BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Pembahasan
Kista ovarium merupakan masalah reproduksi yang sering ditemukan pada wanita usia reproduksi karena kista terbentuk selama siklus menstruasi (Yatim, 2005). Pada penelitian ini terbukti bahwa mayoritas penderita kista ovarium di RSUP H. Adam Malik pada tahun 2012-2013 berada dalam usia reproduksi (30-39 tahun) yaitu sebanyak 25 orang (27,2%) (tabel 5.1.). Hal ini sesuai dengan penelitian Demirci et al. (2014) yang menemukan banyaknya kejadian tumor jinak ovarium pada wanita berusia di bawah 45 tahun. Hasil ini mendukung penelitian Siringo et al. (2013) yang menemukan kasus kista ovarium sebanyak 31 orang (26,7%) pada usia 29-37 tahun, Limbong (2012) menemukan kasus endometriosis sebanyak 19 orang (65,5%) pada usia 31-50 tahun dan Andriana (2010) menemukan sebesar 44,13% penderita endometriosis di RS dr. Saiful Anwar Malang Jawa Timur tahun 2001-2003 berusia 31-40 tahun.
Penderita kista ovarium di RSUP H. Adam Malik pada tahun 2012-2013 minoritas berusia ≥ 50 tahun yaitu sebanyak 20 orang (21,7%) (tabel 5.1.). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Siringo et al. (2013) yang menemukan kasus kista ovarium di atas usia 55 tahun sebanyak 8 orang (7,8%), Limbong (2012) menemukan angka kasus endometriosis pada kelompok usia > 50 tahun yaitu sebanyak 3 orang (10,3%). Rendahnya kasus kista ovarium pada usia tua disebabkan karena pada usia menopause kelainan ovarium lebih rentan berkembang menjadi kasus keganasan seperti kanker ovarium (American Cancer Society, 2013). Hal ini sesuai dengan penelitian Mehdi et al. (2010) yang menemukan tingginya kasus keganasan ovarium pada usia ± 55 tahun.
Berdasarkan data usia penderita kista ovarium di RSUP H. Adam Malik tersebut diperoleh nilai rata-rata usia sebesar 39,3 tahun. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Terzić M, et al. (2011) yang menemukan nilai rata-rata usia sebesar 38,3 tahun pada penderita tumor jinak ovarium di rumah sakit Institut Ginekologi dan Obstetri Serbia. Mehdi et al. (2010) mendapatkan nilai rata-rata usia penderita tumor jinak ovarium sebesar 38 tahun. Pada penelitian lain, Gowri et al. (2014)
menemukan sebesar 32,8 tahun pada penderita tumor jinak adneksa di Sultan Qaboos University Hospital sejak januari 2008 sampai Mei 2012.
Setiap kista ovarium memiliki tingkat perkembangan yang berbeda-beda sehingga ukurannya bervariasi. Ukuran kista ovarium itu sendiri penting diketahui untuk memutuskan tindakan yang akan dilakukan karena tidak semua penderita kista ovarium perlu diterapi. Kista ovarium yang berukuran < 5 cm biasanya tidak bergejala dan dapat mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang sehingga tidak dibutuhkan tindakan pembedahan (Prawirohardjo, 2008). Sedangkan kista ovarium yang berukuran > 5 cm perlu ditatalaksana lebih lanjut (Rofe, 2013) karena ukuran kista ovarium yang besar rentan terjadinya komplikasi seperti torsi, perdarahan dan penekanan terhadap organ lain (Mirza, 2012). Pada penelitian ini terbukti bahwa mayoritas penderita kista ovarium yang ditatalaksana di RSUP H. Adam Malik pada tahun 2012-2013 memiliki ukuran kista ovarium > 5 cm yaitu sebanyak 58 orang (63%), sedangkan ukuran kista ovarium ≤ 5 cm ditemukan sebanyak 10 orang (10,9%) (tabel 5.3.). Hal ini sesuai dengan penelitian Siringo et al. (2013) yang menemukan ukuran kista ovarium > 6 cm sebanyak 48 orang (41,8%) pada kasus kista ovarium jinak dan 4 orang (66,7%) pada kasus kista ovarium ganas. Berdasarkan data ukuran kista ovarium tersebut diperoleh nilai rata-rata ukuran kista ovarium sebesar 8,7 cm. Hasil ini mendukung penelitian Attanucci et al. (2004) yang menemukan nilai rata-rata ukuran kista ovarium sebesar 7,8 cm pada penderita tumor jinak ovarium dan Tang et al. (2008) yang menemukan sebesar 13,7 cm pada penderita kanker ovarium.
Berdasarkan jenis kista ovarium, ditemukan empat jenis kista ovarium patologis di RSUP H. Adam Malik pada tahun 2012-2013 yaitu kistadenoma ovarii serosum, kistadenoma ovarii musinosum, kista endometrioid dan kista dermoid. Adapun jenis kista ovarium yang paling banyak ditemukan adalah kistadenoma ovarii serosum yaitu sebanyak 35 orang (38%) (tabel 5.2.). Menurut Forstner & Kinkel (2007), kistadenoma ovarii serosum merupakan 40% dari seluruh kasus
tumor jinak ovarium. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Azzo & Ameen (2006) yang menemukan kistadenoma ovarii serosum sebanyak 41 orang (70,7%). Menurut Prawirohardjo (2008), dalam penelitian Haradi (1970) ditemukan sebesar 19,7% penderita kistadenoma ovarii serosum, Sapardan (1970) 15%, Djaswadi (1970) 10,9%, dan Gunawan (1977) 20,3%. Selanjutnya, Hariadi menemukan angka kejadian kistadenoma ovarii serosum di Surabaya sebesar 39,8% dan Gunawan sebesar 28,5%. Sapardan menemukan sebesar 20% kistadenoma ovarii serosum di Jakarta dan Djaswadi menemukan sebesar 36,1% kistadenoma ovarii serosum di Yogyakarta. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian Khan et al. (2009) yang menemukan kistadenoma ovarii serosum sebanyak 38 orang dari 120 penderita lesi ovarium jinak. Pada penelitian lain, Mehdi et al. (2010) menemukan sebanyak 14 kasus (33,3%) dari 59,5% tumor jinak ovarium, Sharma et al. (2014) menemukan sebanyak 35 kasus (34,31%) dari 49 kasus (48,03%) tumor jinak ovarium, dan Yogambal et al. (2014) menemukan sebanyak 86 kasus (21,4%). Tingginya kasus kistadenoma ovarii serosum ini disebabkan karena 30- 35% kistadenoma ovarii serosum berpotensi menjadi ganas (Prawirohardjo, 2008) dengan tingkat kekambuhan sebesar 0,27% per tahun untuk tumor stadium awal dan 2,4% untuk tumor stadium lanjut (Levine et al., 2010).
Pada penelitian ini, kista dermoid paling sedikit ditemukan. Kista ini berasal dari sel telur melalui proses partenogenesis (Prawirohardjo, 2008). Menurut American cancer Society (2013), kista dermoid lebih sering ditemukan pada wanita usia muda, biasanya di bawah usia 18 tahun. Di RSUP H. Adam Malik pada tahun 2012-2013 ditemukan kista dermoid sebanyak 4 orang (4,3%) (tabel 5.2.) pada penderita kista ovarium yang berusia di atas 20 tahun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Azzo & Ameen (2006) yang menemukan kista dermoid sebanyak 4 orang (6,9%). Menurut Prawirohardjo (2008), kista dermoid merupakan 10% dari seluruh neoplasma ovarium yang kistik. Frekuensi kista dermoid di Indonesia menurut Sapardan 16,9%, Djaswadi 15,1%, Hariadi 11,1% dan Gunawan 13,5%. Sebelum perang dunia II, frekuensi kista dermoid dilaporkan oleh Eerland dan
Vos (1935) sebesar 3,8% dari 451 tumor ovarium yang diperiksa di Nederlands- Indisch Kanker Institut di Bandung.
Pada umumnya kista ovarium tidak mempengaruhi menstruasi penderita, kecuali jika kista ovarium tersebut mengeluarkan hormon (Prawirohardjo, 2008). Pada penelitian ini ditemukan bahwa 72 orang (78,3%) penderita kista ovarium mengalami siklus menstruasi teratur (21-35 hari) (tabel 5.4.). Hal ini mendukung penelitian Azhar et al. (2014) yang menemukan sebanyak 27 orang (42,9%) penderita kista ovarium mengalami siklus menstruasi selama 19-27 hari. Siklus menstruasi yang tidak teratur hanya ditemukan sebanyak 12 orang (13%) (tabel 5.4.). Hal ini sesuai dengan penelitian Harada (2013) yang menemukan rendahnya angka kejadian siklus menstruasi tidak teratur pada penderita endometriosis yaitu sebesar 9,4%. Pada penelitian Mehdi et al. (2010) ditemukan gangguan menstruasi pada penderita kista ovarium sebesar 10%. Siringo (2013) menemukan sebanyak 32 orang (20,7%), dan Attanucci et al. (2004) sebanyak 28 orang (37%). Pada penelitian ini, siklus menstruasi yang tidak teratur mayoritas ditemukan pada penderita kistadenoma ovarii serosum yaitu sebanyak 4 orang (33,3%) (tabel 5.5.). Hal ini mendukung hasil penelitian Demirci et al. (2014) yang menemukan siklus menstruasi tidak teratur sebesar 43,5% pada penderita kistadenoma ovarii serosum dan 80% pada penderita tumor serosum borderline.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan Hariyanti (2012) yang menemukan gangguan siklus menstruasi sebesar 80% pada penderita kista ovarium, Yan-min et al. (2010) menemukan sebesar 76% pada penderita PCOS, dan Alili (2014) menemukan sebesar 7,1% amenorea, 64,3% oligomenorea pada penderita PCOS. Pada penelitian Azhar et al. (2014), ditemukan sebanyak 38 orang (60,3%) penderita kista ovarium mengalami siklus menstruasi tidak teratur.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, gangguan siklus menstruasi paling sering ditemukan pada penderita PCOS. Menurut Eggers S et al., (2001) dalam Alili (2014), pada penderita PCOS ditemukan faktor obesitas, resistensi insulin,
intoleransi glukosa, diabetes melitus tipe 2, dislipidemia, hipertensi dan sindrom metabolik. Obesitas dan resistensi insulin menyebabkan keadaan hiperandrogen pada ovarium, sehingga menghambat perkembangan folikel dan memicu terjadinya siklus anovulatorik (Baziad, 2012). Pada penelitian ini kista ovarium fisiologis seperti PCOS tidak dimasukan sebagai sampel penelitian. Selain itu, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi menstruasi seperti penggunaan kontrasepsi, kelainan ginekologi selain kista ovarium, diabetes melitus, dan penyakit tiroid yang ditemukan pada penderita kista ovarium dieksklusi. Hal ini kemungkinan menyebabkan perbedaan hasil yang diperoleh dengan penelitian sebelumnya.
Pada umumnya penderita kista ovarium di RSUP H. Adam Malik pada tahun 2012-2013 mengalami perdarahan menstruasi yang normal (3-8 hari) yaitu sebanyak 72 orang (78,3%) (tabel 5.6.). Rata-rata penderita kista ovarium mengalami menstruasi selama 5 hari. Hal ini sesuai dengan penelitian Limbong (2012) yang menemukan sebanyak 11 orang (37.9%) penderita endometriosis di RSUP H. Adam Malik mengalami menstruasi selama 5 hari dan Azhar et al. (2014) yang menemukan sebanyak 34 orang (54%) penderita kista ovarium mengalami menstruasi selama 5-7 hari.
Pada penelitian ini ditemukan sebagian kecil penderita kista ovarium yang mengalami gangguan perdarahan menstruasi. Hipermenorea (> 8 hari) ditemukan sebanyak 4 orang (4,3%) dan hipomenorea (< 3 hari) sebanyak 2 orang (2,2%) (tabel 5.6.). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Limbong (2012) yang menemukan sebanyak 1 orang (3,4%) penderita endometriosis mengalami hipermenorea dan Verma et al. (2012) yang menemukan sebesar 13,3% kista ovarium pada kelompok hipermenorea dan hipomenorea. Dalam penelitian Azhar et al. (2014) ditemukan sebanyak 14 orang (22,2%) mengalami hipermenorea, 15 orang (23,8%) mengalami hipomenorea, dan sebanyak 1 orang (1,6%) mengalami perdarahan hebat selama menstruasi. Pada penelitian ini, mayoritas penderita kista ovarium yang mengalami gangguan perdarahan menstruasi adalah penderita
kistadenoma ovarii serosum yaitu sebanyak 2 orang (50%) mengalami hipermenorea (> 8 hari) dan 2 orang (100%) mengalami hipomenorea (< 3 hari).
Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa gangguan menstruasi banyak ditemukan pada penderita kistadenoma ovarii serosum. Secara teori, kistadenoma ovarii serosum berasal dari epitelium germinativum yang merupakan lapisan terluar dari korteks ovarium. Di dalam korteks ovarium itu sendiri terdapat stroma serta folikel-folikel primordial yang akan berkembang menjadi folikel de Graaf. Pada folikel de Graaf terdapat sel-sel granulosa yang akan menghasilkan estrogen (Prawirohardjo, 2008). Menurut asumsi peneliti, terbentuknya kista ovarium dibagian tersebut dapat mempengaruhi kadar estrogen yang akan dihasilkan oleh sel granulosa. Adanya peningkatan produksi estrogen dari sel granulosa tersebut dapat mengganggu menstruasi normal (Schorge et al., 2008) dan juga dapat menyebabkan pelepasan endometrium yang abnormal (Manuaba et al., 2010). Sehingga, pada penderita kistadenoma ovarii serosum sering ditemukan gangguan menstruasi. Hal ini sesuai dengan WHO (2003) yang menyatakan bahwa perdarahan vagina merupakan gejala yang dapat ditemukan pada penderita kistadenoma ovarii serosum.
Kista ovarium juga dapat menyebabkan terjadinya nyeri saat menstruasi (dismenorea). Pada penelitian ini ditemukan sebanyak 34 orang (37%) penderita kista ovarium mengalami dismenorea (tabel 5.8.). Hasil ini mendukung penelitian Siringo et al. (2013) yang menemukan dismenorea yaitu sebanyak 32 orang (20,7%). Pada penelitian ini, dismenorea paling banyak dijumpai pada penderita kista endometrioid yaitu sebanyak 11 orang (32,4%) (tabel 5.9.). Hal ini sesuai dengan penelitian Limbong (2012) yang menemukan 17 orang (58,6%) mengalami dismenorea pada penderita endometriosis di RSUP H. Adam Malik tahun 2008-2011. Dalam penelitian Andriana (2010) ditemukan bahwa dismenorea merupakan gejala terbanyak yang dialami oleh penderita endometriosis yaitu sebesar 70,59%. Sebesar 52,94% penderita endometriosis mengalami nyeri saat menstruasi dan 29,38% sebelum menstruasi. Begitu pula
dengan penelitian Coccia et al. (2011) yang menemukan dismenorea sebesar 66,9% pada 302 orang penderita endometriosis. Tingginya kasus dismenorea pada penderita kista endometrioid disebabkan karena pada penderita endometriosis ditemukan konsentrasi prostaglandin yang tinggi. Nyeri juga disebabkan oleh lesi endometriosis yang memicu terjadinya reaksi inflamasi dan mengeluarkan prostaglandin, sitokin, histamin dan kinin. Terbentuknya jaringan parut, fibrosis, dan adhesi menyebabkan penurunan mobilitas organ sehingga nyeri dapat terasa selama adanya gerakan atau ovulasi (Harada, 2013).