara lain pada bagian penggeser kardus tidak memiliki penyangga kardus sehingga kardus mudah terjatuh, miring dan tidak memasuki konveyor, dan mekanisme pemasang lakban yang tidak dapat berjalan sesuai mestinya, serta pemotong lakban yang yang tidak bekerja sesuai yang diharapkan.

Proses penggeseran kardus adalah untuk memindahkan kardus setelah terbuka dan memasuki tahap penutupan kardus bagian bawah serta kardus memasuki konveyor. Bagian yang digunakan untuk menggeser kardus ini adalah motor DC dan besi melengkung sebagai pendorong serta silinder pneumatic sebagai penyangga bawah dan penutup bagian bawah kardus. Pada proses bergesernya kardus mengalami banyak kendala. Yang pertama tekanan silinder pneumatic yang terlalu besar mengkibatkan kardus terdorong miring hingga jatuh atau tekanan silinder pneumatic yang terlalu kecil mengakibatkan kardus tidak tertopang dan jatuh. Yang kedua adanya 3 besi untuk membantu menutup bagian bawah kardus, tetapi karena pemasangan yang kurang tepat mengakibatkan kardus tidak dapat memasuki konveyor. Terlihat pada gambar 4.24.

Gambar 4.24. Penggeser kardus

Kererangan gambar 4.24.

a. Besi melengkung b. Silinder pneumatic c. 3 bes penyangga

Proses pemasangan lakban terjadi 2 kali yaitu pada bagian bawah kardus dan bagian atas. Alat pemasang lakban menggunakan bahan akrilik untuk mempermudah pembuatan.

Pemasang lakban terdiri dari beberapa bagian, seperti pada gambar 4.25.

Gambar 4.25. Pemasang lakaban Keterangan gambar 4.25.

1. Roll untuk meletakkan lakban.

2. Roller untuk memasangakan lakban pada kardus.

3. Pisau pemotong lakban.

4. Roller untuk jalur lakban.

Gambar 4.26. roller tidak berfungsi sesuai keinginan.

Pada gambar 4.25 roller yang ditunjukan oleh nomer 2 berfungsi untuk merekatkan lakban pada kardus, tetapi karena roller tidak berputar semestinya ketika kardus melewati pemasang lakban maka lakban tidak dapat terpasang secara sempurna. Sedangkan pisau pemotong tidak dapat memotong seperti yang diinginkan karena kesalahan pada mekanisme peletakan per sebagai pemicu pemotong lakban. Gambar 4.26. menunjukan roller yang tidak berfungsi scara baik. Dan gambar 4.27. akan menunjukan pisau yang tidak dapat memotong lakban. Sedangkan hasil dari proses pemasangan lakban dapat dilihat pada gambar 4.28.

Gambar 4.27. roller tidak berfungsi sesuai keinginan.

Gambar 4.28. contoh hasil percobaan

51

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan membahas kesimpulan dari seluruh proses tugas akhir yang telah dlaksanakan. Pada bab ini akan menyertakan saran pengembangan yang dapat dilakukan sebagai peyempurnaan sistem.

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil dan analisis sistem pemasang lakban pada prototipe mesin packaging yang telah dilakukan dapat disimpulkan.

1. Sistem pemasangan lakban secara elekronis dapat berjalan 100%.

2. Sistem pemasangan lakban secara mekanis dapat berjalan 0%

3. Sistem pemasangan lakban secara keseluruhan berjalan 50%

4. Konveyor berjalan dengan baik.

5. Tampilan HMI bekerja sesuai dengan yang diinginkan.

6. Photoelectric sensor dapat mendeteksi kardus dengan baik.

5.2. Saran

Setelah melakukan penelitian ini terbapat beberapa saran untuk peneliti selanjutnya, yaitu:

1. Memperbaiki bahan dan bentuk desain pemasang lakban agar hasil lakbannya memuaskan.

2. Pengembangan sistem mekanis yang lebih presisi agar sistem dapat berjalan lebih baik.

3. Pemambahan fitur pick and place barang agar bentuk kardus dapat terjaga.

52

DAFTAR PUSTAKA

[1] SUSETYARSI, Th. Kemasan Produk Ditinjau dari Bahan Kemasan, Bentuk Kemasan dan Pelabelan pada Kemasan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian pada Produk Minuman Mizone di Kota Semarang. Jurnal STIE Semarang, 2012, 4.3: 1-28.

[2] MUFRENI, Alfin NF. Pengaruh Desain Produk, Bentuk Kemasan Dan Bahan Kemasan Terhadap Minat Beli Konsumen (Studi Kasus Teh Hijau Serbuk Tocha).

Jurnal Ekonomi Manajemen, 2017, 2.2: 48-54.

[3] PURNOMO, M. Hadi. Peningkatan Manajemen Perpustakaan dengan Sistem Otomasi (Upaya Pelayanan Terhadap Pengguna Perpustakaan). FALASIFA: Jurnal Studi Keislaman, 2016, 7.1: 77-96.

[4] PUTRA, Eko. Agfianto. PLC Konsep, Pemrograman dan Aplikasi. 2007.

[5] Tung Yan, Tang. Simulator PLC (Software), Malaysia., Johor., 1998

[6] SONJAYA, Ujang. Rancang bangun sistem kontrol konveyor penghitung barang menggunakan plc (programmable logic controller) omron tipe cpm1a 20 cdr. Jurnal Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri, 2009.

[7] WICAKSONO, Handy. Programmable Logic Controller: Teori. Pemrograman dan Aplikasinya dalam Otomasi Sistem, Graha Ilmu–Yogyakarta, 2009.

[8] BOLTON, William. Programmable Logic Controller (PLC) Sebuah Pengantar.

Erlangga, Jakarta, 2004.

[9] WINAHYU, Rr Kartika Kusuma; TRIWIYATNO, Aris; SETIYONO, Budi. DESAIN HMI (HUMAN MACHINE INTERFACE) OMRON NB7W-TW00B PADA PLANT FILTRASI MENGGUNAKAN MODUL ULTRAFILTRASI. TRANSIENT, 2016, 4.3: 863-870.

[10] JULHAM, Julham; ADAM, Hikmah Adwin. PERANCANGAN DAN PEMBUATAN TRAINER KOMUNIKASI RS232 MENGGUNAKAN KOMPUTER DAN MIKROKONTROLER ATMEGA. Jurnal Teknik Informatika Kaputama, 2018, 2.1.

[11] Sumanto, Drs, MA, Mesin Arus Searah, Andi Offset, Yogyakarta, 1995

PRABOWO, Danang Mahardika, et al. ANALISIS PENGARUH KECEPATAN DAN MASSA BEBAN PADA CONVEYOR BELT TERHADAP KUALITAS PENGEMASAN DAN KEBUTUHAN DAYA DAN ARUS LISTRIK DI BAGIAN PRODUKSI PT.

[12] INDOPINTAN SUKSES MANDIRI SEMARANG. 2018. PhD Thesis. Universitas Muhammadiyah Semarang.

[13] MUSTOFA, Ibnu Catur. Monitoring gerakan pada ruangan menggunakan webcam dan motor stepper. 2008. PhD Thesis. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

[14] KADIRUN, Kadirun; HASANUDDIN, Hasanuddin; ARYANTO, Aryanto.

PENERAPAN SISTEM STOP SIGN PADA PERTIGAAN JALAN BERBASIS SENSOR PHOTOELECTRIC STUDI KASUS PADA PT. CHEVRON PACIFIC INDONESIA. JURNAL FASILKOM, 2016, 5.2: 1-9.

[15] TEHUAYO, Rofieko; PRANJOTO, Hartono; GUNADHI, Albert. Lampu tangga otomatis. Widya Teknik, 2018, 13.2: 1-13.

[16] ARIFIN, Ilfan, et al. Automatic Water Level Control Berbasis Mikrocontroller Dengan Sensor Ultrasonik. 2015. PhD Thesis. UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG.

[17] HALIM, AMRAN. APLIKASI SOLENOID VALVE PADA ALAT PENYAJI KOPI OTOMATISBERBASIS MIKROKONTROLER. 2017. PhD Thesis. POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA.

[18] YUDHA, Aulia Wiendyka, et al. Perancangan Sistem Pengaturan Tekanan Pada Shutdown Valve Untuk Antisipasi Kebakaran Berbasis Pneumatic Menggunakan Mikrokontroler ATMega 328. Jurnal Mahasiswa TEUB, 2015, 3.1.

[19] SUBHAN, Muhammad; SATMOKO, Ari. Penentuan Dimensi Dan Spesifikasi Silinder Pneumatik Untuk Pergerakan Tote Iradiator Gamma Multiguna Batan. Jurnal Perangkat Nuklir, 2017, 10.2.

[20] HIDAYAT, Wahyu; PRAMUDYA, Yudhiakto. Sistem kendali medan magnet solenoida berbasis Arduino. In: Quantum: Seminar Nasional Fisika, dan Pendidikan Fisika. 2018. p. 637-643.

[21] https://teknikelektronika.com/pengertian-relay-fungsi-relay/ (gambar) [22] https://www.rs-online.com/designspark/seven-uses-for-photoelectric-sensors

(gambar)

[23] https://www.c3controls.com/white-paper-a-logical-guide-to-relay-ladder-logic-symbols/ (gambar)

[24] https://www.indiamart.com/retro-automation-solution/omron-plc.html (gambar) [25] http://jagootomasi.com/apa-itu-hmi-dalam-sistem-otomasi-industri/ (gambar) [26] https://www.stratusengineering.com/rs232-9-pin-pinout/ (gambar)

[27] https://serviceacjogja.pro/pengertian-motor-dc/ (gambar)

[28] https://www.kartec.co.id/jual-belt-conveyor-fabrikasi-custom/attachment/pabrik- (gambar)

[29] konveyor-jual-conveyor-belt-di-tangerang-jakarta-harga-murah-1 (gambar) [30] https://www.centralab-jogja.com/apa-itu-stepper-motor/ (gambar)

[31] https://www.rs-online.com/designspark/seven-uses-for-photoelectric-sensors (gambar)

55

LAMPIRAN

Tabel pengalamatan HMI

No Nama Area/Variable Alamat

1 ON CIO_bit 0.00

2 OFF CIO_bit 0.01

3 SISTEM CIO_bit 200.00

4 START CIO_bit 200.01

5 STOP CIO_bit 200.02

6 RESET CIO_bit 200.04

7 LAMPU INDIKATOR PENGAMBIL KARDUS

CIO_bit 0.02

8 LAMPU INDIKATOR MENUTUP

BAGIAN BAWAH KARDUS

CIO_bit 100.06

9 LAMPU INDIKATOR MELAKBAN

BAGIAN BAWAH KARDUS

CIO_bit 0.07

10 LAMPU INDIKATOR MENUTUP BAGIAN ATAS KARDUS

CIO_bit 0.07

11 LAMPU INDIKATOR MEMASANG

BAGIAN ATAS KARDUS

CIO_bit 0.08

12 ISI KARDUS CIO_bit 200.06

13 SISA KARDUS D 102

14 JUMLAH KARDUS D 101

15 RESET LAKBAN BAWAH CIO_bit 200.09

16 INDIKATOR LAKBAN BAWAH CIO_bit 200.10

17 SISA LAKBAN BAWAH D 103

18 RESET LAKBAN ATAS CIO_bit 200.05

19 INDIKATOR LAKBAN ATAS CIO_bit 200.08

20 SISA LAKBAN ATAS D 100

Dokumen terkait