3 METODE PENELITIAN
4.5 Pembahasan
4.5.1 Pembahasan Analisis Deskriptif Iklim Sekolah dengan
4.5.1.1 Pembahasan Analisis Deskriptif Iklim Sekolah
Iklim sekolah merupakan segala sesuatu yang ada di lingkungan sekolah yang dirasakan dan berpengaruh terhadap perilaku individu yang terlibat di dalam sekolah.
Iklim sekolah ditunjukkan dengan tiga aspek, yaitu aspek interaksi yang terdiri dari indikator interaksi peserta didik dengan guru, interaksi peserta didik dengan karyawan, interaksi peserta didik dengan peserta didik lain. Aspek proses belajar yang terdiri dari indikator suasana demokratis, kepedulian, keterbukaan dan kebersamaan. Aspek kondisi sekolah yang terdiri dari indikator keamanan, ketertiban, kebersihan, kesehatan, dan keindahan.
Secara umum iklim sekolah di SMP Teuku Umar berada pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 81,42 % (57 orang). Sedangkan kategori sedang
yaitu sebesar 18,57 % (13 orang). Sesuai dengan indikator yang menyusunnya dan berdasarkan hasil tersebut dapat diartikan bahwa semua anggota sekolah menjalankan perannya masing-masing, serta adanya interaksi antar semua anggota sekolah, guru memiliki komitmen yang tinggi untuk mengajar, adanya keselarasan dan kebersamaan antar anggota sekolah, terciptanya lingkungan belajar yang kondusif, memiliki tujuan yang sama, dan peraturan sekolah tidak bersifat kaku.
Hasil yang lebih rinci mengenai iklim sekolah digambarkan dalam tiga aspek dan lebih dijelaskan dalam dua belas indikator perilaku. Aspek yang paling menunjukkan iklim sekolah adalah aspek interaksi dengan semua anggota sekolah. Sebanyak 78,57 % responden menjalin interaksi yang positif dengan para anggota sekolah. Responden serta anggota sekolah lain mampu membangun hubungan yang baik, tidak membeda-bedakan dalam memperlakukan siswa, guru maupun karyawan sekolah yang lain.
Perilaku kedua yang ditunjukkan dalam iklim sekolah adalah aspek proses belajar saat berada di sekolah. Berdasarkan hasil data yang diperoleh menunjukkan bahwa sebanyak 77,14% responden memiliki respon yang positif mengenai proses belajar mengajar yang sedang berlangsung di sekolah. Responden mengikuti proses belajar dengan baik, mendengarkan penjelasan dari guru ketika berlangsung jam pelajaran, mampu mengikuti tata tertib yang berlaku selama jam sekolah berlangsung.
Perilaku ketiga yang ditunjukkan dalam iklim sekolah adalah aspek kondisi sekolah. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebanyak 60 % responden menilai bahwa kondisi sekolah cukup untuk layak digunakan dalam proses belajar
mengajar. Sarana dan prasarana yang ada di sekolah dikatakan cukup memadai untuk melakukan kegiatan belajar mengajar, suasana yang ada di sekolah membuat para anggota sekolah menjadi nyaman berada di lingkungan tersebut.
Berdasarkan data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa aspek interaksi dengan anggota sekolah merupakan perilaku terbanyak yang dilakukan dalam membentuk iklim sekolah yang positif yang dilakukan oleh 78,57 % (55 orang) subjek penelitian dan berada dalam kategori cukup tinggi.
Hasil ini tidak sama dengan fenomena yang peneliti angkat. Studi pendahuluan diperkirakan bahwa iklim sekolah yang ada di SMP Teuku Umar berada dalam kategori rendah, namun setelah diadakan penelitian, hasilnya iklim sekolah di SMP Teuku Umar tergolong cukup tinggi, yang berarti ada perbedaan antara hasil penelitian awal dan hasil penelitian akhir. Hal ini dimungkinkan karena studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti kurang menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Selain itu, peneliti kurang melihat siswa dan guru-guru yang lain yang memiliki sikap positif terhadap anak didiknya
4.5.1.2 Pembahasan Analisis DeskriptifKedisiplinan Belajar
Kedisiplinan belajar merupakan merupakan kondisi belajar yang tercipta dan terbentuk melalui proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan atau kepatuhan, keteraturan, ketertiban, tanggung jawab, dan kesadaran.
pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 68,57 % (48 orang). Sedangkan kategori sedang yaitu sebesar 31,43 % (22 orang). Sesuai dengan indikator yang menyusunnya dan berdasarkan hasil tersebut dapat diartikan bahwa siswa yang memiliki disiplin belajar yang baik akan dapat menentukan keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuannya, dengan disiplin yang tinggi siswa dapat belajar dengan teratur dan dapat meraih prestasi yang baik dan optimal
Hasil yang lebih rinci mengenai kedisiplinan belajar digambarkan dalam empat indikator. Indikator pertama yang ditunjukkan dalam kedisiplinan belajar adalah ketertiban diri saat belajar di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebanyak 85,71 % (66 orang) responden yang memiliki sikap tertib diri saat belajar di sekolah, agar proses belajar dan mengajar berlangsung dengan kondusif para siswa dan guru saling bekerja sama dalam menjaga ketertiban di kelas. Kelas yang kondusif mempermudah para siswa dan guru saat jam pelajaran berlangsung, siswa menjadi nyaman saat berada di kelas serta siswa mudah menerima pelajaran, dan guru menjadi mudah untuk menyampaikan pelajaran.
Indikator kedua yang menunjukkan kedisiplinan belajar adalah rajin dan teratur dalam belajar. Sebanyak 65,71 % (46 orang) responden memiliki sikap rajin dan tertur dalam belajar. Untuk membentuk Sikap rajin dan tertatur ini tidak terjadi begitu saja, tetapi terbentuk dari usaha, latihan dan usaha membiasakan diri.
Perilaku ketiga yang ditunjukkan dalam kedisiplinan belajar adalah indikator perhatian di kelas. Berdasarkan hasil data yang diperoleh menunjukkan bahwa sebanyak 62,85% (44 orang) responden memiliki perhatian saat berada di
kelas. Responden harus memiliki perhatian yang baik saat berada di kelas ketika sedang berlangsung proses belajar mengajar, perhatian siswa sudah semestinya tertuju pada pelajaran yang sedang berlangsung. Adanya perhatian saat berada di kelas membantu siswa untuk lebih mengerti mengenai pelajaran yang sedang disampaikan oleh guru yang mengajar.
Indikator keempat yang ditunjukkan dalam kedisiplinan belajar adalah dapat mengatur waktu belajar. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebanyak 58,57 % (41 orang) responden yang dapat mengatur waktu belajar, responden yang dapat mengatur waktu belajar dengan baik akan mempermudah untuk menentukan waktu yang digunakan untuk belajar dan waktu yang digunakan untuk hal-hal lainnya. Siswa yang dapat mengatur waktu belajar yang baik tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat.
Berdasarkan data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ketertiban diri saat belajar di sekolah merupakan perilaku terbanyak dalam membentuk kedisiplinan belajar yang dilakukan oleh 85,71 % (66 orang) subjek penelitian dan berada dalam kategori cukup tinggi.
Hasil ini tidak sama dengan fenomena yang peneliti angkat. Studi pendahuluan diperkirakan bahwa kedisiplinan belajar yang ada di SMP Teuku Umar berada dalam kategori rendah, namun setelah diadakan penelitian, hasilnya kedisiplinan belajar yang dimiliki oleh siswa kelas VII di SMP Teuku Umar tergolong cukup tinggi. Hal ini dimungkinkan karena studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti kurang menggambarkan keadaan yang sebenarnya, peneliti hanya melihat beberapa siswa yang sering melakukan pelanggaran dan kurang
bersikap kooperatif ketika sedang berlangsung proses belajar mengajar. Selain itu, data yang diambil sebagai patokan adalah data bebrapa bulan yang lalu sedangkan subjek telah mengalami perubahan selama beradaptasi dengan sekolah.
4.5.2 Pembahasan Analisis Inferensial Iklim Sekolah dengan Kedisiplinan