BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan Data Kualitatif
Selama penelitian, selain data kuantitatif yang diperoleh dengan deskriptif statistik, peneliti juga melakukan analisis data secara kualitatif. Data kualitatif diproses dengan coding. Langkah-langkah analisis yang dilakukan yaitu mengolah dan mempersiapkan data yang akan di analisis dengan cara mengetik transkip wawancara, mengumpulkan transkip catatan anekdot, dan melihat kembali video. Langkah selanjutnya peneliti membaca keseluruhan data yang diperoleh. Langkah terakhir adalah menganalisis data secara lebih detail dengan meng-coding data. Coding merupakan proses mengolah materi/informasi ke dalam tulisan.
Hasil analisis data kualitatif menemukan 3 indikasi yang menunjukkan perilaku kerja sama yaitu: (1) orang itu harus sadar bahwa dalam hidupnya pada hakekatnya ia selalu tergantung kepada sesamanya, maka dari itulah ia harus selalu berusaha untuk memelihara hubungan baik dengan sesamanya, (2) orang itu harus selalu bersedia untuk membantu sesamanya, (3) orang itu harus bersifat konform, artinya orang harus selalu ingat bahwa ia sebaiknya jangan berusaha untuk menonjol. Indikasi tersebut sesuai dengan teori Koentjaraningrat dalam Magnis (1983:67). Selain itu peneliti menemukan satu indikasi kerja sama baru yaitu mendengarkan orang lain yang sedang berbicara.
4.3.1 Memelihara Hubungan Baik dengan Sesamanya
Mengacu pada teori memelihara hubungan baik dengan sesama yang diungkapkan oleh Koentjaraningrat, memelihara hubungan baik dapat dilakukan
56
dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Hal yang menandakan hubungan baik siswa dengan sesamanya yaitu (1) tidak menyalahkan jika ada temannya melakukan kesalahan, (2) berusaha memahami sebelum menginginkan untuk dipahami, (3) tidak membeda-bedakan teman/menerima siapa saja yang menjadi anggota kelompoknya dengan gembira, (4) duduk tenang ketika orang lain berbicara, dan (5) menjawab pertanyaan orang lain dengan sopan.
Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan pengamatan terhadap video peneliti menemukan sikap siswa yang menunjukkan indikator-indikator di atas, yaitu tingkah laku gadis kecil mungil berkaca mata berinisial Ani. Ani cenderung memilih duduk di meja paling depan pada setiap pertemuan, dia duduk tenang dengan posisi kedua tangan dilipat di meja, pandangan ke depan dan tidak bersuara saat peneliti memberi penjelasan. Pandangan Ani sesekali mengarah ke mana posisi peneliti berada dan memperhatikan apa yang peneliti lakukan. Ketika diskusi kelompok ia memberikan pendapat, ide dan tulisannya untuk tugas yang harus diselesaikan dalam kelompoknya. Ani nampak serius dan ikut andil di setiap permainan. Dalam permainan „Bola Pesan‟, Ani beberapa kali disoraki oleh teman-temannya karena sering menjatuhkan bola, tetapi Ani tersenyum dan mengatakan “sorry ya”. Teman-temannya tidak mempermasalahkan kesalahan yang Ani lakukan karena banyak pula yang melakukan kesalahan. Setiap kali bola jatuh mereka segera melanjutkan permainan kembali. Ani yang pendiam ini tampak disenangi oleh teman-temannya, dia terlihat dapat diterima di kelompok manapun dan dengan siapapun anggotanya. Hal ini ditunjukkan dengan siswa berinisial Lic mengatakan “horeee” sambil tepuk tangan ketika berada dalam satu kelompok dengan Ani.
Suatu kali setelah pembelajaran selesai, peneliti bertanya kepada Ani secara pribadi, kenapa dia selalu memilih duduk di meja paling depan ketika pelajaran. Jawaban Ani adalah karena matanya sakit dan tidak dapat membaca tulisan yang ada di papan tulis dengan jelas. Ani juga mengatakan dulu waktu kacamatanya masih baru dia dapat melihat dengan jelas tetapi sekarang tidak jelas lagi untuk melihat. Ani dapat belajar dari pengalaman dan tahu menempatkan diri agar tetap mengikuti pelajaran dengan baik seperti teman-temannya. Siswa yang
57
lain terlihat memberi kesempatan kepada Ani untuk duduk di meja paling depan dan bersedia membantu ketika Ani mengalami kesulitan.
Pada pembelajaran selanjutnya peneliti menanyakan tentang materi pembelajaran. Siswa berinisial Set menjawab dengan suara keras “Ngga tahu ya” lalu tertawa. Tanggapan peneliti pada jawaban Set adalah tersenyum dan menanyakan kepada siswa yang lain. Sebelum masuk ke penjelasan, peneliti mengajak siswa menyanyikan lagu, peneliti bertanya, “Ada yang sudah bisa lagu mari kita kerja sama?” Set menjawab “Saya tahu” namun ketika peneliti meminta Set untuk menyanyikan lagu siswa tersebut tidak bisa menyanyikannya. Lima menit sebelum istirahat peneliti merasa kesal karena siswa tidak menjawab pertanyaan yang diajukan dan sudah ribut karena ingin segera keluar kelas untuk istirahat. Pada saat peneliti memberikan penjelasan, siswa berinisial Tin memutar-mutarkan tali lalu berjalan ke belakang dengan cara merangkak, hal ini membuat peneliti kesal, semua siswa diperingatkan dengan tanda diam “Satu, dua, tiga hap” dan peneliti mengatakan tidak akan memulai lagi jika semua siswa belum diam. Semua siswa serentak diam dan kembali memperhatikan penjelasan. Dari kejadian ini peneliti mempelajari bahwa siswa belum memiliki sikap hormat yang baik. Pada pertemuan selanjutnya peneliti lebih tegas dalam pembelajaran.
Kegiatan lain yang dapat peneliti amati pada siswa untuk memelihara hubungan baik dengan sesamanya yaitu siswa melakukan gerakan „Mari Kita Kerja Sama‟ secara berpasangan. Sebagian besar siswa melakukan gerakan secara berpasangan namun yang menyalahkan teman anggota kelompoknya yang melakukan kesalahan, hal ini menyebabkan kerja sama kelompok tersebut sedikit berkurang dan tugas yang seharusnya dikerjakan menjadi terhambat.
Dari hal ini, peneliti merefleksikan bahwa tingkah laku setiap siswa berbeda. Hubungan yang baik dengan anggota kelompok juga menentukan hasil kerja siswa. Kelompok yang kompak dapat memperoleh hasil yang baik dan maksimal sedangkan kelompok yang kurang kompak memperoleh hasil yang kurang maksimal dalam mengerjakan tugas.
58 4.3.2 Bersedia Membantu Sesamanya
Berdasarkan teori yang diungkapkan Koentjaraningrat, bersedia membantu sesamanya juga merupakan salah satu hal yang dibutuhkan dalam gotong royong atau pada saat kerja sama kelompok. Hal yang menandakan siswa bersedia membantu sesamanya adalah (1) menawarkan diri untuk membantu ketika orang lain mengalami kesulitan, (2) memiliki inisiatif/ide untuk membantu, (3) mau mengajari temannya yang mengalami kesulitan, (4) tanggap terhadap situasi ketika orang lain membutuhkan, dan (5) memahami yang dibutuhkan orang lain.
Berdasarkan analisis data terhadap catatan anekdot, video, dan hasil wawancara dengan guru, peneliti dapat melihat beberapa siswa melakukan kerja sama dengan baik dan saling membantu dalam kelompoknya. Ketika peneliti mengajak salah satu siswa berinisial Set untuk memberi contoh gerakan „Mari Kita Kerja Sama‟, Set bersedia melakukan namun sambil mengatakan “Bakpia aja, Mbak” (menunjuk salah satu temannya). Teman yang ditunjuk tidak mau membantu guru. Set tetap mau memberikan contoh gerakan bersama guru dengan senang hati. Ketika siswa melakukan permainan „Perjamuan Kerja Sama‟ tampak kerja sama yang baik antar siswa, siswa saling menyuapi roti satu dengan yang lain. Siswa yang tidak mau saling membantu tampak sibuk mencari cara agar dapat memakan roti itu sendiri. Cara yang dilakukan adalah dengan menekuk siku sehingga siswa melanggar peraturan yang ditetapkan peneliti. Dalam permainan-permainan yang lain, siswa saling memberikan semangat pada siswa lain. Pada permainan „Bola Pesan‟ ketika ada bola jatuh, siswa yang berada di dekat bola secara spontan mengambil bola dan kembali melanjutkan permainan tersebut. Siswa dalam setiap kelompok ada yang memberikan aba-aba pada saat akan melempar bola dengan tujuan agar kompak dan pasangan selanjutnya siap menerima bola yang dilempar.
4.3.3 Tidak Berusaha Menonjol untuk Melebihi Yang Lain
Perilaku tidak berusaha menonjol untuk melebihi orang lain ditandai dengan sikap (1) mau memberi kesempatan temannya untuk bertanya, 2) memberi
59
kesempatan temannya untuk menjawab, dan (3) tidak langsung menjawab pertanyaan dengan asal, namun dipikirkan terlebih dahulu.
Berdasarkan catatan anekdot, wawancara dan melihat video, peneliti mengamati bahwa siswa berinisial Set selalu dominan dalam pembelajaran. Set selalu menjawab apa yang peneliti tanyakan dengan cepat dan suara keras. Beberapa hal yang menunjukkan indikator di atas adalah, ketika peneliti melakukan tanya jawab untuk membuat kontrak belajar, Set mengusulkan untuk izin kepada peneliti saat akan keluar kelas. Peneliti menyetujui usul yang Set berikan. Peneliti selalu menyerukan kata “Satu, dua, tiga hap” sebagai tanda peringatan agar siswa kembali memperhatikan peneliti, ketika dicoba pertama kali peneliti mengatakan “Satu, dua, tiga” Set menjawab “hap” paling keras dan mendahului teman-temannya yang lain. Setelah membuat kontrak belajar peneliti menanyakan kepada seluruh siswa “Apakah setuju dengan aturan yang telah kita buat?” Set menjawab “Setuju” dengan suara paling keras. Set memberi komentar pada saat video „Kerja Sama Semut‟ diputar. Peneliti memberikan pertanyaan di akhir pemutaran video untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa. Set selalu menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti secara spontan dan tampak yakin dengan jawabannya. Contoh pertanyaan yang diajukan peneliti kepada Set antara lain “Dalam video kerja sama semut apa saja yang bisa kalian ceritakan, siapa yang mau menceritakan kembali?”. Set menjawab “Saya”, peneliti bertanya lebih lanjut dan Set hanya menjawab “Tahu, tapi apa yaaa…” (sambil tertawa). Set tampak aktif menjawab pertanyaan peneliti namun dengan spontan dan tidak berpikir dahulu apakah jawaban yang ia berikan tepat atau tidak. Pada pertemuan selanjutnya Set masih terlihat dominan dalam menjawab pertanyaan guru, namun Set lebih dapat mengendalikan diri kapan ia harus menjawab. Jawaban Set sudah lebih menunjukkan bahwa ia tidak asal dalam menjawab pertanyaan. Set tampak berpikir dulu ketika akan menjawab pertanyaan peneliti, hal ini terlihat pada ekspresi wajah yang tersenyum dan diam sebelum menjawab. Penerapan LVEP melalui permainan-permainan dan cerita yang peneliti sajikan mengajarkan siswa untuk berfikir dahulu sebelum bertindak maupun menjawab. Pada siklus 3, saat guru meminta kesediaan siswa untuk membacakan cerita „Penambang dan Sang Pangeran‟, siswa berinisial Rim, Van, bersedia membacakannya di depan kelas.
60
Set dengan semangat menawarkan diri bersedia membacakan cerita „Penambang dan Sang Pangeran‟, namun guru memberikan pengertian terhadap Set untuk memberi kesempatan kepada temannya yang lain untuk membacakan cerita di depan kelas. Set menyetujui saran yang peneliti berikan dan ia pun tersenyum dan kembali mendengarkan temannya yang membacakan cerita.
Peneliti juga melihat ketika permainan „Perjamuan Kerja Sama‟ beberapa siswa tidak membagi roti yang didapatkan dalam kelompok secara rata, yang peneliti lakukan untuk mengetahui kejujuran siswa adalah dengan menanyakan siapa yang mendapatkan roti lebih banyak dan peneliti juga menanyakan alasan siswa melakukan hal itu. Dari jawaban siswa peneliti dapat mengetahui bahwa siswa memakan lebih banyak dengan alasan siapa cepat dia dapat.
Penerapan modul Living Values membuat adanya perubahan sikap siswa khususnya Set yang pada awalnya berusaha untuk dominan namun kini siswa tampak sedikit lebih bisa mengendalikan diri. Siswa berpikir dulu ketika akan menjawab pertanyaan peneliti, hal ini terlihat pada ekspresi wajah yang tersenyum dan diam sebelum menjawab serta mau memberikan kesempatan kepada temannya untuk membacakan tugasnya di depan kelas.
Selain indikator kerja sama yang terdapat di atas, peneliti menemukan satu indikator baru yang berkaitan dengan sikap kerja sama. Indikator yang peneliti temukan tersebut yaitu mendengarkan orang lain yang sedang berbicara.
4.3.4 Mendengarkan orang lain yang sedang berbicara
Pada bab ini peneliti menemukan satu indikasi kerja sama yang peneliti peroleh berdasarkan pengamatan selama penelitian ketika pembelajaran di kelas II SDN Langensari Yogyakarta. Indikasi yang peneliti tambahkan ini belum terdapat dalam indikator kerja sama yang dituliskan oleh Koentjaraningrat. Peneliti memasukkan indikator mendengarkan orang lain yang sedang berbicara karena mendengarkan memunculkan komunikasi. Komunikasi dapat berjalan dengan baik apabila dari pihak pemberi informasi ke penerima informasi ada kesediaan untuk mendengarkan. Komunikasi yang baik dapat mewujudkan adanya kerja sama dengan siapa saja. Ketika tidak ada yang mendengarkan maka kerja sama itu tidak akan terjalin dengan baik karena yang terjadi hanya komunikasi satu arah.
61
Apabila komunikasi tidak terjalin dengan baik maka tujuan kerja sama juga tidak akan tercapai. Mendengarkan orang lain yang sedang berbicara ditandai dengan (1) tidak memotong pembicaraan, (2) tidak berbicara sendiri ketika ada orang lain berbicara, dan (3) menyimak ketika orang lain berbicara.
Selama pengamatan dalam penelitian, peneliti memperoleh data bahwa dalam permainan yang diterapkan selama tiga siklus tersebut siswa membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan orang lain khususnya ketika berdiskusi, permainan „Pesan Berantai‟, dan permainan „Bola Pesan‟. Dalam kedua permainan tersebut siswa diminta untuk menyampaikan pesan yang diterima kepada temannya. Siswa yang dapat mendengarkan pesan dengan baik akan mampu menyampaikan dengan baik pula. Hasil tersebut dapat dilihat dari tulisan siswa dipapan tulis mengenai pesan yang diterimanya. Pada siklus 2 peneliti mengamati siswa berinisial Tin. Tin tidak dapat menyampaikan pesan kepada Ari meskipun Tin sudah menerima pesan tersebut selama dua kali dari teman sebelumnya. Tin tampak bingung harus menyampaikan apa kepada Ari. Hal ini terlihat dari ekspresi muka Tin, Tin hanya diam sambil menggaruk-garuk kepala ketika menatap Ari. Sementara itu, Ari tampak kesal dengan mengatakan “Gimana sih… makanya didengerin, terus sekarang aku nulis apa di depan?”. Tin hanya diam dengan raut muka bersalah. Di siklus selanjutnya Tin sudah dapat menyampaikan pesan dengan baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa Tin sudah dapat mendengarkan orang lain yang sedang berbicara. Hasil kerja kelompok Tin ketika melakukan permainan „Bola Pesan‟ cukup baik dan tidak banyak dilakukan kesalahan. Tin tampak belajar dari kesalahan dalam pertemuan sebelumnya dan tidak melakukan kesalahan tersebut pada siklus 3.
Komunikasi yang baik didalam kelompok dapat membawa hubungan yang baik pula bagi anggotanya. Salah satu bentuk komunikasi yang baik ditunjukkan dengan sikap mau menerima pesan dari orang lain dan mampu menyampaikan pesan kepada orang lain, seperti yang dilakukan siswa kelas II SDN Langensari pada permainan „Pesan Berantai‟ dan „Bola Pesan‟.
Berdasarkan paparan di atas nampak adanya perilaku siswa kelas II SDN Langensari yang menunjukkan adanya perbaikan dalam perilaku kerja sama. Peneliti melihat bahwa penerapan modul Living Values memberikan dampak
62
positif terhadap siswa. Siswa tampak dapat memelihara hubungan baik dengan sesamanya, bersedia untuk membantu sesama, dan mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, serta perilaku menunjukkan sikap berusaha menonjol untuk melebihi yang lain sudah mulai ada perubahan yang lebih baik.