ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru-guru terhadap kepemimpinan transformasional kepala sekolah, tingkat efikasi guru-guru di SMP Negeri 1 Tempel, SMP Negeri 2 Tempel, SMP Negeri 3 Tempel, SMP Negeri 4 Tempel dan SMP Muhamadiyah 1 Tempel, dan kontribusi kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap efikasi kolektif guru. 1. Persepsi guru-guru terhadap kepemimpinan transformasional kepala sekolah
dan tingkat efikasi guru.
Untuk rumusan pertanyaan nomor 1 mengenai persepsi guru-guru terhadap kepemimpinan transformasional kepala sekolah dapat dikatakan transformatif
karena dari kedelapan dimensi kepemimpinan transformasional bersifat transformatif semua. Dimensi dari kepemimpinan transformasional yang memiliki nilai tertinggi yang bersifat transformatif adalah dimensi kedua yaitu membangun konsensus sekolah sebesar 85. Hal ini dapat diartikan bahwa kepala sekolah yang berupaya mendorong supaya para guru dan staf dapat bersatu dan bekerjasama serta membantu mereka dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan.
Selain dimensi kedua yang menurut persepsi guru mampu memberikan pengaruh yang sangat baik bagi mereka, terdapat dimensi kedelapan yaitu menciptakan struktur kolaboratif yang menduduki urutan kedua dengan jumlah sebesar 78,75. Hal ini dapat diartikan bahwa bagi guru perilaku kepala sekolah dimana dia memberikan kesempatan kepada para guru dan staf untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan yang terkait diri mereka mampu membuat guru merasa bahwa diri mereka sangat dibutuhkan dalam pengambilan sebuah keputusan untuk kebaikan bersama.
Selain dimensi kedelapan, masih terdapat dimensi yang menurut persepsi guru bersifat transformatif adalah dimensi ketiga yaitu ekspektasi kinerja tinggi sebesar 76,25. Hal ini dapat diartikan bahwa kepala sekolah yang menunjukkan ekspektasi yang tinggi terhadap guru dan karyawan mampu membuat guru bekerja secara inovatif, pekerja keras serta profesional.
Dimensi berikutnya yang bersifat transformatif adalah dimensi pertama atau visi bersama sebesar 73,75. Hal ini dapat diartikan bahwa kepala sekolah berupaya untuk mengembangkan dan menyalurkan visi kepada guru maupun
karyawan serta mampu membuat mereka memahami dan terinspirasi untuk melakukan visi tersebut.
Dimensi berikutnya yang bersifat transformatif adalah dimensi keenam yaitu dimensi membangun stimulasi intelektual sekolah sebesar 67,5. Hal ini dapat diartikan bahwa perilaku kepala sekolah mendorong staf dan guru untuk mencoba sesuatu yang baru serta mengajak guru dan staf untuk memikirkan dan mempertimbangkan kembali asumsi-asumsi mengenai pekerjaa mereka dan apa yang dilakukan supaya asumsi itu bisa diwujudkan.
Dimensi berikutnya menurut persepsi guru transformatif adalah dimensi kelima yaitu dukungan sosial sebesar 60. Hal ini dapat diartikan bahwa perilaku kepala sekolah mau mendengarkan ide dari para guru, memahami betul kemampuan dan ketertarikan mereka serta mencari tahu pemahaman para guru terhadap suatu masalah serta memberikan pujian atas kerja keras yang baik.
Dimensi berikutnya menurut persepsi guru transformatif adalah dimensi ketujuh yaitu membangun kultur sekolah dengan jumlah sebesar 53,75. Hal ini dapat dikatakan bahwa bagi para guru perilaku kepala sekolah untuk membangun nilai, keyakinan dan norma sekolah, serta menciptakan suasana saling percaya dan perhatian satu dengan yang lain sangat penting dalam membina kerjasama antara kepala sekolah dengan guru untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai bersama.
Selanjutnya yang terahkir adalah di menjadi model jadi kepala sekolah harus memberikan contoh yang baik supaya perilaku dan tindakannya bisa menjadi contoh baik bagi para guru, karyawan dan siswa
Hal ini bisa terjadi karena kepala sekolah mampu menerapkan jenis kepemimpinan yang mampu membuat para guru percaya, termotivasi dan mau mengikuti apa yang dikatakan oleh kepala sekolah. Menurut Leithwood, keberhasilan seorang kepala sekolah dalam menerapkan kepemimpinan transformasional adalah dengan menerapkan kedelapan dimensi diatas. Menurut hasil diatas dimana kedelapan dimensi bersifat transformatif, maka dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah telah berhasil dalam menerapkan kepemimpinan transformasional. Sedangkan dimensi dimana menurut persepsi guru paling berpengaruh adalah dimensi kedua yaitu membangun konsensus sekolah sebesar 85 mengapa dimensi membangun konsensus sekolah paling tinggi karena dari seorang kepala sekolah yang mendorong agar para guru dan staf dapat bersatu dan bekerja sama serta membantu mereka dalam bekerjasama untuk mencapai tujuan. Jadi dorongan dan dukungan dari kepala sekolah sangat dibutuhkan oleh guru-guru. Dan nilai terendah adalah menjadi model artinya perilaku atau tindakan kepala sekolah dimana tindakannya bisa menjadi contoh bagi guru-guru dan karyawan. Jika tindakan kepala sekolah tidak baik atau tidak memberikan panutan yang baik kepada bawahan maka bisa mengakibatkan kinerja guru-guru dan karyawan kurang baik juga.
Untuk menjawab pertanyaan kedua menunjukkan bahwa tingkat efikasi kolektif masuk dalam kategori sangat tinggi sebesar 21,25%. Sedangkan
tingkat efikasi guru tinggi sebesar 76,25% dan cukup tinggi sebesar 2,5%. Hal ini dapat terjadi karena tingkat efikasi atau kepercayaan guru terhadap sesama rekan kerja sangat bagus. Mereka saling percaya dan bergantung satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bersama. Dalam usaha yang melibatkan sistem saling ketergantungan, anggota atau para guru saling bekerjasama untuk meraih tujuan kelompok atau mendapatkan hasil. Dalam penelitian ini, efikasi kolektif guru pada lima SMP di Kecamatan Tempel sudah termasuk baik.
Untuk menjawab rumusan masalah yang ketiga maka dapat dilihat pada tabel 5.16.
Tabel 5.16 Hasil Uji Hipotesis
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 62.900 6.233 10.092 .000 KT .094 .032 .311 2.895 .005
Sumber: Data primer, diolah 2015
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa terdapat kontribusi kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap efikasi kolektif guru sebesar 0,311 dengan signifikansi sebesar 0,005 < α, artinya bahwa erdapat kontribusi positif antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap efikasi kolektif guru. Kontribusi kepemimpinan transformasional kepala sekolah nilainya cukup kecil. Hal ini terjadi karena masih banyak variabel yang mempengaruhi efikasi kolektif guru selain kepemimpinan transformasional yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
90