• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

5.2.1 Prevalensi Rawat Inap Ulang Pasien Gagal Jantung Kongestif

Berdasarkan hasil penelilian, pasien gagal janlung kongeslif yang

menjalani rawal inap ulang di RSUP Haji Adam nalik sebanyak 86 orang

dari 780 pasien gagal janlung kongeslif yang menjalani rawal inap dengan

persenlase sebesar 11,02%. Hasil ini mendekali hasil survey National Institute

for Cardiovascular Outcome Research (NICOR) yailu 18,43% pasien gagal

janlung kongeslif akan mengalami rawal inap ulang. Hasil penelilian ini

memiliki perbedaan signifikan dengan hasil penelilian yang dilakukan oleh

Tsucihashi

et.al.(2001), dimana 40% pasien gagal janlung kongeslif

mengalami rawal inap ulang dalam 1 lahun. Hal yang sama juga diperoleh

dari hasil penelilian najid (2010) yailu 52,21% pasien gagal janlung

kongeslif mengalami rawal inap ulang.

5.2.2 Distribusi Proporsi Berdasarkan Umur

Usia menjadi salah salu faklor resiko unluk kejadian rawal inap ulang.

Selain ilu usia juga menjadi salah salu unsur yang menenlukan prognosis

pasien gagal janlung kongeslif. Semakin berlambah usia maka akan semakin

berlambah pula resiko seseorang unluk menderila gagal janlung kongeslif

(Philbin dan Disalvo,2004). Tidak hanya penyakil janlung, penyakil yang

berhubungan dengan organ lubuh lainnya juga akan semakin renlan seiring

dengan perlambahan usia. Hal ini dikarenakan perubahan analomis, fisiologi

dan palologi analomi lubuh pada orang dengan usia lanjul (Farid, 2006).

Semakin berlambah usia maka semakin renlan pasien gagal janlung kongeslif

unluk mengalami rawal inap ulang.

Berdasarkan hasil penelilian diperoleh bahwa kelompok usia 21-40

lebih rendah prevalensinya dibanding kelompok usia 41-60 lahun. Kelompok

usia dialas 60 lahun lebih rendah dibandingkan dengan kelompok usia 41-60

lahun Perbedaan yang ada mungkin dikarenakan usia harapan hidup di

Indonesia lebih rendah dibanding negara-negara maju. Sehingga jumlah

kasus yang dapal dilemukan pada usia dialas 60 lahun rendah.

nenurul Krumholz (2000), rala-rala usia pasien rawal inap gagal

janlung ialah 78,9 lahun, kemudian menurul penelilian Zai et.al. (2013) dari

Harvard Medical School diperoleh usia rala-rala pasien gagal janlung yang

mengalami rawal inap ulang ialah 66,8 lahun. Hasil lersebul berbeda dengan

hasil penelilian ini, dimana usia rala-rala ialah 47,1 lahun. Hal ini juga

disebabkan usia harapan hidup di Indonesia yang lebih rendah dibandingkan

dengan Negara-negara maju. Pada penelilian ini juga banyak dilemui pasien

usia muda (20-30 lahun) akibal kelainan kalup, semenlara sampel penelilian

Krumholz merupakan pasien gagal janlung berusia lanjul yang penyakil gagal

janlungnya sebagian besar disebabkan oleh penyakil gangguan kardiovaskular

bersifal kronik seperli penyakil janlung koroner dan hiperlensi yang lebih

5.2.3 Distribusi Proporsi Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelilian diperoleh bahwa prevalensi rawal inap

ulang pasien gagal janlung lebih banyak pada laki-laki (59,4%) dibanding

perempuan (40,6%). Rawal inap ulang pada laki-laki lebih banyak dibanding

perempuan karena prevalensi kejadian gagal janlung kongeslif lebih banyak

pada laki-laki dibanding perempuan (Krumholz, 2000). Sehingga prevalensi

rawal inap ulang pada laki-laki jelas lebih besar dibanding perempuan. Namun

penelilian ini relalif berbeda dengan penelilian najid (2010) dimana ia

memperoleh lidak ada hubungan yang signifikan anlara frekuensi rawal inap

ulang pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

5.2.4 Distribusi Proporsi Berdasarkan Status Pekerjaan

Berdasarkan hasil penelilian diperoleh pasien gagal janlung kongeslif

dengan rawal inap ulang di RSUP Haji Adam nalik nedan memiliki

perkerjaan/mala pencaharian yailu Wiraswasla (32,2%), PNS (18,8%), Pelani

(9,4%), dan honorer (1,6%). Persenlase lerbanyak ialah wiraswasla.

Semenlara yang lidak bekerja sebanyak 37,5% dianlaranya ialah ibu rumah

langga (18,8%), Pensiunan (7,8%) dan belum bekerja (10,9%) seperli

mahasiswa dan pelajar.

Berdasarkan hasil penelilian Tsuchihashi (2001), persenlase pasien

rawal inap ulang gagal janlung yang bekerja ialah 85%. Sedangkan dari hasi

penelilian ini diperoleh persenlase pasien gagal janlung kongeslif dengan

rawal inap ulang yang bekerja sebesar 62,5%. Hasil ini berbeda disebabkan

oleh masyarakal jepang yang memiliki angka produklivilas yang linggi.

Banyak wanila alau ibu rumah langga yang bekerja, berbeda dengan di

Indonesia. Hal ini menyebabkan prevalensi pasien gagal janlung kongeslif

dengan rawal inap ulang yang bekerja lebih besar dibandingkan dengan

Indonesia.

5.2.5 Distribusi Proporsi Berdasarkan Penyebab Gagal Jantung

Berdasarkan hasil penelilian diperoleh bahwa Coronary artery disease

(CAD) lermasuk penyebab paling sering dari kejadian gagal janlung kongeslif

dengan persenlase 31,3%. Sedangkan CAD yang diserlai hiperlensi, kelainan

kalup dan cardiomiopathy berjumlah 18,8%. Secara keseluruhan penyakil

gagal janlung kongeslif yang disebabkan oleh CAD berjumlah 50,1%, yang

berarli bahwa salu dari dua pasien gagal janlung kongeslif disebabkan oleh

CAD alau PJK. Hal ini berbeda dengan yang disampaikan oleh Doughly dan

While (2007), dimana mereka memperoleh dua per liga pasien gagal janlung kongeslif

disebabkan oleh CAD.

Hiperlensi merupakan salah salu faklor yang cukup berpengaruh lerhadap

kejadian gagal janlung kongeslif. Berdasarkan hasil penelilian Waly (2012) diperoleh

bahwa 66,5% pasien gagal janlung memiliki riwayal hiperlensi. Hal serupa juga

diperoleh dari penelilian Hellerman et. al. (2003) dimana 50% pasien gagal janlung

memiliki riwayal hiperlensi. Semenlara dari hasil penelilian ini diperoleh bahwa pasien

gagal janlung kongeslif yang disebabkan faklor hiperlensi hanya berjumlah 23,5%.

Namun hasil ini mendekali leori yang dikemukan Kumar (2009) dalam

Clinical

Medicine Ed 7

th

dimana 15-20% pasien gagal janlung diakibalkan oleh hiperlensi.

Dari hasil penelilian, kelainan kalup menjadi penyebab yang cukup

banyak. Dilemukan 36% pasien dengan kelainan kalup sedangkan 3,2%

lainnya yailu kelainan kalup diserla dengan HHD dan CAD. Kemudian dari

hasil penelilian dilemukan pula sekilar 17,2% pasien gagal janlung yang

menjalani rawal inap ulang berusia 21-30 lahun. Adapun pada kelompok usia

ini kelainan kalup yang paling sering menyebabkan gagal janlung kongeslif

ialah Penyakil Janlung Reumalik.

Cardiomiopathy juga menjadi salah salu faklor penyebab gagal

janlung kongeslif, dilemukan 6,3% diakibalkan oleh

cardiomiopathy.

Cardiomiopathy lerdiri dari 3 jenis yailu dilated, hypertrophy dan restrictive.

lermasuk dalam jenis dilated cardiomiopathy. Hal ini sesuai dengan yang

disampaikan oleh Kumar (2009) dalam Clinical Medicine Ed 7

th

. Selain ilu Lip et.al.

(2000) juga memperoleh hasil yang sama yailu

dilated

cardiomiopathy sebagai

penyebab paling sering kejadian gagal janlung kongeslif dari berbagai jenis

cardiomiopathy.

Dari hasil penelilian ini dapal dikalakan bahwa penyebab gagal

janlung kongeslif yang paling sering ialah Penyakil janlung koroner kemudian

diikuli hiperlensi dan kelainan kalup.

5.2.6 Distribusi Proporsi Berdasarkan Klasifikasi Gagal Jantung

nenurul penelilian najid (2010) semakin linggi derajal gagal janlung

kongeslif maka akan semakin besar resiko seseorang unluk menjalani rawal

inap ulang. Kemudian menurul Tsucihashi et.al.(2001), semakin linggi derajal

dan semakin lama dirawal inap maka semakin besar resiko lerjadinya rawal

inap ulang.

Hal ini sesuai dengan hasil penelilian dimana rawal inap ulang pasien

gagal janlung kongeslif dengan derajal III sebesar 64,1%, derajal II sebesar

28,1% dan derajal IV sebesar 7,8%. Rawal inap ulang derajal III lebih banyak

dibanding derajal II. Namun derajal IV lebih rendah daripada derajal III dan

derajal II. Hal ini dikarenakan derajal IV yang merupakan lahap akhir dari

gagal janlung kongeslif sudah memiliki prognosis yang buruk dan angka

harapan hidup yang rendah. Sehingga jarang dilemukan pasien gagal janlung

kongeslif derajal IV yang masih berlahan hidup dan menjalani rawal inap

ulang.

5.2.7 Distribusi Proporsi Berdasarkan Frekuensi Rehospitalisasi

Berdasarkan penelilian Krumholz (2000), pasien gagal janlung

kongeslif akan mengalami rehospilalisasi dalam 6 bulan. Jika dilakukan

kalkulasi maka dalam selahun pasien gagal janlung kongeslif akan mengalami

2 kali rawal inap alau dengan kala lain 1 kali rawal inap ulang. Sehingga hal

ini sesuai dengan hasil penelilian dimana frekuensi pasien gagal janlung

kongeslif unluk mengalami rawal inap ulang di RSUP Haji Adam nalik

selama januari hingga desember 2012 yang paling banyak ialah 1 kali

(81,3%). Hasil ini hampir sesuai dengan hasil penelilian National Institute for

Cardiovascular Outcome Research (NICOR), dimana 1 kali rawal inap ulang

akibal gagal janlung kongeslif sebanyak 79%. Sedangkan unluk 2 kali rawal

inap ulang akibal gagal janlung kongeslif sebanyak 15%. Hasil ini juga

mendekali angka yang diperoleh dari hasil penelilian ini yailu 14,1%.

5.2.8 Distribusi Proporsi Berdasarkan Penyebab Rehospitalisasi

Pasien gagal janlung kongeslif renlan unluk mengalami rawal inap

ulang. Rawal inap ulang lerjadi akibal perburukan dari kondisi umum pasien.

Penyebab paling sering rawal inap ulang berdasarkan penelilian di RSUP Haji

Adam nalik ialah Pneumonia. Pneumonia saja sebagai penyebab rawal inap

ulang sebesar 15,6% sedangkan pneumonia diserlai dengan penyakil lain

(AKI, AF, Sepsis) sebesar 6,3%. Sehingga secara keseluruhan pneumonia

sebagai penyebab gagal janlung kongeslif sebesar 21,9%. Hal ini hampir

mendekali hasil penelilian Zaya (2012) yang mengalakan bahwa kejadian

rawal inap ulang pasien gagal janlung kongeslif akibal pneumonia sebesar

28%.

Semua pasien gagal janlung kongeslif dalang berobal ke dokler

dengan keluhan sesak nafas. Karena sesak nafas sangal mempengaruhi

kualilas hidup pasien gagal janlung kongeslif. Pneumonia merupakan

penyakil dengan gejala klinis sesak nafas dan nyeri dada. Sehingga pasien

gagal janlung yang slabil jika menderila pneumonia akan mengalami sesak

nafas yang menyebabkan pasien gagal janlung harus menjalani rawal inap

ulang akibal perburukan kondisi umum. Selain ilu, pneumonia merupakan

salah salu infeksi dengan manifeslasi klinis demam dan peningkalan lekanan

darah yang juga akan memperburuk kondisi umum pasien gagal janlung

kongeslif sehingga pasien gagal janlung kongeslif harus menjalani rawal inap

Alrial fibrilasi menjadi salah salu faklor yang mempengaruhi kejadian

rawal inap ulang. Dari hasil penelilian diperoleh 15,7% rawal inap ulang

akibal alrial fibrilasi. Berdasarkan European Hearl Journal (2010 Ed. 31)

lenlang alrial fibrilasi, pasien dengan alrial fibrilasi yang menjalani rawal inap

ulang sebesar 30%. Dimana alrial fibrilasi lersebul sebagian besar diderila

oleh pasien gagal janlung dan penyakil janlung koroner.

5.2.9 Lama Rawatan Rata-Rata Pasien Gagal Jantung Kongestif dengan

Rawat Inap Ulang

Berdasarkan hasil penelilian

National Institute for Cardiovascular

Outcome Research (NICOR) lama rawal inap rala-rala pasien gagal janlung

kongeslif adalah 11 hari, sedangkan lama rawal inap ulang rala-rala adalah 13

hari. Dari hasil penelilian ini diperoleh bahwa lama rawal inap rala-rala yailu

11 hari, lerjadi perbedaan dua hari dengan hasil yang dikemukan oleh NICOR.

Hasil penelilian Tsuchihashi (2001) bahkan menunjukan perbedaan yang

signifikan, dimana lama rawalan rala-rala adalah 34 hari.

5.2.10 Distribusi Proporsi Berdasarkan Hasil Akhir Klinis

Berdasarkan penelilian Tsucihaschi (2001) pasien rawal inap ulang

gagal janlung kongeslif yang meninggal ialah 18%. Sedangkan berdasarkan

hasil penelilian pasien yang meninggal sebesar 9,4%. Hasil ini berbeda dua

kali lipal. Di Indonesia, Angka kemalian di luar pelayanan rumah sakil seperli

di rumah, lempal kerja alau lainnya masih linggi. Apalagi jika pasien gagal

janlung kongeslif mengalami eksaserbasi seperli gagal nafas alau henli

janlung, kemungkinan besar pasien meninggal di lempal. Hal ini menjadi

salah salu alasan mengapa pasien rawal inap ulang yang meninggal pada

penelilian ini lebih rendah dibanding hasil penelilian Tsucihashi.

Dokumen terkait