Hasil penelitian ini disajikan dalam analisis univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi setiap faktor risiko terhadap infeksi virus Newcastle Disease (ND) pada peternakan unggas sektor IV di Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang. Terdapat tiga peubah yang digunakan dalam penelitian ini. Pertama adalah karakteristik peternak yang meliputi tingkat pendidikan, umur peternak, alasan beternak, dan pengalaman beternak. Peubah yang kedua adalah manajemen biosekuriti yang meliputi tiga komponen utama. Komponen pertama adalah sanitasi (pembersihan kandang, pembersihan tempat pakan, pembersihan tempat minum, penanganan kotoran, bagaimana cara pembersihannya dan sumber air). Komponen yang kedua adalah isolasi (pemisahan unggas sakit, pemisahan unggas baru, pemisahan berdasarkan spesies, dan perlakuan unggas mati). Komponen ketiga adalah lalu lintas ternak (apakah peternakan tersebut mempunyai pagar atau tidak, apakah desain kandang peternak bisa terhindar dari masuknya tikus dan masuknya burung liar). Peubah ketiga adalah pengetahuan peternak mengenai biosekuriti.
Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara karakteristik peternak, faktor manajemen biosekuriti ternak dan pengetahuan peternak terhadap infeksi virus ND pada peternakan unggas sektor IV di Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang. Analisa dilakukan dengan menggunakan uji chi-square dan pendugaan nilai risiko relatif (RR) setiap faktor tersebut untuk mengukur derajat asosiasi antara semua faktor risiko dengan infeksi virus ND di peternakan unggas sektor IV.
Analisa Univariat
Karakteristik Peternak Unggas Sektor IV
Peternak dengan pendidikan minimal lulus SMP sebanyak 102 peternak (56.4 %) dan dengan pendidikan maksimal lulus SD adalah sebanyak 79 peternak (43.6 %), hasil disajikan pada Tabel 2. Pada Tabel 2, umur peternak 40 tahun sebanyak 108 peternak (59.7 %). Sedangkan peternak dengan umur lebih dari 40 tahun adalah sebanyak 73 peternak (40.30 %).
Tabel 2 Distribusi frekuensi karakteristik peternak sektor IV di Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
No
Karakteristik Jumlah Persentase (%)
1. Pendidikan Minimal lulus SMP Maksimal lulus SD 102 79 54.9 43.6 2. Umur peternak 40 tahun > 40 tahun 108 73 59.7 40.3 3. Alasan pemeliharaan Penghasilan utama
Bukan penghasilan utama
24 157 13.3 86.7 4. Pengalaman beternak > 10 tahun < 10 tahun 101 80 44.2 55.8
Sebagian besar peternak mempunyai alasan sebagai bukan penghasilan utama yaitu sebanyak 157 peternak (86.7 %) dan yang merupakan penghasilan utama yaitu sebanyak 24 peternak (13.3 %), hasil ditunjukkan pada Tabel 2. Peternak yang memiliki pengalaman beternak kurang dari sepuluh tahun adalah sebanyak 101 peternak (55.8 %) dan yang lebih dari sepuluh tahun adalah sebanyak 80 peternak (44.2 %), hasil ditunjukkan pada Tabel 2.
Penerapan Biosekuriti Sanitasi
Sanitasi dibagi menjadi enam kategori, yaitu pembersihan kandang, pembersihan tempat pakan, pembersihan tempat minum, perlakuan terhadap kotoran, cara pembersihan kandang, dan sumber air. Data mengenai sanitasi disajikan pada Tabel 3. Peternak yang melakukan pembersihan kandang beberapa kali dalam seminggu adalah sebanyak 99 peternak (54.7 %), peternak yang melakukan pembersihan kandang beberapa minggu sekali sebanyak 35 peternak (19.3 %) dari total 134 peternak yang mempunyai kandang untuk ternaknya. Untuk pembersihan tempat pakan didapatkan 104 peternak (57.5 %) yang melakukan pembersihan tempat pakan beberapa kali dalam seminggu. Peternak yang melakukan pembersihan tempat pakan beberapa minggu sekali adalah sebanyak 49 peternak (27.1 %) dari total 153 peternak yang mempunyai tempat pakan sendiri untuk ternaknya (Tabel 3).
Tabel 3 Distribusi frekuensi penerapan sanitasi di peternakan unggas sektor IV di Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
No Sanitasi Jumlah Persentase (%)
1. Pembersihan kandang
Beberapa kali dalam seminggu
Beberapa minggu sekali 2. Pembersihan tempat pakan
Beberapa kali dalam seminggu
Beberapa minggu sekali 3. Pembersihan tempat minum
Beberapa kali dalam seminggu
Beberapa minggu sekali 4. Perlakuan terhadap kotoran
Dikumpulkan/ dikubur
Dibuang
5. Bagaimana cara pembersihan kandang
Disapu/ dicuci Tidak dibersihkan 6. Sumber air Sumur/ PAM Sungai 99 35 104 49 86 10 120 61 168 13 123 58 54.7 19.3 57.5 27.1 47.5 5.5 66.3 33.7 92.8 7.2 68.0 32.0
Sementara itu pembersihan tempat minum yang dilakukan peternak beberapa kali dalam seminggu sebanyak 86 peternak (47.5 %), peternak yang melakukan pembersihan tempat minum beberapa minggu sekali sebanyak 10 peternak (5.5 %) dari total 96 peternak yang mempunyai tempat minum sendiri untuk ternaknya (Tabel 3). Untuk perlakuan kotoran unggas, sebanyak 120 peternak (66.3 %) mengumpulkan/ mengubur kotoran unggas, dan sebanyak 61 peternak (33.7 %) yang membuang kotoran unggas dari sebanyak 181 peternak (Tabel 3). Sebagian besar peternak sudah mengerti bagaimana perlakuan terhadap kotoran, sehingga lebih banyak peternak yang mengumpulkan/ mengubur kotoran ternak.Cara pembersihan kandang dengan disapu atau dicuci (pemberian disinfektan) adalah sebesar 168 (92.8 %) dan yang tidak dibersihkan adalah sebesar 13 peternak (7.2 %). Sumber air yang berasal dari sumur sebanyak 123 peternak (68.0 %) dan yang dari sungai sebanyak 58 peternak (32.0 %) dari keseluruhan 181 peternak (Tabel 3).
Isolasi
Gambaran mengenai distribusi frekuensi manajemen biosekuriti untuk isolasi terdiri atas empat kategori. Pemisahan unggas sakit, pemisahan unggas
yang baru, pemisahan unggas berdasar jenis, dan perlakuan terhadap unggas mati (Tabel 4).
Tabel 4 Distribusi frekuensi penerapan isolasi di peternakan unggas sektor IV di Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
Jumlah peternak yang memisahkan unggas yang sakit adalah sebanyak 27 peternak (14.9 %) dan yang tidak memisahkan unggas yang sakit adalah sebanyak 154 peternak (85.1 %) dari keseluruhan responden (Tabel 4). Pemisahan terhadap unggas baru dilakukan oleh peternak sebanyak 28 peternak (15.5 %) dan peternak yang tidak melakukan pemisahan terhadap unggas baru adalah 153 orang (84.1 %) dari 181 peternak (Tabel 4). Pada peternakan sektor IV di Cipunagara ini belum banyak yang memisahkan unggas baru dengan unggas lama.
Kategori isolasi selanjutnya adalah pemisahan kandang unggas berdasarkan jenisnya. Peternak yang melakukan pemisahan kandang unggas berdasarkan jenisnya adalah sebanyak 11 orang (6.1 %) dan yang tidak melakukan pemisahan kandang unggas berdasarkan jenisnya adalah sebanyak 71 peternak (39.2 %) dari 82 peternak yang melakukan pemisahan kandang unggas berdasar jenisnya (Tabel 4). Pemisahan kandang unggas berdasarkan jenisnya perlu dilakukan untuk mencegah tertularnya agen dari satu jenis ke jenis lain yang lebih rentan. Para peternak unggas sektor IV di Cipunagara ini masih belum banyak yang melakukan pemisahan berdasarkan jenis. Pada Tabel 4 menunjukkan unggas mati yang dikubur adalah sebanyak 70 peternak (38.7 %) dan jumlah peternak yang membuang unggas mati adalah sebanyak 111 peternak (61.3 %). Penguburan ternak yang mati penting dilakukan agar agen penyakit tidak menyebar.
No Isolasi Jumlah Persentase (%)
1. Pemisahan Unggas Sakit
Ya
Tidak
2. Pemisahan unggas yang baru
Dipisahkan
Tidak dipisahkan 3. Pemisahan jenis
Dipisahkan
Tidak dipisahkan
4. Perlakuan Terhadap Unggas Mati
Dikubur/ dibakar Dibuang 27 154 28 153 11 71 70 111 14.9 85.1 15.5 84.1 6.1 39.2 38.7 61.3
Lalu lintas ternak
Lalu lintas ternak dibagi menjadi tiga kategori, yaitu kandang berpagar, desain kandang terhindar dari hama tikus dan desain kandang sudah dapat melindungi kandang dari masuknya burung liar (Tabel 5). Peternakan dengan kandang yang diberi pagar adalah sebanyak 19 peternak (10.5 %) dan kandang yang tidak diberi pagar adalah sebanyak 162 peternak (89.5 %) seperti yang disajikan pada Tabel 5.
Terdapat 73 peternak (40.3 %) yang desain kandangnya dapat terhindar dari masuknya tikus dan 108 peternak (59.7 %) yang desain kandangnya tidak dapat terhindar dari masuknya tikus (Tabel 5).
Tabel 5 Distribusi frekuensi lalu lintas di peternakan unggas sektor IV di Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
No Lalu lintas ternak Jumlah Persentase (%)
1. Kandang berpagar
Ya
Tidak
2. Desain kandang mencegah tikus masuk
Ya
Tidak
3. Desain kandang mencegah burung liar masuk
Ya Tidak 19 162 73 108 76 105 10.5 89.5 40.3 59.7 42.0 58.0
Sementara itu desain kandang peternak yang dapat terhindar dari masuknya burung liar ke kandang adalah sebanyak 76 peternak (42.0 %), dan kandang yang tidak dapat terhindar dari masuknya burung liar ke kandang adalah sebanyak 105 peternak (58.0 %) dari total responden 181 peternak (Tabel 5).
Pengetahuan Peternak
Jumlah peternak dengan pengetahuan tentang peternakan yang baik berjumlah 102 peternak (56.4 %) dan pengetahuan peternak yang kurang baik adalah 79 peternak (43.6 %). Pada peternakan unggas sektor IV ini sudah banyak yang mempunyai pengetahuan yang baik mengenai cara beternak.
Analisa Bivariat
Berdasarkan kerangka konsep akan dilihat hubungan antara karakteristik peternak, penerapan manajemen biosekuriti, dan pengetahuan peternak dengan infeksi virus ND pada unggas. Uji chi-square digunakan untuk melihat hubungan antara faktor risiko karakteristik peternak, manajemen biosekuriti, dan pengetahuan peternak dengan infeksi virus ND. Untuk mengetahui nilai hubungan faktor-faktor diatas dilakukan pendugaan nilai risiko relatif (RR) pada selang kepercayaan (confidence interval) 95 %.
Hubungan Antara Karakteristik Peternak dengan Infeksi Virus ND
Karakteristik peternak dibagi menjadi empat kategori, yaitu pendidikan peternak, umur peternak, alasan beternak, dan pengalaman beternak yang disajikan pada Tabel 6. Sebagian besar peternakan unggas yang peternaknya berpendidikan minimal lulus SMP mempunyai persentase terinfeksi virus ND sebesar 19.6 %, sedangkan peternakan unggas yang terinfeksi virus ND yang peternaknya berpendidikan minimal lulus SD adalah sebesar 20.3 %.
Tabel 6 Hasil uji chi-square karakteristik peternak unggas sektor IV di Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
Peubah (karakteristik peternak)
Status infeksi
P RR SK 95%
Terinfeksi Tidak terinfeksi
n % n % 1. Pendidikan Minimal lulus SMP Maksimal lulus SD 20 16 19.6 20.3 82 63 80.4 79.7 0.914 0.968 0.538-1.743 2. Umur peternak 40 tahun > 40 tahun 17 19 15.7 26.0 91 54 84.3 74.0 0.089 0.605 0.338-1.083 3. Alasan beternak Utama Sambilan 5 31 20.8 19.7 19 126 79.2 80.3 0.901 1.055 0.455-2.447 4. Pengalaman beternak 10 tahun < 10 tahun 10 26 12.5 25.7 70 75 87.5 74.3 0.027 2.057 0.249-0.947 Keterangan : n : ukuran sampel P : batas kemaknaan RR : risiko relatif SK 95% : selang kepercayaan 95 %
Pendidikan peternak (Tabel 6), didapatkan bahwa peternakan unggas yang dikelola peternak dengan tingkat pendidikan minimal lulus SMP terjadi infeksi virus ND sebesar 19.6 % dan peternakan unggas yang dikelola peternak dengan tingkat pendidikan maksimal lulus SD yang terinfeksi virus ND adalah sebesar 20.3 %. Berdasarkan uji chi-square hubungan antara pendidikan peternak dengan peternakan yang terinfeksi virus ND tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil pada penelitian ini berbeda dengan hasil kajian Tim AI FKH IPB (2006) bahwa peternak yang mempunyai tingkat pendidikan lebih tinggi akan menerapkan cara beternak dan orientasi kegiatan usaha lebih baik dibandingkan dengan pendidikan yang lebih rendah.
Untuk kategori umur peternak (Tabel 6), didapatkan bahwa peternakan unggas yang dikelola peternak dengan umur 40 tahun terjadi infeksi virus ND sebesar 15.7 % dan peternakan unggas yang dikelola peternak dengan umur > 40 tahun yang peternakannya terinfeksi virus ND adalah sebesar 26.0 %. Berdasarkan uji chi-square hubungan antara umur peternak dengan peternakan unggas yang terinfeksi virus ND tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Menurut Tim AI FKH IPB (2006) bahwa peternak dengan umur muda adalah masa produktif, tentu akan semakin mudah mengadopsi berbagai inovasi (pengetahuan, keterampilan, manajemen dan teknologi) terkait dalam kegiatan usahanya sehingga akan lebih baik menghasilkan kinerja yang maksimal.
Kategori selanjutnya adalah alasan pemeliharaan ternak. Peternak yang mempunyai alasan utama untuk beternak yang peternakannya terinfeksi virus ND adalah sebesar 20.8 % dan peternakan yang dikelola oleh peternak dengan tujuan beternak sambilan terdapat infeksi virus ND sebesar 19.7 % (Tabel 6). Berdasarkan uji chi-square hubungan antara alasan beternak dengan peternakan yang terinfeksi virus ND tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Seharusnya alasan beternak yang utama mempengaruhi perlakuan terhadap ternaknya dan mendapatkan hasil yang lebih baik daripada sebagai usaha sambilan, seperti yang diungkapkan Tim AI FKH IPB (2006) bahwa alasan peternak menjalankan peternakannya berpengaruh terhadap cara memperlakukan hewan ternaknya, apabila merupakan penghasilan utama maka para peternak akan lebih baik dalam manajemen ternaknya dibandingkan yang bukan merupakan penghasilan utama.
Peternakan yang dikelola oleh peternak yang mempunyai pengalaman beternak lebih dari 10 tahun terinfeksi virus ND sebesar 12.5 % dan peternakan yang dikelola oleh peternak dengan pengalaman kurang dari 10 tahun terinfeksi virus ND sebesar 25.7 % (Tabel 6). Faktor pengalaman beternak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap infeksi virus ND pada hewan ternak. Besarnya nilai risiko relatif (RR) faktor tersebut adalah 2.057 (SK 95 %; 0.249-0.947). Dalam kurun waktu 10 tahun peternak di Kecamatan Cipunagara ini telah mempelajari hal-hal yang berkaitan tentang peternakan, dan secara otomatis mendapatkan bekal dari pemerintah daerah ataupun dari pengalaman peternak lain sehingga infeksi virus ND dapat diminimalisir. Penelitian ini sesuai dengan kajian Tim AI FKH IPB (2006) bahwa peternak yang memiliki pengalaman beternak lebih dari sepuluh tahun akan mampu menangani peternakannya dengan lebih baik, karena selama menjalankan peternakannya banyak permasalahan dan sudah dapat diatasi bermodal pengalaman.
Hubungan Antara Manajemen Biosekuriti dengan Infeksi Virus ND Hubungan Antara Sanitasi dengan Infeksi Virus ND
Sanitasi dibagi menjadi enam kategori, yaitu pembersihan kandang, pembersihan tempat pakan, pembersihan tempat minum, perlakuan terhadap kotoran, cara pembersihan kandang, dan sumber air. Peternakan unggas sektor IV dengan kandang yang dibersihkan beberapa kali dalam seminggu terdapat unggas yang terinfeksi virus ND adalah sebesar 20.2 % dan unggas pada peternakan dengan kandang yang dibersihkan beberapa minggu sekali yang terinfeksi virus ND adalah sebesar 22.9 %. Kandang dengan pembersihan tempat pakan yang dilakukan peternak beberapa kali dalam seminggu terdapat infeksi virus ND pada unggas adalah sebesar 16.3 % dan unggas pada peternakan dengan kandang yang dibersihkan beberapa minggu sekali terdapat unggas yang terinfeksi virus ND adalah sebesar 24.5 %. Peternak yang melakukan pembersihan tempat minum beberapa kali dalam seminggu pada kandang terdapat unggas yang terinfeksi virus ND adalah sebesar 20.9 % dan peternakan unggas dengan pembersihan tempat minum yang dilakukan oleh peternak beberapa minggu sekali yang terinfeksi virus ND sebesar 20.0 %. Hasil dari hubungan antara sanitasi dengan infeksi virus ND ini disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Hasil uji chi-square manajemen biosekuriti (sanitasi) pada peternakan unggas sektor IV di Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
Peubah (sanitasi) Status infeksi P RR SK 95% Terinfeksi Tidak terinfeksi n % n % 1. Pembersihan kandang
Beberapa kali seminggu
Beberapa minggu sekali 20
8 20.2 22.9 79 27 79.8 77.1 0.740 0.884 0.429-1.822
2. Pembersihan tempat pakan
Beberapa kali seminggu
Beberapa minggu sekali
17 12 16.3 24.5 87 37 83.7 75.5 0.230 0.667 0.346-1.287
3. Pembersihan tempat minum
Beberapa kali seminggu
Beberapa minggu sekali
18 2 20.9 20.0 68 8 79.1 80.0 0.945 1.047 0.284-3.863
4. Perlakuan terhadap kotoran
Dikumpulkan/ dikubur Dibuang 22 14 18.3 23.0 98 47 81.7 77 0.462 0.799 0.441-1.448
5. Cara pembersihan kandang
Disapu/ dicuci Tidak dibersihkan 34 2 20.2 15.4 134 11 79.8 84.6 0.673 1.315 0.355-4.874 6. Sumber air Sumur/ PAM Sungai/ selokan 24 12 19.4 21.1 100 45 80.6 78.9 0.790 0.919 0.496-1.705 Keterangan : n : ukuran sampel P : batas kemaknaan RR : risiko relatif SK 95% : selang kepercayaan 95 %
Hasil uji chi-square untuk faktor-faktor pada peternakan unggas sektor IV ini tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap infeksi virus ND. Pembersihan kandang yang rutin akan menjaga kandang tetap bersih dan terhindar dari penyakit. Selain pembersihan kandang, pembersihan tempat pakan dan tempat minum juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap infeksi virus ND pada unggas sektor IV. Kandang kotor memberi peluang 12 kali lebih besar terpapar penyakit akibat virus dibandingkan dengan kandang bersih, tempat pakan yang kotor memberi peluang 5 kali lebih besar terpapar penyakit akibat virus dibandingkan tempat pakan yang bersih, sedangkan tempat minum yang kotor menyebabkan risiko pemaparan penyakit akibat virus 4.85 kali lebih tinggi daripada tempat minum yang dibersihkan (Siahaan 2007).
Infeksi virus ND pada unggas yang peternaknya mengumpulkan atau mengubur kotoran unggas adalah sebesar 18.3 % dan unggas yang kotorannya dibuang yang terinfeksi virus ND adalah sebesar 23.0 % (Tabel 7). Berdasarkan uji chi-square hubungan antara perlakuan terhadap kotoran unggas dengan infeksi
virus ND tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Perlakuan terhadap kotoran harus tetap diperhatikan, sebab kotoran dapat menjadi sumber penularan penyakit jika tidak dikelola dengan baik (Soejoedono et al. 2005).
Besarnya persentase infeksi virus ND pada unggas yang terjadi pada peternakan yang cara pembersihan kandangnya dengan disapu atau dicuci (pemberian disinfektan) adalah sebesar 20.2 % dan persentase infeksi virus ND pada peternakan yang tidak membersihkan kandang sebesar 15.4 % (Tabel 7). Hasil uji chi-square tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara cara pembersihan kandang dengan infeksi virus ND pada unggas. Menurut Gernat (2000) pencucian kandang dengan disinfektan merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga biosekuriti dari agen-agen penyakit. Penggunaan disinfektan harus memperhatikan kandungan disinfektan tersebut sehingga tidak salah penggunaannya dan sesuai dengan syarat disinfektan yang baik yaitu aman, efektif dan efisien (Smith 2001).
Unggas dari peternakan dengan sumber air dari sumur/ PAM yang terinfeksi virus ND adalah sebesar 19.4 % dan unggas dari peternakan yang sumber airnya dari sungai/ selokan yang terinfeksi adalah sebesar 21.1 % (Tabel 7). Berdasarkan hasil uji chi-square bahwa faktor risiko sumber air tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap infeksi virus ND pada unggas. Air harus diperhatikan sumbernya agar dapat mencegah pencemaran yang ada dalam air. Air merupakan kebutuhan vital untuk keberlangsungan peternakan, tetapi juga dapat menjadi sumber penyakit (Soejoedono dan Handharyani 2005).
Hubungan Antara Isolasi dengan Infeksi Virus ND
Manajemen biosekuriti isolasi dibagi menjadi empat kategori, pemisahan unggas sakit, pemisahan unggas yang baru, pemisahan unggas berdasar jenis, dan perlakuan terhadap unggas mati disajikan pada Tabel 8. Unggas pada peternakan yang melakukan pemisahan terhadap unggas sakit yang terinfeksi virus ND adalah sebesar 40.7 % dan unggas pada peternakan yang tidak melakukan pemisahan unggas sakit yang terinfeksi virus ND adalah sebesar 16.2 %. Hasil uji chi-square yang tersaji pada Tabel 8 menunjukkan hubungan yang signifikan antara faktor pemisahan unggas sakit dengan infeksi virus ND pada unggas. Berdasarkan hasil
uji, nilai risiko relatif (RR) faktor tersebut 2.50 (SK 95 % ; 1.406-4.479). Hal ini berarti bahwa peternak yang membiarkan unggas yang diketahui sakit tetap berada pada kandang bersama dengan unggas sehat lainnya berisiko terinfeksi virus ND 2.5 kali lebih besar daripada peternak yang memisahkannya. Peternakan unggas sektor IV sebagian besar tidak melakukan pemisahan unggas sakit, hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan peternak akan ciri-ciri hewan sakit. Unggas sakit dapat menjadi sumber penyakit berbahaya bagi unggas sehat yang berdekatan, oleh karena itu unggas yang sakit harus dikeluarkan dan dipisahkan sejauh mungkin dari kandang unggas yang sehat sehingga tidak menulari unggas yang sehat (Hanson 2008).
Tabel 8 Hasil uji chi-square manajemen biosekuriti (isolasi) pada peternakan unggas sektor IV di Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
Peubah (isolasi) Status infeksi P RR SK 95% Terinfeksi Tidak terinfeksi n % n %
1. Pemisahan unggas sakit
Dipisahkan Tidak dipisahkan 11 25 40.7 16.2 16 129 59.3 83.8 0.003 2.510 1.406-4.479
2. Pemisahan unggas baru
Dipisahkan Tidak dipisahkan 6 30 21.4 19.6 22 123 78.6 80.4 0.824 1.093 0.502-2.380 3. Pemisahan jenis Dipisahkan Tidak dipisahkan 1 15 9.1 21.1 10 56 90.9 78.9 0.349 0.430 0.063-2.941
4. Perlakuan unggas mati
Dikubur/ dibakar Dibuang 16 20 22.9 18.0 54 91 77.1 82.0 0.427 1.269 0.706-2.278 Keterangan : n : ukuran sampel P : batas kemaknaan RR : risiko relatif SK 95% : selang kepercayaan 95 %
Persentase unggas pada peternakan yang melakukan pemisahan terhadap unggas baru yang terinfeksi virus ND adalah sebesar 21.4 % dan persentase unggas pada peternakan yang tidak melakukan pemisahan unggas baru yang terinfeksi adalah sebesar 19.6 % (Tabel 8). Hasil uji chi-square faktor pemisahan unggas baru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap infeksi virus ND pada unggas. Peternakan unggas sektor IV sebagian besar tidak melakukan pemisahan unggas baru dikarenakan jarang peternak yang membeli unggas untuk dipelihara, unggas kebanyakan berasal dari budidaya sendiri.
Pemisahan unggas baru pada prinsipnya adalah mencegah unggas baru membawa agen penyakit atau mencegah unggas baru menjadi sakit akibat tertular agen penyakit dari unggas lama. Unggas baru sebaiknya diisolasi terlebih dahulu untuk meminimalisir risiko diatas. Sebelum unggas dikeluarkan dari tempat isolasi, harus dipastikan bahwa unggas-unggas dalam keadaan sehat dan jika ada unggas yang mati haruslah dimusnahkan. Pemisahan sebaiknya dilakukan selama minimal 2 minggu dan jika terlihat sakit harus dipisahkan (Zainuddin dan Wibawan 2007).
Besarnya persentase unggas yang terinfeksi virus ND pada peternakan yang melakukan pemisahan unggas menurut jenis adalah sebesar 9.1 % dan unggas pada peternakan yang tidak melakukan pemisahan unggas menurut jenis yang terinfeksi virus ND adalah sebesar 21.1 % (Tabel 8). Hasil uji chi-square faktor pemisahan unggas berdasarkan jenis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap infeksi virus ND pada unggas.
Pemisahan unggas berdasarkan jenisnya yang berbeda harus ditempatkan pada kandang yang berbeda, tidak disatukan dengan jenis lain. Menurut Grimes dan Jackson (2001) dengan adanya jenis unggas lain unggas berisiko terkena penyakit lebih tinggi, dalam program dan prosedur biosekuriti dilakukan pemisahan unggas terhadap jenis unggas lain, spesies bukan unggas dan hewan lainnya untuk mencegah terjadinya penularan penyakit.
Unggas pada peternakan yang pengelolanya melakukan penguburan atau pembakaran terhadap unggas mati terinfeksi virus ND sebesar 22.9 % dan unggas pada peternakan yang pengelolanya membuang unggas mati dengan persentase infeksi virus ND adalah sebesar 18.0 %. Hasil uji chi-square tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara faktor perlakuan ternak mati dengan infeksi virus ND pada unggas. Pada penelitian ini, peternakan sektor IV di Kecamatan Cipunagara sebagian besar jika peternak melihat unggas mati akan segera di bakar atau dikubur karena takut akan tertular penyakit yang menjadi penyebab ternaknya mati.
Menurut Ryder (2005) dan Damron (2006) salah satu bagian terpenting dalam biosekuriti adalah unggas yang mati harus dikubur atau dibakar. Mengubur atau membakar bangkai ternak harus dilakukan pada tempat khusus yang jauh dari permukiman penduduk dan telah direkomendasikan oleh dinas terkait. Lubang
tempat mengubur atau membakar sekurang-kurangnya memiliki kedalaman 1.3 meter dan ditutup tanah serta ditaburi kapur. Membakar bangkai ternak juga dapat dilakukan dengan menggunakan insinerator (Bagindo 2007).
Hubungan Antara Lalu Lintas Ternak dengan Infeksi Virus ND
Lalu lintas ternak dibagi menjadi tiga kategori, yaitu kandang berpagar, desain kandang terhindar dari hama tikus dan desain kandang sudah dapat melindungi kandang dari masuknya burung liar (Tabel 9).
Unggas yang terinfeksi virus ND pada peternakan yang berpagar adalah sebesar 21.1 % dan unggas yang terinfeksi virus ND pada peternakan yang tidak mempunyai pagar adalah sebesar 19.8 %. Hasil uji chi-square tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara kandang berpagar dengan infeksi virus ND pada unggas. Peternakan sejatinya perlu adanya pagar untuk membatasi lalu lintas pada peternakan, sehingga risiko terkena agen penyakit dapat berkurang. Pada peternakan unggas sektor IV ini mempunyai luas yang kecil, sehingga pagar digunakan untuk pencegahan unggas keluar dari kandang. Pemberian pagar pada kandang dilakukan untuk mencegah masuknya hewan lain atau orang yang dapat menyebarkan penyakit atau dapat juga mencegah keluarnya unggas dari lingkungan peternakan (DEPTAN 1993).
Tabel 9 Hasil uji chi-square manajemen biosekuriti (lalu lintas ) pada peternakan unggas sektor IV di Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
Peubah (lalu lintas)