BAB IV SISTEM BUDIDAYA PERTANIAN NILAM
4.4 Pemasaran Hasil Olahan
Dari proses pengolahan daun nilam kering yaitu penyulingan dihasilkanlah minyak nilam yang sudah bisa dijual. Pemasaran yang dimaksud disini adalah jual-beli yang terjadi karena ada pemjual-beli dan penjual. Pada tahun 1970-an masyarakat di Desa Bongkaras menjual minyak nilamnya ke toke yang biasanya mangkal di Parongil (ibukota Silima Pungga-pungga). Toke minyak nilam yang mangkal di Parongil adalah toke yang biasanya membeli minyak nilam dari beberapa desa di Kecamatan Silima Pungga-Pungga. Toke nilam tidak setiap hari berada di Parongil untuk membeli minyak nilam. Toke nilam biasanya ada di Parongil untuk membeli minyak nilam pada hari-hari pekan saja yaitu hari Rabu dan Sabtu. Lagi pula petani biasanya menjual minyak di saat hari-hari pekan saja. Minyak nilam yang dijual ini dapat dikatakan minyak nilam kasar atau setengah jadi, hal ini dikarenakan alat penyulingan yang digunakan kurang memadai. Sampai sekarang Indonesia belum mampu mengolah untuk membuat minyak nilam jadi sehingga sampai saat ini kita masih mengekspor minyak nilam kasar ke negara-negara maju seperti Singapura dan Perancis karena perlu dilakukan pengolahan lagi untuk dapat digunakan sebagai salah
51 Andri Daniel, op. cit, hlm. 36-37.
satu bahan industri misalnya, industri wewangian. Oleh karena minyak nilam kasar yang dikirim, harga minyak nilam pun tak dapat lebih tinggi lagi.
Jual-beli minyak nilam dilakukan dengan pembayaran secara tunai, namun jika petani belum panen dan sedang membutuhkan uang mereka dapat meminjam uang si toke dahulu kemudian berjanji jika nanti sudah panen akan segera menjual minyaknya dan utangnya langsung dipotongkan dari jumlah uang yang diperolehnya.
Namun, hal ini dapat terjadi jika toke sudah percaya terhadap petani dan petani merupakan langganannya. Sebagian masyarakat memang ada yang menjual ke Pasar Sidikalang namun hal itu jarang sekali.
Setelah toke nilam yang di Parongil membeli minyak nilam dari petani kemudian si toke menjualnya ke toke yang berada di Kota Sidikalang. Toke nilam yang berada di Kota Sidikalang ini biasanya mampu membeli minyak nilam dengan jumlah yang besar. Setelah itu, toke di Sidikalang kemudian menjual minyak nilam ke toke yang lebih besar lagi, yang berada di Kota Medan dan begitu seterusnya hingga akhirnya di ekspor.
Dalam membeli minyak nilam toke memberikan harga yang berbeda-beda sesuai dengan kualitasnya. Namun, biasanya satu daerah memiliki kualitas yang hampir sama sehingga harga yang diberrikan pun sama juga, lain halnya jika beda daerahnya. Semakin bagus kualitas minyak nilam maka toke mampu memberikan harga yang lebih tinggi lagi. Kualitas dari minyak nilam dapat langsung diketahui
oleh si toke nilam bagaimana mutu minyak nilam yang bagus dengan mencium aroma wangi minyak nilam. Selain itu, mereka juga mempunyai alat yang dapat mengetes atau mengecek mutu dari minyak nilam. Dengan begitu juga toke bisa langsung mengetahui apakah minyak nilam itu masih asli atau sudah dicampur dengan bahan lain karena, pencampuran minyak nilam dengan bahan lain dapat mengurangi kualitas dari minyak nilam itu sendiri sehingga harga jualnya juga berkurang.
Namun, petani yang tidak mempunyai alat penyulingan biasanya menjual daun kering ke petani yang mempunyai alat suling (serimg disebut pengepul/pengumpul). Harga daun nilam kering sudah pasti lebih murah dibandingkan dengan harga minyak nilam. Setelah itu, pengepul ini menyuling daun nilam hingga dihasilkan minyak nilam barulah dapat dijual ke toke. Toke tidak mau membeli daun nilam kering saja, mereka hanya membeli yang sudah dalam bentuk minyak.
BAB V
DAMPAK PERTANIAN NILAM PADA MASYARAKAT DI DESA BONGKARAS
Mayoritas masyarakat di Dairi mengenal tanaman nilam yang pernah menjadi tanaman primadona yang berasal dari daerah ini. Banyak masyarakat di Dairi khususnya di Desa Bongkaras yang mayoritas masyarakatnya menanam nilam yang merasakan peningkatan pada kesejahteraan hidupnya baik dalam hal ekonomi maupun sosial. Dairi selain terkenal dengan hasil kopinya yang memiliki citarasa yang nikmat, Dairi juga dikenal sebagai daerah penghasil tanaman nilam yang juga memiliki kualitas yang bagus. Dengan kualitas yang bagus tersebut di pasaran, nilam yang berasal dari Dairi sudah dikenal dengan sebutan “nilam Sidikalang”. Namun, karena nilam dipasarkan sebagai bahan industri saja maka hanya sedikit kalangan yang mengenal minyak nilam, masih banyak masyarakat di Indonesia belum mengenal tanaman nilam, lain halnya dengan kopi yang dikenal oleh masyarakat di Indonesia karena merupakan salah satu minuman favorit. Oleh sebab itu, jika kita berkunjung ke kawasan Pasar Sidikalang maka akan dijumpai nama jalan dengan sebutan komoditas unggulan pertanian dari Dairi seperti Kopi dan Nilam. Dengan begitu, semakin banyak masyarakat yang tahu dengan komoditas unggulan yang ada di Dairi.
Dalam penjelasan sebelumnya telah disebutkan bahwa mayoritas masyarakat di Desa Bongkaras mata pencahariannya sebagai petani. Tanaman yang mereka
tanam bermacam-macam yaitu nilam, gambir, padi, sayur-sayuran dan lain-lain.
Namun uniknya di desa ini, mayoritas masyarakat yang menanam nilam adalah masyarakat Suku Batak Toba52 yang merupakan suku pendatang di desa ini sedangkan masyarakat aslinya yaitu Suku Pakpak lebih cenderung menanam gambir.
Walaupun demikian, masyarakat asli juga ada yang menanam nilam namun jumlahnya tak sebanyak masyarakat Toba.
5.1 Kehidupan Ekonomi
Pada tahun 1970 merupakan tahun dimana masyarakat di Desa Bongkaras mulai banyak yang menanam nilam. Banyaknya masyarakat yang menanam nilam pada saat itu dipengaruhi oleh harga minyak nilam yang tinggi di pasaran. Pada saat itu harga minyak nilam sudah dianggap cukup tinggi dibandingkan dengan harga komoditas pertanian lainnya. Setelah mereka mulai bertani nilam pada tahun tersebut, mereka sudah dapat merasakan keuntungan yang diperolehnya dari hasil menjual minyak nilam. Penghasilan yang diperoleh oleh masyarakat dari pertanian nilam cukup memuaskan. Secara umum penghasilan masyarakat Desa Bongkaras bersumber dari pertanian termasuk di dalamnya pertanian nilam.
Penghasilan yang diperoleh petani dari pertanian nilam, sudah mampu membantu perekonomian keluarga. Selain, kebutuhan sehari-hari yang sudah mulai mudah untuk dipenuhi, mereka juga sudah mampu menyekolahkan anak-anaknya ke
52 Wawancara, dengan M. Manik, Desa Bongkaras tanggal 9 Oktober 2015.
jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebelum masyarakat Desa Bongkaras mulai banyak yang menanam nilam, mereka biasanya hanya mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai di jenjang pendidikan yang sekarang setara dengan Sekolah Dasar (SD). Sedangkan untuk sekolah ke jenjang SMP mereka harus pergi ke Ibukota Kabupaten yang berjarak cukup jauh sehingga harus memerlukan dana yang besar.
Barulah pada tahun 1965 dapat dijumpai Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Parongil (Ibukota Kecamatan Silima Pungga-Pungga) yaitu SMP Negeri Parongil53 yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Walaupun demikian, hanya sebagian kecil masyarakat yang mampu menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang SMP. Biasanya anak-anak di desa ini ikut membantu orang tuanya bekerja di ladang. Faktor ekonomi merupakan faktor yang mempengaruhi mereka untuk dapat atau tidaknya bersekolah.
Namun, setelah mereka mulai menanam nilam pada tahun 1970-an mereka sudah mampu menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP) bahkan hingga ke jenjang pendidikan Perguruan Tinggi (PT). Mereka yang ingin bersekolah SMP dapat bersekolah di SMP Parongil atau bahkan ada juga yang sampai bersekolah di Sidikalang. Bagi mereka yang bersekolah di Sidikalang biasanya mereka akan kos dan pulang ke kampung hanya sekali sebulan saja, hal ini dilakukan hingga mereka menamatkan jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Setelah itu, bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi (PT) mereka akan kuliah di
53 Flores Tanjung dkk., Dairi dalam Kilatan Sejarah, Bandung: Alfabeta, 2010, hlm.,126.
Medan maupun sampai ke Pulau Jawa. Dengan sudah mengecap pendidikan yang lebih tinggi, maka akan memperbaiki Sumber Daya Manusianya sehingga lebih mudah untuk mendapatkan posisi pekerjaan yang lebih baik.
Pertanian nilam selain mampu meningkatkan kesejahteraan kehidupan petani, pertanian nilam juga memberikan keuntungan kepada toke nilam. Jika petani mampu meningkatkan kesejahteraan hidup mereka dengan menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi maka, toke nilam yang berada di Pasar Sidikalang juga mampu untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah dan juga sudah mampu untuk membeli kendaraan.
Mereka bukan hanya sudah mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, mereka juga mulai merenovasi rumah mereka.
Mayoritas rumah penduduk di Desa Bongkaras sebelumnya adalah terbuat dari bahan papan. Namun, setelah mereka menanam nilam pada tahun tersebut mereka sudah mampu untuk merenovasi rumah mereka menjadi rumah setengah batu (semi permanen). Ukuran rumah juga semakin dipelebar sehingga rumah kelihatan lebih besar dibandingkan sebelumnya. Berdasarkan hasil wawancara54, masyarakat di Desa Bongkaras banyak yang mampu merenovasi rumah atau bahkan membangun rumah pada waktu itu karena hasil dari pertanian nilam.
54 Wawancara, dengan Henry Panjaitan, Desa Parongil tanggal 7 April 2015.
Pertanian nilam ini memang sudah mampu meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di Desa Bongkaras. Selain mereka sudah mudah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan merenovasi rumah, mereka juga sudah mampu untuk membeli hewan ternak seperti kerbau. Menurut hasil wawancara, harga satu kilogram minyak nilam sudah mampu untuk membeli seekor kerbau.55 Mereka juga sudah mempunyai perhiasan seperti emas. Emas yang mereka beli umumnya digunakan untuk pergi ke acara pesta, ketika pesta biasanya kaum wanita memakainya untuk mempercantik diri. Selain sebagai perhiasan mempercantik diri, emas juga sebagai tabungan mereka.
Masyarakat Desa Bongkaras juga sudah menggunakan tenaga medis seperti mantri untuk membantu proses persalinan. Mereka sudah mampu membayar tenaga medis untuk membantu mereka dalam proses melahirkan. Sebelumnya mereka hanya menggunakan tenaga tukang kusuk yang mempunyai kemampuan dengan pengetahuan turun temurun yang dimilikinya untuk menolong orang melahirkan. Dari sini terlihat, setelah mereka sudah meningkat kehidupannya maka keinginan mereka untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik apalagi untuk kesehatan juga sudah lebih baik.
55 Wawancara, dengan K. Simarmata, Desa Bongkaras tanggal 11 Desember 2015.
5.2 Kehidupan Sosial
Setelah masyarakat di Desa Bongkaras mulai banyak yang menanam nilam, dampak yang dirasakan bukan hanya pada kehidupan ekonomi mereka melainkan dapat juga dilihat dari kehidupan sosial mereka. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup manusia seperti pernikahan, kematian dan pergaulan di masyarakat merupakan bagian-bagian yang dapat menjelaskan bagaimana dampak dari pertanian nilam juga dapat dilihat pada kehidupan sosial mereka.
Dampak yang dirasakan pada kehidupan ekonomi mereka sebenarnya memiliki hubungan dengan kehidupan sosial mereka. Dengan semakin baiknya taraf ekonomi mereka, maka minat mereka untuk melaksanakan acara seperti pernikahan dan kematian sudah tidak lagi sesederhana sebelumnya misalnya, pada pesta pernikahan karena terkandala di biaya, pernikahan yang dilangsungkan sederhana saja. Kehidupan masyarakat di desa ini masih sangat kental dengan adat-istiadatnya, oleh karena itu acara-acara yang dilaksanakan juga dipengaruhi oleh adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat.
5.2.1 Upacara Perkawinan
Mengenai upacara perkawinan sudah dijelaskan sedikit diatas bahwa, dampak dari pertanian nilam terhadap ekonomi petani dapat dilihat dari kegiatan upacara perkawinan yang diadakan oleh masyarakat di Desa Bongkaras. Acara perkawinan merupakan suatu kegiatan yang sakral dalam kehidupan manusia yang diharapkan
hanya sekali terjadi dalam seumur hidup. Dengan keberagaman suku yang ada di Indonesia maka, upacara perkawinan sering kali dilakukan sesuai adat-istiadat dari suku kedua mempelai, yang sudah ada sejak dahulu dan dianggap mempunyai nilai-nilai tradisional yang harus dilestarikan. Namun, pesta adat perkawinan ini memerlukan biaya yang besar sehingga tidak jarang calon pengantin memilih acara perkawinan yang nasional saja dengan pertimbangan biaya yang dibutuhkan hanya sedikit dibandingkan pesta pernikahan yang bertemakan adat-istiadat.
Begitu juga halnya dengan masyarakat yang ada di Desa Bongkaras, acara perkawinan bisa dikondisikan sesuai dengan kemampuan ekonomi dari kedua keluarga calon mempelai apakah perkawinan yang bertema adat-istiadat atau pernikahan yang nasional saja. Sebelumnya, ketika keadaan ekonomi mereka masih lemah, pesta pernikahan hanya dilakukan sederhana saja, ketika ada yang menikah mereka hanya membuat pesta sederhana atau syukuran yang hanya mengundang keluarga dekat saja setelah mereka sah menikah secara agama, walaupun demikian ada beberapa masyarakat yang sudah mampu untuk melakukan pesta adat pernikahan.
Namun, setelah kesejahteraan hidup mereka meningkat ketika sudah bertani nilam maka, acara pernikahan pun digelar sudah tidak lagi sederhana seperti sebelumnya.
Bagi mereka yang tingkat ekonominya sudah sejahtera maka pesta perkawinan pun dilakukan sudah mengikutsertakan adat-istiadat dari suku mereka yaitu suku Batak Toba. Pemakain adat-istiadat Batak Toba dalam upacara pernikahan dikarenakan
mayoritas masyarakat di Desa Bongkaras adalah suku Batak Toba dan masyarakat Toba jugalah yang mayoritas menanam nilam di desa ini.
Dalam masyarakat yang masih kental dengan adat istiadatnya ketika mereka mengadakan pesta perkawinan sudah di-adatkan maka lebih dihargai di kehidupan bersosialnya. Bagi mereka yang belum diadatkan, maka ketika nanti anak mereka menikah tidak boleh diadatkan jika orangtuanya belum diadatkan terlebih dahulu.
Disini terlihat bahwa ketika mereka sudah lebih baik ekonominya mereka juga sudah mampu untuk membuat pesta adat pada pernikahannya yang memiliki makna di kehidupan sosial mereka.
Pesta pernikahan yang bertemakan adat-istiadat memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan hanya pernikahan biasa (nasional). Pesta pernikahan yang bertemakan adat-istiadat melibatkan keluarga besar yang diberikan kewajiban dan haknya masing-masing pada pernikahan tersebut sehingga membutuhkan biaya yang besar. Dalam suku Toba sudah diatur apa-apa saja yang harus dipenuhi pihak laki-laki ataupun pihak perempuan dalam acara pernikahan sehingga membutuhkan biaya yang besar.
Pada pernikahan dengan bertemakan adat-istiadat Toba, kita sering mendengar kata sinamot. Sinamot adalah tuhor ni boru (mahar) yang diberikan kepada orang tua pengantin perempuan dari orang tua pengantin laki-laki. Besarnya sinamot yang diberikan kepada keluarga perempuan berbeda-beda sesuai kemampuan
dari keluarga pengantin laki-laki. Biasanya, perempuan yang mengenyam pendidikan lebih tinggi dan apalagi sudah bekerja akan diberikan sinamot yang lebih besar juga.
Setelah keadaan ekonomi masyarakat Desa Bongkaras lebih baik ketika sudah bertani nilam, maka mereka mampu untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Oleh sebab itu, besarnya sinamot yang diberikan kepada pihak perempuan juga semakin besar karena mereka sudah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Namun, hal ini tidak menjadi keharusan kembali lagi bagaimana kemampuan dari pihak laki-laki dan kesepakatan dari kedua belah pihak keluarga pengantin.
Selain sudah mampu melaksanakan pesta adat pernikahan, mereka juga mampu membuat acara muda mudi. Pesta muda-mudi ini diselenggarakan pada malam hari yang dihadiri oleh teman-teman kedua mempelai dan muda-mudi yang ada dikampung itu. Pada saat acara muda-mudi ini suasananya lebih santai dan tidak ada acara-acara khusus. Pada saat pesta muda-mudi biasanya ada hiburan yang ditampilkan sehingga para tamu bisa menikmati pertunjukan yang ada.
5.2.2 Upacara Kematian
Selain sudah mampu melaksanakan Pesta Adat dalam pernikahan yang membutuhkan biaya yang besar, mereka juga sudah mampu membuat Upacara Adat Kematian pada saat ada anggota keluarga mereka yang meninggal lebih lama dari sebelumnya. Sama halnya dengan upacara pernikahan, upacara adat kematian juga
dilaksanakan sesuai dengan istiadat dari suku Batak Toba. Pemakain adat-istiadat Batak Toba dalam upacara kematian dikarenakan mayoritas masyarakat di Desa Bongkaras adalah suku Batak Toba dan masyarakat Toba jugalah yang mayoritas menanam nilam di desa ini. Dalam upacara adat kematian suku Batak Toba dilakukan jika yang meninggal sudah berumur tua, anak-anaknya sudah menikah, dan memiliki cucu (Saur Matua). Biasanya yang meninggal tidak lekas dikebumikan, tapi disemayamkan beberapa hari terlebih dulu di rumah duka sesuai adat-istiadat dalam upacara kematian. Jika yang meninggal bukan saur matua maka biasanya langsung dikebumikan. Pelaksanaan upacara kematian biasanya dilakukan 3-7 hari, semakin mampu keadaan ekonominya semakin lama pulalah yang meninggal disemayamkan dengan upacara adat kematian yang sesuai adat-istiadat.
Upacara kematian yang dilaksanakan beberapa hari memang membutuhkan biaya yang besar, belum lagi kewajiban-kewajiban yang diberikan kepada sanak saudara yang sudah ditentukan dalam adat istiadat. Upacara Kematian Saur Matua ini memang selalu diusahakan untuk dapat dilakukan pihak keluarga karena ini merupakan penghormatan terakhir kepada yang meninggal dari keluarga yang ditinggalkan. Pihak keluarga (anak-anak) yang ditinggalkan biasanya membayar bersama apa-apa saja biaya yang dibutuhkan pada saat acara. Dengan kemampuan ekonomi yang semakin membaik maka acara saur matua dapat dilakukan beberapa hari bahkan sampai satu minggu.
Selain itu, mereka juga sudah mampu untuk membuat tugu bagi orang tua mereka yang sudah meninggal. Pembuatan tugu membutuhkan biaya yang mahal, karena melibatkan keluarga besar. Pembuatan tugu ini dengan cara menggali lagi kuburan yang meninggal untuk mengambil tulang belulang yang tersisa kemudian dibuat di dalam tugu tersebut. Hal ini menandakan keadaan ekonomi masyarakat yang sudah mampu.
Pelaksanaan upacara adat pada orang meninggal tidak selalu sama dengan aturan-aturan yang sudah dibuat, hal ini dikarenakan adanya ajaran agama yang tidak memperbolehkan beberapa kegiatan yang ada dalam adat-istiadat. Tahap-tahap yang tidak bertentangan dengan agama dapat dilakukan dan disesuaikan dengan kondisinya.
BAB V PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Pertanian nilam di Desa Bongkaras mulai mengalami perkembangan pada tahun 1970, dimana pada saat itu masyarakat di desa ini mulai banyak yang menanan nilam. Faktor-faktor yang melatarbelakangi budidaya pertanian nilam di Desa Bongkaras pada saat itu ialah faktor geografis, faktor keuntungan, dan budidaya yang praktis serta sistem panen yang cepat. Tanaman nilam dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada ketinggian hingga 700 m.dpl dan Desa Bongkaras memenuhi standar dari kesesuaian ketinggian lahan tersebut. Tanaman nilam sudah lama ditemukan tumbuh di Desa Bongkaras, namun pada saat itu belum banyak yang menanamnya dan belum menjadi tanaman primadona bagi mereka.
Sebelumnya, masyarakat di Desa Bongkaras yang mayoritas petani kebanyakan bertani padi, jagung, cabai dan sayur-sayuran namun, penghasilan yang mereka peroleh kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh sebab itu, ketika mereka mengetahui bahwa harga minyak nilam tinggi dipasaran, masyarakat di Desa Bongkaras kemudian banyak yang menanam nilam. Masyarakat mulai menanam nilam karena menganggap bahwa penghasilan dari bertanam nilam dapat lebih memenuhi kebutuhan hidup mereka dibandingkan penghasilan yang mereka peroleh sebelumnya. Selain faktor keuntngan, budidaya yang praktis serta
sistem panen yang cepat merupakan salah satu faktor pertanian nilam di Desa Bongkaras.
Sistem budidaya pertanian nilam di Desa Bongkaras tergolong sederhana dan tidak membutuhkan modal yang besar. Mulai dari pembibitan hingga pemanenan semua dilakukan secara sederhana saja. Untuk pembibitan, mereka hanya menyetek bagian cabang dari tanaman nilam yang mereka rasa memiliki kualitas yang bagus.
Kemudian setelah diambil biasanya mereka langsung menanamnya dilahan yang sudah disiapkan sebelumnya. Penanaman bibit nilam dilakukan hanya dengan membuat lubang-lubang dengan menggunakan alat yang runcing seperti kayu yang ujungnya dibentuk agak runcing, kemudian petani tinggal memasukkan sebagain bagian dari bibit nilam kedalam lubang kemudian lubang tersebut ditutupi oleh tanah.
Penanaman nilam biasanya berada pada lahan yang bersamaan dengan tanaman lain seperti, jagung dan cabai, hal ini bertujuan agar tanaman nilam tidak terkena pencahayaan matahari berlebihan karena dapat menyebabkan tanaman nilam layu hingga mati. Dalam hal perawatan, tanaman nilam tidak membutuhkan perawatan khusus. Petani hanya membersihkan tanaman nilam dari rumput-rumput atau gulma yang tumbuh disekitarnya dengan menggunakan cangkul kecil. keadaan tanah yang masih subur dan masih banyak menggandung humus sangat menguntungkan petani karena, mereka tidak perlu lagi menggunakan obat-obatan kimia dalam perawatan tanaman nilam. Pemanenan nilam dapat dilakukan sebanyak 3-4 kali yang pertama 6 bulan setelah nilam ditanam, yang kedua, 3 bulan setelah panen pertama, dan yang
ketiga, 3 bulan setelah panen kedua. Jadi, dalam setahun nilam dapat dipanen sebanyak 3 kali namun jika tanaman nilam baik dirawat maka bisa sampai 4 kali dipanen dan setelah itu tanaman nilam harus diremajakan kembali. Setelah di panen, daun nilam lalu dikering-anginkan selama 2-3 hari, sebelum akhirnya dilakukan
ketiga, 3 bulan setelah panen kedua. Jadi, dalam setahun nilam dapat dipanen sebanyak 3 kali namun jika tanaman nilam baik dirawat maka bisa sampai 4 kali dipanen dan setelah itu tanaman nilam harus diremajakan kembali. Setelah di panen, daun nilam lalu dikering-anginkan selama 2-3 hari, sebelum akhirnya dilakukan