Problematika dan Progresivitasnya
II. PEMBAHASAN a. Sejarah Probiotik
Istilah “probiotics” diciptakan pada tahun 1950-an oleh W. Kollath,6 sedangkan Lilly dan Stillwell pada tahun 1965 menggunakan isti-lah ini untuk bakteri dan spora hidup sebagai makanan tambahan pada hewan (animal feed supplements) yang membantu membatasi penggunaan antibiotik pada peternakan he-wan.7
b. Kriteria Probiotik
Tidak semua mikroorganisme dapat digolong-kan sebagai probiotik. Kriteria mikroorga- nisme ideal yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok probiotik adalah:1
1). Dapat bertahan hidup melalui traktus
gastrointestinal pada pH rendah dan ber-hubungan dengan empedu.
2). Melekat ke sel-sel epitel usus.
3). Stabil terhadap mikroflora usus.
4). Non-pathogenicity.
5). Bertahan hidup di dalam bahan makanan dan berkemungkinan untuk produksi phar-macopoeia lyophilized preparations.
6). Multiplikasi cepat, baik dengan kolonisasi temporer atau permanen dari traktus gas-trointestinal.
7). Memiliki specificity probiotik yang generik.
Selain itu, ada berbagai faktor utama untuk dipertimbangkan dan dapat mempengaruhi kemampuan probiotik untuk bertahan hidup di dalam produk-produk makanan atau minu-man, diantaranya:8
1. Kondisi fisiologis dari probiotik yang ditam-bahkan;
2. Kondisi fisik dan kimiawi dari proses ma-kanan;
3. Kondisi fisik dari penyimpanan makanan (misal: suhu);
4. Komposisi kimiawi dari produk (keasaman, kandungan gizi, kelembaban, dan oksigen) 5. Interaksi dengan komponen-komponen
produk lainnya (penghambat atau protek-tif)
Probiotik dapat ditambahkan ke dalam ma-kanan dan minuman dengan berbagai macam cara, seperti:9
a. Campuran kering (dry blended) menjadi ma-kanan dan bubuk (powders) seperti: formula bayi.
b. Dijadikan (dispersed) menjadi produk cair atau semiliquid misalnya: jus atau es krim.
c. Disuntikkan (inoculated) menjadi produk terfermentasi seperti: yogurt dan susu ter-fermentasi.
TechnologyMEDICAL REVIEW
c. Sumber Probiotik
Berbagai mikroorganisme yang dapat digunakan sebagai probiotik antara lain:10-14. Bakteri Lac-tobacillus species, misalnya: L. acidophilus, L. casei, L. crispatus, L. fermentum, L. gasseri, L. johnsonii, L. lactis, L. paracasei, L. plantarum, L. reuteri, L. rhamnosus GG, Lactobacillus delbrueckii sub-species bulgaricus.
Bifidobacterium species, misalnya: B. adolescentis, B. animalis, B. bifidum, B. breve, B. infantis, B.
lactis, B. longum. Bacillus cereus, Enterococcus faecalis, Enterococcus faecium, Escherichia coli Nissle, Streptococcus thermophilus.
Ragi Saccharomyces boulardii.
Kultur probiotik berupa mikroorganisme jamur (fungi) yang telah disetujui dan direkomendasi-kan oleh State Food and Drug Administration (SFDA) antara lain: Candida utilis, Ganoderma luci-dum, Ganoderma sinensis, Ganoderma tsugae, Hirsutella hepiali Chen et Shen, Kluyveromyces lactis, Monacus anka, Monacus purpureus, Paecilomyces hepiali Chen et Dai sp.Nov, Saccharomyces cerevi-siae, Saccharomyces carlsbergensis.
d. Mekanisme Kerja Probiotik
Probiotik memiliki multiperan dan multifungsi. Diantaranya: memiliki aktivitas antimikroba, yai-tu: menurunkan pH luminal, mensekresikan peptida antimikroba, menghambat invasi bakteri, menghalangi pelekatan bakteri di sel-sel epitel. Penguatan fungsi barier, berupa: peningkatan produksi mukus dan meninggikan integritas barier. Imunomodulasi, maksudnya probiotik me-miliki efek pada sel-sel epitel, sel-sel dendrit, monosit atau makrofag, limfosit (limfosit B, sel-sel Natural Killer, sel-sel T, redistribusi sel T).15
Technology MEDICAL REVIEW
Gambar 1. Mekanisme aksi probiotik yang disederhanakan. Inhibisi bakteri enterik dan peningkatan fungsi barrier oleh bakteri probiotik. Representasi skematis dari crosstalk antara bakteri probiotik dan mukosa intestinal.15
Antimicrobial
Lactic acid bacteria (LAB) adalah probiotik yang setelah diobservasi; memproduksi substansi an-timicrobial. Substansi anti mikrobial yang diproduksi secara luas adalah asam organik, terutama asam laktat dan asam asetat. Hydrogen peroxide dan carbon dioxide juga secara luas oleh LAB. Jika probiotik LAB secara metabolis aktif selama perjalanan melalui usus (intestine), sangatlah mungkin bahwa beberapa dari substansi ini akan diproduksi. Beberapa indikasi diperlukannya LAB bermula dari observasi bahwa konsumsi strains probiotik tertentu mengurangi pH (keasaman) tinja, kemu-dian menunjukkan atau menandakan produksi asam-asam organik. Produksi berbagai komponen antimicrobial lainnya; diacetyl, reuterine, pyroglutamic acid, dan bacteriocin, belum tentu dilakukan dalam kondisi in vivo. Bacteriocin diproduksi dan aktif di rongga mulut, bukan di usus.16
Immunemodulation
Modulasi respon imun sistemik dan sekretori17 telah dibuktikan pada tikus dan hewan coba (experi-mental animals) lainnya. Inhibisi translokasi bakteri;18 peningkatan proliferasi pada organ sistem imun (Peyer’s patches, limpa); stimulasi fagosit atau makrofag dan sel-sel NK (natural killer cells);19-21 meningkatnya pelepasan atau pembebasan sitokin (interferon alpha, interferon gamma, dan
INF-alpha); perubahan keseimbangan Th1/Th212 ke arah alergi/atopi,22-24 meningkatkan produksi antibodi spesifik,25-26 dan meningkatkan resistensi dan ketahanan hidup yang memanjang (pro-longed survival) selama co-administration virus, toksin, dan bakteri (rotavirus, Klebsiella pneu-moniae, Salmonella thyphimurium, Shigella, Vibrio cholerae, Listeria monocytogenes). Efek serupa yang menggunakan parameter imunitas humoral dan selular juga telah terbukti pada manusia.
e. Manfaat Probiotik
Mikroorganisme probiotik memiliki multimanfaat, diantaranya:
1. Kehadiran S. epidermidis dapat mempengaruhi fungsi barrier kulit dan/atau perkembangan respon imun bawaan di kulit manusia.27
2. Perbaikan signifikan pada perjalanan dermatitis atopik telah dilaporkan pada bayi yang di-beri diet eliminasi probiotic-supplemented.28-29
3. Aplikasi topikal Vitreoscilla filiformis bermanfaat pada penderita dermatitis seboroik dan at-opic eczema.30-31
4. Perbaikan kondisi penderita diare yang disebabkan oleh antibiotik dan beberapa infeksi.
Mengurangi kadar bakteri yang mendukung perkembangan kanker usus. Perbaikan geja-la-gejala penderita IBS (inflammatory bowel disease) dan infeksi karena Helicobacter pylori.
Mencegah atau mengurangi proses atopik pada anak-anak. Mencegah berbagai penyakit saluran pernafasan. Mengurangi hiperkolesterolemia.32
5. Anak-anak dengan diare akut rotavirus yang diberi Lactobacillus rhamnosus strain GG (LGG) maka respon terhadap IgA, imunoglobulin G, dan imunoglobulin M akan meningkat, se-hingga durasi terjadinya simtom gastroenteritis menjadi memendek.33
6. Organisme probiotik memiliki resistensi yang lebih besar terhadap berbagai infeksi usus ka-rena menghambat pertumbuhan bakteri patogen daripada yang bukan probiotik.34
7. Probiotik yang mengandung Bifidobacterium bifidum dan Streptococcus thermophilus dire-sepkan pada anak dengan diare rotavirus, menghasilkan serokonversi yang lebih cepat di dalam antibodi IgA dan IgM disertai dengan pertumbuhan sel-sel yang memproduksi IgM.35 8. Lactic acid bacteria meningkatkan kadar kelompok vitamin B, dan bakteri di yogurt
mening-katkan kadar asam folat, niasin, dan riboflavin hingga 20 kali lipat.36
9. Probiotik mensintesis vitamin K, kelompok vitamin B, asam lemak rantai pendek sitoprotektif, dan poliamin (putrescine, spermine, dan spermidine).37
10. Mikroflora intestinal berperan penting di dalam sirkulasi estrogen pada wanita, memobi-lisasi ikatan estrogen, dan mengurangi kelebihan hormon-hormon seks.38
11. Memproduksi vitamin larut air, seperti: thiamine, nikotin, asam folat, pridoksin, vitamin B12.
Hal ini dilakukan oleh probiotik tertentu seperti: B. bifidum, B. infantis, B. breve, B. adolescen-tis, B. longum.39
TechnologyMEDICAL REVIEW
12. Probiotik menurunkan kadar kolesterol pada kondisi hypercholesterinemic, sedangkan reduksi kadar trigliserid plasma terobservasi pada orang dengan kondisi normolipidemic.40 13. Memproduksi biotin. Hal dilakukan oleh probiotik tertentu seperti: B. adolescentis M101-4, B.
bifidum A234-4, B. breve I-53-8, B. infantis I-10-5, B. longum M101-2.41 14. L. acidophilus SBT2062 meningkatkan bioavailability zat besi (iron).42
15. L. reuteri 100-23, L. delbrueckii 100-18, L. fermentum 100-20, L. delbrueckii 100-21, E. faecium, E. faecalis mendekonjugasi garam empedu (asam taurocholic dan asam taurodeoxycholic) melalui mekanisme mengurangi aktivitas garam hydrolase garam empedu di ilea.43
16. Lactobacillus plantarum meningkatkan kadar asam lemak unsaturated omega-3 di dalam bahan makanan.44
17. Yogurt bermanfaat untuk mencerna sebagian laktosa di susu melalui mekanisme mening-katkan aktivitas laktase di susu dan di duodenum serta mengurangi gangguan pencernaan (maldigestion) laktosa.45
18. Beberapa manfaat probiotik lainnya, antara lain: reduksi (mengurangi) konsentrasi enzim pemicu kanker (cancer-promoting enzymes) dan/atau metabolit putrefactive (bacterial) di usus. Mencegah, mengurangi, meringankan keluhan traktus gastrointestinal pada orang se-hat yang tidak teratur dan tidak spesifik. Menormalkan (normalization) buang air besar pada penderita obstipasi atau irritable colon. Mencegah terjadinya infeksi traktus respiratorius (misalnya: common cold, influenza) dan berbagai penyakit infeksi lainnya.46
19. Molekul mikroba tunggal dari Bacterial fragillis telah menunjukkan aktivitasnya sebagai pelindung dari penyakit inflamasi yang disebabkan oleh Helicobacter hepaticus, sehingga hal ini mensugesti bahwa molekul antiinflamasi alami dari bacteria microbiota dapat se-cara aktif meningkatkan kesehatan manusia, dan mungkin berpotensi sebagai terapi untuk gangguan inflamasi pada manusia.47 Inflamasi ini dapat dijelaskan dengan teori dysbiosis.
Menurut teori dysbiosis, terdapat gangguan (breakdown) keseimbangan antara spesies puta-tive (diduga berasal dari) bakteri intestinal yang bersifat “protecputa-tive” versus bakteri intestinal yang bersifat “berbahaya" (harmful) yang memicu terjadinya inflamasi intestinal kronis.48
f. Efek Samping Probiotik
Pada beberapa kasus, pneumonia dan endocarditis dilaporkan terjadi karena pengaruh bakteri Lactobacillus. Begitu pula kasus infeksi jamur nonsimtomatis yang disebabkan oleh Saccharomy-ces boulardii.49,50
g. Kontraindikasi Probiotik
Ada kondisi (medis) tertentu dimana probiotik bukan pilihan tepat. Probiotik mengandung mik-roorganisme hidup sehingga ada peluang terjadi infeksi patologis, terutama pada penderita
TechnologyMEDICAL REVIEW
yang kritis atau penderita dengan immunocompromized yang berat.51 Probiotic strains Lactoba-cillus dilaporkan menyebabkan bacteremia pada pasien dengan short-bowel syndrome.52
Preparat Lactobacillus dikontraindikasikan pada pasien dengan hipersensitivitas terhadap lakto-sa atau susu. S. boulardii dikontraindikasikan pada pasien dengan alergi ragi. Pada bifidobacteria, tidak ada kontraindikasi karena sebagian besar spesies ini nonpatogenik dan nontoksigenik.53-56
h. Dosis Probiotik
Dosis efektif probiotik dipengaruhi oleh multifaktor, seperti:57
1. Dosis harian (107–1010 cfu);
2. Keberlangsungan hidup (viability);
3. Frekuensi pemberian setiap harinya (1-4 kali/hari);
4. Durasi (lama) pemberian (1 hari hingga beberapa bulan);
5. Waktu mengkonsumsi (sebelum, bersamaan, atau sesudah makan);
6. Tipe probiotik (lactobacilli, bifidobacteria, yeasts, enterococci);
7. Sediaan (berupa: suplemen, makanan terfermentasi, makanan, minuman, kapsul, tablet, atau tepung).
Untuk kasus candidiasis vulvovaginal, digunakan Lactobacillus rhamnosus GG (109 bakteri per suppositoria 2 x sehari selama 7 hari).58 L. rhamnosus GR-1 dan Lactobacillus fermentum RC-14 (setidaknya 109 bakteri tersuspensi di susu skim diberikan secara oral 2x sehari selama 14 hari).59 L. acidophilus dengan dosis 8 oz yogurt mengandung > 108 CFU/mL diminum setiap hari selama 6 bulan.60
Untuk pencegahan penyakit atopik, dipakai Lactobacillus rhamnosus GG, dengan dosis 1010 CFU setiap hari selama 2-4 minggu sebelum persalinan berlangsung pada wanita hamil, diikuti den-gan pemberian pada bayinya selama 6 bulan.61
Pada kasus atopic eczema, strain Lactobacillus rhamnosus yang tidak hidup (nonviable) tidak efek-tif untuk mengurangi gejala, sedangkan strain yang hidup (viable) efekefek-tif.62,63 Insiden atopic ec-zema pada bayi berusia dua dan empat tahun yang berisiko menderita atopic ecec-zema berkurang sekitar 50% melalui pemberian L. rhamnosus pada ibunya, satu bulan sebelum melalui enam bulan setelah proses persalinan atau kelahiran (bayi), atau langsung ke bayinya sendiri.64-66 Riset lain menunjukkan beberapa bukti bahwa penambahan probiotik seperti Lactobacillus berman-faat untuk kasus atopic eczema pada mereka yang menjalani diet cows’-milk-whey-hydrolysate.67,68
Technology MEDICAL REVIEW
Terapi dengan probiotik (jenis Lactobacillus GG) tidak bermanfaat pada semua bayi dengan at-opic eczema/dermatitis syndrome (AEDS). Lactobacillus GG hanya bermanfaat meringankan geja-la AEDS bayi yang tersensitisasi IgE, namun bukan bayi yang tidak tersensitisasi IgE. Efek geja- lactoba-cilli terlihat 4 minggu setelah periode terapi, tidak segera setelah terapi. Riset lain menunjukkan pada anak dengan AEDS menunjukkan Lactobacillus GG meningkatkan konsentrasi IL-10 di sera 4 minggu setelah terapi.69,70
Pada kasus acne, suplemen oral yang mengandung L. acidophilus dan B. bifidum (250 mg) efektif sebagai adjuvant.71 Pilihan lain yaitu suplementasi tablet Laxtinex yang mengandung campuran L. acidophilus dan L. bulgaricus selama 8 hari, diikuti 2 minggu membersihkan wajah (wash out) lalu dikonsumsi lagi selama 8 hari.72 Konsumsi minuman probiotik yang mengandung Lactoba-cillus dan lactoferrin (protein susu antiradang) efektif mengurangi lesi inflamasi dan produksi sebum. Mekanisme kerjanya dengan membebaskan inflammatory cytokine di dalam kulit dan mengurangi interleukin-1 alpha.73
Dosis probiotik bervariasi tergantung produk dan indikasi penyakit. Memang belum ada kon-sensus atau guideline yang pasti tentang jumlah minimum organisme yang harus dikonsumsi untuk mendapatkan khasiat yang maksimal dan optimal.74,75
III. KESIMPULAN
Probiotik adalah mikroorganisme hidup di dalam bahan (suplemen) makanan dimana saat di-ambil pada kadar tertentu sebagai nutrisi, menyediakan penyeimbangan flora usus, dan karena itu berefek positif terhadap kesehatan, bila diberikan di dalam jumlah yang cukup. Istilah “pro-biotics” diciptakan pada tahun 1950-an oleh W. Kollath. Hanya mikroorganisme yang memenuhi kriteria sebagai mikroorganisme ideal yang termasuk kelompok probiotik.
Probiotik dapat ditambahkan ke dalam makanan dan minuman dengan teknik tertentu. Berba-gai mikroorganisme sebaBerba-gai sumber probiotik adalah berasal dari bakteri Lactobacillus species, Bifidobacterium species, ragi Saccharomyces boulardii, dan jamur. Probiotik memiliki multiperan, multifungsi, dan multimanfaat, misalnya: antimikroba, imunmodulasi. Meskipun aman, namun ada beberapa efek samping dan kontraindikasi pemakaian probiotik yang perlu diwaspadai.
Adapun dosis efektif probiotik dipengaruhi oleh multifaktor.
TechnologyMEDICAL REVIEW
daftar pustaka
1. Tomasik PJ, Tomasik P. Probiotics and Prebiotics. Cereal Chem 2003;80(2):113-117.
2. Salminen S, Bouley MC, Boutron-Rualt MC, et al. Functional food science and gastroin-testinal physiology and function. Br. J. Nutr. 1998; 80 (Suppl. 1): 147–171.
3. FAO, UN, WHO. Guidelines for the evaluation of probiotics in food: report of a Joint FAO/
WHO Working Group. London, Ontario, Canada: Food and Agriculture Organization of the United Nations and World Health Organization; 2002.
4. McFarland LV, Elmer GW. Biotherapeutic agents: past, present and future. Microecol.
Ther. 1995;23:46–73.
5. Probiotische Mikroorganismenkulturen in Lebensmitteln. Abschlussbericht der Arbe-itsgruppe “Probiotische Mikroorganismen in Lebensmitteln” am Bundesinstitut für ge-sundheitlichen Verbraucherschutz und Veterinärmedizin (BgVV), Berlin. In: Ernährungs-Umschau 2000;47:191–195.
6. Kollath W. The increase of the diseases of civilization and their prevention. Münch Med Wochenschr 1953;95:1260–1262.
7. Lilly DM, Stillwell RH. Probiotics growth promoting factors produced by micro-organ-isms. Science 1965;147:747–748.
8. Crittenden R. Incorporating Probiotics into Foods. In: Lee YK. Salminen S. (ed.). Handbook of Probiotics and Prebiotics. 2nd Edition. John Wiley & Sons, Inc.,New Jersey.2009;Chapter 1.6:p.61.
9. Lee YK. Salminen S. (ed.). Handbook of Probiotics and Prebiotics. 2nd Edition. John Wiley
& Sons, Inc.,New Jersey.2009; Chapter 1.6.1:p.60.
10. Williams NT. Probiotics. Am J Health-Syst Pharm. 2010;67:449-58.
11. Senok AC, Ismaeel AY, Botta GA. Probiotics: facts and myths. Clin Microbiol Infect.
2005;11:958-66.
12. Santosa S, Farnworth E, Jones PJ. Probiotics and their potential health claims. Nutr Rev.
2006;64:265-74.
13. Doron S, Gorbach SL. Probiotics: their role in the treatment and prevention of disease.
Expert Rev Anti Infect Ther. 2006;4:261-75.
14. Regulation on Registration and Review of Probiotic Health Foods, 2005; Ministry of Health, PRC. Available at: http://www.sfda.gov.cn/cmsweb/webportal/W945325/
A64003018_1.html.
15. Ng SC, Hart AL, Kamm MA, Stagg AJ, Knight SC. Mechanisms of Action of Probiotics:
Recent Advances. Inflamm Bowel Dis 2009;15:300-310.
16. Ouwehand AC, Kirjavainen PV, Shortt C, Salminen S. Probiotics: mechanisms and estab-lished effects. International Dairy Journal 9 (1999);9:43-52.
17. Rechkemmer G, Holzapfel W, Haberer P, Wollowski I, Pool-Zobel BL, Watzl B. Beeinflus-sung der Darmflora durch Ernährung. In: Deutsche Gesellschaft für Ernährung. Er-nährungsbericht 2000. Druckerei Heinrich, Frankfurt am Main, Germany, 2000;259–286.
18. Yamazaki S, Tsuyuki S, Akashiba H, Kamimura H, Kimura M, Kawashima T, Ueda K. Im-mune response of Bifidobacterium-monoassociated mice. Bifidobact Microflora 1991;10:19–31.
19. Gill SH, Rutherford J, Cross L, Gopal PK Enhancement of immunity in the elderly by di-etary supplementation with the probiotic Bifidobacterium lactis HNO 19. Am J Clin Nutr
74:833–839.
20. Jahreis G, Vogelsang H, Kiessling G, Schubert R, Bunte C, Hammes WP. Influence of probiotic saucage (Lactobacillus paracasei) on blood lipids and immunological pa-rameters of healthy volunteers. Food Res Int 2002;35:133–138.
21. Kitazawa H, Ino T, Kawai Y, Itoh T, Saito T (2002) A novel immunostimulating aspect of Lactobacillus gasseri: induction of “Gasserokine” as chemoattractants for mac-rophages. Int J Food Microbiol 25:29–38.
22. Cross ML, Mortensen RR, Kudsk J, Gill HS. Dietary intake of Lactobacillus rhamnosus HN001 enhances production of both Th1 and Th2 cytokines in antigenprimed mice.
Med Microbiol Immunol (Berl) 2002;191:49–53.
23. Pochard P, Gosset P, Grangette C, et al Lactic acid bacteria inhibit TH2 cytokine production by mononuclear cells from allergic patients. J Allergy Clin Immunol 2002;110:617–623.
24. De Vrese M, Ghadimi D, Winkler P, Schrezenmeir J. Antiallergenes Potenzial von Milchsäure-produzierenden Bakterien. Vorträge zur Hochschultagung 2006 der Agrar- und Ernährungswissenschaftlichen Fakultät der CAU Kiel 2006;108:205–214.
25. De Vrese M, Rautenberg P, Laue C, Koopmans M, Herreman T, Schrezenmeir J. Pro-biotic bacteria stimulate virus-specific neutralizing antibodies following a booster polio vaccination. Eur J Nutr 2005;44:406–413.
26. Fukushima Y, Kawata Y, Hara H, Terada A, Mitsuoka T. Effect of a probiotic formula on intestinal immunoglobulin A production in healthy children. Int J Food Microbiol 1998;42:39–44.
27. de Jongh GJ, Zeuwen PL, Kucharekova M, et al. High expression levels of keratino-cyte antimicrobial proteins in psoriasis compared with atopic dermatitis. J Invest Dermatol 2005;125:1163-73.
28. Viljnen M, Savilahti E, Haahtela. et.al. Probiotics in the treatment of atopic eczema/
dermatitis syndrome in infants: a double-blind placebo controlled trial. Allergy 2005;60:494-500.
29. Weston S, Halbert A, Rihmond P, Prescott SL. Effects of prebiotics on atopic dermati-tis: a randomized controlled trial. Arch Dis Child 2005;90:892-7.
30. Gueniche A, Cathelineau AC, Bastien P, et al. Vitreoscilla filiformis biomass improves seborrheic dermatitis. JEADV 2007;17:1468-9.
31. Gueniche A, Hennino A, Goujon C, et al. Improvement of atopic dermatitis skin symptoms by Vitreoscilla filiformis bacterial extract. EJD 2006;16:380-4.
32. Rolfe VE, Fortun PJ, Hawkey CJ, Bath-Hextall F. Probioticos para el mantenimiento de la remision en la enfermedad de Crohn (Cochrane Review, translated). In: La Bib-lioteca Cochrane Plus, number 4, 2007. Oxford, Update Software Ltd. Available at:
http://www.update-software.com (translated from the Cochrane Library, 2007 Issue 4. Chichester, UK: John Wiley & Sons, Ltd.).
33. Kaila M, Isolauri E, Soppi E, et.al. Enhancement of the circulating antibody secret-ing cell response in human diarrhea by a human Lactobacillus strain. Pediatr Res.
1992;32:141-4.
34. Gibson GR, Saavedra JM, MacFarlane S. 1997. Probiotics and intestinal infections.
Pages 10-39 in: Probiotics: Therapeutic and Other Beneficial Effects. R. Fuller, ed.
Chapman & Hall: London.
35. Saavedra JM, Abi-Hanna A, Moore N. Effect of long term consumption of infant formulas with bifidobacteria (B) and S. thermophilus (ST) on stool patterns and diaper rash in infants. J. Pediatr. Gastroenterol. Nutr. 1998;27:483.
36. Deeth H, Tomine A. Yogurt: Nutritive and therapeutic aspects. J. Food Protec. 1981;44:78-86.
37. Buts JP, de Keyser N, de Raedemaeker L. Saccharomyces boulardii enhances rat intestinal enzyme expression by endoluminal release of polyamines. Pediatr. Res. 1994;36:522-527.
38. Gorbach SL. Estrogens, breast cancer, and intestinal flora. Rev. Infect. Dis. 1984;6(Suppl.
1):S85-90.
39. Deguchi Y, Morishita T, and Mutai M. Comparative studies on synthesis of water-soluble vitamins among human species of Bifidobacteria.Agric.Biol. Chem. 1985;49:13–19.
40. Noda H, Akasaka N, and Ohsug M. Biotin production by Bifidobacteria. J. Nutr. Sci.Vita-minol.1994;40:181–188.
41. Oda T, Kado-oka Y, and Hashiba H. Effect of Lactobacillus acidophilus on iron bioavail-ability in rats. J. Nutr. Sci. Vitaminol.1994;40:613–616.
42. TannockGW, Dashkevicz MP, and Feighner SD. Lactobacilli and bile salt hydrolase in the murine intestinal tract. Appl. Environ. Microbiol. 1989;55:1848–1851.
43. De Vres M, Stegelmann A, Richter B, Fenselau S, Laue C, and Schrezenmeir J. Probiotics compensation for lactase insufficiency. Am. J. Clin. Nutr. 2001; 73 (Suppl.):421S–429S.
44. Bengmark S. Immunnutrition: Role of biosurfactants, fiber, and probiotic bacteria. Nutri-tion 1998;14:585-594.
45. Rogasi P, Vigano S, Pecile P, Leoncini F. Lactobacillus casei pneumonia and sepsis in pa-tient with AIDS. Case report and review of the literature. Ann Ital Med Int 1998;13:180-182.
46. de Vrese M, Schrezenmeir J. Probiotics, Prebiotics, and Synbiotics. Adv Biochem Engin/
Biotechnol 2008;111:1–66.
47. Mazmanian SK, Round JL, Kasper DL. A microbial symbiosis factor prevents intestinal inflammatory disease. Nature.2008;453:620–625.
48. Tamboli CP, Neut C, Desreumaux P, et al. Dysbiosis in inflammatory bowel disease.
Gut.2004;53:1–4.
49. Zunic P, Lacotte J, Pegoix M, Buteux G, Leroy G, Mosquet B, Moulin M. Fongemie a Sac-charomyces boulardii. Therapie 1991;45:497-501.
50. Williams NT. Probiotics. Am J Health-Syst Pharm. 2010;67:449-58.
51. Kligler B, Cohrssen A. Probiotics. Am Fam Physician. 2008;78:1073-8.
52. Natural Medicines Comprehensive Database. Bifidobacteria monograph. www.natural-database.com. (accessed 2009 Mar 23).
53. Natural Medicines Comprehensive Database. Saccharomyces boulardii monograph.
www.naturaldatabase.com. (accessed 2009 Mar 23).
54. Drugdex System. Lactobacillus monograph. Greenwood Village, CO: Thomson Microme-dex (accessed 2009 Mar 23).
55. Drugdex System. Saccharomyces boulardii monograph. Greenwood Village, CO: Thom-son Micromedex (accessed 2009 Mar 23).
56. Lee KY. Effective Dosage for Probiotic Effects. In: Lee YK. Salminen S. (ed.). Handbook of Probiotics and Prebiotics. 2nd Edition. John Wiley & Sons, Inc.,New Jersey.2009;Chapter 1.5:p.52.
57. Williams NT. Probiotics. Am J Health-Syst Pharm. 2010;67:449-58.
58. Reid G, Bruce AW, Fraser N et.al. Oral probiotics can resolve urogenital infections.
FEMS Immunol Med Microbiol. 2001;30:49-52.
59. Hilton E, Isenberg HD, Alperstein P et al. Ingestion of yogurt containing Lac-tobacillus acidophilus as prophylaxis for candidal vaginitis. Ann Intern Med.
1992;116:353-7.
60. Kalliomaki M, Salminen S, Arvilommi H, et al. Probiotics in primary prevention of atopic disease: a randomised placebo-controlled trial. Lancet. 2001;357:1076-9.
61. Kirjavainen PV, Salminen SJ, and Isolauri E. Probiotic bacteria in the management of atopic disease underscoring the importance of viability. J. Pediatr. Gastroen-terol. Nutr.2003; 36: 223–227.
62. Isolauri E, Arvola T, Sutas Y, Moilanen E, and Salminen S. Probiotics in the man-agement of atopic eczema. Clin. Exp. Allergy 2000; 30(11): 1604–1610.
63. Viljanen M, Savilahti E, Haahtela T, et al. Probiotics in the treatment of atopic ec-zema/dermatitis syndrome in infants: a double-blind placebo-controlled trial.
Allergy 2005;60:494–500.
64. Rautava S, Kalliomaki M, Isolauri E. Probiotics during pregnancy and breastfeed-ing might confer immunomodulatory protection against atopic disease in the infant. J Allergy Clin Immunol 2002;109:119–121.
65. Kalliomaki M, Salminen S, Poussa T, Arvilommi H, Isolauri E. Probiotics and pre-vention of atopic disease: 4-year follow-up of a randomised placebo-controlled trial. Lancet 2003;361:1869–1871.
66. Kalliomäki M, Salminen S, Arvilommi H, Kero P, Koskinen P, Isolauri E. Probiotics in primary prevention of atopic disease: a randomised placebo-controlled trial.
Lancet 2001;357:1076–1079.
67. Williams H, Bigby M, Diepgen T, Herxheimer A, Naldi L, Rzany B (Ed.). Evidence-based dermatology. BMJ Publishing Group. London. 2003:184.
68. Charman C. Atopic eczema. In: Godlee F, ed. Clinical Evidence. London: BMJ Pub-lishing Group, 2001.
69. Pessi T, Sutas Y, Hurme M, Isolauri E. Interleukin-10 generation in atopic children following oral Lactobacillus rhamnosus GG. Clin Exp Allergy 2000;30:1804–1808.
70. Marchetti F, Capizzi R, Tulli A. Efficacy of regulators of the intestinal bacterial flora in the therapy of acne vulgaris. Clin Ter 1987;122:339-43.
71. Bowe WP, Logan AC. Acne vulgaris, probiotics and the gut-brain-skin axis- back to the future? Gut Pathogens 2011;3:1.
72. Kim J, Ko Y, Park YK, Kim NI, Ha WK, Cho Y. Dietary effects of lactoferrin-enriched fermented milk on skin surface lipid and clinical improvement of acne vulgaris.
72. Kim J, Ko Y, Park YK, Kim NI, Ha WK, Cho Y. Dietary effects of lactoferrin-enriched fermented milk on skin surface lipid and clinical improvement of acne vulgaris.