Bab 5 Hasil Penelitian dan Pembahasan
5.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, pembahasan dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian yaitu untuk mengidentifikasi persepsi ibu suku Mandailing tentang perawatan bayi baru lahir.
5.2.1 Persepsi ibu suku Mandailing tentang perawatan bayi baru lahir
Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa persepsi ibu suku Mandailing tentang perawatan bayi baru lahir lebih banyak yang memiliki persepsi cukup yaitu sebanyak 81,7%. Menurut Siagian (1995) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah diri orang yang bersangkutan atau pengetahuan yang dimiliki, sasaran persepsi tersebut, dan faktor situasi. Faktor diri orang yang bersangkutan sendiri atau pengetahuan yang dimiliki yakni apabila seseorang melihat sesuatu dan berusaha memberikan interprestasinya tentang apa yang dilihatnya itu, ia dipengaruhi karakteristik individual dan pengetahuan yang turut berpengaruh seperti sikap, motif, minat, pengalaman dan harapannya. Faktor sasaran persepsi tersebut yakni sasaran berupa orang, benda atau peristiwa. Sifat-sifat sasaran itu biasanya berpengaruh terhadap persepsi orang yang melihatnya. Dan faktor situasi yakni persepsi harus secara konstektual artinya perlu diperhatikan dalam situasi yang mana suatu persepsi itu timbul.
Apabila dilihat dari jawaban responden atas pernyataan kuesioner yang dibuat berdasarkan konsep maternitas terdapat 22 pernyataan tersebut lebih banyak dijawab cukup, yakni pada pernyataan nomor, 1, 2, 6, 7, 8, 9,11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26 dan 27
Asumsi peneliti yang lain, kondisi juga dipengruhi oleh suku yang mayoritas adalah suku Mandailing. Sedangkan pernyataan kuesioner yang dibuat berdasarkan konsep budaya lebih banyak dijawab salah. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan kuesioner yang dipilih yaitu nomor 3, 4, 5, 10 dan 15.
Perawatan bayi baru lahir dimulai sejak bayi lahir. Hari-hari sesudah bayi lahir sangat penting karena menentukan perkembangan selanjutnya. Pada masa ini, organ bayi mengalami penyesuaian dengan kedaan di luar kandungan, ini diperlukan untuk kehidupan selanjutnya (Anik & Nurhayati, 2008).
Pernyataan yang terkait perawatan pada sistem respirasi BBL adalah pernyataan no 2, 3, 16, 23, dan 24. Perawatan pada BBL yang mengalami gangguan bersihan jalan nafas karena adanya sekret dimana mereka menyatakan benar tidak perlu menghisap lendir pada hidung atau saluran nafas BBL karena sekret akan keluar sendiri. Pernyataan diatas adalah salah karena jika terdapat lendir pada saluran nafas dapat menghambat pernafasan bayi dan berbahaya karena bisa menyebabkan kegawatan pernafasan pada bayi dimana bayi mengalami kekurangan oksigen. Jika keadaan ini terjadi dalam jangka waktu relatif lama bayi bisa mengalami asidosis. Apabila keadaan asidosis memburuk dan terjadi penurunan aliran darah ke otak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain. Selanjutnya dapat terjadi depresi pernafasan yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang dan bahkan dapat menyebabkan kematian (Yu dan Monintja, 1997). Oleh karena itu lendir yang ada pada hidung bayi harus dibersihkan.
Meletakkan bara api dalam ruangan bayi tidak tepat karena asap dari bara api bisa dihirup oleh bayi dan berbahaya untuk bayi jika menghirup asap tersebut. Bayi bisa mengalami infeksi pernapasan bahkan bayi bisa mengalami keracunan karena asap bara api yang dihirup (Meutia, 1998) . Dari hasil penelitian ibu
memiliki persepsi yang benar bahwa salah jika meletakkan bara api didalam kamar bayi.
Menurut Persis (1995) ketika menyusui bayi posisi tubuh bayi harus diperhatikan dimana posisi kepala harus lebih tinggi dari tubuh bayi dan jika bayi mengalami cekukan saat pemberian ASI maka pemberian ASI harus dihentikan sementara dan bisa menggosok-gosok bagian belakang tubuh bayi, hal ini dilakukan untuk mencegah aspirasi cairan ke dalam saluran penafasan bayi. Dari hasil penelitian responden memiliki persepsi yang benar bahwa menyusui bayi seharusnya posisi kepala harus lebih tinggi daripada badan bayi dan jika bayi mengalami cekukan pada saat pemberian ASI maka sementara harus dihentikan dan menggosok-gosok bagian belakang tubuh bayi.
Posisi tidur bayi juga sangat penting untuk diperhatikan. Dari hasil penelitian dimana responden memiliki persepsi yang salah mengenai posisi tidur bayi dimana ibu menyatakan bahwa, agar bayi tidur lebih nyenyak dan nyaman maka bayi harus ditidurkan dengan posisi telungkup adalah benar. Padahal sebaiknya posisi telungkup pada saat bayi tidur harus dihindarkan karena faktor risiko utama SIDS adalah posisi tidur bayi yang tengkurap. Beberapa peneliti memiliki dugaan bahwa posisi tengkurap memberikan tekanan pada rahang bayi, sehingga mempersempit jalan napas bayi. Teori lain adalah bahwa dalam posisi tengkurap terdapat risiko bayi menghirup kembali udara yang telah dihembuskannya, terutama jika bayi tidur pada matras yang lembut atau dengan adanya mainan boneka, atau bantal di dekat wajahnya.Benda-benda tersebut dapat
memperangkap udara yang dihembuskan bayi, sehingga kadar karbondioksida terakumulasi dan kadar oksigen menurun (Slevis dkk, 2010).
Pernyataan yang terkait perawatan pada sistem termoregulasi adalah pernyataan no 1, 4, dan 10. Menurut Linda (2007) bayi baru lahir rentan pada kehilangan panas dan terbatas kemampuannya untuk berespon pada stres dingin. Bayi juga mempunyai keterbatasan kemampuan untuk menoleransi panas berlebihan. Untuk mengukur suhu tubuh bayi, orangtua harus menggunakan termometer yang akurat. Jangan menilai panas tubuh bayi hanya dengan meraba menggunakan tangan atau bagian tubuh lainnya karena hasilnya tidak akurat. Ibu memiliki persepsi yang benar pada pernyataan no 1 bahwa, menurut ibu tidak benar jika untuk memastikan suhu tubuhnya tidak normal cukup dengan meraba bayi dengan telapak tangan.
Mennurut Ria (2006) jika suhu tubuh bayi meningkat bisa ditangani dengan mengompres bayi dengan air hangat. Mengompres juga dapat dilakukan dengan merendam anak di air hangat sambil membasuh badan anak. Hal ini dapat membantu menurunkan suhu. Tidak cukup hanya dengan memberikan ramuan tradisional pada tubuh bayi. Ibu memiliki persepsi yang salah pada pernyataan no 4 yang menyatakan bahwa jika bayi demam cukup memberikan ramuan tradisional saja pada tubuh bayi.dari pernyataan no 10 bahwa memandikan bayi dengan air dingin adalah salah dan ibu memiliki persepsi yang salah terhadap bernyaataan tersebut ibu menyatakan memandikan bayi menggunakan air dingin padahal sangat penting untuk memandikan bayi dengan menggunakan air hangat untuk mencegah kehilangan panas dan mempertahankan suhu normal tubuh bayi.
Pernyataan yang terkait perawatan organ tubuh bayi adalah pernyataan no 5, 6, 7, 8, 9,11, 12 dan 21. Dari hasil penelitian ibu memiliki persepsi yang salah yang menyatakan Jika bayi tidak dibedong dengan kuat dan rapat dapat menyebabkan kaki bayi tidak bisa lurus waktu dewasa (kaki bentuk O) pernyataan tersebut adalah salah Sebenarnya tindakan membedong bayi terutama tujuannya untuk menjaga suhu tubuh bayi tetap hangat. Namun , manfaat untuk mencegah agar tidak terjadi bentuk kaki huruf “X” atau “O” sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikannya. Bentuk kaki tersebut sebenarnya sudah mulai terbentuk saat bayi masih berada dalam kandungan. Tidak terjadi secara spontan begitu saja melainkan melalui suatu proses tidak ada hubungannya antara membedong bayi dengan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki bay (Meutia, 1998)i.
Dari pernyataan no 6 ibu memiliki persepsi yang salah terhadap hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak tepat membersihkan mata bayi dengan kapas lembut jika terdapat kotoran. Seharusnya mata bayi tidak boleh dibersihkan kecuali jika terdapat rabas untuk mengurangi resiko trauma dan infeksi. Tetapi jika terdapat kotoran untuk membersihkan mata, gunakan kapas paling lembut dan tidak boleh memaksa mengeluarkan kotoran di mata bayi jika sulit. Jika sudah dibersihkan pastikan mata bayi bersih dari sisa kapas (Bonny & Mila,.2003).
Liang telinga bayi masih terlalu kecil untuk dimasuki kapas bertangkai. Karena itu, biarkan kotoran telinga bayi terdorong sendirinya ke daung telinga secara alamiah. Terlalu sering membersihkan telinga bayi akan membuat telinganya memproduksi lebih banyak kotoran. Selain itu cara membersihkan
yang tidak hati-hati dapat menyebabkan iritasi kulit atau meradang. Untuk membersihkan telinga , bagian luar dibasuh dengan lap atau kapas. Jangan masukkan benda apapun ke dalam telinga, termasuk cotton bud atau jari karena akibatnya sangat berbahaya (Bonny & Mila,.2003). Persepsi ibu pada pernyaataan no 7 adalah benar dimana pernyataaan membersihkan telinga bayi dengan menggunakan cotton bud dan memasukkan cotton bud ke dalam telinga adalah salah.
Kebersihan mulut bayi harus diperhatikan, karena bercak putih pada lidah (oral thurust) dapat menjadi masalah jika diikuti dengan tumbuhnya jamur. Membersihkan mulut bayi dilakukan pada saat bayi terbangun (Musbikin I, 2005) Persepsi ibu benar terhadap pernyataan yang salah yang menyatakan bahwa bercak-bercak putih di dalam mulut bayi dan pada lidah bayi tidak perlu dibersihkan pernyataan tersebut adalah salah.
Pada pernyataan no 9 ibu memiliki persepsi yang benar terhadap pernyataan yang salah yang menyatakan bahwa perawatan tali pusat dengan memberi ramuan tertentu yang dikunyah oleh ibu atau nenek bayi atau diberi bedak. Dalam keadaan normal, tali pusat akan pupus dengan sendirinya dalam waktu lima sampai tujuh hari. Tapi dalam beberapa kasus bisa sampai dua minggu. Perawatan sehari-hari cukup di bungkus dengan kasa steril kering, jangan mengolesi tali pusat dengan ramuan atau menaburi bedak, karena dapat menjadi media yang baik bagi tumbuhnya kuman, termasuk kuman tetanus (Meutia, 1998).
Persepsi ibu benar pada pernyataan no 11 yang merupakan pernyataan yang negatif bahwa saat mandi sangat penting membersihkan kemaluan bayi
dengan menggunakan obat untuk membunuh kuman-kuman pada kemaluan bayi. Bagian genital bayi laki-laki dan perempuan adalah bagian yang sensitif. Kebersihannya harus terjaga benar. Saat memandikan bayi tidak dianjurkan membersihkan genitalia bayi dengan menggunakan antiseptik, karena sangat berbahaya cukup dibersihkan dengan air sabun saja.
Persepsi ibu benar terhadap pernyataan no 21 yang merupakan pernyataan yang negatif bahwa tidak perlu mencuci tangan sebelum melakukan perawatan pada bayi. Sebelum melakukan perawatan pada bayi sebaiknya ibu mencuci tangan untuk mengurangi resiko infeksi pada bayi karena sistem kekebalan bayi yang masih berkembang, bayi lebih cenderung terkena infeksi dan menjadi sakit. Memandikan bayi juga dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan tubuh bayi (Patricia, 2006)
Pernyataan yang terkait perawatan popok bayi adalah pernyataan no 13, 14 dan 22. Persepsi ibu benar terhadap pernyataan positif bahwa ibu harus mengganti popok bayi setiap kali bayi BAB dan BAK.. Persepsi ibu terhadap benar pernyataan no 14 yang negatif menyatakan bahwa tidak perlu mengganti popok eitiap bayi BAK karena dapat menggangu tidur bayi. Pernyataan no 22 adalah positif dijawab benar oleh ibu bahwa mencegah ruam popok dengan mengganti popok dan membersihkan daerah yang tertutup popok dengan air bersih. Menurut Ruth & Wendy (2002) popok harus diganti sesegera mungkin bila kotor, baik karena urine maupun feses. Kulit harus segera dibersihkan baik dengan air maupun lap untuk mengurangi resiko lecet dan ruam popok pada kulit. Hal ini dapat terjadi bila sisa urine kontak dengan kulit, terutama bila ada organisme dari
feses yang memecah urea menjadi amonia, yang biasanya menimbulkan ruam popok setelah bulan pertama.
Terkait dengan nutrisi bayi adalah pernyataan no 15, 17, 18, 19, 25, 26 dan 27. ASI pertama kali keluar harus dubuang karena ASI pertama merupakan ASI yang basi dan tidak boleh diberikan pada bayi karena bisa membuat bayi sakit perut. Ibu memiliki persepsi yang benar terhadap pernyataan tersebut. Anggapan ASI yang keluar pertama adalah basi tidak benar karena ASI selalu terlindungi dalam payudara ibu. ASI pertama yang keluar adalah kolostrum yang mengandung protein dan zat kekebalan tubuh (antibodi) yang akan melindungi bayi, sehingga lebih kuat menghadapi penyakit (Aimi, 2010). Tidak benar bahwa pemberian ASI saja pada usia 0-6 tidak akan memenuhi kebutuhan bayi menurut Brain (2010) ASI merupakan gizi bayi terbaik, sumber makanan utama dan paling sempurna bagi bayi usia 0-6 bulan. ASI eksklusif menurut WHO (World Health Organization) adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain baik susu formula, air putih, air jeruk, ataupun makanan tambahan lain. Sebelum mencapai usia 6 bulan sistem pencernaan bayi belum mampu berfungsi dengan sempurna, sehingga ia belum mampu mencerna makanan selain ASI. Pembemberi MP-ASI pada bayi adalah saat bayi berumur 6 bulan, Adapun alasan menunda pemberian MP-ASI sampai bayi berumur 6 bulan ini antara lain adalah pada saat bayi berumur lebih dari 6 bulan, imun bayi sudah lebih sempurna dibanding bayi yang berusia kurang dari 6 bulan. Pemberian MP-ASI yang terlalu dini, kurang dari 6 bulan, akan membuka pintu masuknya berbagai jenis kuman, apalagi jika proses
pembuatan dan penyajian MP-ASI kurang higienis. Ibu harus menyusui bayinya setiap bayi meminta atau menangis (Aimi, 2010).
Ibu memiliki persepsi yang salah terhadap pernyataan negatif bahwa memberikan air putih yang banyak pada bayi sangat baik untuk kesehatan. Padahal mengonsumsi air putih terlalu banyak dapat meningkatkan kondisi yang berbahaya pada bayi, atau yang disebut sebagai intoksikasi air. Para ahli kesehatan dari John Hopkins Children’s Center di Baltimore Amerika Serikat memperingatkan orangtua agar tidak memberi minum air kepada bayi di bawah usia enam bulan. Menurut hasil penelitian, bayi berusia di bawah 6 bulan akan terancam mengalami intoksikasi atau keracunan jika terlalu sering meminum air. walaupun bayi sangat kecil, mereka memiliki refleks haus atau perangsang untuk minum. Ketika mereka merasa haus dan ingin minum, cairan yang diperlukan untuk diminum adalah air susu ibu Menurut Anders, ginjal bayi belum matang. Memberi mereka banyak air akan menyebabkan tubuh bayi mengeluarkan natrium akibat kelebihan cairan. Kehilangan natrium dapat Mempengaruhi aktifitas otak (Herdiana, 2010).
Pernyataan yang terkait imunisasi adalah pernyataan no 20 dijawab benar oleh ibu. Dimana ibu menyatakan salah terhadap pernyataan meskipun bayi dalam keadaan sakit bayi harue tetap diberi imunisasi saat itu juga. Bayi dan anak akan diberi vaksinasi pada saat pemeriksaan dengan kondisi sehat, untuk melindunginya dari penyakit-penyakit dapatan yang mungkin serius. Kemampuan vaksinasi untuk untuk memvaksinasi bayi terhadap penyakit-penyakit seperti polio dan batuk rejan bahkan cacar.
Pada era globalisasi yang semakin maju diharapkan bangsa Indonesia dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, salah satunya dalam bidang kesehatan bayi dan anak. Sehingga dibutuhkan peranan ibu dalam pengasuhan dan perawatan yang baik untuk bayinya. Kebanyakan perawatan neonatal yang ada di masyarakat terjadi kesalahan persepsi akibat kurangnya pengetahuan wanita, suami dan keluarga tentang pentingnya pelayanan neonatal dan dipengaruhi oleh budaya, pendidikan dan tingkat sosial ekonominya yang masih rendah (Patricia dkk, 2005) .
Pada penelitian ini persepsi ibu suku Mandailing tentang perawatan bayi baru lahir di Kecamatan Sosa Kabupaten Padang Lawas adalah cukup. Hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan ibu dilihat dari karakteristik pendidikan ibu yang mayoritas SMP dan juga dipengaruhi oleh pekerjaan ibu sebagai ibu rumah tangga yang memiliki waktu kebanyakan di rumah sehingga informasi yang ibu peroleh tentang perwatan bayi baru lahir masih kurang.