• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi kerja karyawan ditinjau dari usia

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh negatif kecerdasan emosional terhadap prestasi kerja karyawan ditinjau dari usia. Hal ini didukung hasil pengujian statistik yang menunjukkan bahwa nilai probabilitas (?=0,017) lebih kecil dari nilai alpha (a=0,05). Artinya semakin rendah usia karyawan, maka semakin kuat pengaruh kecerdasan emosional terhadap

prestasi kerja karyawan, dan sebaliknya jika semakin tinggi usia (menua), maka semakin lemah pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi kerja karyawan

Usia kronologik itu sendiri tidak terlalu berarti sebagai indikator dimulainya kedewasaan, usia pertengahan, atau usia lanjut. Namun perlu diakui bahwa usia kronologik itu sendiri mungkin merupakan satu indeks untuk mengukur perubahan waktu dan untuk melihat kemajuan dan perubahan sepanjang hidup manusia. Dengan demikian usia adalah salah satu indeks yang paling mudah digunakan untuk melihat perubahan dan perkembangan sepanjang hidup manusia. Seseorang yang meningkat dewasa mau tidak mau akan bertambah usianya, dan pertambahan usia akan membawa berbagai perubahan.

Kategori karyawan ya ng berusia rendah berkisar pada masa dewasa dini (19-40 tahun) hingga masa dewasa madya dini (40-49 tahun). Karyawan yang berusia tinggi berkisar pada masa dewasa madya lanjut (50-59 tahun) hingga masa dewasa lanjut (60 tahun keatas). Masa usia rendah merupakan masa untuk berprestasi, masa dimana seseorang memiliki kemauan yang kuat untuk berhasil dan mereka akan mencapai puncaknya pada usia ini. Sedangkan pada masa selanjutnya yaitu dari masa dewasa madya lanjut hingga masa dewasa lanjut, mulai terjadi penurunan kemampuan fisik dan psikologik pada seseorang secara berlahan dan bertahap. Perubahan yang bersifat fisik dan psikologis cenderung mengarah ke penyesuaian diri yang

kurang baik (Siti Partini, 1995:152). Dengan demikian semakin rendah usia seseorang, maka akan semakin menguatkan pengaruh kecerdasan emosional dengan prestasi kerja karyawan.

Deskripsi usia karyawan menunjukkan bahwa karyawan sebagian besar termasuk dalam kategori usia dewasa dini (101 orang/ 45,7%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia karyawan perusahaan termasuk dalam kategori usia dewasa dini. Karyawan yang berusia demikian memiliki kemampuan memecahkan masalah- masalah dengan cukup baik sehingga menjadi stabil dan tenang secara emosional dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Di perusahaan terutama bagian produksi kebanyakan yang bekerja adalah mereka yang berusia produktif (usia muda). Dengan memiliki tenaga fisik yang besar, para karyawan mampu menghasilkan produk sesuai target atau bahkan lebih. Usia karyawan yang menunjukkan kondisi demikian secara logis akan meningkatkan derajat pengaruh kecerdasan emosional dengan prestasi kerja karyawan

2. Pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi kerja karyawan ditinjau dari tingkat pendidikan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh negatif kecerdasan emosional terhadap prestasi kerja karyawan ditinjau dari tingkat pendidikan. Hal ini didukung hasil pengujian statistik yang menunjukkan bahwa nilai probabilitas (?=0,013) lebih kecil dari nilai alpha (a=0,05). Artinya semakin

rendah tingkat pendidikan karyawan, maka semakin kuat pengaruh kecerdasan emosional dengan prestasi kerja karyawan, sebaliknya jika semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin lemah pengaruh kecerdasan emosional dengan prestasi kerja karyawan.

Deskripsi tingkat pendidikan karyawan menunjukkan bahwa karyawan sebagian besar termasuk dalam kategori pendidikan menengah (110 orang/ 49,8%). Hasil penelitian tingkat pendidikan karyawan perusahaan termasuk dalam kategori pendidikan menengah terjadi karena karyawan pendidikan menengah memiliki kemampuan yang cukup untuk menjalin relasi/beradaptasi dengan sesama rekan kerja, lingkungan kerja, dan lingkungan sosial masyarakat. Di bagian produksi khususnya pelaksana produksi pada PT Industri Sandang Nusantara (PERSERO) unit Cilacap kurang mengutamakan kemampuan intelektual (pengetahuan) tetapi lebih pada kemampuan fisik. Karyawan pelaksana produksi memiliki pekerjaan mengolah bahan baku menjadi barang jadi dimana pekerjaan ini membutuhkan tenaga yang tidak harus diperoleh dari jenjang pendidikan yang tinggi. Karyawan semakin mampu menjalankan pekerjaannya seiring dengan kemampuan belajar yang tercipta dengan sendirinya, karyawan dapat melihat maupun bertanya kepada karyawan yang sudah terlebih dahulu bekerja pada perusahaan. Maka dengan demikian karyawan dapat bersosialisasi dengan teman sekerjanya dan ini akan menumbuhkan kinerja anggota tim yang lain

yang ada dalam satu shift dan karyawan tersebut mampu berprestasi dengan baik (menghasilkan order produksi sesuai rencana, tepat waktu, dll).

Hasil penelitian tidak sejalan dengan pandangan mengenai penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia yang menyatakan bahwa seseorang dengan berpendidikan lebih tinggi memiliki kemampuan akademik dan atau professional dapat menerapkan, mengembangkan, dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, serta teknologi (Sagir, H. Soeharsono, 1989:27) memiliki tanggung jawab terhadap tugas yang diserahkan kepadanya, memiliki kematangan emosional, memiliki kepekaan dalam bersosialisasi dengan orang lain. Sehingga dengan demikian, karyawan yang berpendidikan tinggi akan bekerja lebih professional untuk mencapai prestasi. 3. Pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi kerja karyawan ditinjau dari

pengalaman kerja

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh negatif kecerdasan emosional terhadap prestasi kerja karyawan ditinjau dari pengalaman kerja. Hal ini didukung hasil pengujian statistik yang menunjukkan bahwa nilai probabilitas (?=0,007) lebih kecil dari nilai alpha (a=0,05). Artinya semakin rendah pengalaman kerja karyawan, maka semakin kuat pengaruh kecerdasan emosional dengan prestasi kerja karyawan, sebaliknya jika semakin tinggi pengalaman kerja, maka semakin lemah pengaruh kecerdasan emosional dengan prestasi kerja karyawan

Kesanggupan untuk dapat menyelesaikan sesuatu tugas tertentu dengan berhasil tidak saja ditentukan oleh pengalaman, akan tetapi banyak dipengaruhi oleh inteligensia seseorang. Karyawan dengan kecenderungan berpengalaman sedikit (kurang dari 10 tahun) memiliki peluang prestasi kerja yang tinggi dan dianggap memiliki tingkat disiplin yang baik, pengendalian diri yang baik, mengusahakan terciptanya kerjasama antar tim. Ini dikarenakan karyawan tersebut sedang menempuh proses belajar dan berkembang dalam bekerja. Proses berkembangnya karyawan dalam bekerja dapat tercipta melalui proses belajar sambil jalan (learning by doing). Kemampuan belajar seseorang ini merupakan dampak dari inteligens ia. Orang yang mempunyai inteligensia yang baik adalah orang yang cerdas. Maka dengan adanya pengalaman yang sedikit dapat menjadi pemicu atau motivator karyawan untuk berprestasi.

Deskripsi tingkat pendidikan karyawan menunjukkan bahwa karyawan sebagian besar termasuk dalam kategori memiliki pengalaman sangat banyak (112 orang/ 50,7%). Hasil penelitian pengalaman kerja karyawan perusahaan termasuk dalam kategori sangat banyak terjadi karena bagi karyawan yang telah berpengalaman kerja sangat banyak, nilai- nilai yang mendasari tindakan mereka adalah untuk dapat terus bekerja (tidak menganggur) dan mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari supaya tetap terus bertahan hidup saja.

Hasil penelitian tidak sejalan dengan pandangan yang menyatakan bahwa orang yang berpengalaman selalu akan lebih pandai dari mereka yang sama sekali tidak mempunyai pengalaman atau sedikit pengalamannya (Manullang M dan Marihot Manullang, 2001:102).

BAB VI

Dokumen terkait