BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4 Pembahasan Data Kuantitatif
Berikut ini peneliti paparkan tentang pembahasan peningkatan prestasi belajar siswa dari pra siklus sampai siklus 3.
4.4.1 Pembahasan Data Kuantitatif Nilai Rata-rata Gabungan
Hasil penelitian dari pra siklus hingga siklus 3 dapat dilihat pada tabel 4.1. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan pada penelitian ini adalah 75,00. Persentase peningkatan prestasi belajar diperoleh dengan mencari persentase selisih nilai rata-rata dari siklus awal ke siklus selanjutnya. Hasil peningkatan prestasi belajar berdasarkan rata-rata nilai gabungan dapat dilihat pada grafik berikut ini:
GRAFIK 4.1
Grafik Peningkatan Prestasi Belajar Berdasarkan Nilai Rata-rata Gabungan Pra Siklus – Siklus 3
Berdasarkan tabel 4.1, dan grafik 4.1, hasil prestasi belajar jika dilihat dari nilai rata-rata gabungan dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik cenderung meningkat dari pra siklus hingga siklus 3. Nilai rata-rata yang
72.30 75.47 80.63 89.90 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00 NILAI GABUNGAN n il ai r ata -r
ata PRA SIKLUS
SIKLUS 1
SIKLUS 2
63
diperoleh siswa berdasarkan penilaian gabungan dari nilai rata-rata aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik pada pra siklus yaitu 72,30 meningkat menjadi 75,47 pada siklus 1. Hasil ini menunjukkan ada peningkatan dari pra siklus ke siklus 1 sebesar 4,4% (75,47-72,30). Pada siklus 1 ini sembilan siswa telah mencapai nilai KKM (75,00) sedangkan delapan siswa belum mencapai nilai KKM. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa berdasarkan penilaian gabungan dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik pada siklus 1 yaitu 75,47. Nilai tersebut meningkat menjadi 80,63 pada siklus 2. Hasil tersebut menunjukkan ada peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 6,8% (80,63-75,47). Pada siklus 1 tiga belas siswa sudah mencapai nilai KKM, sedangkan empat siswa belum mencapai nilai KKM. Pada siklus 3 nilai rata-rata yang diperoleh siswa berdasarkan penilaian gabungan dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yaitu 89,90 nilai tersebut meningkat dari siklus 2 yaitu 80,63. Persentase peningkatan nilai gabungan siswa dari siklus 2 sampai siklus 3 sebesar 11,5% (89,90-80,63). Pada siklus 3 semua atau tujuh belas siswa sudah mencapai nilai KKM.
4.4.2 Pembahasan Data Kuantitatif Aspek Kognitif, Afektif, Psikomotorik Prestasi belajar siswa juga dapat dilihat dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Berikut ini peneliti paparkan tentang pembahasan prestasi belajar pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dari pra siklus sampai siklus 3.
4.4.2.1 Pembahasan Data Kuantitatif Aspek Kognitif
Hasil belajar siswa pada aspek kognitif dari pra siklus sampai siklus 3 dapat dilihat pada tabel 4.1 dan grafik berikut ini:
64 GRAFIK 4.2
Grafik Prestasi Belajar Aspek Kognitif Pra Siklus - Siklus 3
Berdasarkan tabel 4.1 dan grafik 4.2, nilai rata-rata dari aspek kognitif tidak selalu mengalami peningkatan. Prestasi belajar siswa aspek kognitif pada pra siklus yaitu 74,28 menurun menjadi 73,90 pada siklus 1. Persentase penurunan dari pra siklus sampai siklus 1 sebesar 0,5% (73,90-74,28). Jumlah siswa yang mencapai nilai KKM (75,00) pada siklus 1 sebanyak delapan siswa sedangkan sembilan siswa belum mencapai nilai KKM. Nilai rata-rata aspek kognitif pada siklus 1 yaitu 73,90. Nilai tersebut meningkat menjadi 77,48 pada siklus 2. Hasil prestasi belajar pada siklus 2 menunjukkan ada peningkatan pada aspek kognitif dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 4,8% (77,48-73,90). Pada siklus 2 nilai siswa pada aspek kognitif terhitung sebelas siswa sudah mencapai nilai KKM dan enam siswa belum mencapai nilai KKM. Nilai rata-rata aspek kognitif pada siklus 3 adalah 83,07 meningkat dari 77,48 pada siklus 2. Persentase peningkatan rata-rata nilai kognitif pasa siklus 2 sampai siklus 3 sebesar 7,2% (83,07-77,48 ). Pada siklus 3 terhitung enam belas siswa sudah mencapai KKM dan satu siswa belum mencapai nilai KKM.
4.4.2.2 Pembahasan Data Kuantitatif Aspek Afektif
Hasil prestasi belajar siswa pada aspek afektif dapat dilihat pada tabel 4.1 dan grafik berikut ini:
74.28 73.90 77.48 83.07 68.00 70.00 72.00 74.00 76.00 78.00 80.00 82.00 84.00 KOGNITIF n il ai r ata -r
ata PRA SIKLUS
SIKLUS 1
SIKLUS 2
65 GRAFIK 4.3
Grafik Prestasi Belajar Aspek Afektif Pra siklus – Siklus 3
Berdasarkan tabel 4.1 dan grafik 4.3, nilai rata-rata dari aspek afektif tidak selalu mengalami peningkatan. Prestasi belajar siswa aspek afektif pada pra siklus yaitu 82,94 menurun menjadi 81,91 pada siklus 1. Presentase penurunan dari pra siklus ke siklus 1 sebesar 1,2% (81,91-82,94). Pada aspek afektif, jumlah siswa yang mencapai nilai KKM (75,00) pada siklus 1 sebanyak tiga belas siswa, empat siswa belum mencapai nilai KKM. Nilai rata-rata aspek afektif pada siklus 1 yaitu 81,91. Nilai afektif pada siklus 2 meningkat menjadi 86,47. Hasil tersebut menunjukkan ada peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 5,6% (86,47-81,91). Pada siklus 2 terhitung lima belas siswa sudah mencapai nilai KKM sedangkan dua siswa belum mencapai nilai KKM. Nilai rata-rata aspek afektif pada siklus 3 adalah 91,03 meningkat dari 86,47 pada siklus 2. Persentase peningkatan rata-rata nilai afektif pada siklus 2 sampai siklus 3 sebesar 5,3% (91,03-86,47) terhitung tujuh belas siswa sudah mencapai KKM.
4.4.2.3 Pembahasan Data Kuantitatif Aspek Psikomotorik
Hasil prestasi belajar siswa pada aspek psikomotorik dapat dilihat pada tabel 4.1 dan grafik berikut ini:
82.94 81.91 86.47 91.03 76.00 78.00 80.00 82.00 84.00 86.00 88.00 90.00 92.00 AFEKTIF n il ai r ata -r
ata PRA SIKLUS
SIKLUS 1
SIKLUS 2
66 GRAFIK 4.4
Kenaikan Prestasi Belajar Aspek Psikomotorik Pra Siklus – Siklus 3
Berdasarkan tabel 4.1 dan grafik 4.4, nilai rata-rata dari pra siklus hingga siklus 3 selalu mengalami peningkatan. Nilai rata-rata aspek psikomotorik mengalami peningkatan dari pra siklus ke siklus 1. nilai rata-rata pada pra siklus adalah 60,29 meningkat menjadi 70,59. Hasil ini menunjukkan ada peningkatan dari pra siklus hingga siklus 1 sebesar 17,1% (70,59-60,29). Pada siklus 1 terhitung tiga belas siswa telah mencapai nilai KKM (75,00) dan empat siswa belum mencapai nilai KKM. Nilai rata-rata aspek psikomotorik juga mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2. nilai rata-rata pada siklus I adalah 70,59 meningkat menjadi 77,94 pada siklus 2. Persentase peningkatan prestasi belajar siswa pada aspek psikomotorik dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 10,4% (77,94-70,59 ). Pada siklus 2 terhitung tujuh belas siswa sudah mencapai nilai KKM. Nilai rata-rata aspek psikomotorik pada siklus 3 adalah 95,59 meningkat dari 77,94 pada siklus 2. Persentase peningkatan rata-rata nilai afektif pada siklus 2 sampai siklus 3 sebesar 22,6% (95,59-77,94) terhitung tujuh belas siswa sudah mencapai KKM.
4.4.3 Pembahasan Data Kuantitatif Setiap Siklus
Hasil prestasi belajar siswa pada setiap aspek (kognitif, afektif, psikomotorik) dari pra siklus sampai siklus 3 dapat dilihat pada tabel 4.1 dan grafik berikut ini:
60.29 70.59 77.94 95.59 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 PSIKOMOTORIK n il ai r ata -r
ata PRA SIKLUS
SIKLUS 1
SIKLUS 2
67 GRAFIK 4.5
Prestasi Belajar Setiap Aspek Pra Siklus - Siklus 3
Prestasi belajar siswa setiap aspek dari pra siklus ke siklus 1 yang mengalami kenaikan paling tinggi adalah aspek psikomotorik. Persentase kenaikan aspek psikomotorik pra siklus ke siklus 1 sebesar 17,1% (70,59-60,29). Kenaikan prestasi belajar dari siklus 1 ke siklus 2 yang mengalami kenaikan paling tinggi adalah aspek psikomotorik. Persentase kenaikan aspek psikomotorik siklus 1 ke siklus 2 yaitu sebesar 10,4% (77,94-70,59). Pada siklus 2 ke siklus 3 kenaikkan prestasi belajar paling tinggi yaitu aspek psikomotorik. Persentase kenaikan aspek psikomotorik siklus 2 ke siklus 3 sebesar 22,6% (95,59-77,94).
Pada pra siklus ke siklus 3 kenaikan pada aspek kognitif mencapai 11,8% (83,07-74,28), aspek afektif 9,7% (91,03-82,94), dan aspek psikomotorik 58,5% (95,59-60,29). Secara umum presentase kenaikan yang paling tinggi didominasi oleh aspek psikomotorik. Hal ini karena selama kegiatan pembelajaran siklus 1 hingga siklus 3 selalu menggunakan penerapan modul Living Values dengan model Cooperative Learning atau pembelajaran berbasis kerja sama dengan menggunakan metode pembelajaran melalui tanya jawab, permainan, diskusi, dan penugasan yang tidak jauh berbeda pada setiap siklusnya. Aktifitas siswa untuk meningkatkan kerja sama selama pembelajaran dapat berkembang dalam kegiatan yang dikemas dalam pembelajaran siklus 1 hingga siklus 3. Kegiatan yang melibatkan olah gerak fisik khususnya dalam kegiatan permainan selama
PRA
SIKLUS SIKLUS 1 SIKLUS 2 SIKLUS 3
KOGNITIF 74.28 73.90 77.48 83.07 AFEKTIF 82.94 81.91 86.47 91.03 PSIKOMOTORIK 60.29 70.59 77.94 95.59 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 n il ai r ata -r ata KOGNITIF AFEKTIF PSIKOMOTORIK
68
pembelajaran sangat membantu peneliti dalam melakukan penilaian berdasarkan aktifitas siswa selama pembelajaran.
Dari tabel diatas dapat dilihat nilai-nilai yang diperoleh siswa dalam setiap siklus. Berdasarkan data yang didapatkan nampak adanya peningkatan dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik disetiap siklus. Dengan demikian dapat dilihat bahwa pembelajaran pada siswa kelas II SDN Langengsari pada pembelajaran tematik nilai rata-rata kelas selalu meningkat di setiap siklus melalui penerapan modul Living Values. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini peneliti telah berhasil melakukan peningkatan prestasi belajar siswa sesuai dengan target yang ditentukan peneliti yaitu tuntas KKM sebesar 90% dari jumlah tujuh belas siswa kelas II. Peneliti menyimpulkan bahwa penerapan modul
Living Values dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SDN Langensari Yogyakarta.
69 BAB 5 PENUTUP
Bab 5 merupakan bagian terakhir skripsi. Bab ini membahas kesimpulan dan saran.
5.1 Kesimpulan
5.1.1 Penelitian dengan penerapan modul Living Values dapat memperbaiki perilaku kerja sama siswa kelas II SDN Langensari Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 pada pelajaran tematik. Perubahan perilaku kerja sama dapat dilihat dari perilaku siswa selama berinteraksi dengan siswa lain pada saat pembelajaran. Siswa mampu memelihara hubungan baik dengan sesama, bersedia membantu sesama, tidak berusaha menonjol untuk melebihi yang lain, dan mendengarkan orang lain yang sedang berbicara. Data yang sudah peneliti tuliskan pada pembahasan data kualitatif menunjukkan perilaku siswa sudah menunjukkan perilaku-perilaku di atas. Peneliti dapat menyimpulkan bahwa penerapan modul
Living Values dapat meningkatkan perilaku kerja sama siswa kelas II SD Negeri Langensari pada semester genap.
5.1.2 Berdasarkan hasil penelitian yang telah dicapai, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan modul Living Values dengan model Cooperative learning meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SDN Langensari semester genap tahun ajaran 2012/2013 pada pelajaran tematik. Kenaikan nilai rata-rata yang diperoleh siswa berdasarkan nilai gabungan dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik pada pra siklus yaitu 72,30, meningkat menjadi 75,47 pada siklus 1. Hasil ini menunjukkan ada perubahan dari pra siklus ke siklus 1 sebesar 4,4% (75,47-72,30). Kenaikan nilai rata-rata yang diperoleh siswa berdasarkan penilaian gabungan dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik pada siklus 1 yaitu 75,47, nilai tersebut meningkat menjadi 80,63 pada siklus 2. Hasil ini menunjukkan ada peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 dengan nilai rata-rata yang diperoleh siswa berdasarkan penilaian gabungan sebesar 6,8%. Kenaikan nilai rata-rata yang diperoleh siswa berdasarkan
70
penilaian gabungan dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik pada siklus 2 yaitu 80,63, meningkat menjadi 89,90 pada siklus 3. Hasil ini menunjukkan ada peningkatan dari siklus 2 ke siklus 3 sebesar 11,5% (89,90-80,63). Pada pra siklus ke siklus 3 kenaikan pada aspek kognitif mencapai 11,8% (83,07-74,28), aspek afektif 9,7% (91,03-82,94), dan aspek psikomotorik 58,5% (95,59-60,29). Secara umum presentase kenaikan yang paling tinggi didominasi oleh aspek psikomotorik.
5.2 Saran 5.2.1 Bagi Guru
Guru hendaknya mampu mencoba metode atau cara baru dalam mengajarkan sikap hormat pada siswa, misalnya melalui penerapan modul Living Values
5.2.2 Bagi Sekolah
Sekolah hendaknya memberikan perhatian khusus dalam meningkatkan sikap hormat siswa terhadap orang lain, selain fokus pada prestasi belajar siswa.
5.2.3 Bagi Penelitian Selanjutnya
Penelitian berikutnya hendaknya mampu menerapkan modul Living Values dalam upaya meningkatkan prestasi belajar dan perilaku-perilaku sikap hormat yang lain yang ada pada modul.
71
DAFTAR REFERENSI
Anderson, Lorin W & David R. Krathwohl. 2010. Kerangka landasan untuk pembelajaran, pengajaran dan asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Arifin, Z. 2009. Evaluasi pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya _______. 2009. Penelitian pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Borba, Michele. 2008. Membangun kecerdasan moral. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Creswell, John W. 2009. Research design: Pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Darsono, Max. dkk. 2000. Belajar dan pembelajaran. IKIP Semarang Press: Semarang
Desminta. 2007. Psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Djiwandono, Esti Wuryani. 2006. Psikologi pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Ghozali. I. (2009). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang : Badan penerbit UNDIP
Hasan, M. Iqbal. 2011. Pokok-pokok statistik 1(statistik deskriptif). Jakarta: Bumi Aksara
Hawkes, Neil. 2009. Evidence of the impact of Values Education, based on the research of the University of Newcastle, Australia. Living Values Education. Diunduh pada tanggal 7 Juni 2013 dari:
http://www.livingvalues.net/research.html
Hopkins, David. 2007. Panduan guru penelitian tindakan kelas.Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Kasbolah, E. dan S. Kasihani. 2001. Penelitian tindakan kelas. Malang: Universitas Negri Malang
Kasen, Mark. 2006. Respect, with attitude: Journal of research in character education. 4(1&2). Diunduh pada tanggal 19 Juni 2013 dari:
http://go.galegroup.com/ps/sort.do?inPS=true&prodId=SPJ.SP01&userGr oupName=kpt05011&tabID=T002&action=Sort&searchId=R1&searchTy pe=BasicSearchForm&searchResultsType=SingleTab&sort=RELEVANC E¤tPosition=1
72
Kristiawan. 2011. Peningkatan minat dan prestasi belajar materi globalisasi menggunakan media audiovisual mata pelajaran PKn kelas IV SD Kledokan semester genap tahun pelajaran 20011/2012. Skripsi Sarjana, tidak diterbitkan. Yogyakarata: Universitas Sanata Dharma
Kunandar. 2007. Guru profesional implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan sukses dalam sertifikasi guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Maftuh, Bunyamin dan Sapriya. 2005. Jurnal Civitus: Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan melalui pemetaan konsep. Bandung: Jurusan PKn FPIPS
Masidjo, Ign. 1995. 2006. Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah.
Yogyakarta: Kanisius
Muchlas dan Hariyanto. 2011. Pendidikan karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya
Muslich, Masnur. 2010. Melaksanakan PTK itu mudah. Jakarta:Bumi Aksara _____________. 2007. KTSP Pembelajaran berbasis kompetensi dan kontekstual.
Malang: Bumi Aksara
Nadhifah, Isnun Nisa dan Ika Kartika. 2012. Penerapan Nilai-nilai Budi Pekerti dan Sikap Ilmiah yang Terintegrasi dalam Pembelajaran Sains Terpadu melalui Living Values Education Program (LVEP). Diunduh pada tanggal 15 Juni 2013 dari:
http://scholar.google.com/scholar?cluster=17222834178906143029&hl=en &as_sdt=0,5#
Singgih D & Gunarsa. 1981. Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Gunung Mulia
Sobri, Ali. 2012. Sekolah dan Keluarga Semakin Mengancam Anak-anak. Jakarta: Kompas.com
Soekanto Soerjono. 1990. Sosiologi suatu pengantar. Jakarta: Rajawali
Sugiyono. 2010. Metode penelitian (pendidikan kualitatif, kuantitatif dan R&D). Bandung: Alfabeta
Susanti. 2011. Peningkatan prestasi belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe berpikir berpasangan dalam mata pelajaran Pkn siswa kelas II SD negeri tanjung semester 1 tahun pelajaran 2011/2012. Skripsi sarjana, tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma
Suseno, Franz Magnis. 1985. Etika Jawa: Sebuah Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia
73
Suseno, Franz Magnis dan Reksosusilo. 1983. Etika jawa dalam tantangan
Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius (Anggota IKAPI)
Syah, Muhibbin. 2000. Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: Remaja Rusdakarya
Tillman, Diane. 2004. Living values: And educational program living values activities for children ages 8-14. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia
Trianto. 2010. Desain pengembangan pembelajaran tematik bagi anak usia dini TK/RA & anak usia kelas awal SD/MI. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Undang-Undang (UU) Pendidikan RI no. 20 Tahun 2003. Diunduh tanggal 12 Desember 2012, dari:
http://www.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2012/10/UU20-2003-Sisdiknas.pdf
Wahab, Abdul Aziz. 1997. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
Winkel, W.S. 1983. Psikologi pendidikan dan evaluasi belajar. Jakarta: Gramedia _____________. 2004. Psikologi pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi
Yanti. Peningkatan Perilaku Moral Anak Melalui Metode Bercerita Menggunakan Media Gambar Orang-Orangan Di Paud Habibul Ummi Ii Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan. 1(01), 131-143. Diunduh pada tanggal 12 Juni 2013 dari:
74 SILABUS
Mata pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia Kelas/ Semester : II/ 2
Standar Kompetensi : PKn
4. Menampilkan nilai-nilai Pancasila Bahasa Indonesia
5. Memahami pesan pendek dan dongeng yang dilisankan
Kompetensi Dasar
Materi Pokok/
Pembelajaran Kegiatan pembelajaran Indikator Penilaian
Alokasi
Waktu Sumber Belajar
PKn 4.1 Mengenal nilai kejujuran, kedisiplinan, dan senang bekerja dalam kehidupan Sikap hormat yang disertai kejujuran, kedisiplinan, dan senang bekerja dalam kerja sama kelompok SIKLUS 1
Siswa menyanyikan lagu „Mari Kita Kerja Sama‟ Siswa bersama guru
melakukan tanya jawab tentang lagu yang dinyanyikan Guru memberikan contoh
sikap hormat
Siswa menyebutkan contoh-contoh lain sikap hormat dalam kerja sama
SIKLUS 1 1. Kognitif PKn
- Mengetahui
pentingnya kerja sama yang disertai sikap jujur dan taat aturan dalam melakukan permainan “Perjamuan Kerja Sama” - Menunjukkan contoh - Tes tertulis - Skala sikap - Pengamatan 4 jp x 35 menit - Ismoyo, Romiyatun. (2008). Aku Bangga Bahasa Indonesia Sekolah Dasar kelas 2. Jakarta: Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. - Nurlaili, Lili.
75 Kompetensi
Dasar
Materi Pokok/
Pembelajaran Kegiatan pembelajaran Indikator Penilaian
Alokasi
Waktu Sumber Belajar sehari-hari Bahasa Indonesia 5.1 Menyampaikan pesan pendek yang didengarnya kepada orang lain
Siswa melihat video „Kerja Sama semut‟
Siswa berdiskusi setelah melihat video
Guru menjelaskan tentang pentingnya kejujuran, kedisiplinan, senang bekerja dalam suatu kerja sama kelompok berdasarkan video yang dilihat
Siswa diajak menyanyikan lagu “Bangun Tidur”
Guru menjelaskan bahwa lagu tersebut memberi pelajaran bahwa kita harus rajin bekerja sejak kecil.
Siswa melakukan permainan „Perjamuan Kerja Sama‟ Siswa dengan dampingan guru
melakukan refleksi permainan Siswa melakukan permainan
„Pesan Berantai‟
Siswa mengerjakan lembar evaluasi
Siswa mendengarkan
penjelasan dari guru mengenai pembelajaran selanjutnya
Doa penutup dan salam
lain sikap yang mencerminkan kerja sama siswa di sekolah, di rumah dan di lingkungan. - Menemukan
pengalaman diri yang sesuai dengan video berjudul “Kerja Sama Semut” yang sesuai tentang kejujuran, kedisiplinan, dan senang bekerja dalam kehidupan sehari-hari Bahasa Indonesia - Menuliskan pesan
singkat tentang pentingnya kejujuran dan kedisiplinan dalam kerja sama kelompok - Menyampaikan pesan singkat kepada orang lain melalui permainan “Pesan Berantai” 2. Afektif - Mematuhi aturan permainan “Perjamuan Kerja Sama” (2008). Pendidikan Kewarganegara anSekolah Dasar & Madrasah Ibtidaiyah Kelas 2. Jakarta: Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. - Suharto, sujari. (2008). Pendidikan Kewarganegara an Untuk SD/MI Kelas II. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. - Tillman Diane. (2004). Living values: and educational program living values activities
76 Kompetensi
Dasar
Materi Pokok/
Pembelajaran Kegiatan pembelajaran Indikator Penilaian
Alokasi
Waktu Sumber Belajar - Mendengarkan dengan
penuh perhatian penjelasan yang disampaikan orang lain dengan seksama 3. Psikomotorik - Mengikuti permainan
“Perjamuan Kerja Sama” dengan teman
for children ages 8-14. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. PKn 4.1 Mengenal nilai kejujuran, kedisiplinan, dan senang bekerja dalam kehidupan sehari-hari Sikap hormat yang disertai kejujuran, kedisiplinan, dan senang bekerja dalam kerja sama kelompok (terlampir) SIKLUS 2 Kegiatan awal:
Siswa melakukan gerakan
‘Chicken Dance’
Siswa menyanyikan lagu „Mari Kita Kerja Sama‟ dengan gerakannya Guru menceritakan cerita
kerja sama, kujujuran dan kedisiplinan
Siswa menanggapi cerita yang dibacakan guru Guru menjelaskan tentang
pentingnya kejujuran, kedisiplinan, senang bekerja dalam suatu kerja sama kelompok
SIKLUS 2 1. Kognitif PKn
- Menjelaskan
pentingnya kerja sama yang disertai sikap jujur dan taat aturan dalam permainan „Bola Pesan‟
- Memberi contoh sikap yang mencerminkan kerja sama siswa di sekolah, di rumah dan di lingkungan
- Menemukan kejadian tentang kejujuran, kedisiplinan, dan bekerja sama dalam
- Tes tertulis - Skala sikap - Pengamatan 4 jp x 35 menit - Adisusilo Sutarjo. (2012). Pembelajaran Nilai-Karakter Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. - Ismoyo, Romiyatun. (2008). Aku Bangga Bahasa Indonesia Sekolah Dasar kelas 2. Jakarta:
77 Kompetensi
Dasar
Materi Pokok/
Pembelajaran Kegiatan pembelajaran Indikator Penilaian
Alokasi
Waktu Sumber Belajar Bahasa Indonesia 5.1 Menyampaikan pesan pendek yang didengarnya kepada orang lain
Siswa dibagi dalam kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 2 siswa Siswa diberi beberapa cerita
yang terkait dengan kedisiplinan, kejujuran, senang bekerja dan diminta untuk menganalisanya Siswa menuliskan pesan
berdasarkan cerita yang mereka dapatkan atau mereka dengarkan
Siswa diajak malakukan permainan „Bola Pesan‟ Guru menjelaskan aturan
permainan dan
menuliskannya lalu ditempel di papan tulis
Siswa dan guru mencocokkan tugas siswa kehidupan sehari-hari Bahasa Indonesia - Menuliskan pesan singkat tentang pentingnya kejujuran dan kedisiplinan dalam kerja sama kelompok - Menyampaikan pesan singkat kepada orang lain melalui permainan „Bola Pesan‟
2. Afektif
- Mematuhi aturan dengan setia dan senang hati dalam permainan „Bola Pesan‟
- Mendengarkan dengan penuh perhatian penjelasan dan pesan yang disampaikan orang lain dengan seksama
3. Psikomotorik - Ikut bermain
permainan „Bola Pesan‟ bersama teman
Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. - Nurlaili, Lili. (2008). Pendidikan Kewarganegara anSekolah Dasar & Madrasah Ibtidaiyah Kelas 2. Jakarta: Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. - Suharto, sujari. (2008). Pendidikan Kewarganegara an Untuk SD/MI Kelas II. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. - Tillman Diane.
78 Kompetensi
Dasar
Materi Pokok/
Pembelajaran Kegiatan pembelajaran Indikator Penilaian
Alokasi
Waktu Sumber Belajar (2004). Living values: and educational program living values activities for children ages 8-14. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. PKn 4.1 Mengenal nilai kejujuran, kedisiplinan, dan senang bekerja dalam kehidupan sehari-hari Sikap hormat yang disertai kejujuran, kedisiplinan, dan senang bekerja dalam kerja sama kelompok SIKLUS 3
Siswa melakukan gerakan „Chicken Dance‟
Guru membacakan cerita berjudul „Penambang dan Sang Pangeran‟
Siswa menanggapi cerita yang dibacakan guru dengan menuliskannya di kertas yang disediakan guru Beberapa siswa
membacakan tanggapan berdasarkan cerita yang sudah ditulisnya
Guru menjelaskan tentang pentingnya kejujuran,
SIKLUS 3 1. Kognitif PKn
- Menjelaskan
pentingnya kerja sama yang disertai sikap jujur dan taat aturan dalam permainan “bola pesan”
- Memberi contoh sikap yang mencerminkan kerja sama siswa di sekolah, di rumah dan di lingkungan - Menemukan kejadian tentang kejujuran, kedisiplinan, dan - Tes tertulis - Skala sikap - Pengamatan 4 jp x 35 menit - Ismoyo, Romiyatun. (2008). Aku Bangga Bahasa Indonesia Sekolah Dasar kelas 2. Jakarta: Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. - Nurlaili, Lili. (2008). Pendidikan Kewarganegara anSekolah Dasar & Madrasah
79 Kompetensi
Dasar
Materi Pokok/
Pembelajaran Kegiatan pembelajaran Indikator Penilaian