• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lahan Blm Produktif (ha)

3.2.2 Pemasaran dan Harga

Untuk sampai ke pasar tujuan akhir, gambir terlebih dahulu melalui tahapan yang panjang.

Setelah selesai dicetak dan dalam keadaan masih belum kering benar, tukang kempa membawanya ke rumah pemilik ladang gambir. Pada hari tertentu (berbeda prosesnya untuk masing-masing nagari / kecamatan), agen-agen pedagang pengumpul akan datang membeli gambir dari petani, sebelum kemudian dijemur kembali. Demikian pula pedagang perantara ini akan menyimpan di gudangnya dan menyiapkan untuk mengirim ke pedagang besar yang ada di Payakumbuh atau di Padang.

Pedagang besar kemudian menjual kepada eksportir (umumnya berasal dari India) yang berada di Padang, Medan atau Jakarta, meskipun tercatat ada beberapa pedagang besar yang sudah mampu menjual langsung produknya ke India, Singapura atau Jepang. Para pedagang besar

30 umumnya melakukan proses pemurnian gambir yang diterima dari petani melalui rantai pedagang perantara.

Proses pemurnian dilakukan dengan cara yang relatif sederhana, yaitu dengan merebus gambir kembali dan menjadikannya sebagai bubur, dan memisahkan kotoran (campuran) berupa debu (ash) dan kotoran lain, kemudian mencetak ulang. Beberapa pedagang besar, yang sudah mempunyai hubungan langsung dengan pembeli di luar negeri, melalakukan pemrosesan lanjut untuk menghasilkan gambir sesuai dengan spesifikasi bentuk, kadar kandungan, dan tingkat kekeringan yang dipersyaratkan oleh pembelinya.

Gambar 3.4 Rantai Pasok Pengusahaan Gambir di Kabupaten Lima Puluh

Sumber: Sucofindo, 2008

Fenomena rantai pemasaran yang penting menjadi catatan (karena masalahnya) adalah dalam hal penetapan harga dan rantai pemasaran.Sampai saat ini masih bersifat consumer oriented. Oleh karenanya harga gambir cenderung fluktuatif, bahkan kadang-kadang ekstrim mulai level harga paling rendah sampai yang paling tinggi (menurut persepsi masyarakat). Pada saat harga rendah petani merasa dirugikan sedangkan pada saat harga tinggi sebenarnya petani tidaklah begitu

31 diuntungkan karena kelebihan harga itu hanya impas untuk menutupi ketekoran pada pada harga gambir rendah. Dengan fluktuasi dan harga rata-rata yang tidak begitu menggembirakan ini, maka pada hakekatnya usaha tani gambir bukanlah sebuah usaha tani yang terlalu menggiurkan.

Karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa usaha tani gambir hanyalah usaha tani yang hanya bisa menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini terjadi karena interval harga gambir yang relatif tinggi tidak berlengasung lama dan tidak konstan.

Di samping harga yang fluktuatif dan tidak bisa diprediksi, pemasaran gambir berada pada jalur perdagangan yang sedikit tertutup dengan mata rantai yang relatif panjang. Rantai pemasaran ini dimulai dari (petani - pedagang pengumpul - pedagang pengumpul tingkat Kecamatan - pedagang pengumpul Kabupaten - eksportir). Siklus perdagangan ini berjalan sedemikian rupa secara reguler selama bertahun-tahun tanpa bisa diputus ataupun dipersingkat. Dalam prakteknya petani tidak dapat menjual gambir secara langsung kepada pedagang pengumpul di kecamatan tanpa melalui pedagang di tingkat nagari, apalagi untuk menjual langsung kepada eksportir ataupun langsung ke dunia industri. Sebenarnya ini adalah sebuah anomali dalam dunia perdagangan maupun pemasaran. Kondisi seperti ini terjadi karena kultur perdagangan gambir yang sudah mengakar dan lemahnya daya jangkau petani terhadap pasar. Dengan kondisi seperti ini maka petani selalu berada dalam kekuasaan pedagang tanpa memiliki daya untuk mempengaruhi harga, dapat juga dikatakan bahwa pasar pedangangan gambir bersifat inperfect (tidak sempurna) dimana petani berada pada posisi lemah dan sering tidak diuntungkan. Ironinya keanehan seperti ini terjadi pada komoditas yang tidak memiliki saingan berarti dari daerah lain maupun negara lain secara internasional.

Pasar produk gambir tersebut sebagian besar merupakan pasar ekspor. Penyerapan produk gambir terbesar terjadi di Asia Selatan yang meliputi India, Pakistan dan Bangladesh, kemudian Asia Timur seperti Jepang dan Korea serta Eropa seperti Perancis dan Swis. Gambir ini oleh mereka (importer diluar negeri) diolah kembali menjadi produk lanjutan pada berbagai industri.

Dengan pengolahan ini maka nilai tambah (value added) produk gambir dinikmati oleh negara-negara yang melakukan pemurnian dan pengolahan lanjut tersebut, terutama negara-negara-negara-negara yang menguasai teknologi tinggi di bidang kimia dan farmasi.

32 3.2.3 Kelembagaan Usaha Tani Gambir

Kelembagaan yang ada dalam pengembangan usaha tani gambir sebagaian besar baru berupa kelompok tani, dimana jumlah kelompok tani sebanyak 77 buah dengan anggota berjumlah 8,589 orang dengan total lahan dikelola seluas 2.809 hektar. Aktifitas kelompok tani belum berjalan secara efektif karena sebagian besar merupakan kelompok tani pemula, sehingga dalam pengembangannya sangat dibutuhkan pembinaan dan bimbingan berbagai pihak secara aktif, baik teknis maupun non teknis. Adapun sebaran kelompok tani secara detail dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3.2 Jumlah dan Sebaran Kelompok Tani di Kab. Lima Puluh Kota Tahun 2008 No. Kecamatan Jumlah Kelompok Luas Kebun Gambir (Ha)

1 Kapur IX 20 772

2 Pangkalan Koto Baru 8 537

3 Luak - -

4 Suliki 9 252

5 Guguak 2 69

6 Lareh Sago Halaban 14 250

7 Akabiluru - -

8 Mungka 3 204

9 Harau 17 525

10 Payakumbuh - -

11 Bukik Barisan 4 200

12 Situjuah Limo Nagari - -

13 Gunuang Omeh - -

Jumlah 77 2.809

Sumber: Sucofindo 2008

Secara tegas tabel diatas menjelaskan bahwa kelembagaan kelompok tani belum berkembang secara menyeluruh, terutama pada kecamatan-kecamatan penghasil gambir terbesar. Bila dibandingkan jumlah keanggotaan petani dalam kelompok tani dengan jumlah petani gambir maka keanggotaan kelompok tani masih sangat kecil, yaitu kira-kira 19,66%. Kondisi ini

33 memberikan indikasi bahwa pengelolaan usaha tani gambir lebih dominan secara individual oleh masyarakat.

Selanjutnya sampai hari ini tidak ada informasi yang jelas mengenai koperasi ataupun asosiasi yang mengelola usaha tani gambir maupun aktifitasnya. Kalaupun ada, diduga kelembagaan seperti ini belum bekerja sebagaimana mestinya.Sementara koperasi yang ada berupa koperasi umumnuya untuk tujuan simpan pinjam. Dengan rincian terdapat 47 Koperasi Unit Desa (KUD), dan 147 Koperasi Non-KUD.Koperasi di level kabupaten sebenarnya sudah ada, yaitu Koperasi Gabungan P-KSP Gambir Kabupaten Lima Puluh Kota yang didirikan pada tahun 2004, namun saat ini kegiatan koperasi tersebut mati suri. Sementara itu terkait sarana pemasaran, hingga 2010 di Kabupaten LimapuluhKota sudah terbangun 60 Pasar tradisonal,. Terkait jumlah pasar, keberadaan pasar saat ini mengalami kemajuan yang pesat dengan kenaikan sekitar 58%

dibandingkan tahun 2000 yang hanya 38 unit pasar saja.

Gambar 3.5 Jumlah sarana Perdagangan dan Koperasi di Kabupaten LimapuluhKota

Sumber: Kabupaten LimapuluhKota Dalam Angka (diolah)

45 45 47 47 47 48 44 46 46 47

38 38 38 38 38 48 48 48 60 60

102 117 133 140 144

157 167 169

177 176

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Jml Sarana Perdagangan (unit)

Jumlah KUD Pasar Jumlah Non_KUD

34 BAB 4 ANALISIS PENGEMBANGAN GAMBIR DI KABUPATEN LIMAPULUHKOTA

Guna mengetahui para pelaku dalam rangkaian pengembangan komoditas gambir seperti digambarkan dalam bab sebelumnya, perlu dicermati peta rantai nilai komoditas ini mulai dari pengadaan bahan baku hingga produk jadi diterima oleh konsumen. Diagram rantai nilai dapat digunakan untuk keperluan tersebut. Dalam kajian Sucofindo (2008) teridentifikasi rantai nilai pengusahaan gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota yang dapat dilihat pada Gambar XX. Peta rantai nilai ini menunjukkan tahapan peningkatan nilai, pelaku-pelaku dalam setiap tahapan, serta lembaga pendukung langsung (supporter) dan lembaga pendukung tidak langsung (enabler) dalam berbagai tahapan tersebut. Penjelasan mengenai aktivitas terkait dalam penciptaan dan peningkatan nilai tersebut ditunjukkan dalam tabel dibawah ini.

Tabel 4.1 Aktivitas Dalam Rantai Nilai Gambir Di Kabupaten Lima Puluh Kota

35 Sumber: Studi Lapangan Sucofindo

36 Gambar 4.1 Peta Rantai Nilai Pengusahaan Gambir

Sumber: Penelitian Lapangan Sucofindo

Dokumen terkait