• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan Hasil

Pada bagian ini akan dibahas beberapa hasil temuan dan keterkaitan temuan penelitian dengan teori, atau pendapat para ahli, selain itu juga akan dibahas keterbatasan penelitian dan aspek lain yang dapat digunakan untuk penelitian lanjutan.

commit to user

Perumusan tingkat respons berdasarkan Taksonomi SOLO dalam menyelesaikan masalah aljabar memunculkan beberapa karakteristik yang mengarah pada penempatan siswa pada tiap tingkatan respons. Tingkatan respons berdasarkan Taksonomi SOLO dalam penelitian ini meliputi tingkat respons unistruktural, multistrukural, relasional dan extended abstract sebagaimana yang dikembangkan oleh Lim & Idris, maka diketahui bahwa siswa yang menempati setiap tingkat respons memiliki karakteristik yang berbeda.

Gambaran secara lengkap tentang respons siswa pada memecahkan masalah aljabar berdasarkan Taksonomi SOLO dari kelompok kategori minat belajar matematika dapat dibahas sebagai berikut.

1. Profil respons siswa kategori minat belajar tinggi (subjek FAZ dan subjek LU) Berdasarkan analisis terhadapa karateristik respons subjek FAZ dan subjek LU dalam menyelesaikan masalah aljabar terkait pokok persamaan linier pada uni pola linier dan konsep fungsi. Subjek FAZ dalam menyelesaikan masalah tersebut melalui tiga prose berikut, meliputi (1) investigasi pola, (2) representasi dan generalisasi pola, dan (3) penerapan kaidah berhubunga dengan situasi guna memperoleh sebuah solusi alternatif.

Proses investigasa pola yang dilakukan oleh subjek FAZ dan subjek LU ditunjukkan dengan internalisasi subjek FAZ dan subjek LU terhadap pemikiran akan informasi yang datang dari soal, informasi dari soal berupa data-data khususnya keteraturan pola-pola yang dikandungnya. Keteraturan ini ditangkap dengan baik oleh kedua subjek dengan memperlihatkanya pada lembaran pekerjaan berupa simbol-simbol aljabar yang berguna meliputi bilangan dan operasi (penjumlahan dan perkalian), dengan langkah/prosedur aljabar yang tepat dalam mereprentasi pola dari soal yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa masalah yang ada dapat membuka kembali ingatan atau memori kedua subjek tentang aljabar yang telah dipelajari. Pada prose ini kedua subjek memperlihatakan langkah/prosedur perhitungan dengan rinci tanpa ada kesalah.

Pada proses representasi dan generalisasi, subjek FAZ dan subjek LU mampu mengaitkan informasi berupa data dalam tahap investigasi dengan pertanyaan berikutnya. Internalisasi kedua subjek terhadap pemikiran akan

commit to user

informasi yang datang dari soal berikut, ditunjukkan dalam lembaran pekerjaan berupa simbol-simbol aljabar dengan operasi aljabar yang benar dan merepresentasikan hasil tersebut dalam tabel pekerjaan. Pada langkah ini kedua subjek bekerja dengan benar tanpa ada kesalahan.

Dalam proses penerapan kaidah berhubunga dengan situasi guna memperoleh sebuah solusi alternatif, subjek FAZ dan subjek LU mampu menerapakan kaidah sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dengan membuat sebuah model matematika untuks situasi yang ditanyakan, informasi berupa data dalam bentuk angka dan simbol pada kasus ini membuat subjek dapat mengenal subtitusi bilangan dengan variabel, disini kedua subjek dapat melakukannya dengan benar, hal ini diperlihatkan oleh kedua subjek dalam lembaran kerja dengan membuat model matematika sebagai kaidah untuk pola dari situasi tersebut. Proses penerapan ini berlanjut pada informasi yang melibatkan veriabel-variabel. Subjek diharapkan untuk dapat mengenali serta menangkap maksud dari penggunaan veriabel-variabel tersebut dengan melibatkan bentuk operasi yang tepat dalam membuat sebuah persamaan linier, persamaan yang dimaksud masih berkaitan dengan internalisasi subjek terhadap informasi sebelumnya. Dalam proses penyusunan/membuat persamaan linier melibatkan variabel-variabel dan inipun kedua subjek (FAZ & LU) dapat melakukannya dengan benar, hal ini diperlihatkan pada lembaran pekerjaan subjek dengan langkah/prosedur yang terkosep dengan benar.

Tahapan akhir dari prose penerapan ini adalah adanya data atau informasi yang melibatkan variabel-variabel/simbol-simbol dengan situasi sedikit berbeda dari sebelumnya, ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana internalisasi siswa dalam menganalisis berdasarkan data dan informasi sehingga dapat menyusun atau membuat sebuah solusi baru untuk situasi baru tersebut. Pada proses yang terakhir ini internalisasi kedua subjek FAZ & LU diperlihatkan dengan memformalisasikan ide-ide berdasarkan pada data dan informasi dengan menggunakan simbol aljabar dengan benar yang ditunjukkan pada lembaran kerja dengan membuat sebuah model aljabar (persamaan linier) untuk merepresentasikan situasi baru tersebut dengan tanpa kesalahan.

commit to user

Dari tiga proses tersebut di atas dapat dikatakan bahwa subjek FAZ dan subjek LU dalam menyelesaikan masalah aljabar yang berkaitan dengan uni pola linier dan konsep fungsi dalam pokok persamaan linier melakukan aktifitas berikut, mengenal struktur/bentuk data atau pola dari informasi, menerapkan pada satu kasus, memperluas untuk beberapa kasus melibatkan bilangan-bilangan yang diketahui, membuat model persamaan linier untuk kasus yang melibatkan bilangan dan variabel dan membuat persamaan linier yang melibatkan variabel dengan variabel, serta mampu menganalisis dalam membuat solusi baru untuk situasi baru berdasarkan data atau informasi yang ada pada situasi sebelumnya dan situasi baru tersebut.

Proses investigasi, reperesentasi, generalisasi serta penerapan dapat dilakukan dengan baik oleh kedua subjek, ini menunjukkan bahwa penguasan serta pemahaman akan lambang, opersai, relasi serta pengaitanya dapat diungkap kembali dengan baik dan sekaligus menunjukkan bahwa permasalahan dalam bentuk superitem berdasarkan Taksonomi SOLO dapat mengarahkan dan membangkitkan kembali pengetahuan subjek tentang aljabar dengan baik.

Khususnya siswa dengan minat belajar matematika tinggi.

Berdasarkan uraian di atas dapa dikatakan bahwa subjek FAZ dan subjek LU dalam menyelesaikan masalah aljabar internalisasinya atau respons berpikirnya sejalan dengan berpikir aljabar yang dikatakan oleh Van De Walle (2008: 1) bahwa berpikir aljabar salah satunya melakukan generalisasi dari pengalaman dan bilangan dan perhitungan, memformalisasikan ide-ide dengan penggunaan simbol yang berguna, dan mengeksplorasi konsep-konsep dari pola dan fungsi. Dan respons kedua subjek dalam kategori minat belajar tinggi ini sejalan dengan karakteristik yang diungkapkan oleh Kaput, meliputi generalisasi, formalisai, regulasi, penggunaan simbol yang cukup bermanfaat, abstraksi yang berkaitan dengan perhitungan, dan proses pemodelan.

Kaitan dengan respons berdasarkan Taksonomi SOLO, maka dari hasil atau respons subjek FAZ & subjek LU terhadap dua permasalahan yang diangkat meliputi pola linier dan konsep fungsi. Kedua subjek memperlihatkan kesamaan karakteristik dalam merespons kedua permasalahan tersebut, hal ini ditunjukkan

commit to user

dalam lembaran kerja dan dipertegas dengan klarifikasinya. Karakteristik yang sama ini kemudian dibandingkan atau di uji dengan karakteristik dari masing-masing indikator sebagaimana yang dikembangkan oleh Lim & Idris. Hasil pengujian menunjukkan bahwa karakteristik yang ditujukkan oleh subjek FAZ dan subjek LU memenuhi semua indikator atau memenuhi karakteristik tiap tingkat respons yang dimaksud. Dengan memperhatikan tingkat respons yang tersusun atas 4 tingkat (bawah sampai atas) yaitu tingkat unistruktural (bawah), multistruktural, relasional dan extended abstract (atas), maka berdasarkan pengujian tesebut, respons subjek FAN & subjek LU dapat digolongkan pada tingkatan respons extended abstract.

Seseorang (siswa) yang berada pada tingkatan ini berarti mampu menganalisis pola, mampu mengaitkan informasi, mampu menguji untuk menemukan lebih dari satu jawaban, sebagaimana yang dirumuskan oleh Lim &

Idris. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Cropley dalam Aryadi (2012: 57) bahwa kemampuan menganalisis merupakan inti dari kemampuan berpikir kritis yang melibatkan proses klasifikasi dan pemerikasaan komponen dan hubungan informasi. Kemampuan mengidentifikasi pola dan hubungan (pattern and relationsihip) dan menemukan kesalahan (finding errors) elemen utama dari analisis. Jadi dengan demikian maka subjek FAZ dan subjek LU dapat dikatakan mempunayai kemampuan analisis yang baik dalam memecahkan masalah aljabara. Untuk kasus subjek dalam kategori minat tinggi ini dapat dikatakan bahwa minat belajara tinggi sejalan dengan tingkat pencapaian respons tinggi/respons extended abstract pada Taksonomi SOLO.

2. Profil respons siswa kategori minat belajar sedang (subjek QA dan subjek PNF) Berdasarkan analisis terhadapa karateristik respons subjek QA & subjek PNF dalam menyelesaikan masalah aljabar terkait pokok persamaan linier pada uni pola linier dan konsep fungsi. Subjek QA dan subjek PNF dalam

menyelesaikan masalah tersebut melalui tiga prose berikut, meliputi (1) investigasi pola, (2) representasi dan generalisasi pola, dan (3) penerapan kaidah

berhubunga dengan situasi guna memperoleh sebuah solusi alternatif.

commit to user

Proses investigasa pola yang dilakukan oleh subjek QA dan PNF ditunjukkan dengan internalisasi subjek QA & subjek PNF terhadap pemikiran akan informasi yang datang dari soal, informasi dari soal berupa data-data khususnya keteraturan pola-pola yang dikandungnya. Keteraturan ini ditangkap dengan baik oleh kedua subjek dengan memperlihatkanya pada lembaran pekerjaan berupa simbol-simbol aljabar yang berguna meliputi bilangan dan operasi (penjumlahan dan perkalian), dengan langkah/prosedur aljabar yang tepat dalam mereprentasikannya. Hal ini menunjukkan bahwa masalah yang ada dapat membangkitkan/membuka kembali ingatan atau memori subjek tentang aljabar yang telah dipelajarinya. Pada proses ini subjek memperlihatkan langkah/prosedur perhitungan dengan rinci tanpa ada kesalahan.

Pada proses representasi dan generalisasi, subjek QA dan PNF mampu mengaitkan informasi berupa data dalam tahap investigasi dengan pertanyaan berikutnya. Internalisasi subjek terhadap pemikiran akan informasi yang datang dari soal berikut ditunjukkan dalam lembaran pekerjaan berupa simbol-simbol aljabar dengan operasi aljabar yang benar dan merepresentasikan hasil tersebut dalam tabel pekerjaan. Pada langkah ini subjek bekerja dengan benar tanpa ada kesalahan.

Dalam proses penerapan kaidah berhubunga dengan situasi guna memperoleh sebuah solusi alternatif, kedua subjek mampu menerapakan kaidah sebagaimana yang telah di lakukan sebelumnya dengan membuat sebuah model matematika untuk situasi yang ditanyakan, informasi berupa data dalam bentuk angka dan simbol pada kasus ini membuat subjek dapat mengenal subtitusi bilangan dengan variabel, di sini subjek QA dan subjek PNF dapat melakukannya dengan benar, hal ini diperlihatkan kedua subjek dalam lembaran kerja dengan membuat bentuk aljabar (persamaan linier) yang representatif sebagai kaidah untuk pola dari permasalahan tersebut.

Proses penerapan ini dilanjutkan dengan informasi yang melibatkan variabel-variabel. Subjek diharapkan untuk dapat mengenali serta menangkap maksud dari penggunaan variabel-variabel tersebut dengan melibatkan bentuk operasi yang tepat dalam membuat sebuah persamaan linier, persamaan yang

commit to user

dimaksud masih berkaitan dengtan internalisasi siswa dalam menyelesaikan pertanyaan sebelumnya. Dalam proses penyusunan/membuat persamaan linier melibatkan variabel-variabel dan angka ini subjek QA dan subjek PNF dapat melakukannya dengan hasil yang berbeda. Dalam proses ini Subjek QA dapat melakukannya dengan benar, hal ini diperlihatkan pada lembaran pekerjaan subjek dengan langkah/prosedur yang terkosep dengan benar. Sedangkan Subjek PNF melakukannya dengan prosedur yang tidak terkonsep, lebih cenderung asal menjawa.

Terakhir dari proses penerapan adalah adanya data atau informasi yang melibatkan variabel-variabel dengan situasi sedikit berbeda dari sebelumnya, ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana internalisasi siswa dalam menganalisis berdasarkan data dan informasi sehingga dapat menyusun atau membuat sebuah solusi baru untuk situasi baru tersebut. Pada proses yang terakhir ini internalisasi subjek QA dan subjek PNF diperlihatkan dengan memformalisasikan ide-ide berdasarkan pada data dan informasi dengan menggunakan simbol aljabar namun masih keliru/salah yang ditunjukan pada lembaran kerja dengan membuat sebuah bentuk aljabar (persamaan linier) yang belum representatif, belum mampu menjelasakan alasan dibuat persamaan tersebut. Subjek tidak mampu mengaitkan informasi dari situasi semula dengan situasi baru.

Dari tiga proses tersebut di atas dapat dikatakan bahwa subjek QA dan subjek PNF dalam menyelesaiak masalah aljabar yang berkaitan dengan uni pola linier dan konsep fungsi dalam pokok persamaan linier melakukan aktifitas berikut dengan hasil yang sama dan ada juga yang berbeda. Kesamaannya adalah bahwa kedua subjek, mengenal struktur /bentuk data atau pola dari informasi, menerapkan untuk satu kasus, memperluas untuk beberapa kasus melibatkan bilangan-bilangan yang diketahui, membuat model persamaan linier untuk kasus yang melibatkan bilangan dan variabel. Keduanya belum mampu mengaitkan informasi untuk membuat solusi alternatif sebagai kaidah untuk situasi baru.

Sedangkan perbedaanya adalah subjek QA dapat menerapkan rumus/kaidah berhubungan dengan situasi dalam menentukan hasil, dimana subjek PNF tidak dapat/tidak mampu melakukannya.

commit to user

Berdasarkan uraian di atas dapa dikatakan bahwa subjek QA dalam menyelesaikan masalah aljabar internalisasinya atau respons berpikirnya sejalan dengan berpikir aljabar yang dikatakan oleh Van De Walle (2008: 1) bahwa berpikir aljabar salah satunya melakukan generalisasi dari pengalaman dan bilangan dan perhitungan, memformalisasikan ide-ide dengan penggunaan simbol yang berguna, dan mengeksplorasi konsep-konsep dari pola dan fungsi.

Sedangkan subjek PNF berpikirnya belum sepenuhnya sejalan dengan berpikir aljabar yang dikatakan oleh Van De Walle, dan juga oleh Kaput.

Kaitan dengan respons berdasarkan Taksonomi SOLO, maka dari hasil atau respons subjek QA dan subjek PNF terhadap dua permasalahan yang diangkat meliputi pola linier dan konsep fungsi. Subjek QA dan subjek PNF dapat memperlihatkan karakteristik masing-masing dalam merespons kedua permasalahan tersebut, hal ini ditunjukkan dalam lembaran kerja dan dipertegas dengan klarifikasinya. Karakteristik masing-masing ini kemudian dibandingkan atau diuji dengan karakteristik dari masing-masing tingkatan respons sebagaimana yang dikembangkan oleh Lim & Idris. Hasil pengujian menunjukkan bahwa karakteristik yang ditunjukkan oleh subjek QA memenuhi semua indikator atau memenuhi karakteristik tiap tingkat respons yang dimaksud kecuali untuk tingkat extende abstract. Sedangkan hasil pengujian untuk subjek PNF menunjukkan bahwa karakteristik yang ditunjukkan subjek PNF memenuhi dua tingkatan respons yang pertama yang dikembangkan oleh Lim & Idris. Oleh karena tingkatan respons berdasarkan Taksonomi SOLO yang dikembangkan terdiri atas 4 tingkatan, yakni tingkat 1 (unistruktural), tingkat 2 (multistruktural), tingkat 3 (relasional) dan tingkat 4 (extended abstract), dalam arti jika seseorang (siswa) digolongkan pada sutu tingkat tertentu berarti orang tersebut telah memenuhi indikator tingkatan tertentu itu dan tingkatan dibawahnya. Karena subjek QA berdasarkan hasil pengujian hanya memenuhi indikator tingkatan 3 dan yang dibawahnya maka subjek QA dapat digolongkan atau berada pada tingkat relasional. Sedangkan subjek PNF berdasarkan hasil pengujian hanya memenuhi indikator tingkatan 2 dan yang dibawahnya maka subjek PNF dapat digolongkan atau berada pada tingkat respons multistruktural.

commit to user

Seseorang (siswa) yang berada pada tingkatan relasional berarti mampu menggeneralisasikan pola secara simbolik, mampu menetapkan aturan untuk memecahkan situasi, mampu mengaitkan informasi, sebagaimana yang dirumuskan oleh Lim & Idris. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Van De Walle (2008: 4) ketika murid mengamati dan menggunakan hubungan numeris antara dua sisi tanda sama dengan dan lebih pada satu operasi atau beberapa operasi saling terkait pada saat itulah murid berpikir keterhubungan atau berpikir rasional. Jadi dengan demikian maka subjek QA dapat dikatakan mempunyai respons berpikir relasional dalam memecahkan masalah aljabara. Sedangkan untuk subjek PNF dapat dikatakan berada pada berpikir yang sederhana dibahwah berpikr relasional.

Untuk kasus ini dapat dikatakan bahwa siswa yang berada pada kategori minat belajar matematika sedang pencapain tingkat respons tidak sama, dalam arti siswa dengan minat belajar matematika sedang pencapain tingkat responsnya berbeda.

3. Profil respons siswa kategori minat belajar rendah (subjek NAD dan subjek NA)

Berdasarkan analisis terhadapa karateristik respons subjek NAD dan subjek NA dalam menyelesaikan masalah aljabar terkait pokok persamaan linier pada uni pola linier dan konsep fungsi. Kedua subjek dalam menyelesaikan masalah tersebut melalui tiga prose berikut, meliputi (1) investigasi pola, (2) representasi dan generalisasi pola, dan (3) penerapan kaidah berhubungan dengan situasi guna memperoleh sebuah solusi alternatif.

Proses investigasa pola yang dilakukan oleh subjek NAD dan subjek NA ditunjukkan dengan internalisasi kedua subjek terhadap pemikiran akan informasi yang datang dari soal, informasi dari soal berupa data-data khususnya keteraturan pola-pola yang dikandungnya. Keteraturan ini ditangkap dengan baik oleh subjek dengan memperlihatkannya pada lembaran pekerjaan berupa simbol-simbol aljabar yang berguna meliputi bilangan dan operasi (penjumlahan dan perkalian), dengan langkah/prosedur aljabar yang tepat dalam merepresentasi pola dari soal

commit to user

yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa masalah yang ada dapat membangkitkan/membuka kembali ingatan atau memori siswa tentang aljabar yang telah dipelajari. Pada proses ini kedua subjek memperlihatkan langkah/prosedur perhitungan dengan benar.

Pada proses representasi dan generalisasi, subjek NAD dan subjek NA mampu mengaitkan informasi berupa data dalam tahap investigasi dengan pertanyaan berikutnya. Internalisasi kedu subjek terhadap pemikiran akan informasi yang datang dari soal berikut ditunjukkan dalam lembaran pekerjaan dengan langkah perhitungan yang benar dan mampu merepresentasikannya ke dalam tabel.

Dalam proses penerapan kaidah berhubunga dengan situasi, subjek NAD dan subjek NA mampu menerapkan kaidah sebagaimana yang telah di lakukan sebelumnya dengan membuat bentuk aljabar untuk situasi yang ditanyakan, informasi berupa data dalam bentuk angka dan simbol/variabel pada kasus ini membuat subjek menggunakan subtitusi variabel pada nilai dari hasil operasi (pengerjaan) sebelumnya, di sini subjek NAD dan subjek NA dapat melakukakunya dengan prosedur yang benar, hal ini diperlihatkan subjek NAD dan subjek NA dalam lembaran kerja dengan membuat bentuk aljabar sebagai kaidah untuk pola dari permasalahan tersebut yang representatif.

Proses penerapan ini dilanjutkan dengan informasi yang melibatkan variabel-variabel. Subjek diharapkan untuk dapat mengenali serta menangkap maksud dari penggunaan variabel-variabel tersebut dengan bentuk operasi yang tepat dalam membuat sebuah persamaan linier, persamaan yang dimaksud masih berkaitan dengan internalisasi siswa dalam menyelesaikan pertanyaan sebelumnya. Dalam proses penyusunan/membuat persamaan linier melibatkan variabel-variabel dan ini subjek NAD dan subjek NA tidak dapat melakukannya dengan benar, hal ini diperlihatkan pada lembaran pekerjaan subjek dengan langkah/prosedur yang tidak terkosep. Dapat dikatakan bahwa pada langkah ini subjek NAD dan subjek NA sekedar menjawab dengan alasan yang bersifat subjektif. Ini menunjukkan bahwa subjek NAD dan subjek NA tidak memahami

commit to user

dengan baik tentang persamaan linier. Dan tidak mampu bekerja jika informasi yang ada berupa variabel-variabel.

Terakhir dari prose penerapan adalah adanya data atau informasi yang melibatkan variabel-variabel/simbol-simbol dengan situasi sedikit berbeda dari sebelumnya, ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana internalisasi siswa dalam menganalisis berdasarkan data dan informasi sebelumnya dan dikaitkan dengan situasi baru sehingga dapat menyusun atau membuat sebuah solusi baru untuk situasi baru tersebut. Pada proses yang terakhir ini internalisasi subjek NAD subjek NA diperlihatkan dengan memformalisasikan ide-ide berdasarkan pada data dan informasi dengan menggunakan simbol aljabar namun masih keliru/salah yang ditunjukkan pada lembaran kerja dengan membuat sebuah model aljabar (persamaan linier) yang tidak representatif. Proses membuat bentuk aljabar (persamaan linier) masih bersifa subjektif dan belum mampu menjelasakan alasan dibuat persamaan tersebut. Subjek belum dapat mengaitkan informasi untuk menentukan sebuah persamaan yang representatif untu situasi ini.

Dari tiga proses tersebut di atas dapat dikatakan bahwa subjek NAD subjek NA dalam menyelesaiak masalah aljabar yang berkaitan dengan uni pola linier dan konsep fungsi dalam pokok persamaan linier melakukan aktifitas berikut, mengenal struktur/bentuk data atau pola dari informasi, menerapkan untuk satu kasus, memperluas untuk beberapa kasus melibatkan bilangan-bilangan yang diketahui, ini dapat dilakukan dengan pemikiran aljabar yang benar, namun ketika informasi berupa variabel-variabel, kedua subjek tidak mampu melakukannya dengan baik, tidak mampu membuat bentuk aljabar (persamaan linier), kedua subjek belum mampu membuat persamaan linier yang melibatkan variabel dengan variabel, belum mampu membuat solusi baru untuk situasi baru berdasarkan data atau informasi yang ada pada situasi baru tersebut dengan benar.

Berdasarkan uraian di atas dapa dikatakan bahwa subjek NAD dan subjek NA dalam menyelesaikan masalah aljabar internalisasinya atau respons berpikirnya belum sejalan dengan berpikir aljabar yang dikatakan oleh Van De Walle (2008: 1) bahwa berpikir aljabar salah satunya melakukan generalisasi dari pengalaman dan bilangan dan perhitungan,memformalisasikan ide-ide dengan

commit to user

penggunaan simbol yang berguna, dan mengeksplorasi konsep-konsep dari pola dan fungsi, dan juga belum sejalan dengan karakteristik yang dimaksudkan oleh Kaput.

Kaitan dengan respons berdasarkan Taksonomi SOLO, maka dari hasil atau respon subjek NAD dan subjek NA terhadap dua permasalahan yang diangkat meliputi pola linier dan konsep fungsi. Subjek NAD dan subjek NA dapat memperlihatkan karakteristik masing-masing dalam merespons kedua permasalahan tersebut, hal ini ditunjukkan dalam lembaran kerja dan dipertegas dengan klarifikasinya. Karakteristik masing-masing ini kemudian dibandingkan atau diuji dengan karakteristik dari masing-masing tingkatan respons sebagaimana yang dikembangkan oleh Lim & Idris. Hasil pengujian menunjukkan bahwa karakteristik yang ditujukkan oleh subjek NAD memenuhi indikator atau memenuhi karakteristik dua tingkat respons yaitu unistruktural dan multistruktural yang dimaksud. Sedangkan hasil pengujian untuk subjek NA menunjukkan bahwa karakteristik yang ditunjukan subjek NA memenuhi tingkatan respons

Kaitan dengan respons berdasarkan Taksonomi SOLO, maka dari hasil atau respon subjek NAD dan subjek NA terhadap dua permasalahan yang diangkat meliputi pola linier dan konsep fungsi. Subjek NAD dan subjek NA dapat memperlihatkan karakteristik masing-masing dalam merespons kedua permasalahan tersebut, hal ini ditunjukkan dalam lembaran kerja dan dipertegas dengan klarifikasinya. Karakteristik masing-masing ini kemudian dibandingkan atau diuji dengan karakteristik dari masing-masing tingkatan respons sebagaimana yang dikembangkan oleh Lim & Idris. Hasil pengujian menunjukkan bahwa karakteristik yang ditujukkan oleh subjek NAD memenuhi indikator atau memenuhi karakteristik dua tingkat respons yaitu unistruktural dan multistruktural yang dimaksud. Sedangkan hasil pengujian untuk subjek NA menunjukkan bahwa karakteristik yang ditunjukan subjek NA memenuhi tingkatan respons

Dokumen terkait