BAB III DISKRIPSI OBYEK PENELITIAN AN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
1. Peranan PT. Indotrans Armada Buana Dalam Prosedur Ekspor FCL
Peranan PT. Indotrans Armada Buana adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa memiliki peranan dalam pelaksanaan ekspor atau impor, yaitu penunjang pengurusan dokumen.
PT. Indotrans Armada Buana merupakan perusahaan jasa freight
forwarding yang telah diberi kuasa oleh eksportir untuk menguruskan
dokumen ekspor. PT. Indotrans Armada Buana mempunyai tanggung jawab penting dalam proses ekspor dan harus dilaksanakan berdasarkan prosedur ekspor yang jelas dan sesuai aturan yang telah berlaku. Dan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
35
melakukan proses pengurusan dokumen ekspor dan transportasi ekspor yang telah di tentukan.
PT. Indotrans Armada Buana memiliki rekan shipping line dari berbagai tujuan atau negara, jadi untuk jadwal pemesenan kapal di sesuaikan oleh waktu eksportir atau importir. Itupun sesuai dengan tujuan / destination, karena PT. Indotrans Armada Buana juga memiliki jadwal tetap setiap untuk lingkungan asia pasifik.
Ruang lingkup aktivitas Peranan PT. Indotrans Armada Buana : a. Membantu eksportir dalam pengecekan dokumen.
b. Membantu pembuatan PEB sesuai dokumen yang dipersyaratkan. c. Sebagai perantara dengan pelayaran dalam hal pengurusan Delivery
Order.
d. Membuat surat pinjaman container kepada agent pengapalan (shipping line).
Disini digambarkan dengan kasus PT. De Java Furniture yang beralamatkan di Jl. Guasari 41 RT 01 RW 27 Solo menunjuk PT. Indotrans Armada Buana sebagai shipper untuk melaksanakan pengiriman ekspor sehingga barang sampai ke negara yang dituju, disini peranan PT. Indotrans Armada Buana adalah mencarikan jadwal kapal/schedule,
mengurus segala macam dokumen yang diperlukan dalam kegiatan ekspor, mengurus segala biaya yg diperlukan dalam proses pengiriman ekspor, booking kapal dan container, sampai proses stuffing. Semua dilakukan PT. Indotrans Armada Buana sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.
commit to user
Prosedur ekspor FCL pada PT. Indotrans Armada Buana sebagai berikut :
FCL (Full Container Load) berisi muatan dari satu shipper untuk dikirim kepada satu consignee, shipper dan consignee bertanggung jawab untuk mengisi dan membongkar container. Perusahaan pelayaran/shipping linetidak bertanggung jawab atas kerusakan dan kehilangan yang ada di dalam container.
Gambar 3.2 Prosedur Ekspor FCL
Adapun keterangan berdasarkan gambar tersebut :
1. PT. De Java Furniture selaku eksportir menghubungi freight
forwarder yaitu PT. Indotrans Armada Buana untuk mencarikan
schedule kapal. EKSPORTI FREIGHT Shipping line 1 dan 3 2 dan 9 EMK 7 5 4 6 8
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
37
2. Kemudian pihak PT. Indotrans Armada Buana memberikan
schedule kepada eksportir.
3. Setelah di setujui pihak PT. De Java Furniture menerbitkan shipping
instruction kepada PT. Indotrans Armada Buana.
4. PT. Indotrans Armada Buana menghubungi shipping line untuk
booking space kapal.
5. Kemudian PT. Indotrans Armada Buana juga menghubungi depo container untuk booking container.
6. Container kemudian berangkat ke gudang shipper untuk melakukan
stuffing barang.
7. Setelah melakukan stuffing, container dibawa ke pelabuhan guna untuk dimuat ke atas kapal kemudian diberangkatkan ke negara tujuan.
8. Shipping line mengeluarkan master B/L yang diberikan kepada PT.
Indotrans Armada Buana.
9. PT. Indotrans Armada Buana juga membuat house B/L yang nantinya diberikan kepada PT. De Java Furniture sebagai tanda bukti kepemilikan barang.
2. Dokumen – Dokumen yang perlu dalam prosedur ekspor FCL
Dalam pelaksanaan ekspor memerlukan dokumen- dokumen yang mendapat menunjang pengurusan arus barang. Dokumen yang diperlukan antara lain :
commit to user
a. Bill of Lading (B/L)
Surat tanda terima barang yang telah dimuat di dalam kapal laut yang juga merupakan tanda bukti kepemilikan barang dan juga sebagai bukti adanya kontrak atau perjanjian pengangkutan barang melalui laut.
Pihak yang tercantum dalam B/L
1) Shipper yaitu pihak yang bertindak sebagai beneficiary.
2) Consignee yaitu pihak yang diberitahukan tentang tibanya barang.
3) Notify party yaitu pihak yang ditetapkan dalam L/C.
4) Carrier yaitu pihak pengangkutan atau perusahaan pelayaran.
Sebagai contoh didalam Bill of Lading(B/L) tercatum PT. Indotrans Armada Buana yang belaku sebagai shipper dan VI.SA. Australia PTY LTD Global Transport Solutions Adelaide Australia sbagai consignee. Dengan menggunakan kapal Sinar bandung 267n,
port of lading di Tanjung Emas Semarang dan port of discharge di Adelaide, Australia. Dikirim dengan status barang FCL, barang yang dikirim adalah furniture rotan yang terdiri dari 58 pieces dengan berat 766,8 kg, dengan menggunakan container 1x40 HQ. Kapal berangkat pada tanggal 25 Agustus 2011, jadi paling lambat di tanggal itu juga
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
39
b. Master B/L
Dokumen perjalanan barang melalui laut yang menyatakan bahwa freight forwrder telah menyampaikan barang kepada perusahaan pengangkutan internasional untuk dikirimkan ke tempat tujuan tertentu. Atau dengan kata lain B/L yang dikeluarkan oleh perusahaan pelayaran atau carrier.
c. House B/L
Dokumen perjalanan barang melalui laut yang dikeluarkan oleh pihak freight forwarder sebagai dokumen perantara yang menghubungkan freight forwarder dengan eksportir.
Perbedaan master B/L dengan House B/L adalah, master B/L dibuat oleh shipping line/carrier yang ditujukan kepada freight forwarder bahwa barang telah diserahkan kepada shipping line untuk dikirimkan ke tujuan tertentu. Sedangkan house B/L adalah dokumen perjalanan yg di buat oleh freight forwarder yg ditujukan kepada eksportir. Hanya berbeda pada yang membuat B/L, apabila master B/L di buat oleh shipping line dan house B/L di buat oleh freight forwarder.
d. Shipping Instruction
Adalah perintah/ instruksi pengapalan/ pengiriman yang dibuat oleh eksportir/ pengirim barang kepada perusahaan pengangkutan.
commit to user
Perusahaan pengangkutan disini bisa perusahaan pelayaran untuk laut, perusahaan penerbangan untuk udara maupun darat, maupun lainnya jika memang pengiriman atau ekspor barang tidak melalui laut atau udara atau darat sekalipun.
Pada shipping instruction PT. De Java Furniture selaku eksportir memerintahkan PT. Indotrans Armada Buana untuk menangani atau mengurusi segala macam hal yang diperlukan dalam ekspor hingga barang sampai ditujuan, shipping instruction berisikan alamat consignee, port of loading, port of destination, stuffing date, stuffing location, description of goods, dan ukuran container yang di minta. Kemudian PT. Indotrans Armada Buana melakukan tugasnya sesuai prosedur yang sudah berlaku.
3. Hambatan yang di hadapi sebagai berikut :
Hambatan-Hambatan yang Dihadapi Pihak PT. Indotrans Armada Buana Freight forwarding membantu para eksportir dalam pelaksanaan ekspor terutama dalam pengurusan dokumen menghadapi beberapa hambatan, antara lain :
a. Keterlambatan shipper dalam pengiriman Shipping Instruction.
Shipper sering kali mengirinkan Shipping Instruction, satu
hari sebelum stuffing. Hal ini mengakibatkan staff dokumen kerepotan dalam membuat Shipping Instruction yang ditujukan kepada shippingline.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
41
Cara mengatasi hambatan tersebut adalah dengan menghimbau para eksportir untuk mengirimkan Shipping
Instruction, maskimal tiga hari sebelum stuffing date, sehingga
bagian dokumen tidak kerepotan dalam membuat Shipping Instruction untuk Shipping line.
b. Ketidaksiapan shipper dalam menyiapkan barang yang akan di ekspor. Dalam kegiatan ekspor, kesiapan barang adalah hal yang sangat penting, tetapi ketidaksiapan shipper dalam menyiapkan barang yang akan diekspor khusunya pada saat stuffing date sering terjadi. Hal ini menyebabkan kerterlambatan dalam bongkar muat container yang sudah sesuai jadwal
Cara mengatasi hal tersebut freight forwarding harus menghimbau eksportir harus menyiapkan barang yang akan diekspor dengan tepat waktu, sehingga pada saat stuffing date barang sudah siap untuk di stuffing.
c. Pengambilan containerdi depo konsolidasi muatan.
Eksportir dalam pengambilan container diserahkan kepada
freight forwarding. Dalam pengambilan container terkadang
terhambat oleh jumlah container yang terbatas, sehingga kedatangan
container sering mengalami keterlambatan. Maka freight forwarding
harus mencari informasi container yang masih tersisa di jasa pengurusan container dengan menghubungi Shipping Line.
commit to user
Cara mengatsi hambatan tersebut freight forwarding harus sering mencari informasi tentang container kosong di depo konsolidasi muatan dan mempunyai jadwal kedatangan container
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user 43 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
1. PT. Indotrans Armada Buana memegang tanggung jawab penuh atas pengiriman barang dari shipper sampai di muat di atas kapal dan juga membantu shipper untuk melengkapi dokumen-dokumen yang di butuhkan dalam proses kegiatan ekspor FCL.
2. Dalam penanganan ekspor pada PT. Indotrans Armada Buana harus mempersiapkan dokumen – dokumen yang penting dalam pelaksanaan ekspor, antara lain :
a. Master B/L
b. House B/L
c. Shipping Instruction
3. PT. Indotrans Armada Buana dalam melakukan kegiatan ekspor sesuai aturan-aturan ekspor serta memegang tanggung jawab hinnga barang diterima di gudang importir.
commit to user