• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemasaran Kentang oleh Gapoktan Bermitra dan Gapoktan Tidak Bermitra

HASIL DAN PEMBAHASAN

VII.1 Pemasaran Kentang oleh Gapoktan Bermitra dan Gapoktan Tidak Bermitra

Petani, pada umumnya menjual hasil panen kentang ke pedagang pengumpul atau gapoktan, mengingat rata-rata petani memiliki ikatan dengan pedagang pengumpul atau gapoktan. Untuk petani anggota gapoktan bermitra menjual produksi kentangnya kepada gapoktan itu sendiri. Untuk petani anggota gapoktan yang tidak bermitra menjual hasil produksi kentangnya kepada pedagang pengumpul. Hanya sedikit periode produksi dimana petani menjual hasilnya ke pasar lokal. Penjualan ke pedagang pengumpul atau gapoktan dari ladang-ladang petani dilakukan oleh petani. Karena panen dilakukan oleh petani maka upah panen ditanggung oleh petani. Untuk gapoktan bermitra, aktifitas pemasaran kentang ini dilakukan seminggu sekali, sedangkan pedagang pengumpul melakukan aktifitas pemasaran ini dua kali dalam seminggu.

Walaupun proses panen dilakukan oleh petani tetapi tindakan pasca panen tetap dilakukan oleh pedagang pengumpul atau gapoktan. Pedagang pengumpul atau gapoktan datang ke ladang-ladang petani dan hanya memilih kentang dengan ukuran paling kecil yaitu sebesar telur ayam negeri. Harga ditentukan oleh pedagang perantara setelah melihat hasil kentang yang dipanen. Petani hanya melakukan fungsi pemasaran sebatas fungsi pertukaran berupa penjualan ke padagang pengumpul atau gapoktan.

Dari gudang pedagang pengumpul atau gapoktan, kentang kemudian di cuci dan diblower (dikeringkan). Proses pengeringan ini memakan waktu hingga 2 hari. Kemudian kentang disortir, yaitu dengan memilih kentang yang baik. Kondisi kentang yang baik adalah tidak memiliki bercak hijau, tidak berbintil hitam dan kulit buah yang cerah. Kemudian kentang ditimbang dan dimasukkan dalam rajut ukuran 70 kg.

Eksportir adalah pedagang yang melakukan pembelian dari pedagang pengumpul atau gapoktan dan dijual ke luar negeri. Kentang diperoleh atas informasi dari pedagang pengumpul atau gapoktan tentang adanya kentang digudangnya. Pengiriman kentang dilakukan oleh satu pihak, dengan biaya akan dibebankan kepada harga jual kentang. Kentang yang dikirim dari pedagang pengumpul atau gapoktan ke eksportir dibongkar dari truk, kemudian dilakukan penimbangan kembali untuk akhirnya lakukan grading (penggolongan) oleh ukuran tertentu. Kemudian dikemas dengan menggunakan rajut yang berukuran 20 kg. Selain karena permintaan dari asosiasi pedagang di luar negeri, penggunaan rajut 20 kg berguna untuk mempermudah proses penyusunan ke kontainer. Kentang yang sudah dikemas tersebut kemudian dikirim ke pelabuhan Belawan, Medan.

Berikut skema rantai pemasaran kentang ekspor oleh gapoktan bermitra di daerah penelitian :

Gambar 2. Skema Pemasaran Kentang Ekspor oleh Gapoktan Bermitra di Daerah Penelitian

Petani kentang anggota gapoktan

bermitra

Pada gambar 2, dapat dilihat bahwa saluran pemasaran kentang ekspor di daerah penelitian hanya terdapat satu saluran. Petani menjual kentang ke gapoktan dengan harga Rp. 4.500/ kg. Dan gapoktan menjual kentang ke eksportir dengan harga Rp. 6.600/kg dengan volume ekspor dari gapoktan per minggunya yaitu 5.000/kg.

Untuk skema rantai pemasaran kentang ekspor oleh gapoktan tidak bermitra di daerah penelitian yaitu :

Gambar 3. Skema Pemasaran Kubis Ekspor Gapoktan Tidak Bermitra di Daerah Penelitian

Pada gambar 3, dapat dilihat bahwa saluran pemasaran kentang ekspor di daerah penelitian juga hanya terdapat satu saluran. Petani menjual kentang ke pedagang pengumpul dengan harga Rp. 5.000/ kg. Dan pedagang tersebut menjual kentang ke eksportir dengan harga Rp. 7.300/kg dengan volume ekspor dari pedagang pengumpul untuk satu hari yaitu 8.000 kg.

V.1.2 Pemasaran Kubis oleh Gapoktan Bermitra

Saluran pemasaran kubis sampai ke eksportir di daerah penelitian hanya terdapat satu saluran saja. Sebagian besar petani sampel menjual kubisnya ke gapoktan dengan cara lelang, hanya satu petani sampel yang langsung menjual ke gudang gapoktan. Aktifitas pemasaran gapoktan ini dilakukan sekali seminggu. Gapoktan tersebut akan mengumpulkan semua hasil produksi petani. Setelah kuota yang diinginkan sudah cukup maka pihak yang ada di gudang pengolahan (packing house) akan melakukan pembersihan dan pengemasan terhadap kubis.

Petani kentang anggota gapoktan

tidak bermitra

Pedagang

Kubis akan dibersihkan dengan mengupas 3-4 helai lapisan terluar dari kubis. kemudian langsung diberi kapur dengan menggunakan sendok kayu. Ini berguna untuk menyerap air dari kubis yang selanjutnya akan mengurangi kadar air dari kubis. Kubis yang sudah diberi kapur akan disusun dan dibiarkan selama 1 hari. Untuk mempercepat proses penguapan air, dilakukan pengasapan terhadap kubis walaupun tidak menjadi keharusan tetapi tindakan ini juga berguna dalan mengurangi kadar air dalam kubis. Setelah proses penyimpanan satu hari, kubis siap dikemas dengan dibungkus dalam kertas putih dan dimasukkan dalam rajut. Rajut yang digunakan akan diisi kubis sebanyak 12 buah dengan berat 18 kg. Setelah kubis dikemas dalam rajut, maka eksportir siap menjemputnya dengan menggunakan kontainer. Selanjutnya eksportir akan mengumpulkan kubis dari gudang gapoktan di gudang eksportir. Sebelum dilakukan pengiriman ke luar negeri, eksportir harus mencukupi kuota ekspor yang diambil juga dari daerah lain. Stelah kuota cukup maka pengiriman dapat dilakukan.

Berikut skema rantai pemasaran kubis ekspor di daerah penelitian :

Gambar 4. Skema Pemasaran Kubis Ekspor oleh Gapoktan bermitra di Daerah Penelitian

Pada gambar 4, dapat dilihat bahwa saluran pemasaran kubis ekspor di daerah penelitian hanya terdapat satu saluran. Petani menjual kubis ke gapoktan dengan harga Rp. 1.000/ kg. Dan gapoktan menjual kubis ke eksportir dengan harga Rp. 1.600/kg dengan volume ekspor dari gapoktan yaitu 10.000 kg.

Petani kubis anggota gapoktan

bermitra

V.1.3 Pemasaran Kubis oleh Gapoktan Tidak Bermitra

Saluran pemasaran kubis dari gapoktan tidak bermitra sampai ke eksportir di daerah penelitian juga hanya terdapat satu saluran. Petani sampel menjual kubisnya ke pedagang pengumpul dengan cara lelang. Pedagang pengumpul tersebut akan mengumpulkan semua hasil produksi petani dua kali dalam seminggu. Kubis yang dipanen (dipotong) di ladang petani hanya kubis yang sudah berukuran kecil kira-kira 1,5 kg. Setelah kuota yang diinginkan sudah cukup maka pihak yang ada di gudang pengolahan (packing house) akan melakukan pembersihan dan pengemasan terhadap kubis.

Kubis akan dibersihkan dengan dikupas 3-4 helai lapisan terluar dari kubis. kemudian langsung diberi kapur dengan menggunakan sendok kayu. Ini berguna untuk menyerap air dari kubis yang selanjutnya akan mengurangi kadar air dari kubis. Kubis yang sudah diberi kapur akan disusun dan dibiarkan selama 1 hari. Untuk mempercepat proses penguapan air, dilakukan pengasapan terhadap kubis walaupun tidak menjadi keharusan tetapi tindakan ini juga berguna dalan mengurangi kadar air dalam kubis. Setelah proses penyimpanan satu hari, kubis siap dikemas dengan dibungkus dalam kertas putih maupun koran dan dimasukkan dalam rajut. Rajut yang digunakan akan diisi kubis sebanyak 12 buah dengan berat 18 kg. Setelah kubis dikemas dalam rajut, maka eksportir siap menjemputnya dengan menggunakan kontainer. Selanjutnya eksportir akan mengumpulkan kubis dari gudang pedagang perantara di gudang eksportir. Sebelum dilakukan pengiriman ke luar negeri, eksportir harus mencukupi kuota ekspor yang diambil juga dari daerah lain. Stelah kuota cukup maka pengiriman dapat dilakukan.

Berikut skema rantai pemasaran kubis ekspor gapoktan tidak bermitra di daerah penelitian :

Gambar 5. Skema Pemasaran Kubis Ekspor oleh Gapoktan Tidak Bermitra di Daerah Penelitian

Pada gambar 5, dapat dilihat bahwa saluran pemasaran kubis ekspor di daerah penelitian hanya terdapat satu saluran. Petani menjual kubis ke pedagang pengumpul dengan harga Rp. 893/ kg. Dan pedagang pengumpul menjual kubis ke eksportir dengan harga Rp. 1.600/kg dengan volume ekspor dari pedagang pengumpul untuk satu hari yaitu 10.000 kg.

(Identifikasi masalah 1 terjawab)

Dokumen terkait