Model regresi fungsi produksi karet di Kebun Batujamus Kabupaten Karanganyar yang diperoleh dari hasil analisis adalah :
Y = 0,002 X11,490
X20,359
X30,292
X40,284
X5-0,287
X70,027
Nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 0,941.
Nilai R2 menunjukkan bahwa variabel bebas yang dimasukan ke dalam model regresi yaitu berupa luas lahan, jumlah pohon, tenaga kerja, pupuk urea, pupuk SP36 dan curah hujan dapat menjelaskan variasi dari produksi karet di Kebun Batujamus sebesar 94,1% sedangkan 5,9%
dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukan ke dalam model misalnya jenis bibit, sistem sadap dan pestisida. Tingginya nilai R2 menunjukkan bahwa variabel bebas yang dimasukkan dalam model memiliki pengaruh yang besar terhadap variabel tak bebasnya dan menunjukkan bahwa persamaan regresi yang diperoleh tepat untuk digunakan (goodness of fit).
Nilai signifikansi F hitung sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai signifikansi α = 0,01. Berdasarkan nilai signifikansi F hitung dapat diambil kesimpulan H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini berarti bahwa variabel bebas yang terdiri dari luas lahan, jumlah pohon, tenaga kerja, pupuk urea, pupuk SP36 dan curah hujan secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produksi karet di Kebun Batujamus pada tingkat kepercayaan 99%. commit to user
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Karet di PTPN IX (Persero) Kebun Batujamus
Berdasarkan hasil dari uji t dapat diketahui bahwa faktor produksi yang berpengaruh nyata secara individu terhadap produksi karet di Kebun Batujamus meliputi luas lahan (X1), pupuk urea (X4) dan pupuk SP36 (X5). Hasil uji t juga mengatakan bahwa faktor produksi jumlah pohon (X2), tenaga kerja (X3) dan curah hujan (X7) secara individu tidak berpengaruh nyata terhadap produksi karet di Kebun Batujamus.
Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Luas Lahan
Hasil uji t menunjukkan bahwa nilai signifikansi variabel luas lahan (X1) sebesar 0,026. Nilai signifikansi variabel luas lahan (X1) ini lebih kecil dari nilai α = 5% (0,05) yang berarti H0 ditolak dan H1
diterima. Maka dapat diartikan bahwa luas lahan secara individu berpengaruh nyata terhadap produksi karet di Kebun Batujamus pada tingkat kepercayaan 95%.
Lahan merupakan faktor terpenting (faktor produksi primer) dalam suatu usahatani. Setiap usahatani tidak bisa terlepas dari faktor lahan (baik dari segi kesuburan maupun luasnya) dimana hasil produksi dari usahatani sangat tergantung oleh faktor lahan. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin luas lahan yang ditanami maka akan semakin besar produksi yang dihasilkan dari lahan tersebut (Rahim dan Retno, 2007).
Data luas lahan karet yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data luas lahan tanaman karet yang telah menghasilkan.
Jadi penambahan dan penurunan luas lahan karet di Kebun Batujamus sama dengan penambahan dan penurunan jumlah tanaman karet yang menghasilkan. Penambahan luas lahan terjadi ketika tanaman karet belum menghasilkan berubah ke tahap tanaman karet telah menghasilkan yaitu tanaman karet yang telah siap untuk disadap (tanaman karet pada umur 5-6 tahun). Penurunan luas lahan commit to user
terjadi karena peremajaan terhadap tanaman yang sudah tua yang artinya mengurangi jumlah tanaman karet yang menghasilkan. Hal ini lah yang menyebabkan luas lahan berpengaruh nyata terhadap produksi karet di Kebun Batujamus.
2) Jumlah Pohon
Nilai signifikansi variabel jumlah pohon (X2) yang didapat dari hasil analisis adalah sebesar 0,123. Nilai signifikansi variabel jumlah pohon (X2) ini lebih besar dari nilai α = 5% (0,05) maka H0 diterima dan H1 ditolak. Hasil ini menunjukkan bahwa jumlah pohon secara individu tidak berpengaruh nyata terhadap produksi karet di Kebun Batujamus.
Jumlah pohon yang digunakan dalam penelitian ini merupakan jumlah pohon karet yang telah menghasilkan, dimana tanaman karet yang telah menghasilkan tersebut memiliki umur tanaman yang berbeda-beda (tanaman karet umur 5-25 tahun). Tanaman karet dengan umur yang berbeda akan mempunyai kemampuan untuk menghasilkan getah karet berbeda. Hal ini berarti bahwa banyaknya jumlah pohon karet tidak dapat menggambarkan banyaknya jumlah produksi karet yang dihasilkan sehingga menyebabkan jumlah pohon tidak berpengaruh nyata terhadap produksi karet di Kebun Batujamus.
3) Tenaga Kerja
Variabel tenaga kerja (X3) mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,317. Nilai signifikansi ini lebih besar dari nilai α = 5%
(0,05), sehingga dapat diambil keputusan bahwa H0 diterima dan H1
ditolak. Hal ini berarti bahwa tenaga kerja secara individu tidak berpengaruh nyata terhadap produksi karet di Kebun Batujamus.
Data jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data jumlah tenaga kerja tanaman karet yang selain terdiri dari penyadap dan pelayan lateks juga terdiri dari pemelihara kebun, dimana tenaga kerja pemelihara kebun ini tidak berhubungan commit to user
langsung dengan proses panen (produksi getah karet yang dihasilkan). Selain itu, jumlah tenaga kerja yang digunakan sebagai data dalam penelitian tidak memasukkan jumlah tenaga kerja di pabrik karet (tenaga kerja yang mengolah getah karet menjadi karet kering) yang mungkin justru berpengaruh terhadap produksi karet karena data produksi karet yang dipakai dalam penelitian adalah data produksi karet kering (sheet, crepe dan brown crepe). Hal ini lah yang menyebabkan tenaga kerja secara individu tidak berpengaruh nyata terhadap produksi karet di Kebun Batujamus.
4) Pupuk Urea
Hasil uji t pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan nilai signifikansi dari variabel pupuk urea (X4) sebesar 0,041. Nilai signifikansi variabel pupuk urea (X4) ini kurang dari nilai α = 5%
(0,05), maka H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini berarti bahwa pupuk urea berpengaruh nyata secara individu terhadap produksi karet di Kebun Batujamus pada tingkat kepercayaan 95%.
Tanaman karet sangat respon terhadap pemupukan terutama terhadap unsur hara N (nitrogen) yang akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi getah (Sudiharto, 1990). Pupuk urea merupakan pupuk dasar dalam budidaya tanaman karet yang mengandung unsur hara N (nitrogen) yang cukup tinggi sehingga kebutuhan tanaman karet akan unsur hara N dari dalam tanah dapat terpenuhi dengan pemberian pupuk urea. Fungsi dari pupuk urea adalah meningkatkan pertumbuhan batang agar menjadi besar dan juga peningkatan jumlah hasil sadap tanaman karet. Perilaku tanaman karet yang respon terhadap unsur hara N yang merupakan kandungan dari pupuk urea dan fungsi dari pupuk urea ini lah yang menjadikan variabel pupuk urea berpengaruh nyata terhadap produksi karet di Kebun Batujamus.
commit to user
5) Pupuk SP36
Nilai signifikasi variabel pupuk SP36 (X5) berdasarkan hasil uji t menunjukkan bahwa nilainya 0,022. Nilai signifikansi variabel pupuk SP36 (X5) lebih kecil dari nilai α = 5% (0,05), maka H0
ditolak dan H1 diterima. Hal ini berarti bahwa variabel pupuk SP36 secara individu berpengaruh nyata terhadap produksi karet di Kebun Batujamus pada tingkat kepercayaan 95%.
Pupuk SP36 sangat diperlukan oleh tanaman karet untuk mencukupi kebutuhan akan unsur hara fosfat (P). Pupuk SP36 merupakan pupuk dasar yang harus diberikan dalam budidaya tanaman karet. Fungsi dari pupuk SP36 salah satunya adalah meningkatkan hasil produksi getah karet, jadi dari fungsi pupuk SP36 ini lah yang menyebabkan pupuk SP36 berpengaruh nyata terhadap produksi karet di Kebun Batujamus.
6) Curah Hujan
Nilai signifikasi variabel curah hujan (X7) berdasarkan hasil uji t menunjukkan bahwa nilainya 0,872. Nilai signifikansi variabel pupuk curah hujan (X7) lebih besar dari nilai α = 5% (0,05), maka H0
diterima dan H1 ditolak. Hal ini berarti bahwa variabel curah hujan secara individu tidak berpengaruh nyata terhadap produksi karet di Kebun Batujamus.
Data curah hujan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data rata-rata jumlah curah hujan dari 7 afdeling di Kebun Batujamus (afdeling Jamus, Mojogedang, Polokarto, Gandugede, Kedungsumber, Kedawung dan Balong). Ketujuh afdeling di Kebun Batujamus ini letaknya terpencar di daerah Kabupaten Karanganyar. Letak afdeling-afdeling di Kebun Batujamus yang terpencar menunjukkan bahwa jumlah curah hujan di masing-masing afdeling relatif tidak sama. Sehingga dengan kata lain rata-rata jumlah curah hujan dari ketujuh afdeling ini tidak dapat menggambarkan curah hujan sesungguhnya dari masing-masing commit to user
afdeling. Keadaan inilah yang membuat curah hujan tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi karet di Kebun Batujamus.
c. Elastisitas Produksi
Koefisien elastisitas diperhitungkan hanya pada variabel-variabel bebas dari hasil analisis yang secara individual berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas (dalam penelitian ini adalah produksi karet di Kebun Batujamus). Adapun koefisien elastisitas masing-masing variabel tersebut antara lain :
1) Luas Lahan
Nilai koefisien regresi yang juga merupakan koefisien elastisitas dari variabel luas lahan (X1) sebesar 1,490. Nilai Ep > 1 ini berarti bahwa persentase perubahan produksi karet lebih besar akibat dari persentase perubahan dari luas lahan, sehingga berada pada tahapan increasing rate. Menurut Soekartawi (2003), Ep > 1 menandakan bahwa kegiatan produksi berada di daerah I (irasional), dimana produksi karet optimal belum tercapai.
Nilai koefisien elastisitas variabel luas lahan sebesar 1,490 dapat diartikan apabila terjadi kenaikan luas lahan sebesar 10% maka akan meningkatkan produksi karet di Kebun Batujamus sebesar 14,9% dan begitu pula sebaliknya, jika luas lahan mengalami penurunan sebesar 10% maka produksi karet di Kebun Batujamus akan menurun sebesar 14,9%. Hal ini menunjukkan bahwa faktor produksi luas lahan memiliki hubungan yang positif terhadap produksi karet. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rahim dan Retno (2007) mengenai lahan pertanian sebagai penentu dari produksi yang dihasilkan oleh komoditas pertanian. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin luas lahan yang ditanami maka akan semakin besar produksi yang dihasilkan dari lahan tersebut.
2) Pupuk Urea
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari analisis regresi, koefisien regresi pupuk urea (Xcommit to user 4) sebesar 0,284 (0 < Ep < 1) berarti
persentase perubahan produksi karet lebih kecil akibat dari persentase perubahan dari pupuk urea, sehingga berada pada tahapan decreasing rate. Hal ini dapat dikatakan proses kegiatan produksi berdasarkan penggunaan jumlah pupuk urea berada di daerah II (rasional), artinya penggunaan faktor produksi pupuk urea pada tahap ini sudah menghasilkan keuntungan yang maksimum (Soekartawi, 2003).
Koefisien elastisitas dari pupuk urea (X4) sebesar 0,284 (memiliki korelasi positif) berarti bahwa bila terjadi peningkatan 10% terhadap jumlah pupuk urea maka akan menyebabkan peningkatan produksi karet di Kebun Batujamus sebesar 2,84%.
Korelasi positif dari faktor pupuk urea terhadap produksi karet menunjukkan bahwa penambahan penggunaan pupuk urea akan diikuti dengan penambahan hasil produksi karet. Hal ini disebabkan karena tanaman karet merupakan tanaman yang sangat respon terhadap pemupukan terutama terhadap unsur nitrogen (N) yang merupakan kandungan dari pupuk urea. Fungsi pupuk urea untuk tanaman karet adalah membuat daun karet menjadi hijau mengkilat serta cabang pohon karet dan juga berfungsi dalam peningkatan jumlah hasil sadap tanaman karet.
3) Pupuk SP36
Koefisien elastisitas dari pupuk SP36 (X5) sebesar -0,287 (Ep
< 0) berarti bahwa persentase perubahan dari produksi karet semakin berkurang sebagai akibat dari persentase dari perubahan pupuk SP36, sehingga berada pada tahapan irasional. Nilai Ep < 0 menandakan bahwa proses kegiatan produksi berdasarkan penggunaan faktor produksi pupuk SP36 berada di daerah III (irasional), artinya penambahan penggunaan input akan mengakibatkan penurunan jumlah produksi yang dihasilkan sehingga mengurangi pendapatan (Soekartawi, 2003).
commit to user
Koefisien elastisitas pupuk SP36 (X5) sebesar -0,287 berarti bahwa bila terjadi peningkatan jumlah pupuk SP36 sebesar 10%
akan menyebabkan penurunan produksi karet di Kebun Batujamus sebesar 2,87%. Hal ini menunjukkan bahwa faktor produksi pupuk SP36 memiliki hubungan negatif terhadap produksi karet. Tanaman karet sebenarnya sangat membutuhkan pupuk SP36. Fungsi dari pupuk SP36 adalah mempercepat pertumbuhan akar agar pohon karet tahan terhadap kekeringan di musim kemarau, meningkatkan hasil produksi getah karet, menambah ketahanan terhadap hama penyakit tanaman karet. Namun penggunaan pupuk SP36 ini harus seimbang, artinya tidak kurang dan tidak berlebihan. Penggunaan pupuk SP36 yang berlebihan dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, lamban pemasakan dan produksi tanaman rendah (Hakim et al., 1986).
Hubungan negatif pupuk SP36 terhadap produksi karet ini juga dapat dimungkinkan terjadi karena tanah di Kebun Batujamus sudah jenuh terhadap unsur hara fosfat. Tanah yang terus menerus diberi pupuk SP36 jika sudah jenuh unsur fosfat akan berubah menjadi asam dan semua unsur hara diendapkan menjadi garam fosfat yang tidak bisa diserap oleh tanaman dan pada akhirnya tanah akan menjadi keras dan menggumpal. Tanah dalam kondisi asam, unsur hara mikro akan terikat oleh partikel tanah sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Menurut Adiningsih et al. (1989), pemberian pupuk SP36 secara terus menerus pada lahan pertanian yang sudah jenuh unsur P telah menciptakan gejala pelandaian hasil (levelling off).
Penambahan pupuk SP36 di lahan karet Kebun Batujamus yang sudah jenuh unsur hara fosfat ini justru akan menyebabkan penurunan produksi karet, sehingga penggunaan pupuk SP36 sebaiknya dikurangi.
commit to user