BAB IV DESKRIPSI,ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Sesuai dengan tujuan penelitian perbaikan pembelajaran yaitu
meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran PKn materi kekhasan bangsa indonesia dan kebhinekaan di kelas III MI Al-Furqon dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe card sort . Dengan indikator ketercapaian hasil siswa
KKM 63, maka tercapainya hasil perbaikan pembelajaran ini bisa dijadikan sebagai acuan bagi pelaksanaan pembelajaran PKn selanjutnya.
Klasifikasi pencapaian hasil perbaikan pembelajaran dapat dilihat pada pencapaian hasil belajar pra siklus, pertemuan ke- I, dan pertemuan ke- II pada tabel.
Tabel 4.15 Peningkatan Rata-rata Nilai Pra Siklus, Pertemuan ke- I, dan Pertemuan ke- II
No Siklus Rata-rata Nilai Tes
1 Pra Siklus 57,37
2 Pertemuan ke- I 68,95
Diagram Peningkatan hasil Belajar
Tabel 4.16 Peningkatan Persentase Ketuntasan Belajar Pra Siklus, Pertemuan ke- I, dan Pertemuan ke- II
No Siklus Persentase Ketuntasan 1 Pra Siklus 31,58% 2 Pertemuan ke- I 63,16% 3 Pertemuan ke- II 100% 68.95 82.11 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Pra Siklus Siklus I Siklus II
PENINGKATAN RATA-RATA NILAI
PRA SIKLUS, PERTEMUAN KE- I, PERTEMUAN KE- II
Diagram Peningkatan hasil Belajar
Tabel 4.17 Peningkatan Persentase Keaktifan Siswa Pra Siklus, Pertemuan ke- I, dan Pertemuan ke- II
No Siklus Persentase Keaktifan Siswa
1 Pra Siklus 42,10% 2 Pertemuan ke- I 78,95% 3 Pertemuan ke- II 89,47% 100% 63.16% 31.58% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120%
Pra Siklus Siklus I Siklus II
PENINGKATAN PERSENTASE KETUNTASAN PRA SIKLUS, PERTEMUAN KE- I, PERTEMUAN
Diagram Peningkatan Hasil Belajar
Dari penyajian tabel pencapaian hasil perbaikan pembelajaran PKn pada kegiatan pra siklus, pertemuan ke- I, dan pertemuan ke- II nampak ada peningkatan. Peningkatan ini tidak saja dari hasil belajar tetapi mencakup seluruh fokus perbaikan yaitu, keaktifan siswa, ketuntasan belajar, dan kinerja guru. Peningkatan hasil tes terjadi karena siswa senang belajar dengan kelompoknya untuk mencari pasangan dengan kartu pertanyaan dan jawaban. Hal ini berdampak pada daya serap siswa terhadap materi pelajaran juga lebih baik, sehingga hasil akhirnya nilai PKn siswa meningkat.
Peningkatan hasil tes siswa dari setiap siklus dapat dilihat perbedaan yang sangat signifikan yaitu:
1. Siswa yang berkategori hasil tes “sangat baik” pada pembelajaran PKn pra
siklus berjumlah 1 orang siswa atau 5,26%, pada perbaikan pertemuan ke- I kategori ini mengalami kenaikan menjadi 9 orang siswa atau 47,37%, dan pada perbaikan pertemuan ke- II ada 13 orang siswa atau 68,42%. 2. Siswa yang masuk kategori hasil tes “baik” pada pembelajaran PKn pra
siklus ada 5 orang siswa atau 26,32%, pada pertemuan ke- I ada 3 orang 41.10% 78.95% 89.47% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%
Pra Siklus Siklus I Siklus II
PENINGKATAN PERSENTASE KEAKTIFAN PRA SIKLUS, PERTEMUAN KE- I, PERTEMUAN
siswa atau 15,79%, dan pada pertemuan ke- II ada 6 orang siswa atau 31,58%.
3. Siswa yang masuk kategori hasil tes “cukup” pada pembelajaran PKn pra
siklus ada 8 orang siswa atau 42,11%, pada pertemuan ke- I ada terdapat penurunan menjadi 4 orang siswa atau 21,05%, dan pada pertemuan ke- II tidak ada siswa yang mendapat criteria sedang. Penurunan nilai yang rendah menunjukkan kenaikan hasil.
4. Siswa yang masuk kategori hasil tes “kurang” pada pembelajaran PKn pra siklus adalah 5 orang atau 26,32%, sedangkan untuk pertemuan ke- I ada 3 orang siswa atau 15,79% dan pada pertemuan ke- II tidak ada siswa yang mendapat nilai kurang.
5. Siswa yang masuk kategori hasil tes “sangat kurang” pada pembelajaran PKn pra siklus, pertemuan ke- I, dan pertemuan ke- II tidak ada.
Dari ketuntasan belajar terdapat peningkatan yang signifikan yaitu pada kegiatan pra siklus 31,58% kriteria sangat kurang. Pada pertemuan ke- I ketuntasan belajar mengalami peningkatan yaitu 63,16% kriteria kurang. Pada pertemuan ke- II ketuntasan belajar menjadi 100% kriteria sangat baik.
Dari hasil pengamatan terhadap keaktifan siswa selama perbaikan pembelajaran pra siklus, pertemuan ke- I, dan pertemuan ke- II terdapat peningkatan yaitu 42,10% pada kegiatan pra siklus kriteria sangat kurang, meningkat menjadi 78,95% pada pertemuan ke- I kriteria baik, dan pada pertemuan ke- II menjadi 89,47% kriteria sangat baik.
Hasil pengamatan terhadap kinerja guru dalam menerapkan model
pembelajaran card sort juga mengalami peningkatan, pada kegiatan pertemuan
ke- I indikator kemunculan baru 65% kriteria cukup, sedangkan pada pertemuan ke- II menjadi 90% kriteria sangat baik.
Hasil pengamatan kinerja guru yang dilakukan teman sejawat dapat dipaparkan sebagai berikut:
1. Pada pertemuan ke- I guru telah mempersiapkan pelajaran dengan cukup
belum sesuai. Pada pertemuan ke- II mengalami peningkatan, guru telah melaksanakan pembelajaran dengan baik dan alokasi waktu sudah tepat.
2. Pada pertemuan ke- I perhatian guru terhadap siswa cukup baik, namun
guru mengalami kesulitan dalam membimbing kelompok karena siswa menjadi gaduh dalam mencari pasangan kartu. Pada pertemuan ke- II mengalami peningkatan, perhatian guru terhadap siswa baik, sehingga kegaduhan siswa dapat berkurang.
3. Pada pertemuan ke- I kemampuan guru dalam menguasai materi sangat
baik, sehingga dapat menjelaskan materi dengan baik pula. Pada pertemuan ke- II juga demikian.
4. Pada pertemuan ke- I kemampuan menunjukkan keterampilan dalam
mendemontrasikan kemampuan khusus dalam mata pelajaran PKn belum
muncul, namun pada pertemuan ke- II keterampilan dalam
mendemontrasikan kemampuan khusus dalam mata pelajaran PKn sudah muncul.
5. Kemampuan dalam menerapkan langkah-langkah card sort pada
pertemuan ke- I masih belum terarah, namun pada pertemuan ke- II ini tidak terjadi lagi, guru mampu memunculkan kinerja dalam menciptakan pembelajaran kelompok.
Hal-hal yang unik terjadi pada saat perbaikan pertemuan ke- I berlangsung. Kehadiran guru lain sebagai observer pelaksanaan perbaikan kegiatan belajar mengajar menimbulkan perubahan suasana di dalam kelas.
Di awal pembelajaran sikap seluruh siswa tampak terfokus dan konsentrasi pada pelajaran. Namun setelah dijelaskan maksud kehadiran pengamat di dalam kelas, suasana kelas dalam kegiatan belajar mengajar menjadi aktif. Selain itu siswa merasa senang dan aktif terlibat langsung pada proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan selama
dua siklus dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe card sort pada
pelajaran PKn, hasil belajar siswa kelas III MI Al-Furqon kecamatan Ciomas kabupaten Bogor dapat meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model
card sort sudah tepat digunakan untuk membantu meningkatkan hasil belajar siswa.
Perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe card sort pada pelajaran PKn telah dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas III MI AL-Furqon Kecamatan Ciomas kabupaten Bogor tahun 2014.
BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A . KesimpulanBerdasarkan hasil penelitian serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan maka dapat disimpulkan bahwa: hasil belajar PKn pada saat pelaksanaan pra Siklus nilai tertingginya adalah 80 dan nilai terendah 30, dengan rata-rata nilai 57,37. Ketuntasan belajar mencapai 31,58% dari KKM 63. Dan keaktifan siswa hanya mencapai 42,10%. Setelah diberikan tindakan melalui pembelajaran Card sort nilai rata-rata mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan hasil tes pra siklus, nilai rata-rata pra siklus yaitu 57,37 pada siklus I menjadi 68,95 , dengan nilai tertinggi 90, nilai terendah 30. Persentase ketuntasan sudah mencapai 63,16%, dan yang belum tuntas 36,84%.dan pertemuan siklus II mencapai 82,11 dengan nilai tertinggi 100, nilai terendah 70. Persentase ketuntasan mencapai 100%.
Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan selama
dua siklus dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe card sort pada
pelajaran PKn, hasil belajar siswa kelas III MI Al-Furqon kecamatan Ciomas
kabupaten Bogor dapat meningkat.Denganpembelajaran kooperatif tipe card sort
menjadikan suasana belajar lebih kondusif, siswa lebih aktif dan mandiri,serta dapat menumbuhkan tanggung jawab, sikap toleran dan membangun kerjasama dengan semua teman sehingga dapat memotivasi semangat belajar siswa, siswa juga mempunyai kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru tanpa takut disalahkan, siswa lebih berani mengemukakan ide atau pendapatnya