• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembacaan Penanda Visual 1 Pertama : Sesi “Songkok Hitam”

Dalam dokumen Image Iklan Kampanye Politik di Televisi (Halaman 128-133)

PENYAJIAN DATA, ANALISIS DAN INTERPRETAS

2. Pembacaan Hermeneutik Hipogram Potensial Penanda Verbal “Ada sajadah panjang membentang” yang menjadi kalimat

4.2.2. Pembacaan Penanda Visual 1 Pertama : Sesi “Songkok Hitam”

Gambar: 4.1 (Gambar Songkok )

Tampilan gambar di atas merupakan tayangan awal. Dalam sesi ini, ditampilkan sosok Susilo Bambang Yuhdoyono bersama Mohammad Jusuf Kalla pada posisi center. Teknik visualisasi yang digunakan adalah tayangan gambar hasil penyutingan langsung. Visual dalam sesi ini digambarkan dengan,

“2 orang (SBY bersama JK), mereka mengenakan pakaian rapi (berjas, berdasi, bersepatu dan berkopyah hitam) berdiri tegap di bawah langit biru cerah berbackground bendera merah putih, kemudian menggelar sajadah merah putih”.

Dalam visualisasi ini, gambar menggunakan pencahayaan terang yang membentuk modalitas tinggi terhadap obyek, yang dimaknai sebagai harapan masa depan yang gemilang, sebuah cita- cita besar nan mulia bagi kehidupan bangsa Indonesia melalui momentum pemilu presiden 2004. Dari sisi visual yang lain, sosok SBY-JK yang menempati posisi central tampil secara close up

sehingga nampak menonjol dalam sesi ini. Menandakan bahwa sosok pasangan ini adalah manusia yang visioner dan mempunyai masa depan yang cerah, secerah cahaya yang menghiasi wajahnya.161

Untuk mewujudkan perubahan kearah kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, adil dan sejahtera bagi seluruh masyarakat Indonesia sebagaimana dalam penanda verbal, SBY dan JK mencoba mengilustrasikannya melalui lagunya Bimbo dengan tayangan visualisasi cukup fantastik. Kejelasan lebih lanjut dalam pemaknaan pesan, terletak pada komposisi yang terdapat pada visualisasi per sesi.

Gambar obyek dua orang laki-laki berada pada sisi centre-new, given-new dan margin. Sisi centre-given ditempati oleh SBY sebagai pusat perhatian yang telah memiliki kedudukan sebagai calon presiden dari Partai Demokrat pada pilpres 2004. Pandangan umum pada masyarakat Indonesia, pemilu presiden sesuai dengan kepanjangannya “pemilihan umum presiden” hanya sebagai wahana memilih presiden an sich, sehingga wakil presiden menjadi

subordinat dan menjadi kurang diperhitungkan oleh masyarakat. Dalam iklan ini, nampak superioritas SBY di dalam gambar sesi pertama, JK berada disamping SBY yang merupakan posisi center- new yang merupakan posisi new yang berarti subordinat atau problematik 162

Pakaian jas, dasi dan sepatu adalah lambang kemapanan yang menunjukkan sosok yang rapi, teratur, disiplin, dan taat peraturan serta spesial.163 Dari sisi kelas sosial, jelas memberikan indek kelas

sosial atas, busana seperti itu jarang dimiliki masyarakat kelas menegah ke bawah. Bagi kelas bawah, mengenakan pakaian seperti itu mungkin hanya saat menjadi pengantin, itupun kalau mampu mendatangkan perias pengantin.

Songkok hitam, dalam budaya jawa adalah simbol agama,164

orang yang memakai songkok hitam, berarti alim, pintar agama, berakhlak baik, rajin ibadah dan layak menjadi pemuka agama, sama halnya dengan fenomena “songkok putih” merupakan simbol haji, artinya siapa yang memakai kopiah putih berarti sudah menunaikan ibadah haji dan layak mendapat gelar “Pak Haji” masyarakat disunnahkan memanggilnya “Pak Haji” (untuk alumni haji laki-laki) dan Bu Hajjah (untuk alumni haji perempuan). Dari situ nampak betapa tinggi nilai citra religiusitas sebuah songkok bagi seorang muslim, terlepas bahan dan dimana songkok tersebut dibeli.

162 Kris Budiman, op. cit., hal. 71-75. 163 Yuliani, op. cit., hal. 95-101

Sedang posisi centre-margin adalah “sajadah” untuk sisi bawah kiri dan “kain berwarna merah putih” untuk kanan atas. Kedua penanda tersebut berada pada posisi yang sama dan memberikan petanda yang hampir sama. Sajadah yang dibuat dari pintalan benang, membentuk kain dengan ukuran dan motif tertentu dalam tradisi Islam Timur digunakan sebagai tempat bersujud atau sholat. Dalam sesi ini posisi sajadah juga cukup strategis karena persis di depan obyek yang menempati posisi center-new dan center- given. Pada sisi margin warna merah putih yang menyatu dengan sajadah yang sedang digelar menggambarkan kecintaan terhadap agama. “Merah” yang berarti “nafsu” dan “putih” berarti “suci”,

jadi ketika kedua warna disatukan akan membentuk warna “pink”

yang berarti “cinta”, jadi sajadah merah putih berarti cinta agama. Pada margin atas berkibar “Bendera merah putih” yang berada persis pada margin kanan, bendera merah putih, sebagaimana warna sajadah, menggambarkan nasionalisme. Posisi tepat di bawah langit yang cerah, menggambarkan arti pentingnya meletakkan kepentingan pribadi, kelompok dan golongan di bawah kepentingan bangsa dan negara. Gambar dengan margin bendera pada posisi atas mengisyaratkan sosok SBY yang religius tapi tetap cinta tanah air (nasionalis) mempunyai cita-cita yang tinggi menjulang ke langit.

Citra yang dimunculkan dari visualisasi dan narasi ini diperoleh bahwa SBY-JK adalah calon presiden 2004 yang nasionalis, religius,

teduh dan penuh percaya diri, sholeh (alim dan pintar agama) dan mempunyai cita-cita yang tinggi, sekalipun pada saat yang sama Partai Demokrat, partai yang mencalonkannya dikenal sebagai partai nasionalis, bahkan pernah diisukan partainya ghoirul Islam (selain Islam), maklum banyak beredar berita saat itu, bahwa caleg dan pengurus teras partai ini banyak diisi oleh orang-orang abangan dan orang Kristen. Sebut saja disana ada Subur Budiarjo, Angelina Sondakh (mantan putri Indonesia 2000) dan Istrinya sendiri yang

mualaf dan bernama Cristiani, yang berarti pengikut agama Kristen. Pada sesi pertama, nampak sebuah strategi kolaborasi dengan pengorganisasian simbol-simbol agama dan negara dalam satu sesi penampakkan. Simbol agama diwakili oleh sajadah dan songkok hitam. Sedang simbol negara diwakili warna merah putih yang merupakan warna bendera negara.

Pada aspek yang lain pemakaian busana yang rapi dan modis, mencerminkan sosok Muslim modernis menjadi poin penting dan strategis sebagai counter opini yang berkembang dimasyarakat. Dan tidak bisa dipungkiri, pengambilan strategi pada sesi ini tidak lepas dari isu yang menerpanya, adanya black compaign, yang mencoba mengaitkan SBY dengan tragedi Tanjung Priok, konflik Aceh, Agen Nasrani, musuh Abu Bakar Ba’asyir yang cukup merisaukannya. Bahkan sosok yang satu ini juga didekotomikan sebagai sosok capres

yang nasionalis, proKristen, anti syari’at Islam, peragu dan kejam oleh lawan-lawan politiknya.

Dalam dokumen Image Iklan Kampanye Politik di Televisi (Halaman 128-133)