• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

5.2.1. Efek Proliferasi Limfosit Pada Non-Hodgkin Limfoma Terhadap Kadar Hemoglobin

Pada penelitiaan ini didapatkan data yang diperoleh dari rekam medis didapatkan bahwa penyakit non hodgkin limfoma lebih banyak terdapat pada usia dewasa yaitu pada usia 43 – 56 tahun. Hal ini sesuai dengan penelitiaan yang dilakukan oleh Kagoya et al (2010) pada 149 sampel didapatkan usia pasien non hodgkin dengan frekuensi terbanyak ialah 36 - 40 tahun. Walaupun etiologinya belum diketahui secara pasti, resiko mendapatkan keganasan non hodgkin limfoma akan meningkat seiring bertambahnya usia (krisfisu,2010)

Anemia pada non hodgkin limfoma disebabkan karena defisiensi nutrisi oleh karena anoreksia. Penyebab anoreksia pada pasien kanker sampai sekarang belum diketahui secara jelas. Produk metabolit kanker juga dapat menyebabkan perubahan rasa pengecapan yang akan memicu anoreksia. Selain itu stress psikologik juga dapat memicu anemia. Anemia pada kanker sering juga disebut sebagai anemia akibat penyakit kronik yang derajat dari anemianya diukur berdasarkan kadar hemoglobin (Hb). ( Reksodiputro, 2009)

Dari hasil penelitian yang didapatkan, sebanyak 40 dari 49 sampel (81,6%) mengalami anemia. Dari hasil ini jelas bahwa prevalensi kejadian anemia sangat tinggi pada pasien dengan non hodgkin limfoma. Hasil penelitian diatas sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Qurrota (2010) yaitu dari 113 pasien Non Hodgkin Limfoma 83 pasien diantaranya mengalami anemia ( 73,45 %). Dalam penelitian Qurrota menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada Non Hodgkin limfoma adalah tinggi. Penelitian sebelumnya juga dilakukan oleh Bukhoeri (2010) yaitu dari 60 orang pasien Non Hodgkin Limfoma, 52 orang menderita anemia ( 86,6 %). Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh bukhoeri juga didapatkan prevalensi anemia yang tinggi.

Patofisiologi anemia pada non hodgkin limfoma dimulai dari interaksi antara sel tumor dengan sistem imun penjamu yang mendorong pengaturan

inflamasi sitokin spesifik seperti interleukin – 1 (IL-1), interferon gamma (IFN-ɣ) dan faktor nekrosis tumor (TNF-α). Peningkatan kadar sitokin ini akan menekan progenitor erythroid burst – forming unit erythroid (BFU-E) dan colony- forming

unit erythroid (CFU-E) di sumsum tulang. Interaksi ini akan mengganggu

metabolisme besi dan mengurangi produksi eritropoetin (EPO). Non hodgkin limfoma juga merupakan tumor padat yang bermetastasis ke sumsum tulang dan bisa menimbulkan anemia. Metastasis akan merusak sel progenitor dan sel sel sumsum tulang juga dapat menurunkan produksi faktor pertumbuhan. ( Rouli, 2014)

5.2.2. Efek Proliferasi Limfosit Pada Non-Hodgkin Limfoma Terhadap Jumlah Leukosit

Berdasarkan hasil penelitian sebanyak 24 dari 49 sampel mengalami limfositosis. Frekuensi limfositosis termasuk tinggi yaitu sekitar 49%. Leukositosis yang terjadi dikarenakan abnormalitas limfosit yang merupakan sel darah putih yang agranulosit terus mengalami poliferasi tanpa terkontrol, sehingga pada non hodgkin limfoma bisa saja kadar dari leukositnya meningkat , bisa juga normal atau bahkan menurun jika limfomanya sudah bermetastasis sampai ke sumsum tulang. (krisifu,2010)

5.2.3. Efek Prolifersi Limfosit Pada Non-Hodgkin Limfoma Terhadap Jumlah Trombosit

Berdasarkan hasil penelitian juga didapatkan kadar trombosit yang frekuensinya terbanyak menunjukkan hasil yang normal. Dari 49 sampel 37 orang normal (75,5%). Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Hauswirth (2008), sebagian penderita dengan non hodgkin limfoma akan beresiko mengalami autoimun trombositopenia. Menurut Hauswirth proses

kemoterapi. Hal ini sesuai dengan hasil penetian yang dilakukan terhadap 49 sampel yang sudah dipilih berdasarkan kriteria inklusi yaitu data pasien non hodgkin limfoma sebelum di tatalaksana dengan kemoterapi menunjukkan jumlah trombosit yang frekuensi terbanyaknya adalah normal trombosit.

Trombositopenia merupakan kasus yang sering terjadi pada NHL yang disebabkan karena infiltrasi sel limfoma ke sumsum tulang . Pada umumnya infiltrasi sel limfoma ke sumsum tulang akan menyebabkan autoimun trombositopenia. Pada kasus seperti ini akan terjadi penghancuran sel sel platelet akibat proses autoimun. Kurangnya trombosit merupakan faktor resiko terjadinya perdarahan yang akhirnya bisa menyebabkan anemia. ( Kagoya dkk, 2010)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Rata rata umur pasien dengan non hodgkin limfoma ialah 49,5 tahun. Rata rata umur pasien yang berjenis kelamin laki- laki ialah 49,9 . Rata-rata umur pasien yang berjenis kelamin perempuan ialah 48,9.

2. Pasien non hodgkin limfoma yang memiliki frekuensi terbanyak adalah pada jenis kelamin laki laki, yaitu sebanyak 31 orang (63,3 %) , diikuti jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 18 (36,7 %).

3. Pasien non hodgkin limfoma sebelum kemoterapi sebagian besar memiliki kadar hemoglobin yang rendah dan mengalami anemia yaitu sebanyak 40 orang (81,6%). Sebagian lagi normal yaitu sebanyak 9 orang ( 18,4 %). 4. Jumlah leukosit pada pasien non hodgkin limfoma sebelum dikemoterapi

sebagian besar menunjukkan kadar yang tinggi atau limfositosis yaitu sebanyak orang 24 (49%).

5. Jumlah Trombosit pada pasien non hodgkin limfoma sebelum kemoterapi sebagian besar menunjukkan kadar yang normal yaitu sebanyak 37 orang (75,7 %)

mungkin dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berperan dalam penelitian ini. Adapun saran tersebut, yaitu:

1. Perlu dilaksanakan upaya prevensi khususnya bagi setiap pasien dengan non hodgkin limfoma terhadap kejadian anemia yang dapat timbul akibat perkembangaan penyakit dan bila hal ini berlangsung kronik akan dapat memperparah progresifitas penyakit.

2. Untuk peneliti selanjutnya agar dapat meneliti hubungan Non Hodgkin Limfoma dengan Anemia .

3. Untuk peneliti selanjutnya agar dapat meneliti Gambaran Hematologi Penderita Non Hodgkin dengan jumlah sampel yang lebih banyak dan dengan desain penelitian cohort study berbasiskan rancangan penelitian eksperimental sehingga dapat mengontrol faktor faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil yang bias sehingga didapatkan data yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Alshayeb, H. & Wall B.M., 2009. Non Hodgkin’s Lymphoma Associated Membranoproliferative Glomerulonephritis : Rare case of Long Term Remission with Chemotherapy. Department of Internal Medicine USA, 2 : 7201.

American Cancer Society. 2013. Non-Hodgkin Lymphoma. Atlanta: American Cancer society

Bakta, I Made. 2012. Hematologi Klinik Ringkas.Jakarta: EGC.

Bukhoeri, Ahmad. 2010. Perbedaan Kadar Hemoglobin Pasien Mieloma Multipel

Pada Berbagai Stadium. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro,

Semarang.

Hauswirth, Alexander W., dkk., 2008. Autoimmune Thrombocytopenia In Non-Hodgkin’s Storti Foundation, 90 (3) : 447 – 450.

Isbister, James.1999. Hematologi Klinik. Jakarta : Hipokrates.

Kagoya, Yuki, et al. 2010. “A Case of Primary Bone Marrow B-Cell Non Hodgkin’s Lymphoma with Severe Thrombocytopenia.” Department of

Diagnostic Pathology, Kawasaki, Japan, 26 (3): 106 – 108.

Krisifu, Santoso.2004. Diagnostik dan Penatalaksanaan Limfoma Non Hodgkin. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta : 143-146.

Perdana, Olivia Putri.2002. Insiden Penyakit Hodgkin di Lboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Periode Januari 1997-

Desember 2001.Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang.

Reksodiputro, A.Harryanto. dan Cosphiadi Irawan.2009. Limfoma Non-Hodgkin (LNH). In : Sudoyo, Et al. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Jakarta: Interna Publising, 1251-1265.

Sastroasmoro, S. 2008. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: Sagung Seto.

Schrijvers, Dirk. 2011. Management of Anemia in Cancer Patients: Transfusions,

The Oncologist. Avaliable from:

http://theoncologist.alphamedpress.org/content/16.html. [ Accessed 4 May 2014].

Qurrota, Luluk. 2010. Hubungan Derajat Anemia Sebagai Faktor Prediktif Letak

Tumor pada keganasan Non Hodgkin Limfoma. Fakultas Kedokteran

Dokumen terkait