• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

5.2.1 Tingkat Pengetahuan Mahasiswi

Jumlah responden yang terlibat dalam penelitian adalah berjumlah 50 orang yaitu sama dengan jumlah sampel minimum penelitian yaitu 50 orang. Berdasarkan Tabel 5.2, dapat kita lihat bahwa umur responden sebagian besar yaitu 26% berusia 21 dan 22 tahun. Hal ini dikarenakan usia mahasiswa yang masih aktif rata-rata berusia 19-22 tahun. Pada usia ini, mahasiswa sudah biasa dengan penelitian-penelitian seperti ini dan akan memberikan kerjasama yang baik jika dibandingkan dengan mahasiswa yang baru masuk universitas dan tidak begitu selesa dengan kuesioner dan penelitian.

Berdasarkan Tabel 5.2, wanita berusia 22 dan 23 tahun lebih memberi persepsi yang baik mengenai faktor resiko terkenanya kanker serviks. Hal ini dikarenakan wanita dalam lingkungan usia ini lebih prihatin dan mengetahui tentang cara-cara menghindarkan diri mereka dari terkenanya kanker serviks.

Jumlah mahasiswa yang member persepsi baik adalah kurang, yaitu 17 orang dengan persentase 34% dan mayoritas mahasiswa dengan persepsi baik datangnya dari lingkungan usia 22-23 tahun.

Sebanyak 48 responden mengatakan bahwa penyebab paling umum terjadinya kanker serviks adalah terinfeksi virus HPV (human papillomavirus). Ini jelas menunjukkan bahwa mahasiswi mengenali

penyebab utama terkenanya kanker serviks. Terdapat 15 jenis tipe HPV yang menyebabkan kanker yang dapat mengarah kepada kanker serviks, yakni HPV 16, 18, 45 dan 31 yang merupakan penyebab lebih dari 80 persen kasus kanker di Asia Pasifik dan dunia. (Dr. A. M. Puguh 2010). Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Pakistan, 78% sadar bahwa infeksi adalah penyebab paling umum kanker serviks, dari 62% mengatakan virus yang menyebabkan dan 61% responden tahu bahwa virus Human Papilloma Virus (HPV). (Syed Ali, Faizan 2010)

Setengah responden yang mengambil bahagian dalam penelitian, yaitu 25 orang dengan persentase 50% mengatakan trauma kronis pada bahagian serviks dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks. Erosi serviks disebabkan karena trauma (hubungan seksual, penggunaan tampon, benda asing di vagina, atau terkena speculum). Erosi serviks adalah hilangnya sebagian / seluruh permukaan epitel squamous dari serviks. Jaringan yang normal pada permukaan dan atau mulut serviks digantikan oleh jaringan yang mengalami inflamasi dari kanalis serviks. Jaringan endoserviks ini berwarna merah dan granuler, sehingga serviks akan tampak merah, erosi dan terinfeksi. Erosi serviks dapat menjadi tanda awal dari kanker serviks. (Sidohutomo, Ananto)

Beberapa penelitian tentang tingkat pengetahuan mahasiswi mengenai faktor resiko terjadinya kanker serviks juga dilakukan di negara yang lain seperti di Afrika Selatan, Cina dan Pakistan. Dari hasil penelitian E Hoque, Dosen / statistik, Mangosuthu University of Technology, Afrika Selatan, kurang dari separuh (42,9%) peserta telah mendengar tentang kanker serviks dan ini, 26 (15,6%) tidak tahu ada faktor risiko untuk kanker serviks, sementara 96 (58,6%) dari 164 peserta yang tahu faktor risiko, tidak tahu bahwa kanker serviks dapat dicegah. Di Pakistan pula, 1,8% tidak mengetahui kanker serviks sebagai penyakit. Hanya 23,3% responden menyadari bahwa kanker serviks merupakan penyebab paling umum dari

kanker ginekologi dan 26% tahu itu peringkat kedua di dalam mortalitas. Hanya 26% dari populasi penelitian menyadari satu atau lebih faktor risiko. Sedangkan 37% mengakui Pap smear sebagai tes skrining untuk deteksi dini kanker serviks. (Hoque M 2009)

Ini berbeda dengan penilitian yang dilukan di kalangan mahasiswi FKG angkatan 07 USU di mana mayoritas yaitu, 90% mengetahui PAP SMEAR sebagai cara untuk mendeteksi dini kanker serviks. Pap smear merupakan suatu metode pemeriksaan sel cairan dinding leher rahim dengan menggunakan mikroskop (Mardiana, 2004). Pap smear merupakan pemeriksaan sitolog. (Pro Health 2010)

Di Negara Cina, lebih dari separuh responden mengidentifikasi faktor risiko yang lebih tua (75,2%), memiliki penyakit menular seksual (62,4%), memiliki banyak mitra seksual (59%), atau memiliki aktivitas seksual dengan orang yang memiliki banyak pasangan seksual (52,7%). Namun, hanya 42,3% mengidentifikasi kurangnya tahunan tes noda-3. Sekitar sepertiga dari peserta mengakui berikut sebagai faktor risiko: infeksi papillomavirus manusia, merokok, atau hubungan yang pada usia dini. Hanya sekitar satu dari lima dianggap yang melahirkan banyak anak (20,9%) atau menggunakan pil kontrasepsi (17,1%) perempuan diletakkan pada risiko tinggi untuk kanker serviks. (The New Zealand Medical Journal- 2008)

Mahasiswi FKG angkatan 07 USU mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi juga. Ini karena, berdasarkan soal 14, 68% menyatakan bahwa hubungan seksual pertama pada usia tua dapat menyebabkan kanker serviks pada wanita. 72% daripada mahasiswi mengatakan bahwa merokok boleh meningkatkan resiko untuk terkena kaner serviks. Wanita sebaiknya tidak merokok, karena dapat merangsang timbulnya sel-sel kanker melalui nikotin dikandung dalam darah. Risiko wanita perokok terkena kanker mulut rahim adalah 4-13 kali lebih besar dibandingkan wanita bukan perokok. (Appleby P, Beral V, Berrington de Gonzalez A, Colin D, Franceschi S, et al- 2006) Karsinoma serviks Diperkirakan nikotin memberikan efek toksik pada sel

epitel, sehingga memudahkan masuknya mutagen virus. (Dian Nugraha, Boyke).

Selain itu, 80% daripada mahasiswi mengatakan hubungan seks pada usia muda dapat menigkatkan faktor resiko terjadinya kanker serviks. Sebanyak 72% mahasiswi juga mengatakan bahwa wanita yang melahirkan banyak anak mempunyai resiko menderita kanker serviks yang lebih tinggi berbanding dengan wanita yang mempunyai anak sedikit.

Wanita yang divonis kanker leher rahim akan memiliki dampak fisik, psikologis serta dampak sosial. Umumnya sebelum kanker meluas atau merusak jaringan disekitarnya, penderita tidak merasakan adanya keluhan ataupun gejala biasanya penyakitnya sudah kronis baru diketahui oleh si penderita Penyebab yang diduga kuat dapat menimbulkan kanker leher rahim (serviks) adalah sperma yang mengandung komplemen histon (sejenis protein) yang nantinya bereaksi dengan unsur DNA sel leher rahim, air mani yang bersifat alkalis sehingga menimbulkan perubahan pada sel rahim. Terdapatnya sejenis bakteri seperti Mycoplasma,Ehlamydla, Virus Herpes Simpleks tipe 2, Virus Papiloma. Dimana gejala awal yang sering terjadi dan dialami oleh penderita kanker rahim adalah terjadinya keputihan, keputihan berbau busuk terkadang disertai darah. Pendarahan bercak, setitik setelah bersetubuh, keluar cairan encer berbau busuk dan sipenderita mengalami keluhan tidak khas didaerah perut bawah dan panggul

Salah satu penyebab serviks adalah karena penyimpangan seksual dan ini merupakan faktor resiko yang sangat tinggi berpengaruh pada terkenanya seseorang penyakin serviks. Faktor lain yang dianggap merupakan faktor resiko adalah hubungan seksual pertama kali paada usia muda, berganti-ganti pasangan. Penyakit serviks ini sering melanda pada wanita terutama pada wanita berusia 20 hingga 30 tahun (suarakarya.com). Disisi lain, penderita kanker leher rahim seringkali menghadapi tekanan psikologis karena kanker leher rahim menimbulkan implikasi seperti rasa sakit, ketergantungan pada orang lain, ketidakmampuan dan ketidakberdayaan,

hilangnya fungsi-fungsi tubuh, dan sebagainya. Penderita kanker leher rahim mengalami rasa takut, cemas, shock, putus asa, marah, serta depresi. Perasaan timbul pada diri penderita kanker leher rahim justu akan bedampak negatif.

Penderita kanker mulut rahim di Indonesia ternyata jumlahnya sangat banyak. Menurut perkiraan Departemen Kesehatan saat ini ada sekitar 100 kasusper 100 ribu penduduk atau 200 ribu kasus setiap tahunnya. Selain itu, lebih dari 70 persen kasus yang datang ke rumah sakit ditemukan dalam keadaan stadium lanjut.

Dari keseluruhan responden yang mengambil bahagian, responden yang berusia 22 dan 23 tahun paling tinggi persentasenya yaitu 26% masing-masing Dengan demikian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai terkenanya kanker serviks adalah sangat bagus.

Dokumen terkait