BAB 4 : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pembahasan Deskripsi Data
Berdasarkan data penskoran dan pengkategorian, kinerja manajemen berbasis sekolah madrasah aliyah negeri dan swasta di Kabupaten Kendal sudah
optimal. Dimana kinerja manajemen berbasis sekolah madrasah aliyah negeri berada pada kategori sangat optimal sedangkan madrasah aliyah swasta berada pada kategori optimal.
1. Kepemimpinan Kepala Sekolah
Dari hasil deskripsi data dimana baik pada madrasah aliyah negeri maupun madrasah aliyah swasta sama-sama pada kategori sangat optimal. Namun berdasarkan hasil pengamatan, keduanya juga memiliki kelemahan yang sama yaitu pada kompetensi supervisinya. (lihat deskripsi data)
Untuk MA negeri kelemahan supervisi ini karena kurang kerjasama yang baik antara kepala sekolah dengan guru. Hal ini terjadi karena kepala sekolah belum memahami pentingnya keterlibatan guru dalam melakukan supervisi dan sikap supervisor yang otoriter, hanya mencari kesalahan guru, dan menganggap lebih dari guru karena jabatannya sehingga kepala sekolah dalam melakukan supervisi tidak menggunakan pendekatan dan teknik yang tepat. Pentingnya keterlibatan guru dalam pelaksanaan supervisi ini seperti yang diungkapkan oleh Sahertian (2000:1) :
“Proses pelaksanaan supervisi yang melibatkan guru sejak tahap perencanaan memungkinkan guru mengetahui manfaat supervisi bagi dirinya. Supervisi merupakan pendekatan yang melibatkan guru sejak tahap perencanaan. Supervisi merupakan jawaban yang tepat untuk mengatasi kekurangtepatan permasalahan yang berhubungan dengan guru pada umumnya.”
Sedangkan untuk MA swasta terjadi selain karena seperti kondisi pada MA Negeri juga karena guru berada di sekolah hanya pada saat ada jam mengajar saja. Tetapi penyebab utamanya adalah sikap pasif kepala sekolah dalam melakukan supervisi karena para guru dianggap tenaga profesional yg tidak
membutuhkan supervisi dari kepala sekolah. Seperti yang diungkapkan dalam bukunya Mochtar Lubis (1993 : 185-186) :
“Menteri Dalam Negeri Supardjo antara lain meyebutkan adanya sikap pasif, untuk tidak mengatakan sikap masa bodoh, yang masih mewarnai peta psikologis dan mentalitas sebagian tertentu masyarakat Indonesia. Mentalitas pembangunan yang ideal seperti prakarsa, sikap produktif, kesediaan untuk mengorbankan kepentingan-kepentingan marjinal, dan sebagainya, ternyata masih relatif lemah.”
Kelemahan ini konsisten dengan penelitian terdahulu oleh Yuliningtyas (2008) yang menyebutkan bahwa dalam aspek kepemimpinan, kepala sekolah mempunyai kelemahan pada kompetensi supervisi.
2. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran
Hasil deskripsi data dimana pada madrasah aliyah negeri maupun madrasah aliyah swasta sama-sama pada kategori sangat optimal. Namun berdasarkan hasil pengamatan, kelemahan madrasah aliyah negeri dan madrasah aliyah swasta hampir sama yaitu program pembelajaran dan penilaian hasil belajar. Yang membedakan, madrasah aliyah swasta selain dua kelemahan itu juga memiliki kelemahan yang lain yaitu pada kalender pendidikannya. (lihat deskripsi data)
Kelemahan pada indikator program pembelajarannya terjadi karena dalam PBM siswa tidak pernah mencari tahu mengenai materi pelajaran melalui membaca buku, bertanya kepada guru ataupun teman sekelas selain itu guru tidak pernah memberi hukuman kepada siswa yang tidak rajin untuk memotivasi dalam kegiatan belajar. Kurangnya motivasi siswa terjadi karena guru tidak dapat menimbulkan aktivitas mental, dan pisik (CBSA). Seperti dalam Sugandi (2004 : 14) :
“Makin kuat motivasi seseorang dalam belajar makin optimal dalam melakukan aktivitas belajar.”
Hukuman dilakukan sebagai alat pendidikan terakhir setelah anak melakukan kenakalan, kemalasan, dan sebagainya dan yang perlu diperhatikan dalam melaksanakannya guru tidak boleh sambil marah atau karena dendam.
Sedangkan kelemahan pada indikator penilaian hasil belajar karena guru jarang melakukan pre test, post tes, dan evaluasi praktek setiap kali mengajar serta guru tidak pernah memberi tahu hasil penilaian tugas kepada siswa sehingga siswa tidak mengevaluasi dan tidak termotivasi untuk belajar aktif dalam pertemuan berikutnya. Hal ini terjadi karena budaya orang indonesia yang malas.
Seperti yang dikemukakan oleh Mahdi
(http://asmakmalaikat.com/go/artikel/sosiologi/sosio10.htm) :
“Adalah pandangan hidup yang berkembang secara lumrah dalam suasana inilah yang mendasari banyak pikiran-pikiran bapak-bapak kemerdekaan bangsa Indonesia, khususnya dalam dua kecenderungan yang penting. Yang pertama yalah pandangan terhadap apa yang disebutnya "kebudayaan Barat" sebagai kebudayaan yang terlalu mementingkan diri perorangan, yang bertentangan dengan kebudayaan gotong-royong yang merupakan azas daripada etik petani desa. Akibatnya yalah besarnya pengaruh pikiran-pikiran sosialis di kalangan pemimpin-pemimpin gerakan nasional, seperti Sukarno, Hatta, Agus Salim, dan lain-lain. Yang kedua ialah anggapan bahwa cara hidup santai-santai dan pandangan dunia yang banyak berkias-kias itu mencerminkan kebudayaan tradisional "Timur", dan bahwa pemusatan jerih-payah yang dianggap "ngoyo" serta penilikan dunia yang mementingkan realita fakta-fakta tanpa samar selaput bunga-rampai penghalus-penghalus itu tradisi "Barat".”
Untuk kalender pendidikan bagi madrasah aliyah swasta karena swasta berada dibawah yayasan dimana pengambil kebijakan adalah yayasan tersebut dan tidak begitu terikat dengan pemerintah. Berbeda dengan madrasah aliyah negeri yang harus sesuai dengan peraturan pemerintah berkenaan dengan hari liburnya.
3. Manajemen Tenaga Kependidikan
Pada deskriptif data madrasah aliyah negeri berada pada kategori sangat optimal sedangkan madrasah aliyah swasta berada pada kategori optimal. Meski telah berada pada kategori sangat optimal, namun berdasarkan hasil pengamatan, kelemahan madrasah aliyah negeri terletak pada tenaga pustakawannya sedangkan untuk madrasah aliyah swasta terletak pada selain tenaga pustakawan juga pada tenaga laboratnya. (lihat deskriptif data)
Untuk madrasah aliyah negeri kelemahan ini terjadi karena background tenaga pustakawan tidak sesuai background pendidikannya dimana meski sudah PNS namun karena PNS angkatan lama, selesksinya belum seketat yang sekarang yaitu harus sesuai dengan keahliannya. Hal ini terjadi karena proses penerimaan PNS saat itu berdasarkan hasil tesnya tidak terpaku pada background pendidikannya.
Sedangkan kelemahan pada MA swasta untuk pustakawan berasal dari sekitar lingkungan sekolah yang direkrut berdasarkan tes seleksi bukan dari background pendidikannya sebagai prioritas utamanya. Sedangkan untuk tenaga laborat dimana madrasah aliyah tidak memiliki petugas khusus laboratorium (laborat) karena menurut madrasah aliyah dirasa belum perlu atau bukan prioritas utama dengan pertimbangan belum tersedianya ruang khusus laboratorium dan jarangnya pemanfaatan peralatan laboratorium itu sendiri. Yang terjadi pada madrasah-madrasah aliyah swasta tanggung jawab laborat dirangkap oleh guru bidang studi yang memanfaatkan peralatan laboratorium ada pula yang dirangkap oleh petugas perpus.
4. Manajemen Kesiswaan
Pada deskriptif data madrasah aliyah negeri berada pada kategori sangat optimal sedangkan madrasah aliyah swasta berada pada kategori optimal. Meski telah berada pada kategori sangat optimal, namun berdasarkan hasil pengamatan, kelemahan madrasah aliyah negeri dan madrasah aliyah swasta memiliki kelemahan yang sama yaitu pada input dan output siswa. (lihat deskriptif data)
Input madrasah aliyah berasal dari buangan SMA negeri dan hampir sama prosentase antara siswa yang berasal dari SMP dengan siswa yang berasal dari MTs. Siswa yang berasal dari SMP kurang bisa menyesuaikan diri dengan kurikulum islami, karena berasal dari keluarga biasa, dan belum terbiasa. Input mempengaruhi output, selain permasalahan input output juga dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran siswa akan pentingnya belajar. Karena meluasnya asumsi siswa bahwa belajar atau tidak belajar tidak akan berpengaruh terhadap masa depan mereka karena sebagian besar siswa madrasah aliyah tidak melanjutkan ke perguruan tinggi melainkan langsung bekerja. Hal ini dikarenakan sebagian besar murid madrasah aliyah berasal dari golongan masyarakat menengah ke bawah.
Namun meski memiliki kelemahan yang sama, input MA negeri lebih tinggi karena alternatif setelah SMA negeri yang banyak dipilih adalah MA negeri bila dibandingkan dengan MA swasta.
5. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan
Pada deskriptif data madrasah aliyah negeri berada pada kategori sangat optimal sedangkan madrasah aliyah swasta berada pada kategori optimal. Meski berkategori sangat optimal, namun dalam pengamatan kelemahan madrasah aliyah
negeri maupun madrasah aliyah swasta terletak pada sumber dananya. (lihat deskriptif data)
Kelemahan dalam manajemen keuangan dan pembiayaan baik madrasah aliyah negeri maupun madrasah aliyah swasta terletak pada sumber dananya, kondisi ini seperti yang tertulis pada program kerja MAN Kendal (2007/2008 : 6) kondisi sosial ekonomi yang menghambat :
“karena kebanyakan orangtua siswa berasal dari golongan petani dan rata-rata dari ekonomi menengah ke baah, maka bantuan SOP BP3 relatif rendah, sehingga dalam pengembangan pembangunan gedung bersifat alon-alon waton kelakon (perlahan-lahan tapi pasti).”
6. Manajemen Sarana dan Prasarana
Dalam manajemen sarana dan prasarana dari uji beda diketahui adanya perbedaan yang signifikan antara madrasah aliyah negeri dengan madrasah aliyah swasta, hal ini sesuai dengan deskriptif data dimana madrasah aliyah berada pada kategori sangat optimal sedangkan madrasah aliyah swasta berada pada kategori optimal. Kelemahan madrasah aliyah negeri maupun swasta hampir sama yaitu terletak pada pengadaan, namun bagi madrasah aliyah swasta selain pengadaan juga pada inventarisasinya. (lihat deskriptif data)
Dalam kelemahan manajemen sarana dan prasarana baik madrasah aliyah negeri maupun madrasah aliyah swasta terletak pada indikator pengadaan yang erat kaitannya dengan manajemen keuangan dan pembiayaan terutama dengan indikator sumber dananya. Karena rendahnya sumberdana mengakibatkan kesulitan dalam mengadakan sarana prasarana dengan kondisi dana yang terbatas. Bagi madrasah aliyah swasta selain pengadaan, kelemahan juga pada inventarisasinya, hal ini karena kurang kepedulian akan pentingnya inventarisasi.
Asumsi madrasah aliyah swasta, inventarisasi cukup dilakukan setahun sekali, hal ini dikarenakan sedikitnya inventaris yang dimiliki sebagian besar madrasah aliyah swasta dan tidak adanya petugas khusus inventaris yang dipandang tidak diperlukan.
7. Manajemen Hubungan Masyarakat
Pada deskriptif data baik madrasah aliyah negeri maupun swasta berada pada kategori sangat optimal. Meski berada pada kategori sangat optimal, berdasarkan hasil pengamatan, Kelemahan madrasah aliyah negeri maupun swasta sama yaitu terletak pada hubungan dengan masyarakat.
Hal ini terjadi karena sekolah kurang mengadakan kegiatan yang ditujukan kepada masyarakat umum. Biasanya sekolahlah yang keluar menjalin hubungan baik dengan masyarakat, namun sekolah belum pernah mengadakan
event yang terbuka untuk umum dan diadakan di lingkungan sekolah yang kegiatannya dikelola sekolah beserta para siswanya. Akibatnya sekolah tidak mendapatkan dukungan secara spiritual seperti ikut mensupport kegiatan seperti kegiatan lomba-lomba dengan menjadi pendukung lapangan.
8. Manajemen Layanan Khusus
Pada deskriptif data madrasah aliyah negeri berada pada kategori sangat optimal sedangkan madrasah aliyah swasta berada pada kategori optimal. Meski berkategori sangat optimal dan optimal, namun berdasarkan pengamatan, kelemahan madrasah aliyah negeri maupun swasta sama yaitu terletak pada perpustakaan dan kesehatan.
Pada madrasah aliyah negeri permasalahan terletak pada kurangnya motivasi siswa dalam memanfaatkan waktu-waktu kosong di sekolah dengan membaca di perpus, mereka lebih tertarik untuk ke kantin atau bersenda gurau dengan temannya. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran siswa mengenai pentingnya membaca, dan peran guru dalam memotivasi siswa menjadi rajin membaca. Sedangkan bagi madrasah aliyah swasta permasalahannya lebih kepada koleksi buku yang terbatas dan ruang perpustakaan yang kurang nyaman. Hal ini tidak terlepas dari rendahnya sumber dana sekolah.
Sedangkan terkait dengan layanan kesehatan, tidak adanya petugas khusus bagian kesehatan, namun tidak seperti MA negeri, MA swasta sebagian besar tidak memiliki ruang kesehatan sendiri dan hanya memiliki obat-obatan dalam jumlah yang minim..
Adapun kriteria tiap sekolah berakreditasi B dari hasil interpretasi skor (lihat lampiran skor hasil penelitian) peneliti menyimpulkan penilaian akreditasi sekolah berakreditasi B sudah sesuai dengan kondisi sekolah tersebut.